<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680</id><updated>2011-09-28T09:17:53.075-07:00</updated><category term='MOTIVASI'/><title type='text'>Sincerepreneur</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>40</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-568652798067054371</id><published>2009-05-21T03:11:00.000-07:00</published><updated>2009-05-21T03:14:14.897-07:00</updated><title type='text'>4 DIMENSI USAHAWAN DALAM MENANGGAPI PERUBAHAN</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_7oHvKbCRCHc/ShUpZ-T_E_I/AAAAAAAAADE/irp6N5_zA84/s1600-h/Soichiro+Honda.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5338218459517883378" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 103px; CURSOR: hand; HEIGHT: 112px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_7oHvKbCRCHc/ShUpZ-T_E_I/AAAAAAAAADE/irp6N5_zA84/s200/Soichiro+Honda.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;4 DIMENSI USAHAWAN DALAM MENANGGAPI PERUBAHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut catatan saya, sedikitnya ada 4 jenis dimensi ruang di mana para usahawan harus mampu berkiprah. Pada 4 dimensi ruang itu pula , para usahawan membekali diri dengan 4 jurus dasar sebagai solusi untuk bertahan dalam kehidupan yang sewaktu-waktu bisa berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sebenarnya tidak melulu tentang sepak terjang para pengusaha atau pebisnis, melainkan juga mencakup semua kelompok sosial yang bermental proaktif, tangguh, tanggap serta trengginas terhadap setiap perubahan yang mungkin terjadi. Empat dimensi itu adalah sebagaimana diuraikan di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)&lt;br /&gt;Pada keadaan pasar (ekonomi) normal, solusinya adalah nilai tambah&lt;br /&gt;atas hal-hal teknis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila keadaan sedang tidak menunjukkan ketidakstabilan, tidak juga ada gonjang-ganjing dalam masalah politik, ekonomi, sosial atau lainnya, maka solusi untuk tetap eksis di blantika kehidupan berbisnis, biasanya dilakukan dengan meningkatkan nilai tambah atas hal-hal teknis pada produk, baik barang mau pun jasa. Sebab apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab dalam dimensi ruang seperti ini, yang memegang peranan utama adalah memang hal-hal yang menyangkut kualitas produk, teknologi, ketersediaan bahan baku, ketersediaan SDM dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kepada tingkat persaingan yang intensitasnya masih termasuk normal, para usahawan harus berkonsentrasi pada masalah bagaimana membuat nilai tambah yang memungkinkan produk mereka menjadi lebih unggul terhadap para pesaingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2)&lt;br /&gt;Pada keadaan pasar yang ambur-adul, solusinya adalah pergeseran citra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tingkat persaingan sudah meninggi sedemikian rupa hingga menciptakan kondisi tidak sehat, maka pasar berubah menjadi apa yang oleh Chan Kim dan Renee Mauborgne disebut sebagai “Lautan Merah” yang berdarah-darah. Di sini semua orang menderita, pasar yang buruk mengakibatkan usaha keras dan biaya besar hanya memberikan sangat sedikit hasil yang tidak sepadan dengan ongkos yang dikeluarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusinya adalah dengan melakukan pergeseran citra atas produk, antara lain dengan merubah definisi usaha, kemasan serta kategori produk, jangkauan segmen pasar, serta berbagai keunggulan kompetitif yng sangat spesifik. Dengan jalan ini, sang usahawan bisa menciptakan sebuah pasar baru yang bebas dari persaingan tak sehat. Dengan kata lain ia telah menciptakan “Samudera Biru” yang aman sentosa (Kim dan Renee: “Blue Ocean Strategy”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara lainnya adalah dengan mengeksplorasi berbagai ceruk pasar yang baru atau “niche markets”, yaitu celah pasar yang belum tergarap di tengah-tengah pasar yang sudah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3)&lt;br /&gt;Pada situasi krisis yang parah di suatu lokasi, solusinya adalah pergeseran geografis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakalanya, sebagai akibat kebijakan pemerintah yang kurang adil, langkanya sumber-sumber daya ekonomi, atau faktor-faktor force majeur seperti huru-hara, bencana atau bahkan perang, suatu kawasan berubah menjadi daerah krisis yang “tak layak bisnis”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengatasi hal itu, para usahawan dan juga berbagai fihak yang memiliki nalar dan daya juang, umumnya akan mengambil jalan keluar dengan melakukan pergeseran atau perpindahan geografis. Termasuk dalam hal ini fenomena “pengusaha perantauan” yang merantau dari daerah asal mereka ke daerah lainnya, urbanisasi penduduk dari pedesaan ke perkotaan, dan juga pengungsian dari satu negeri ke negeri lainnya. Bukti empiris memperlihatkan contoh, bahwa pengungsi Vietnam yang menghebohkan beberapa waktu lalu, sebagian besar merupakan kaum pengusaha di negeri asalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan analogi yang sama, sejarah memunculkan fenomena sejenis pada peristiwa eksodusnya kaum Yahudi yang kemudian mendirikan negara Israel, hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah serta hijrahnya para pejuang RI dari Yogyakarta pada tahun 1949.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4)&lt;br /&gt;Pada krisis global, solusinya adalah: “Fasten your belt!”, benarkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis global tentunya mencengkeram hampir seluruh kawasan di dunia. Oleh sebab itu krisis ini tidak tepat untuk diatasi dengan jurus-jurus seperti disebutkan di atas. Satu-satunya jalan keluar yang selama ini dianjurkan oleh pakar ekonomi dan dianut oleh masyarakat di hampir semua negara adalah dengan jalan “fasten your belt” alias “kencangkan ikat pinggang Anda”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tidak heran kalau kita lihat pada masa krisis seperti sekarang, semua orang berusaha menghemat, pengeluaran benar-benar diawasi dan dikendalikan, tidak ada yang mau memulai transaksi jika tidak betul-betul bisa dipertanggungjawabkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jarang yang menyadari bahwa dengan bersikap demikian ketat, sebenarnya kita telah mengundang krisis yang lebih hebat lagi. Para pengusaha cerdas dan para ekonom yang arif mengkhawatirkan bahwa justru dengan sikap menahan diri yang berlebihan, perputaran roda perekonomian akan semakin berat. Dan sikap seperti itu pula yang akan menyebabkan masa krisis akan menjadi semakin panjang dan lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat mengesankan apa yang dilakukan oleh Konosuke Matsushita pada era krisis tahun 1929, di mana ia dengan keyakinan penuh justru lebih meningkatkan pengeluaran dan transaksi-transaksi bisnisnya. Ia melatarbelakangi aksinya itu dengan kata-kata: “Jika semua orang menahan uangnya dan tidak bertransaksi, maka kehidupan ekonomi akan mati..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sejalan dengan apa yang dilontarkan oleh Pak Matsushita, ijinkan saya menghimbau agar marilah kita hadapi dan atasi krisis global ini secara bersama dan serentak, dengan jalan tetap bertransaksi secara wajar. Harapannya adalah agar dalam waktu tidak terlalu lama lagi badai akan berlalu, dan kehidupan akan kembali membahagiakan kita semua. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusman Hakim&lt;br /&gt;Pengamat Kewirausahaan&lt;br /&gt;Gacerindo Entrepreneurial Leadership Center&lt;br /&gt;E-mail: &lt;a href="mailto:rusman@gacerindo.com"&gt;rusman@gacerindo.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Portal: &lt;a href="http://www.gacerindo.com/"&gt;http://www.gacerindo.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Blog: &lt;a href="http://rusmanhakim.blogspot.com/"&gt;http://rusmanhakim.blogspot.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Web: &lt;a href="http://www.pempekpatrol.com/"&gt;http://www.pempekpatrol.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mobile: 0816.144.2792&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-568652798067054371?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/568652798067054371/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=568652798067054371' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/568652798067054371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/568652798067054371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2009/05/4-dimensi-usahawan-dalam-menanggapi.html' title='4 DIMENSI USAHAWAN DALAM MENANGGAPI PERUBAHAN'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_7oHvKbCRCHc/ShUpZ-T_E_I/AAAAAAAAADE/irp6N5_zA84/s72-c/Soichiro+Honda.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-2596449516248241625</id><published>2009-05-15T01:57:00.000-07:00</published><updated>2009-05-15T02:17:17.378-07:00</updated><title type='text'>MENYASAR ATAU KESASAR?</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_7oHvKbCRCHc/Sg0y_ZSVVwI/AAAAAAAAAC0/u_jR_2y3gdQ/s1600-h/wawancara.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5335977198204835586" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 145px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_7oHvKbCRCHc/Sg0y_ZSVVwI/AAAAAAAAAC0/u_jR_2y3gdQ/s200/wawancara.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_7oHvKbCRCHc/Sg0xmC9dfJI/AAAAAAAAACs/NqXdjMSXMsc/s1600-h/wawancara.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;MENYASAR ATAU KESASAR?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat kehormatan untuk berwawancara di studio Radio Pelita Kasih (RPK-FM) Jakarta. Seperti biasa, topik untuk saya adalah soal pembahasan bisnis dan kewirausahaan. Saya berperan sebagai narasumber, sedangkan mitra acara RPK adalah Ir. Novry Sabmen Simanjuntak, Pemimpin Umum dan Perusahaan Majalah “AdInfo”, sebuah media bisnis kawasan yang berlokasi di Jakarta Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah saya menjawab sejumlah pertanyaan, host penyiar radio RPK mengalihkan pertanyaan pada Novry. Sebuah pertanyaan terlontar: “Pak Novry, sebagai sebuah media dalam bentuk majalah kawasan, sebenarnya apa yang menjadi tujuan utama AdInfo dalam berbisnis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novry menjawab dengan sigap kira-kira seperti ini: “Kami menyasar para pengusaha yang beroperasi di daerah Jakarta Barat…bla..bla..” dan sang penyiar tampak puas dengan jawaban beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar otak saya yang terlalu liar (yang kadang-kadang saya sendiri sulit mengendalikannya), di tengah hujan pertanyaan baik dari host mau pun dari masyarakat pendengar RPK, masih “sempat-sempatnya” terpikir oleh saya: “Pasti yang dimaksud Novry dengan ‘menyasar’ adalah ‘membidik sasaran’, bukannya ‘kesasar’ yang berarti ‘tersesat’..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini memang cukup banyak kata-kata yang terasa baru di telinga saya, dan biasanya orang medialah yang paling cepat menyerap serta mengaplikasikannya di lapangan. Saya salut terhadap mereka, karena dari media jugalah saya pertama kali berkenalan dengan kata-kata semacam “mengejawantah”, “menengarai”, “mengunduh”, “mengunggah” dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sempat juga saya tersenyum sendiri, membayangkan kalau ada orang menerjemahkan kalimat Novry menjadi: “Kami kesasar ke para pengusaha....”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Indonesia memang unik, seunik bangsa ini yang terdiri dari beribu pulau, bermacam budaya, beragam warna kulit, berbagai adat istiadat, berjenis-jenis agama, dan beratus bahasa serta sub bahasa, mulai dari bahasa nasional Bahasa Indonesia, bahasa daerah, sampai pun bahasa prokem (preman) juga ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk alasan itulah, saya menjadi cinta Indonesia, cinta bangsa ini berikut segala problematika dan suka duka yang tak dapat disamai oleh bangsa lain..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusman Hakim&lt;br /&gt;Pengamat Kewirausahaan&lt;br /&gt;Email: &lt;a href="mailto:rusman@gacerindo.com"&gt;rusman@gacerindo.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Web: &lt;a href="http://www.gacerindo.com/"&gt;http://www.gacerindo.com/&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.pempekpatrol.com/"&gt;http://www.pempekpatrol.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Blog: &lt;a href="http://rusmanhakim.blogspot.com/"&gt;http://rusmanhakim.blogspot.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mobile: 0816.144.2792&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-2596449516248241625?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/2596449516248241625/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=2596449516248241625' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/2596449516248241625'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/2596449516248241625'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2009/05/menyasar-atau-kesasar.html' title='MENYASAR ATAU KESASAR?'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_7oHvKbCRCHc/Sg0y_ZSVVwI/AAAAAAAAAC0/u_jR_2y3gdQ/s72-c/wawancara.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-6568576594723218146</id><published>2009-01-25T22:18:00.000-08:00</published><updated>2009-01-26T03:00:25.843-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MOTIVASI'/><title type='text'>WORK WITH, NOT WORK FOR..!</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_7oHvKbCRCHc/SX2XoE7xv0I/AAAAAAAAAB4/r9SYwF--36g/s1600-h/work-with.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295555451632598850" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 250px; CURSOR: hand; HEIGHT: 184px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_7oHvKbCRCHc/SX2XoE7xv0I/AAAAAAAAAB4/r9SYwF--36g/s320/work-with.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;WORK WITH, NOT WORK FOR..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 18 Januari 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari pertama menjalani karir kemandirian di dekade 1990an, saya datang ke kantor pusat klien saya -- salah satu bank pemerintah terbesar -- untuk menandatangani kontrak sebagai konsultan independen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, manajer SDM ternyata masih mengikuti rapat, maka ia memerintahkan seseorang untuk menyiapkan lembar kontrak untuk saya. Seorang staf yang terlihat amat lugu tergopoh-gopoh menyerahkan seberkas dokumen. Ternyata yang dia serahkan keliru, karena yang dibawanya adalah draf blanko perjanjian kerja untuk pegawai kontrak. Namun karena ingin tahu, saya sempatkan juga untuk membaca draf tersebut. Apa saja sih, yang dibahas dalam perjanjian kerja pegawai kontrak, pikir saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru membaca paragraf pertama, saya sudah surprised. Di situ tertulis: “PARA PIHAK: ..BANK XYZ….untuk selanjutnya disebut PEMBERI KERJA….. … si Polan,…untuk selanjutnya disebut PENCARI KERJA…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa aneh dengan kata-kata “pemberi kerja” dan “pencari kerja” itu. Kenapa tidak digunakan sebutan “Pihak Pertama” dan “Pihak Kedua” saja, sebagaimana lazimnya tertulis pada sebuah perjanjian kerjasama, MoU atau sejenisnya. Sungguh exposure pada istilah “pencari kerja” itu bernada melecehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kalau pada paragraf pertama saja, istilah yang dipakai sudah terasa vulgar, maka jangan ditanya paragraf-paragraf selanjutnya. Nyaris semua pasal bertendensi menekan dan memarginalkan posisi, harga diri serta jaminan yang akan diterima oleh pegawai kontrak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menyerahkan kembali dokumen tersebut sambil berkata: “Pak, maaf ya.. Ini salah, bukan draf kontrak ini yang untuk saya. Saya bukan pencari kerja. Bank ini yang justru mencari saya untuk jadi konsultan. Oleh karena itu, tolong sampaikan pada pak Manajer supaya dibuatkan yang baru dan khusus untuk saya..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang staf terperangah, dan sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu, saya susulkan kata-kata: “Bilang juga pada beliau, bahwa yang tanda tangan harus Pak Direktur. Saya keberatan kalau yang tanda tangan kontrak saya Manajer SDM..”. Setelah itu saya pergi meninggalkan sang staf yang masih salah tingkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa saya berani berlaku searogan itu? Tidak, saya bukan arogan. Itu hanya manuver entrepreneurial dalam upaya menaikkan posisi tawar saya, sekaligus pindah ke kuadran yang lebih bernuansa kemandirian. Nothing to lose.., karena saat itu saya masih bekerja di salah satu perusahaan IT paling bergengsi di Indonesia, saya tidak khawatir apa-apa. Kontrak jadi ditandatangani syukur, tidak pun tidak masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti telah saya duga, esok harinya pagi-pagi sang Manajer SDM sudah menelpon. “Halo, Pak Rusman? Maaf kejadian kemarin Pak. Hari ini Bapak ditunggu Pak Direktur untuk tandatangan kontrak, dengan format khusus untuk Bapak sebagai konsultan independen..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tahu kenapa saya begitu yakin? Karena 2 hari sebelumnya saya sudah berhasil “menaklukkan” 3 orang konsultan bule dalam sebuah paparan. Saya kebetulan mampu menunjukkan pada mereka, titik-titik penting yang menyebabkan proyek IT mereka macet selama 2 tahun. Bule-bule ini langsung “jatuh hati” pada saya, dan mendesak agar saya segera bergabung dengan mereka di bank pemerintah itu. Karena mereka berasal dari perusahaan konsultasi internasional ternama, masing-masing dari Booz, Allen and Hamilton (BAH), Harvard Institute for International Development (HIID) serta Comprehensive Marketing System (CMS) yang direkrut Depkeu, saya percaya mereka akan mampu “memaksa” Direksi Bank untuk memakai jasa saya. Dan itu terbukti..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bukan itu point saya. Ada yang lebih penting. Dari apa yang saya ceritakan di atas, setidaknya ada 3 bahan kajian yang perlu mendapat perhatian, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, salah satu tantangan berat yang dihadapi generasi muda dalam merintis masa depannya adalah adanya tekanan-tekanan dari generasi tua yang mengendalikan perusahaan-perusahaan nasional, BUMN dan lain-lain, berupa marginalisasi posisi tawar kaum muda. Seperti dalam kasus di atas, di mana status generasi muda yang berpotensi menjadi profesional, hanya diperlakukan sebagai “pencari kerja” dengan kompensasi serta jaminan serba terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan provokasi seperti itu, tidak heran kalau selama ini para karyawan selalu dihinggapi perasaan bahwa dirinya tidak lebih dari “kuli” atau “tangan di bawah”, sehingga lambat laun mereka pun kehilangan karakter leadershipnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, bahwa untuk menghindari jebakan menjadi karyawan bercitra kuli atau tangan di bawah, maka seyogyanya kaum muda harus dapat melakukan sepak terjang yang entrepreneurial. Hanya dengan jalan itu, seseorang yang relatif masih yunior dapat menempatkan diri sebagai sesama tangan diatas terhadap pihak lain. Tentu saja mereka harus membekali diri dengan sumber daya pengetahuan atau keterampilan yang diperlukan. Seperti ditunjukkan dalam cerita di atas, bagaimana “anak kemarin sore” seperti saya berhasil mengadakan business deal langsung dengan direksi bank ternama yang didukung para konsultan mancanegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, ada langkah lebih ideal untuk kaum muda merintis kehidupan yang lebih baik. Yaitu, bermodalkan entrepreneurial mindset yang dilengkapi dengan satu saja kecakapan di bidang tertentu, seseorang akan dapat mendirikan sebuah usaha mandiri. Dengan jalan ini, otomatis posisinya akan terangkat sebagai “majikan kecil dengan tangan di atas” . Toh, ada pepatah yang berbunyi: “Lebih baik jadi bos kecil, daripada jadi kuli besar..!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjadi usahawan, tidak melulu dengan membuka gerai makanan, bengkel, warung atau toko di pinggir jalan. Juga tidak perlu repot membeli ruko lebih dulu dan hak-hal lain yang tidak substansial. Bagi kalangan menengah, banyak entrepreneurial efforts yang lebih memadai seperti jadi konsultan, freelancer, trainers, dan banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekan saya David, pembicara dari Dynamic Life Singapore pernah mengatakan: “WORK WITH.., NOT WORK FOR..”. Artinya, bagi kita yang entrepreneurial, (meski masih berstatus pegawai sekali pun), jangan mengatakan bahwa Anda bekerja untuk seseorang, tapi berkatalah bahwa Anda bekerja bersama seseorang. Dengan demikian Anda tetap memiliki posisi tawar yang baik, tanpa harus dimarginalkan sebagai tangan di bawah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusman Hakim&lt;br /&gt;Pengamat Kewirausahaan&lt;br /&gt;Profec’s Entrepreneurial Leadership Center&lt;br /&gt;E-mail: &lt;a href="mailto:rusman@gacerindo.com"&gt;rusman@gacerindo.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Blog: &lt;a href="http://rusmanhakim.blogspot.com/"&gt;http://rusmanhakim.blogspot.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Web: &lt;a href="http://www.rusmanhakim.com/"&gt;http://www.rusmanhakim.com/&lt;/a&gt; (under construction)&lt;br /&gt;Mobile: 0816.144.2792&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-6568576594723218146?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/6568576594723218146/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=6568576594723218146' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/6568576594723218146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/6568576594723218146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2009/01/work-with-not-work-for.html' title='WORK WITH, NOT WORK FOR..!'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_7oHvKbCRCHc/SX2XoE7xv0I/AAAAAAAAAB4/r9SYwF--36g/s72-c/work-with.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-5138824487029957648</id><published>2009-01-25T21:47:00.000-08:00</published><updated>2009-01-26T02:39:06.445-08:00</updated><title type='text'>THE EAGLE HAS LANDED</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_7oHvKbCRCHc/SX2SpoJ6NcI/AAAAAAAAABw/BJv7_sff8zE/s1600-h/Eagle-Has-Landed.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295549980708844994" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 250px; CURSOR: hand; HEIGHT: 250px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_7oHvKbCRCHc/SX2SpoJ6NcI/AAAAAAAAABw/BJv7_sff8zE/s320/Eagle-Has-Landed.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;THE EAGLE HAS LANDED&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26 Januari 2009: Sebuah renungan di Tahun Baru Imlek 2560&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menyukai film perang, dan salah satu yang menurut saya paling hebat adalah film berjudul: THE EAGLE HAS LANDED (Sang Garuda Telah Mendarat). Film yang diperani oleh Michael Caine ini berkisah tentang kegagahperkasaan seorang perwira legendaris Nazi Jerman yang bernama Kolonel Kurt Steiner. Di situ ditayangkan bagaimana sang kolonel dengan keberanian yang luar biasa ditunjang kemampuan tempur 16 orang para komando, berhasil mendarat di Inggris dan mengobrak-abrik pasukan Sekutu yang waktu itu sudah menduduki Polandia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal hingga akhir, penonton terus diprovokasi dengan adegan-adegan pertempuran menegangkan, seru dan sarat dengan nilai-nilai patriotisme yang heroik. Meski pada akhirnya Kolonel Steiner gugur sebagai martir, namun misi yang diembannya berhasil dengan sukses sekaligus menimbulkan kerugian besar pada pasukan Sekutu. Itu adalah sebuah kisah nyata yang terjadi di lingkungan militer saat perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kisah heroisme saat damai juga terjadi di lingkungan sipil. Sepak terjang seorang Kolonel lain yang tidak kalah serunya telah menginspirasi banyak orang. Dialah Kolonel Sanders, yang di usia 65 tahun telah begitu gagah-berani menjelajah benua Amerika dengan mengendarai sebuah mobil tua, mengetuk 1000 lebih pintu rumah orang hanya untuk mencari mitra dalam rangka membangun kerajaan bisnisnya, Kentucky Fried Chicken (KFC).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kisah -- baik yang difilmkan atau dibukukan -- hanya menjadi seru, menarik serta berharga untuk disimak apabila di dalamnya banyak adegan-adegan menegangkan. Guncangan-guncangan emosional selalu diperlukan guna membuat sebuah true-story berkualitas. Siklusnya pun selalu menampilkan hal yang sama, mulai dari sang tokoh muncul dalam situasi penuh tekanan, tidak jarang diwarnai dengan ketidakberdayaan, keterbatasan, cercaan bahkan hinaan, lalu dilanjutkan dengan perjuangan gagah berani, dan diakhiri dalam 2 kemungkinan, yaitu sukses (happy ending), atau martir (sad ending).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membayangkan, betapa bangganya anak cucu Kol. Steiner dan juga Kol. Sanders ketika mendengar kisah-kisah luar biasa tentang sepak terjang orang-orang tua mereka. Bangga karena menyadari bahwa pendahulu mereka adalah para leaders yang dihormati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita merangkai kisah hidup kita sendiri dengan berbagai pengalaman mendebarkan, seru serta menegangkan sehingga menjadikannya kisah yang berkualitas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau belum, mari tinggalkan zona nyaman yang hingga sekarang masih kita rangkul erat-erat, lalu terjun ke medan tempur sebagaimana The Eagle Has Landed. Tidak masalah apakah akhir kisah kita akan “happy ending”, ataukah “sad ending”. Yang penting, dengan terjun ke medan tempur kita telah membuat kisah hidup kita berkualitas. Kisah yang anak cucu kita bangga mendengarnya, bukan justru malu karena orang tuanya pecundang yang tidak pernah bertempur sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusman Hakim&lt;br /&gt;Pengamat Kewirausahaan&lt;br /&gt;Profec’s Entrepreneurial Leadership Center&lt;br /&gt;E-mail: &lt;a href="mailto:rusman@gacerindo.com"&gt;rusman@gacerindo.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Portal: &lt;a href="http://www.gacerindo.com/"&gt;http://www.gacerindo.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Blog: &lt;a href="http://rusmanhakim.blogspot.com/"&gt;http://rusmanhakim.blogspot.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Web: &lt;a href="http://www.rusmanhakim.com/"&gt;http://www.rusmanhakim.com/&lt;/a&gt; (under construction)&lt;br /&gt;Mobile: 0816.144.2792&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-5138824487029957648?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/5138824487029957648/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=5138824487029957648' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/5138824487029957648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/5138824487029957648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2009/01/eagle-has-landed.html' title='THE EAGLE HAS LANDED'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_7oHvKbCRCHc/SX2SpoJ6NcI/AAAAAAAAABw/BJv7_sff8zE/s72-c/Eagle-Has-Landed.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-3658533712126580032</id><published>2008-11-22T16:42:00.000-08:00</published><updated>2008-11-22T17:06:19.245-08:00</updated><title type='text'>HARI-HARI OMONG KOSONG</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_7oHvKbCRCHc/SSisfc93YhI/AAAAAAAAABk/9KUPRd4FxLI/s1600-h/harmoko.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271653020188762642" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 157px; CURSOR: hand; HEIGHT: 188px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_7oHvKbCRCHc/SSisfc93YhI/AAAAAAAAABk/9KUPRd4FxLI/s320/harmoko.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_7oHvKbCRCHc/SSiqw_doEpI/AAAAAAAAABc/qSgBI5iOGfY/s1600-h/harmoko.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;HARI-HARI OMONG KOSONG..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam acara ramah tamah pada peresmian sebuah lembaga keuangan mikro baru-baru ini di Depok, seorang mantan bankir tampaknya tertarik dengan status saya yang disebut pengamat kewirausahaan. Beliau mendekat sambil berkata: “Pak, kami dari perbankan dan juga lembaga-lembaga keuangan mikro merasa sangat berkepentingan dengan wirausaha. Oleh sebab itu, kami sekarang ini sedang mengedepankan program-program yang membantu perkembangan Usaha Kecil dan Mikro (UKM) di Indonesia..”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah bagus sekali, Pak. Apa saja kriteria dalam menentukan UKM mana yang akan dibantu, dan mana yang tidak?” tanya saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang mantan bankir tertawa seraya mengatakan: “Mudah saja. Kita tinggal lihat gerai usahanya, ramai tidak? Lalu lihat pembukuan keuangannya, transaksi dan arus kasnya bagus tidak? Kalau gerainya ramai, dan laporan keuangannya bagus, berarti usahanya lancar dan berpotensi untuk sukses. Nah, yang begitulah yang akan kita bantu..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu, kalau pengusaha kecil yang gerainya belum ramai, arus keuangannya masih tersendat-sendat, bagaimana?” tanya saya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah, kalau yang begitu, ya belum bisa dibantu Pak. Kita tidak berani ambil risiko. Lebih baik kita tunggu sampai usahanya lancar..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar jawaban ini, saya jadi tersenyum. “Di situlah letaknya perbedaan pandangan antara perbankan dan kewirausahaan, Pak. Dalam kacamata wirausaha, pengusaha yang sudah lancar bisnisnya, seharusnya tidak boleh dibantu..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Loh, sebab apa? “ tukas “pak bankir”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebab, tanpa dibantu pun dia sudah mampu mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi dan dia bisa maju. Oleh karenya, bantuan yang diterima dari bank justru akan melemahkan daya juangnya sebagai wirausahawan tangguh”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa bermaksud menggurui, saya lantas mengambil contoh kasus pangusaha-pengusaha bank kelas kakap penerima BLBI. Mereka itu sebenarnya tidak perlu dibantu, tapi pemerintah telah memanjakan mereka dengan berbagai fasilitas yang tidak seharusnya diberikan. Dan sekarang, kita lihat sendiri bagaimana dahsyat akibatnya yang hampir-hampir membangkrutkan negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak bankir tampak sedikit terperangah, tapi melanjutkan argumentasinya: “Kalau bank atau lembaga keuangan harus membiayai pengusaha yang masih terseok, risikonya terlalu besar Pak. Sebab, apabila pengusaha itu tidak mampu membayar pinjamannya, bukankah semua pihak dirugikan? Dana hilang, sementara masih banyak pengusaha-pengusaha lain yang menunggu bantuan..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapak betul. Bank dan lembaga keuangan memang bukan bagian dari Departemen Sosial yang bertugas bagi-bagi uang tanpa berharap kembali. Bank hidup dari bunga pinjaman, atau kalau bank syariah mungkin dari bagi hasil. Itu semua adalah bisnis. Jadi kalau boleh, perkenankan saya untuk usul, bagaimana kalau istilah “bantuan” itu dihilangkan saja. Dilihat dari kedua belah pihak, rasanya tidak klop.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari sisi perbankan, business is business. Tidak ada yang gratis. Pinjam uang, harus bayar bunganya. Atau sisihkan bagi hasilnya. Jadi, sesungguhnya itu bukan bantuan..”, lanjut saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari sisi kewirausahaan, pengusaha adalah leader. Tidak ada kata mengemis, dan tidak ada kata mohon belas kasihan bagi seorang leader. Pinjaman adalah bisnis, dan itu harus dibayar. Semua pelaku bisnis haruslah setara-sederajat. Tidak ada istilah “tangan di bawah” bagi pengusaha terhadap siapa pun, termasuk pada bank atau lembaga keuangan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan kami terputus di situ, karena acara pengguntingan pita dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seselesainya acara peresmian kantor tersebut, dalam perjalanan pulang saya berfikir sendiri. Ya, kalau antara perbankan dan dunia wirausaha terdapat gap masalah pembiayaan, lantas apa jalan keluarnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saya teringat akan tulisan David Ch’ng tentang sukses kaum minoritas perantauan di Asia Tenggara, yang mengutarakan bahwa salah satu kunci sukses mengatasi masalah pembiayaan usaha adalah dengan jalan membentuk komunitas. Tepatnya, komunitas usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, dan itu pula yang telah dilakukan secara tradisional oleh saudara-saudara kita dari berbagai etnik di Indonesia dalam berbisnis, mulai dari komunitas orang Minang dengan Rumah Makan Padangnya, orang Tegal dengan Wartegnya, orang Bugis, orang Gorontalo, orang Banjar, orang Madura, orang Bali, orang Maluku, serta nyaris hampir semua suku di Indonesia dengan masing-masing komunitasnya. Dan mereka juga sukses!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, temans.. Kita yang hidup di jaman modern ini, tentu lebih sadar dengan manfaat berkomunitas. Dengan cara itu kita berorganisasi, dengan cara yang sama pula kita berkelompok dalam milis-milis. Dengan kesadaran tentang potensi bisnis dalam sebuah komunitas, mengapa pula kita tidak mulai berfikir bagaimana mengeksplorasi sumber daya tersembunyi dari sebuah grup di internet, demi kesuksesan hidup di masa depan? Bukankah kita tidak mau sekadar “harmoko”, hari-hari omong kosong?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusman Hakim&lt;br /&gt;Pengamat Kewirausahaan&lt;br /&gt;Profec’s Entrepreneurial Leadership Center&lt;br /&gt;E-mail: rusman@gacerindo.com&lt;br /&gt;Portal: http://www.gacerindo.com&lt;br /&gt;Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com&lt;br /&gt;Web: http://www.rusmanhakim.com, http://www.pempekpatrol.com&lt;br /&gt;Mobile: 0816.144.2792&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-3658533712126580032?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/3658533712126580032/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=3658533712126580032' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/3658533712126580032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/3658533712126580032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2008/11/hari-hari-omong-kosong.html' title='HARI-HARI OMONG KOSONG'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_7oHvKbCRCHc/SSisfc93YhI/AAAAAAAAABk/9KUPRd4FxLI/s72-c/harmoko.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-8679234125247323084</id><published>2008-06-07T01:51:00.000-07:00</published><updated>2008-06-07T02:00:50.214-07:00</updated><title type='text'>“HOT..HOT..OH.. SO HOT..!</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_7oHvKbCRCHc/SEpOLqY6azI/AAAAAAAAAA8/7IS_be8U_LU/s1600-h/dance.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_7oHvKbCRCHc/SEpOLqY6azI/AAAAAAAAAA8/7IS_be8U_LU/s320/dance.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5209061881271708466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; “HOT..HOT..OH.. SO HOT..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu tayangan iklan yang cukup heboh di televisi beberapa waktu lalu, adalah iklan produk mie instan yang diberi nama “selera pedas”.  Tayangannya memang menarik, di mana diperlihatkan perempuan-perempuan muda berkostum ketat warna merah menyala, meliuk-liuk menarikan tarian dinamis sambil diiringi musik keras dengan lagu yang berlirik: “Hot..hot..oh.. so hot..!” dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat saya, kata “HOT” mempunyai makna tersendiri.  Sebagai kata dasar yang berarti “panas” atau “pedas”, maka akan tergambar dengan kuat dalam benak saya sesuatu yang mengandung passion, semangat, gairah serta daya juang yang menggebu-gebu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah seharusnya kita hidup di dunia ini.  Tidak peduli siapa kita, apakah kita seorang karyawan profesional ataukah seorang entrepreneur, maka sudah selayaknya kita melakoni kehidupan dengan “HOT”, penuh passion, penuh semangat, bergairah serta didukung oleh daya juang yang menggebu-gebu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana penjabaran dan implementasinya?  Haruskah setiap hari kita menyisihkan waktu untuk menari-menari secara HOT seperti perempuan di tayangan iklan selera pedas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan! Bukan begitu.  Menurut saya kata “HOT” dapat dijabarkan sebagai kependekan dari  3 buah kata, yaitu: “Hati – Otak – Tangan”.  Tentu masing-masingnya memiliki makna sendiri-sendiri, yang apabila dipersatukan akan merupakan sebuah paket ampuh yang dapat membawa kita ke jenjang penghidupan sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HATI, menunjukkan integritas, ketulusan dan kejujuran, good attitude, keinginan melayani dan kemauan memberikan nilai tambah.  Anda bisa percaya bahwa dengan satu unsur ini saja, bila semua orang memiliki hati yang baik dan bersih, maka dunia dijamin akan menjadi suatu tempat ternikmat di seantero jagat raya.  Tidak ada kecurangan, tidak ada kejahatan. tidak ada korupsi dan kehidupan menjadi damai dan tenteram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OTAK, memberi kontribusi soal kecerdasan.  Ada 3 jenis kecerdasan yang bisa dianggap terkait dengan kinerja otak.  Seperti kita tahu, ketiganya terdiri dari: Kecerdasan Intelektual (Intellectual Intelligence=II), Kecerdasan Emosi (Emotional Intelligence=EI) serta Kecerdasan Spiritual (Spiritual Intelligence=SI). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ketiga jenis intelijensia inilah, kita sebagai manusia akan mampu mewujudkan tidak saja “kerja keras”, tetapi lebih dari itu kita juga mampu melakukan “kerja cerdas”. Dan oleh karenanya cita-cita umat manusia untuk senantiasa menciptakan peningkatan kesejahteraan yang menyeluruh dan berkesinambungan, kita yakini dapat tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TANGAN, merupakan manifestasi dari “kerja”, “komitmen” dan “action”. Tiada perubahan yang benar-benar dapat dijelmakan, apabila tidak ada implementasinya di dunia nyata.  Rancangan, rencana, imajinasi atau mimpi akan tetap dalam keadaannya yang “intangible” (maya, semu, tidak nyata) selama tidak ada perbuatan nyata yang membuatnya menjadi “tangible” (berwujud).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HOT adalah esensi kehidupan manusia.  Lebih jelasnya, HOT merupakan modal paling hakiki yang dimiliki manusia, yang dengan itu seharusnya kita semua tidak gentar menghadapi segala tantangan kehidupan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HOT tidak menyiratkan kata-kata yang terkait dengan uang.  Kalau Anda seorang calon entrepreneur, itu artinya Anda tidak perlu memusingkan soal ketersediaan uang untuk modal memulai usaha.  HOT adalah modal yang sesungguhnya, karena dengan HOT Anda bisa mendapatkan uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda seorang profesional, hal ini akan lebih jelas lagi.  Seorang profesional sejati tidak pernah memerlukan uang untuk mendapatkan pekerjaan.  HOT yang Anda milikilah yang memungkinkan Anda dipercaya menduduki sebuah jabatan.  Kecuali, kalau Anda memang seorang profesional tidak qualified, yang biasa melakukan sogok-menyogok untuk memperoleh posisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada galibnya, kehidupan seorang profesional mau pun seorang entrepreneur tidaklah jauh berbeda.  Keduanya seharusnya tidak memerlukan uang untuk modal bekerja atau berusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dengan penjabaran ini, semoga Anda menjadi yakin bahwa banyak jalan menuju Roma.  Apa pun jalan yang Anda ambil, profesional kah atau entrepreneur kah, semuanya sama saja.  Anda hanya perlu HOT saat memulai, dan UANG akan datang kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat bekerja..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusman Hakim&lt;br /&gt;Pengamat Kewirausahaan&lt;br /&gt;Profec’s Entrepreneurial Leadership Center&lt;br /&gt;E-mail: rusman@gacerindo.com&lt;br /&gt;Portal: http://www.gacerindo.com&lt;br /&gt;Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com&lt;br /&gt;Mobile:   0816.144&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-8679234125247323084?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/8679234125247323084/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=8679234125247323084' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/8679234125247323084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/8679234125247323084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2008/06/hothotoh-so-hot.html' title='“HOT..HOT..OH.. SO HOT..!'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_7oHvKbCRCHc/SEpOLqY6azI/AAAAAAAAAA8/7IS_be8U_LU/s72-c/dance.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-89922847939274109</id><published>2008-05-27T01:04:00.000-07:00</published><updated>2008-05-27T01:10:18.491-07:00</updated><title type='text'>DUCK IN THE LAND, DUCK IN THE WATER</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_7oHvKbCRCHc/SDvBy6VcP6I/AAAAAAAAAA0/ZHSKJuwrbqo/s1600-h/duck-in-the-water.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_7oHvKbCRCHc/SDvBy6VcP6I/AAAAAAAAAA0/ZHSKJuwrbqo/s320/duck-in-the-water.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5204966874753548194" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;DUCK IN THE LAND, DUCK IN THE WATER&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang kita merenung, faktor apakah sebenarnya yang menentukan kesuksesan seseorang dalam hidup ini? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pasti sudah sering mendengar, bahkan diindoktrinasi secara keras oleh orang tua, guru, para senior dan lain-lain, bahwa kesuksesan hidup harus dicapai dengan kerja keras serta pengorbanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersakit-sakit lebih dahulu, bersenang-senang kemudian..  &lt;br /&gt;Tiada hasil tanpa pengorbanan.. &lt;br /&gt;No pain, no gain.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat-kalimat seperti itu boleh dikatakan sudah menjadi konsumsi kita sehari-hari. Namun mengapa yang terjadi sejauh ini, seakan tidak pernah selaras dengannya?  Jangankan sukses dan bersenang-senang, untuk mencukupi hidup sehari-hari pun rasanya sudah setengah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak dari kita sudah belasan bahkan puluhan tahun menjalani kehidupan yang penuh kesakitan dan pengorbanan ini.  Pengorbanan fisik, pengorbanan finansial atau pun pengorbanan perasaan, tidak kurang-kurang kita berikan demi meraih kebahagiaan hidup yang kita dambakan beserta keluarga.  Hasilnya? Tidak ada yang signifikan.. semua serasa jalan di tempat saja..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat akan petuah seorang guru motivasi yang pernah mengajar saya pada tahun 1986 dan 1987, lebih dari 20 tahun yang lalu.  Beliau orang Singapura, namanya David Chia.  Dalam salah satu sesi pelatihannya, David memperkenalkan sebuah analogi yang dinamakan “DUCK IN THE LAND, DUCK IN THE WATER” atau “Bebek Di Atas Tanah, Bebek Di Dalam Air”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa urusan kita dengan bebek?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bebek merupakan salah satu jenis binatang yang mendapat berkah Tuhan, sehingga ia bisa berjalan dan berlari di atas tanah, dan dapat pula berenang-renang di atas air.  Namun demikian coba perhatikan, dari dua tempat itu, di manakah bebek tampak paling bahagia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;David menjelaskan bahwa meski bebek mampu dan tidak bermasalah untuk berkiprah di atas tanah, namun puncak kebahagiaan hewan ini justru ketika berenang-renang di atas air.  Di atas airlah seekor bebek akan merasa bebas sebebas-bebasnya, bercengkerama dan berselancar ke sana-ke mari sambil membersihkan bulu-bulu sayapnya yang indah, dan bersikap seakan seisi dunia menjadi paradiso nan indah ceria baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena bebek ini menjadi referensi bahwa banyak orang di antara kita yang selama bertahun-tahun menjalani kehidupan bagai “DUCK IN THE LAND”, atau bebek yang berjalan di atas tanah.  Kenapa?&lt;br /&gt;Karena mereka telah menjalani pengorbanan yang begitu berat demi membangun kehidupan, dengan jalan bekerja di bidang-bidang yang tidak disukai.  Bekerja di suatu tempat di mana kreativitas tidak dapat berkembang.  Atau bekerja dengan gaji yang tidak mencukupi, namun tidak pernah berani angkat kaki guna mencari peluang yang lebih baik.  Dan semua itu, dengan penuh penderitaan dijalani selama bertahun-tahun tanpa henti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa mereka seakan tidak pernah berusaha untuk berontak dari keadaan status quo, guna mencapai keadaan yang lebih berbahagia seperti layaknya “DUCK IN THE WATER”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, mereka belum menyadari bahwa jalan ke arah itu ada.  Dan bahwa jalan bahagia itu tidak perlu ditempuh dengan penuh rasa sakit serta derita.  Dan juga bahwa dunia ini sesungguhnya tidaklah sesuram yag mereka sangka. Tuhan sudah memberikan komposisi yang sama baik bagi penderitaan, mau pun bagi kebahagiaan.  Dan Dia sudah menyerahkan sepenuhnya kepada manusia, bagian mana yang akan dipilih.  Penderitaankah, atau kebahagian?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan memang hanya masalah pilihan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, lebih lanjut David memberikan penjelasan bahwa untuk sukses menemukan kebahagiaan, ada sebuah fomula yang mengatakan: “Kesuksesan terjadi pada saat kekuatan menemukan tempatnya yang sesuai..”!  Ini juga yang menjadi analogi: “DUCK IN THE WATER”.. sebagaimana seekor bebek yang memiliki kekuatan untuk berenang-renang, bertemu dengan air telaga yang sejuk dan jernih..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau seekor bebek secara naluriah sadar akan kekuatannya dalam hal berenang di atas air, dapatkah kita menyadari kekuatan apa yang kita miliki agar bisa mengarahkannya pada situasi lingkungan yang sesuai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikata pencarian tentang kekuatan apa yang kita miliki terasa sulit, ada panduan yang mudah.  Yaitu, tinggalkan aktivitas kita yang sekarang hanya memberi penderitaan, dan temukan bidang pekerjaan yang kita sukai.  Kalau perlu, jika kita sekarang seorang karyawan, jadilah usahawan.  Perdalam kompetensi kita di bidang tersebut, cermati munculnya kesempatan, rebut peluang dan jadilah raja di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita semua menjadi “DUCK IN THE WATER”..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusman Hakim&lt;br /&gt;Pengamat Kewirausahaan&lt;br /&gt;Profec’s Entrepreneurial Leadership Center&lt;br /&gt;E-mail: rusman@gacerindo.com&lt;br /&gt;Portal: http://www.gacerindo.com&lt;br /&gt;Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com&lt;br /&gt;Mobile:   0816.144.2792&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-89922847939274109?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/89922847939274109/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=89922847939274109' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/89922847939274109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/89922847939274109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2008/05/duck-in-land-duck-in-water.html' title='DUCK IN THE LAND, DUCK IN THE WATER'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_7oHvKbCRCHc/SDvBy6VcP6I/AAAAAAAAAA0/ZHSKJuwrbqo/s72-c/duck-in-the-water.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-6700450588261028361</id><published>2007-10-24T22:27:00.000-07:00</published><updated>2007-10-24T22:44:39.669-07:00</updated><title type='text'>Home Sweet Home, Work Sweet Work</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_7oHvKbCRCHc/RyAtIppHqTI/AAAAAAAAAAk/X0bUJ1Z5MeM/s1600-h/HomeSweetHome.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_7oHvKbCRCHc/RyAtIppHqTI/AAAAAAAAAAk/X0bUJ1Z5MeM/s200/HomeSweetHome.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5125146002588150066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;HOME SWEET HOME, WORK SWEET WORK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang mengatakan bahwa seburuk apapun keadaan rumah kita, rumah kita tetaplah istana kita.  Rumahlah satu-satunya tempat yang dapat memberikan kedamaian, ketenteraman serta kebahagiaan hakiki.  Tidak ada tempat lain di dunia ini yang bisa memberikan kebebasan untuk melepaskan diri dari segala belenggu dan topeng-topeng kehidupan, selain di rumah sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, sungguh indah dan sungguh tepatlah ungkapan: “Home Sweet Home..!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, kebahagiaan di rumah belum tentu bisa dibawa ke tempat lain, kantor misalnya.  Bahagia di rumah, belum tentu bahagia di kantor.  Kenyataannya, banyak orang merasa sangat-sangat sulit untuk mengadaptasi kebahagiaan di rumah, ke tempat mereka bekerja.  Terlalu banyak intrik dan provokasi yang muncul dan terjadi di lingkungan kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simaklah apa yang dirasakan oleh mereka yang berprofesi sebagai karyawan profesional.  Mereka sering kali merasa “ada ancaman” bahwa sewaktu-waktu mereka bisa di PHK.  Perasaan tidak nyaman juga datang dari “ulah” para atasan, para bos (atau bukan bos tapi sangat “bossy”) yang terasa semena-mena memerintah ini dan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi persaingan antar karyawan yang begitu ketat, sampai-sampai mencuatkan manuver-manuver tidak sehat mulai dari trik-trik “carmuk” alias “cari muka”, sampai pada pergunjingan dan fitnah terselubung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian-kejadian semacam itu, sedikit banyak akan mendistorsi suasana kebahagiaan yang kita bawa dari rumah ke tempat di mana kita berkarir.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, buat kebanyakan orang, tekanan dan stres di tempat kerja sudah dianggap lumrah.  Memang itulah budaya hidup di tempat kerja, mau apa lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua orang menghabiskan sebagian besar dari waktunya di tempat kerja.  Katakanlah, rata-rata orang sekarang bekerja selama 10 – 12 jam sehari.  Ini artinya mereka mendedikasikan 50% dari 24 jam waktu yang dimilikinya untuk fokus di sektor karir.  Sedangkan 50% lagi dibagi-bagi untuk kegiatan-kegiatan lainnya, seperti bercengkerama dengan keluarga di rumah, bersosialisasi dengan masyarakat, beribadah, belajar, pergi ke gym untuk olahraga dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situ kita dapat menyimpulkan bahwa manusia masa kini rata-rata hidup tidak bahagia, karena waktunya dominan berada di tempat yang tidak bahagia, yaitu di kantor atau di lingkungan kerja yang penuh dengan tekanan dan stres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun toh orang tidak bisa menghindar dari keharusan kerja, sebab, inilah satu-satunya aktivitas yang merupakan “earning center”, pusat penghasilan yang membiayai semua kegiatan orang yang bersangkutan.  Aktivitas-aktivitas lainnya yang berhubungan dengan keluarga, kegiatan sosial, spiritual, kesehatan fisik-mental, semuanya merupakan “cost centers” alias pusat-pusat biaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi wajarlah kalau mengingat kepentingannya, kita semua mengalokasikan waktu terbanyak untuk membina karir.  Lantas bagaimana caranya agar dalam bekerja kita pun bisa tetap berbahagia?  Kalau di rumah kita dapat membangun “home sweet home”, mengapa di kantor kita tidak bisa membangun “work sweet work”?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan observasi, kebanyakan orang bekerja semata-mata dilatarbelakangi motivasi untuk mencari nafkah (subsistence motivation).  Mereka merasa harus bekerja karena harus memberi makan diri dan keluarganya.  Harus menyekolahkan anak-anaknya.  Dan harus membiaya semua kebutuhan operasional rumah tangganya.  Harus dan harus..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan motivasi yang “serba harus” ini, tidak heran kalau suasana kerja menjadi sangat tegang dan stres.  Kuatir kalau gaji tak mencukupi, tentu tidak bisa lagi memberi makan dan menyekolahkan anak. Kuatir akan ancaman PHK, sama dahsyatnya dengan kuatir akan kiamat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana orang bisa bahagia kalau setiap hari dicekam ketakutan seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membangun suasana “work sweet work”, perlu dilakukan perubahan total atas paradigma dan motivasi kita untuk bekerja.  Jangan berfikir bahwa bekerja hanya semata-mata untuk mencari nafkah.  Kita harus berfikir jauh lebih besar dari itu.  “Think Big”, kata David J. Schwarz.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekerja juga harus “enjoyable”, bisa dinikmati semaksimal mungkin.  Oleh sebab itu, ada 2 langkah sederhana untuk dapat menjadikan kita bahagia dalam pekerjaan.  Yang pertama: cari atau pindah kerja yang bidangnya sesuai dengan kesenangan kita.  Tinggalkan saja pekerjaan yang sekarang kalau kita merasa tidak bahagia di situ. Jangan takut, karena dengan bekerja di bidang yang kita senangi, peluang untuk maju akan lebih besar sekian kali lipat.  Kalau perlu, bila kita sekarang berstatus karyawan, jadilah seorang usahawan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah kedua: jadilah raja di sana!  Guna menjadi nomor satu di suatu bidang, tentu kita harus piawai.  Nah, untuk belajar dan menjadi piawai di suatu bidang yang kita senangi, akan sangat mudah dibanding belajar dan menjadi piawai di bidang yang kita benci.  Akan lebih ideal lagi kalau bidang yang disenangi itu adalah juga bidang hobi kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita akan menjadi seekor harimau yang tumbuh sayap!  Dalam kondisi ini, tidak perlu lagi takut di PHK.  Tidak perlu lagi stres karena diperintah-perintah orang lain.  Dan tidak usah lagi “carmuk” atau sikut-sikutan bersaing dengan teman sejawat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, “Work Sweet Work” jarang menjadi perhatian orang, berbeda dengan “Home Sweet Home” yang selalu didamba dan dibicarakan di berbagai media.  Namun demikian seyogyanya kita menyadari bahwa “Work Sweet Work” merupakan energi alamiah yang vital bagi kehidupan setiap orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang kita merasa ganjil ketika menyaksikan seorang dokter gigi yang lebih suka main film daripada membuka praktek perawatan gigi.  Atau melihat insinyur yang lebih senang bermain musik katimbang menggeluti profesi keteknikan.  Aneh ketika tahu bahwa ada pengacara yang ahli hukum eh.. malah getol jadi bintang sinetron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menangkap bahwa  itulah gejala bekerjanya  fenomena “Work Sweet Work”, di mana secara disadari atau tidak, beberapa orang yang peka telah mengikuti suara hati nuraninya untuk mencari dan membangun dunia serta kerajaannya sendiri.  Di dunia dan kerajaan yang di dalamnya mereka bisa menemukan kebahagiaan sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sebaliknya dari mencibir dengan perasaan aneh, saya justru ingin memberi acungan jempol.  Mereka berani tampil beda, dan dengan itu mereka berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Work Sweet Work” adalah sebuah wahana earning center yang subur, kehadirannya akan mendukung “Home Sweet Home” yang indah.  Sebaliknya, tanpa “Work Sweet Work”, rona keindahan “Home Sweet Home” akan meredup dan pudar tanpa bisa memberikan kebahagiaan yang berarti. (rh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** Artikel ini dapat Anda baca juga di portal wirausaha http://www.gacerindo.com, dilengkapi dengan gambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusman Hakim&lt;br /&gt;Pengamat Kewirausahaan&lt;br /&gt;LifeWisdom Presenter&lt;br /&gt;E-mail: rusman@gacerindo.com&lt;br /&gt;Portal: http://www.gacerindo.com&lt;br /&gt;Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com&lt;br /&gt;Mobile:   0816.144.2792&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-6700450588261028361?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/6700450588261028361/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=6700450588261028361' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/6700450588261028361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/6700450588261028361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2007/10/home-sweet-home-work-sweet-work.html' title='Home Sweet Home, Work Sweet Work'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_7oHvKbCRCHc/RyAtIppHqTI/AAAAAAAAAAk/X0bUJ1Z5MeM/s72-c/HomeSweetHome.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-4239892647090550134</id><published>2007-10-22T08:25:00.000-07:00</published><updated>2007-10-22T08:28:53.525-07:00</updated><title type='text'>Power Of The Verbs</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_7oHvKbCRCHc/RxzBeIMNgPI/AAAAAAAAAAU/3CIfPtlBovI/s1600-h/PowerOfTheVerb.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_7oHvKbCRCHc/RxzBeIMNgPI/AAAAAAAAAAU/3CIfPtlBovI/s200/PowerOfTheVerb.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5124183199379718386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;POWER OF THE VERBS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suatu seminar, seorang peserta berkeluh-kesah kepada Stephen Covey, bahwa kehidupan rumah tangganya tidak bahagia.  Ia dan isterinya sudah tidak sepaham lagi, sehingga terlalu banyak pertengkaran yang terjadi.  Oleh sebab itu, ia ingin Covey memberinya jalan keluar. “Apa yang harus saya lakukan, Tuan Covey?” demikian ia bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berfikir sejenak Stephen Covey menjawab: “Cintai isterimu..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang penanya tertegun, lalu ia menegaskan: “Anda tahu Stephen, saya sudah tidak cinta lagi pada isteri saya.  Jadi apa yang harus saya perbuat?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cintai isterimu..”, Stephen Covey mengulangi jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anda tentu tidak mengerti bahwa sesungguhnya sudah tidak ada lagi perasaan cinta di hati saya terhadap dia..” sang peserta tetap pada pendiriannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kawan..! Yang saya maksud di sini adalah ‘cinta’ dalam kata kerja.  Bukan ‘perasaan cinta’ sebagai kata benda atau kata keadaan.  Jadi Anda harus mencintai isteri Anda dalam kata kerja.  Lakukanlah, cintai isteri Anda dan Anda akan menemukan cinta itu kembali..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski petikan dialog di atas kelihatan sederhana, namun sebenarnya yang dibahas oleh Stephen Covey adalah sebuah kunci kesuksesan hidup.  Sebuah “resep rahasia” yang akan mampu menuntun manusia ke arah kebahagiaan sejati dalam kehidupan yang hingar-bingar ini.  Mengapa demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar orang memang lebih banyak menggantungkan kebahagiaan hidupnya pada “kata benda” atau “kata keadaan”.  Lebih tepatnya, pada “sesuatu” baik berupa benda, orang atau pun lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih mengherankan adalah kenyataan bahwa rata-rata manusia hanya mau atau hanya bisa berbahagia, kalau ada alasan tertentu untuk itu.  Coba perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya akan sangat berbahagia bila saya berhasil menjadi orang kaya..!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mobil mewah itu sungguh bagus, berteknologi tinggi serta memberikan prestise tersendiri.  Alangkah berbahagianya bila saya dapat memilikinya..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dunia serasa gelap, dan tiada lagi kebahagiaan yang tersisa semenjak saya ditinggal oleh kekasih yang sangat saya cintai..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hari mendung menjelang hujan lebat, jalanan macet pula.  Hati saya benar-benar tertekan hari ini..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat contoh kalimat di atas menunjukkan secara jelas, betapa banyak orang yang menggantungkan kebahagiaanya pada keadaan (kekayaan), pada benda (mobil mewah), pada orang (kekasih) dan pada lingkungan (cuaca mendung dan jalan macet).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, kalau kita mau berfikir jernih, mengapa pula kebahagiaan itu harus dilekatkan pada hal-hal di luar kita, baik benda, orang, keadaan mau pun lingkungan?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan Kata Kerja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kelahiran manusia pertama di atas bumi, Tuhan Yang Maha Esa telah memberi perintah agar manusia aktif bekerja untuk dapat mempertahankan hidup.  Dalam segala hal, manusia harus “taking action”, maka itu artinya ia harus selalu berada dalam lingkup kata kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patut disyukuri bahwasanya kesadaran dan etos kerja manusia secara fisik berkembang pesat, sehingga tingkat kemajuan teknologi di dunia industri sekarang sudah sedemikian majunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun apa lacur, kalau pun kekuatan kata kerja telah mampu membawa kemajuan di tingkat fisik, tidak demikian halnya di tingkat mental.  Hampir semua orang berfikir bahwa kekuatan kata kerja hanya berlaku atas segala sesuatu yang kita kerjakan secara fisik.  Nyaris tidak pernah terfikir bahwa kekuatan kata kerja juga berlaku atas aktivitas-aktivitas mental dan emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambil contoh, emosi-emosi negatif seperti kecewa, marah, takut atau perasaan tertekan, adalah unsur-unsur mental yang dianggap sebagai suatu “keadaan” atau “kondisi”, yang terjadi sebagai akibat pengaruh-pengaruh dari luar.  Karena merupakan akibat dari pengaruh luar, maka emosi-emosi semacam itu tidak dapat dikontrol oleh yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyaris tidak ada orang yang mau berspekulasi bahwa emosi sebenarnya juga merupakan aktivitas manusia yang bisa dikendalikan oleh yang empunya tubuh.  Aktivitas yang tentunya bisa dilakukan oleh manusia berdasarkan “kata kerja”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyanyi seriosa sekaliber Surti Suwandi atau Pranawengrum, mampu menstimulir dirinya saat menyanyikan lagu sedih, sampai menangis mengeluarkan airmata yang tidak sedikit.  Demikian juga apa yang dilakukan oleh para penyanyi opera dan artis film drama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut merupakan bukti kecil dan sederhana, bahwa emosi pun bisa “dilakukan”. Dan itulah juga yang sesungguhnya dimaksud oleh Stephen Covey, bahwa “cinta” bukanlah sekadar keadaan emosi yang terjadi dengan sendirinya.  Cinta adalah juga sebuah aktivitas manusia yang bisa dilakukan kapan saja sesuai dengan inisiatif si pelaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahagia dan Sukses Juga Merupakan Kata Kerja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita perlu prihatin, bahwa sebagian besar orang menganggap seakan-akan kebahagiaan hanya akan datang kalau ada pemicunya, apakah itu berupa harta benda, perhatian atau kasih sayang seseorang, atau stimulus lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini perlu dikoreksi.  Sesungguhnya, kebahagiaan dapat dikendalikan sesuai dengan inisiatif orang yang bersangkutan.  Jim Dorner, seorang tokoh kepemimpinan pernah mengatakan bahwa manusia sudah sepantasnya berbahagia, dan itu bisa diperoleh cukup dengan mengatakan: ”I want to be happy! I don’t want to be unhappy!”, tanpa mengait-ngaitkannya dengan faktor luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, sesuai dengan hukum sebab dan akibat, segala sesuatu yang terjadi senantiasa karena ada suatu alasan yang melatarbelakanginya.  Kekeliruan yang selama ini dilakukan oleh banyak orang sehingga mereka sulit untuk merasa bahagia secara terus menerus adalah bahwa latar belakang kebahagiaan mereka selalu diletakkan pada obyek-obyek luar yang mudah lenyap serta di luar kendalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, sumber-sumber daya yang permanen ada pada diri kita sendiri merupakan alasan terbaik untuk kita bisa selalu merasa bahagia.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa saja?  Banyak, antara lain keyakinan akan diri, kepiawaian dalam bidang-bidang tertentu, profesionalisme, semangat dan daya juang, naluri avonturisme, proaktivitas, motivasi, visi, serta kedekatan kita dengan Tuhan.  Dengan latihan dan kesadaran akan berbagai kemampuan pribadi inilah, pada akhirnya kita akan terbiasa untuk berbahagia setiap saat, tanpa perlu melihat materi luar apa yang kita miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya adalah, bagaimana mungkin komponen-komponen tak kasat mata (intangible) seperti semangat, kepiawaian, motivasi, kepercayaan diri dan sebagainya itu dapat menjadi alasan untuk kita berbahagia?  Bukankah lebih realistis kalau orang merasa bahagia karena memperoleh banyak uang, memiliki rumah besar dan mobil mewah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti telah disinggung di atas, uang, rumah besar, mobil mewah dan bahkan kasih sayang orang lain, adalah unsur-unsur luar yang tidak sepenuhnya berada di bawah kendali kita.  Sifatnya situasional, sehingga setiap saat bisa saja lenyap dari kepemilikan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, kemampuan diri pribadi merupakan “mesin kehidupan” yang kita miliki secara abadi, tidak akan hilang sepanjang hayat masih dikandung badan.  Uang, mobil serta harta benda lainnya mudah diperoleh asalkan kita mau bekerja memanfaatkan “mesin kehidupan” tersebut secara tepat dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silahkan direnungkan.(rh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** Artikel ini dapat Anda baca juga di portal wirausaha http://www.gacerindo.com, dilengkapi dengan gambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusman Hakim&lt;br /&gt;Pengamat Kewirausahaan&lt;br /&gt;LifeWisdom Presenter&lt;br /&gt;E-mail: rusman@gacerindo.com&lt;br /&gt;Portal: http://www.gacerindo.com&lt;br /&gt;Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com&lt;br /&gt;Mobile:   0816.144.2792&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-4239892647090550134?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/4239892647090550134/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=4239892647090550134' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/4239892647090550134'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/4239892647090550134'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2007/10/power-of-verbs.html' title='Power Of The Verbs'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_7oHvKbCRCHc/RxzBeIMNgPI/AAAAAAAAAAU/3CIfPtlBovI/s72-c/PowerOfTheVerb.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-5444586344151524916</id><published>2007-10-22T08:19:00.000-07:00</published><updated>2007-10-22T08:24:39.510-07:00</updated><title type='text'>Pahlawankah Mereka?</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_7oHvKbCRCHc/RxzAdYMNgOI/AAAAAAAAAAM/kZ2_vq6SrDY/s1600-h/PAHLAWANKAH-MEREKA.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_7oHvKbCRCHc/RxzAdYMNgOI/AAAAAAAAAAM/kZ2_vq6SrDY/s200/PAHLAWANKAH-MEREKA.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5124182086983188706" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;PAHLAWANKAH MEREKA?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Three Wishes” adalah judul sebuah acara di Metro TV yang secara tidak sengaja saya lihat pada hari Sabtu malam kemarin, tanggal 20 Oktober 2007 sekitar jam 19.30.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isinya berkisah tentang kehidupan istri-istri tentara Amerika, yang suaminya mendapat tugas maju ke medan perang di berbagai tempat di seluruh dunia.  Di situ diperlihatkan bagaimana para isteri tentara yang rata-rata masih berusia muda belia, harus melewatkan hari-hari penantiannya dibawah kecemasan, ketakutan serta kekhawatiran mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan saja, hampir setiap hari mereka menerima khabar dari institusi militer yang berwenang, bahwa ada sejumlah tentara Amerika yang gugur.  Misalnya, hari ini diketahui ada 3 personel yang terbunuh, hari berikutnya ada lagi kabar bahwa 14 orang serdadu mati di pertempuran.  Demikian seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, setiap khabar datang pada pertama kali, yang disampaikan itu hanya mengenai jumlah orang yang tewas, tanpa dilengkapi nama-nama siapa saja yang tewas itu.  Diperlukan waktu 1 – 2 hari sebelum data para korban menjadi jelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja – sebagaimana diceritakan oleh seorang ibu muda - isteri-isteri tentara setiap saat harus “berjuang” melawan debaran jantung menunggu kabar buruk yang akan menjelang.  Kalau hari ini terbetik berita bahwa Kopral A tewas, itu artinya Nyonya A seketika menjadi janda, dan anak-anak mereka yang masih kecil mejadi yatim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, hari demi hari mereka lewatkan seakan-akan hanya untuk menunggu giliran siapakah hari ini yang menjadi janda dan siapa pula yang menjadi anak yatim…  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin agak berbeda dari dugaan banyak orang tentang Amerika yang serba makmur, beberapa wanita di “Three Wishes” mengisahkan betapa suami-suami mereka menjadi tentara hanya semata-mata untuk mencari nafkah, guna menghidupi isteri dan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka memulai kehidupan dari nol, tidak punya tempat tinggal sendiri dan selalu terbentur dengan berbagai masalah kehidupan, mulai dari soal dapur sampai bagaimana menyekolahkan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pasangan muda, tidak heran kalau mereka selalu mendambakan dan berkhayal kalau suatu hari kelak kehidupan rumah tangga mereka akan menjadi mapan.  Sudah umum kalau para suami juga melontarkan hajat (wishes) bahwa mereka menginginkan suatu hari nanti akan memiliki sebuah rumah tinggal yang cukup besar dan indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alam mengatur segalanya, dan Dia bekerja dengan caraNya sendiri.  “Three Wishes” memperlihatkan betapa pada akhirnya para tentara muda itu – baik yang pulang hidup mau pun yang tinggal nama - mendapatkan anugerah sebagai balas jasa, antara lain sebuah rumah cukup besar yang mereka idam-idamkan untuk mereka tinggali beserta keluarga.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak sebagai sebuah happy ending, tapi benarkah demikian?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemirsa sama-sama menyaksikan bagaimana para janda muda yang menggandeng bocah kecil itu menerima pemberian tersebut, dengan senyum kecil tapi mata bengkak yang terus berderai air mata.  Sepadankah hadiah rumah yang diterimakan itu dengan nyawa seorang suami yang tak akan pernah bisa hadir bersama kembali?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dengan yang masih hidup.  Pada kesempatan berikut, apakah rumah besar itu akan menjadi saksi bisu akan terulangnya masa-masa penantian para isteri atas kepulangan suami, entah dalam keadaan hidup ataukah hanya tinggal nama belaka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menggelitik perasaan saya adalah, adakah para tentara muda itu bisa dianggap sebagai pahlawan?  Untuk siapakah mereka bertempur?  Untuk negarakah? Dan untuk apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berperang nun jauh di sana, entah di Irak, di Afghanistan atau di tempat lainnya.  Sementara itu tidak ada yang janggal dengan peri kehidupan di seluruh Amerika Serikat.  Semua orang sibuk dengan kegiatan rutin, pagi hari pergi kerja ke kantor, sore hari mampir ke kedai minum sejenak melepas lelah sebelum pulang ke rumah, hari libur berekreasi bersama keluarga dan seterusnya.  Semua normal, damai dan biasa-biasa saja, tiada perang tiada pula pertempuran.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, kenapa harus ada sebagian masyarakat yang tidak bisa menikmati kehidupan normal dan damai itu, bahkan harus pergi berperang di negeri orang lain dengan mempertaruhkan diri dan masa depan keluarga?  Haruskah mereka menjadi korban dari ambisi para pemimpin negara di sana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh berbeda kalau kita bandingkan dengan masa-masa perjuangan kemerdekaan Indonesia dulu.  Semua orang berperang, semua orang memanggul senjata dan semua jelas bahwa kita berperang untuk mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan negara sendiri.  Bukan untuk negara lain. Dan semua pejuang, baik yang masih hidup mau pun yang gugur, semua adalah pahlawan, pahlawan bangsa, pahlawan kemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu dulu.  Kini orang telah mengerti bahwa peperangan selalu menyengsarakan dan pertempuran selalu memusnahkan.  Yang dibutuhkan manusia sekarang adalah kesejahteraan, kedamaian, keadilan serta kemakmuran.  Oleh sebab itu, yang namanya pahlawan seharusnya adalah mereka yang bisa memberikan kontribusi untuk kesejahteraan rakyat, kedamaian, keadilan serta kemakmuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para wirausahawan memilik peluang terbesar untuk menjadi pahlawan semacam itu.  Dan Amerika memilikinya.  Sebut saja Thomas Watson (IBM), Henry Ford (Ford), Bill Gates (Microsoft), Walt Disney dan sederet nama besar lainnya.  Mereka itulah sesungguhnya yang patut menyandang sebutan pahlawan, karena merekalah yang mampu berkontribusi tidak saja untuk kejehahteraan Amerika, tapi juga sekaligus kesejahteraan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas apa hubungannya dengan Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih krusial dari pada Amerika Serikat yang sudah mapan sebagai negara termakmur di dunia,  Indonesia yang miskin ini seharusnya lebih menggalakkan kampanye agar sebagian besar warganya mau berkecimpung dalam dunia wirausaha, membangun negeri dan menyejahterakan rakyat.  Dan jadilah pahlawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lupakan perang, ciptakan kesejahteraan. Make prosperity, not war.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** Ditulis dalam rangka menyambut Hari Pahlawan, 10 November 2007(rh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** Artikel berita ini dapat Anda baca juga di portal wirausaha http://www.gacerindo.com, dilengkapi dengan foto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusman Hakim&lt;br /&gt;Pengamat Kewirausahaan&lt;br /&gt;LifeWisdom Presenter&lt;br /&gt;E-mail: rusman@gacerindo.com&lt;br /&gt;Portal: http://www.gacerindo.com&lt;br /&gt;Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com&lt;br /&gt;Mobile:   0816.144.2792&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-5444586344151524916?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/5444586344151524916/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=5444586344151524916' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/5444586344151524916'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/5444586344151524916'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2007/10/pahlawankah-mereka.html' title='Pahlawankah Mereka?'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_7oHvKbCRCHc/RxzAdYMNgOI/AAAAAAAAAAM/kZ2_vq6SrDY/s72-c/PAHLAWANKAH-MEREKA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-3105660889103098489</id><published>2007-10-22T08:14:00.000-07:00</published><updated>2007-10-22T08:17:31.960-07:00</updated><title type='text'>Pelatih Terbaik Bukan Terpintar</title><content type='html'>PELATIH TERBAIK BUKAN TERPINTAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kalanya seorang trainer dihadapkan pada situasi di mana ada peserta pelatihan yang begitu antusias membombardir pertanyaan-pertanyaan atau komentar-komentar yang bernuansa “menguji” kepiawaian dirinya sebagai pelatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa kasus, intensitas “pengujian” itu begitu tingginya, sehingga sang trainer merasa terteror.  Setiap kali sesi tertentu dimulai, “teror” pun dimulai pula sehingga lama kelamaan, sang trainer menjadi merasa sangat tidak nyaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi umumnya trainer yunior, sikap para peserta opposan diartikan sebagai tantangan frontal.  Mereka merasa sangat terusik, posisinya sebagai trainer yang bertugas untuk melatih dan mengajar audiens, terasa terancam.  Ada perasaan bahwa sebagian peserta meragukan kepiawaiannya sebagai pengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi keadaaan demikian, trainer-trainer muda biasanya menjadi “groggy”, sehingga sebagai kompensasi, mereka cenderung mempertontonkan pengetahuan dan keahlian yang dimilikinya, termasuk dengan menyebut-nyebut berbagai istilah “keren” serta berusaha untuk selalu mematahkan argumentasi yang diajukan peserta.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakanya, kerap terjadi bahwa ada saja peserta yang memang benar-benar lebih piawai, lebih tinggi ilmu pengetahuannya serta lebih berpengalaman.  Terhadap peserta jenis ini, trainer yang berusaha “pamer kehebatan” untuk mendapatkan pengakuan audiens, pasti ketemu batunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika argumentasi-argumentasi, referensi-referensi dan juga teori-teori yang mereka ajukan ternyata dimentahkan oleh peserta peneror, dengan serta-merta sang trainer menjadi frustrasi, salah tingkah, tidak tahu harus berbuat apa sehingga terlihat begitu “bodoh” di depan orang banyak.  Itulah situasi yang paling dibenci dan ditakuti oleh para trainer, dan tidak terlalu berlebihan kalau disebut sebagai “neraka”nya para trainer muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trainer senior yang sudah cukup makan asam garam pelatihan, berpegang pada basis pemikiran bahwa menjadi seorang trainer tidak perlu berpretensi sebagai figur yang harus selalu lebih pandai dari pesertanya.  Mereka siap menghadapi keadaan, di mana pada sesi-sesi tertentu akan ada peserta yang lebih piawai dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana caranya mengatasi situasi-situasi kritis seperti di atas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia pelatihan, para pelatih unggulan mempunyai jurus pamungkas yang handal.  Pertama, kehadiran peserta tukang teror yang memang lebih pandai, tidak dipandang sebagai “duri dalam daging” yang akan mengacaukan unjuk kerjanya sebagai trainer di depan kelas.  Mereka justru menerima keadaan ini sebagai keuntungan, yang akan memungkinkan kualitas pelatihan menjadi lebih baik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pelatih unggul dapat membaca apa motivasi yang ada dibalik ulah seorang peneror.  Yang paling umum, peserta tersebut biasanya hanya ingin mencari pengakuan bahwa dia orang pintar.  Dia butuh perhatian dan pujian, oleh sebab itu perlu diakomodir.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemungkinan lainnya adalah bahwa benar ada orang-orang pintar yang sangat idealis.  Orang-orang ini menginginkan bahwa program pelatihan yang mereka peroleh benar-benar berkualitas serta bermanfaat, sehingga mereka merasa perlu mengetahui apakah sang pelatih memang cukup piawai.  Itulah alasan mengapa mereka melancarkan “teror pertanyaan” pada trainernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang trainer tidak perlu merasa khawatir bahwa dirinya akan dianggap tidak cakap, hanya karena kehadiran peserta yang lebih pintar pada sesi-sesi tertentu.  Sebab apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, sebelum sebuah program pelatihan digelar, ada sebuah tahapan yang disebut tahap “pre-assessment”.  Pada tahap ini, lembaga penyelenggara pelatihan mengadakan penyaringan dan evaluasi tentang klasifikasi para peserta training.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria-kriteria tertentu yang diterapkan pada para calon peserta di tahap pre-assessment seharusnya akan membentuk sebuah kelompok peserta yang memiliki klasifikasi seragam.  Dengan demikian, lembaga pelatihan juga akan tahu klasifikasi trainer seperti apa yang diperlukan untuk menangani kelompok tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, bila ternyata pada saat pelatihan digelar ada orang-orang yang memiliki klasifikasi lebih tinggi “terselip” dalam kelas, itu bukanlah kesalahan trainer bersangkutan.  Dengan alasan ini, seorang trainer seyogyanya tetap tenang dan tidak perlu merasa terganggu oleh kehadiran mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan sebaliknya, seorang “smart trainer” akan mendapatkan kesempatan untuk memanfaatkan peserta istimewa tersebut.  Yang biasa dilakukan oleh trainer berpengalaman adalah, pada saat “teror” mulai dilancarkan oleh sang peserta, dengan sangat bijak sang trainer akan mempersilahkan orang tersebut maju ke depan podium untuk berbicara menyampaikan argumentasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila argumentasi yang disampaikan ternyata benar, trainer akan mengajak semua hadirin untuk memberikan applause (tepuk tangan meriah) seraya ia sendiri juga melontarkan pujian-pujian tulus kepada peserta itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itulah, setiap kali ada pertanyaan yang sedikit “canggih” dilontarkan peserta lain, sang trainer akan mempersilahkan peserta istimewa itu untuk terlebih dahulu menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan jalan ini, pelatih yang bijak sudah mampu mengatasi beberapa persoalan yang dihadapinya secara sekaligus.  Bila si peneror merupakan peserta yang hanya ingin diakui sebagai orang pintar, obsesinya segera terpenuhi saat pertama kali ia diberi kesempatan berbicara di depan audiens.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafsu terornya biasanya akan segera berkurang banyak.  Bahkan, ketika setiap kali ada pertanyaan ia diminta menjawab, orang ini akan sadar bahwa dirinya sedang “dikontra-teror” oleh sang pelatih, sehingga nafsu terornya pun hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, bila peneror adalah peserta idealis yang menginginkan kualitas, sejak pertama kali diberi kehormatan maju ke depan podium, biasanya orang tersebut akan bersedia bekerja sama dengan memberikan informasi serta masukan-masukan yang bermanfaat.  Tidak jarang bahwa peserta jenis ini akhirnya secara sukarela menempatkan diri bagaikan seorang asisten pelatih.  Tanpa diminta, tanpa dibayar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bila saat ini Anda adalah seorang trainer yunior, ada baiknya melatih diri dengan trik seperti di atas, dan Anda segera menjadi seorang Smart Trainer !! (rh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** Artikel ini dapat Anda baca juga di portal wirausaha http://www.gacerindo.com, dilengkapi dengan gambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusman Hakim&lt;br /&gt;Pengamat Kewirausahaan&lt;br /&gt;LifeWisdom Presenter&lt;br /&gt;E-mail: rusman@gacerindo.com&lt;br /&gt;Portal: http://www.gacerindo.com&lt;br /&gt;Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com&lt;br /&gt;Mobile:   0816.144.2792&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-3105660889103098489?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/3105660889103098489/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=3105660889103098489' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/3105660889103098489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/3105660889103098489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2007/10/pelatih-terbaik-bukan-terpintar.html' title='Pelatih Terbaik Bukan Terpintar'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-3423579750756920954</id><published>2007-08-05T04:31:00.000-07:00</published><updated>2007-08-05T04:33:10.778-07:00</updated><title type='text'>Apa Yang Kau Cari Palupi?</title><content type='html'>APA YANG KAU CARI PALUPI?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 30 Juli 2007 yang baru lalu, majalah “Globe” edisi Asia, melalui Executive Chairman nya Rizal Ramli mempublikasikan daftar peringkat orang-orang terkaya di Indonesia. (Kompas, 31 Juli 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari daftar tersebut dapat dibaca bahwa gelar Orang Terkaya Nomor 1 di Indonesia saat ini dipegang oleh Budi Hartono, pemilik perusahaan PT Djarum Kudus dengan nilai aset sebesar 37,8 triliun rupiah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disusul kemudian oleh Rachman Halim, bos Gudang Garam di tempat kedua dengan kekayaan senilai 31,5 triliun.  Sementara tempat ketiga diisi oleh dedengkot kelompok Sinar Mas, Eka Tjipta Widjaja dengan harta sebesar 27,9 triliun rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, beberapa waktu yang lalu majalah beken “Forbes” juga mengumumkan daftar Orang-orang Terkaya di Indonesia.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, formasinya berbeda.  Yang bertengger di peringkat teratas adalah Sukanto Tanoto dari Raja Garuda Mas (Rp. 25 T).  Peringkat kedua dipegang oleh Putera Sampoerna (Rp. 19 T), sedangkan di tempat ketiga ada Eka Tjipta Widjaja (Rp. 18,2 T).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat angka-angka kekayaan mereka ini, mungkin ada di antara kita yang kesulitan membayangkan, sebenarnya seberapa besarkah uang triliunan milik orang-orang terkaya tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bisa mengatakan bahwa mereka memang “benar-benar kaya”, karena jumlah uang yang mereka miliki memang “benar-benar buessarr..”.  dan untuk itu saya bisa menunjuk satu kejadian sebagai acuan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, sewaktu heboh peristiwa korupsi yang dilakukan oleh Edy Tanzil, dana yang ditilep oleh bos kelompok Golden Key itu adalah sebesar 1,3 triliun.  Seorang pembaca “Kompas” yang tergelitik dengan jumlah tersebut, lantas mencoba menghitung, seberapa “besar” kah uang 1 triliun sebenarnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia lalu mengasumsikan bahwa uang 1 triliun itu diberikan dalam bentuk uang kertas pecahan 100 rupiah.  Diukurnya panjang dan lebar dari selembar uang kertas tersebut, kemudian dihitung ada berapa lembar 100 perakan yang dibutuhkan guna melengkapi nilai 1 triliun.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa keingintahuan mendorongnya untuk menghitung seberapa luaskah apabila seluruh lembar uang kertas 100-an rupiah digelar di atas tanah, sampai mencapai nilai 1 triliun.  Hasilnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wow, ia sendiri “surprised”!  Karena ternyata luas “uang cepekan” yang digelar sampai senilai 1 triliun, akan menutupi keseluruhan luas Pulau Jawa!  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fuantastik.. kata seorang teman.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ia yakin kalau jumlah kekayaan 150 orang kaya Idonesia, yang konon mencapai Rp. 419 triliun digelar dengan cara yang sama, maka seluruh luas wilayah Republik Indonesia akan tertutup habis, baik daratan mau pun lautannya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka Tertinggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencoba untuk mengkaji dengan cara saya sendiri.  Dulu di Indonesia, ada sebutan “jutawan” untuk menggambarkan orang kaya atau banyak duit.  Beberapa waktu kemudian istilah tersebut tampaknya menjadi ketinggalan jaman, sehingga muncul istilah pengganti, yaitu “milyarder” karena orang kaya uangnya tidak lagi cuma jutaan, tapi milyaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, kalau sekarang mereka uangnya sudah triliunan begitu, saya nggak tau lagi istilahnya apa?  Triliuner?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu triliun itu kalau ditulis dengan angka, maka paling tidak harus ada angka nol sebanyak 12 buah.  Ditambah angka 1 di depannya, maka total ada 13 digit.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, sampai berapa digitkah angka yang harus dicapai oleh para orang kaya agar prestasinya tidak dapat lagi digeser oleh orang lain?  Berapakah angka tertinggi yang ada di dunia ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka atau bilangan tertinggi di dunia ini tidak ada, bahkan manusia pun tidak tahu cara menuliskan angka yang mewakili nilai “tidak terhingga”, sehingga disepakati bahwa dipakai simbol “∞” untuk keperluan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kalau angka tertinggi itu tidak pernah ada, saya berfikir, bukankah kontes pemeringkatan orang-orang terkaya itu juga menjadi pekerjaan yang sia-sia?  Tidakkah itu sama dengan pekerjaan mengejar-ngejar bayangan, yang sampai kapan pun tidak akan pernah sampai dititik akhir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman sempat mengeritik saya: “Pak Rusman, bukankah kita lihat di arena olah raga juga berlaku seperti itu? Coba lihat, atlit lompat tinggi tidak akan pernah mencapai langit sampai kapan pun mereka melompat, kan?  Tapi kompetisi selalu digelar.  Atlit-atlit unggulan datang, berprestasi maksimal, mereka lalu menjadi juara di puncak kejayaannya untuk kemudian digusur lagi oleh mereka yang datang belakangan.  Muncul juara baru, begitu seterusnya, dan itulah siklus hidup.  Yang penting itu semua bermanfaat..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Justru itu yang saya maksud..”, jawab saya menimpali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kejuaraan olah raga memang mendatangkan banyak manfaat bagi banyak orang.  Atlit menjadi sehat, termotivasi, dan mereka pun dibayar untuk prestasinya.  Pihak penyelenggara berikut berpuluh-puluh pekerja mendapat penghasilan dari karcis masuk, penonton pun terhibur..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, kalau bicara mengenai manfaat, mari kita lihat sampai di mana manfaat yang bisa ditarik dari sebuah kontes orang-orang kaya.  Jumlah kekayaan yang dilibatkan tidak main-main lho. Ratusan triliun itu lebih besar dari anggaran belanja negara di bidang apapun, selama satu tahun.  Kalau uang sekian banyak benar-benar dimanfaatkan untuk kemaslahatan masyarakat, tentunya keadaan negeri ini tidak separah sekarang.  Coba lihat, pengangguran berapa juta orang?  Kelaparan di mana-mana, kemiskinan merajalela. Itu sebabnya saya merasa kontes semacam itu tidak banyak mendatangkan manfaat..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesenjangan Sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Publikasi pemeringkatan orang-orang terkaya di Indonesia, lebih condong merupakan publikasi tentang kesenjangan sosial yang ada di Indonesia.  Karena, sementara sekelompok kecil orang menguasai sekian banyak potensi ekonomi negara, di sisi lain kita lihat kemelaratan yang berlarut-larut menimpa sebagian besar rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya adalah, seberapa jauhkah keberadaan kaum kaya itu mendatangkan manfaat bagi rakyat banyak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak menutup mata bahwa di antara orang-orang kaya itu terdapat beberapa pengusaha yang telah berjasa “menghidupi” ribuan buruh yang bekerja di pabrik-pabrik mereka.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, buruh tetaplah buruh, sebuah profesi yang sama-sama kita tahu kondisinya, gajinya, serta kesejahteraannya seperti apa.  Demikian juga masa depannya, yang dari tahun ke tahun ya begitu-begitu juga..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak menutup mata akan adanya para pengusaha kaya yang menjadi “filantropis”.  Mereka maju ke depan saat terjadi berbagai bencana dan menyumbangkan banyak dana guna membantu para korban.  Tapi, seberapa ikhlaskah?  Seberapa besar?  Dan tidak adakah maksud lain di balik itu semua?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang taipan negeri ini dengan ringan mengatakan menyumbang 2 milyar untuk korban tsunami di Aceh, seraya mengatakan: “Itu hanya sebagian kecil dari harta saya..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, yang bersangkutan mau menyumbang sesama.  Tapi, hanya itukah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sang taipan menyumbang 2 milyar dari hartanya yang 20 triliun misalnya, maka itu berarti dia menyumbang sebesar 1 per mil dari total aset yang dimiliki.  Bandingkan bila seorang pesuruh kantor yang seluruh miliknya bernilai 2 juta rupiah, lalu ia menyumbang sebesar Rp. 50.000 untuk Aceh, berarti dia memberi sebesar 2,5 persen dari hartanya.  Tidak jelas lagi, mana yang lebih berharga dari keduanya, sumbangan sang taipan, ataukah sumbangan si pesuruh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah rakyat tidak hanya butuh kerja hari ini untuk bisa makan hari ini, dan diberi ransum saat bencana datang saja?  Mereka butuh masa depan yang lebih baik..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motivasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang mengatakan bahwa daftar orang-orang terkaya di Indonesia itu dapat dimanfaatkan sebagai motivasi bagi kalangan pengusaha Indonesia untuk lebih memacu prestasinya secara lebih maksimal, sehingga diharapkan di masa mendatang akan ada lebih banyak lagi pengusaha-pengusaha sukses yang berkontribusi besar untuk negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rizal Ramli pun mengatakan bahwa daftar orang-orang terkaya yang dipublikasikan oleh institusinya itu merupakan terobosan dari semangat kewirausahaan dan talenta komunitas bisnis Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau melihat apa yang saya utarakan di atas, kehadiran orang-orang kaya tampaknya tidak terlalu banyak mengangkat derajat kehidupan rakyat Indonesia.  Kemiskinan dan  kelaparan yang masih berlarut-larut di segala pelosok tanah air menjadi bukti nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilain fihak, sebagaimana banyak saya tuliskan pada tulisan-tulisan sebelumnya, motivasi menjadi kaya akan merupakan upaya yang riskan.  Di tengah-tengah budaya hidup yang serba materialistis ini, di mana orang menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan kekayaan, pemeringkatan orang-orang kaya justru bisa mendatangkan mudarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, sebelum adanya angket pemeringkatan tersebut, masyarakat telah terlebih dahulu dimotivasi habis-habisan oleh kultur kehidupan yang mendewakan kemewahan selama lebih dari 30 tahun, sejak zamannya Orde Baru berkuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja film atau sinetron Indonesia, yang tanpa relevansi jelas, begitu banyak mengeksploitir kekayaan sebagai daya tariknya.  Kalau Anda datang ke lahan parkir para wakil rakyat yang terhormat di Senayan, di situ kita bisa lihat “pameran mobil mewah” milik beliau-beliau yang sudah pasti kaya-kaya semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kota-kota besar, apartemen-apartemen mewah memasang harga yang tidak tanggung-tanggung.  Rata-rata bisa mencapai di atas 1 milyar rupiah.  Tapi, sulitkah untuk mengerti mengapa di negeri miskin ini, apartemen mewah sudah “sold-out”, terjual habis bahkan sebelum pembangunan fisiknya dimulai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal semacam itu merupakan pencetus motivasi rakyat banyak untuk bisa menjadi kaya.  Di tengah-tengah kondisi negeri saat sekarang, di mana mencari pekerjaan susah, mencari peluang usaha juga susah, tidak ada pilihan lain selain mencari jalan pintas. Maka jangan heran kalau kemudian beberapa pengusaha berubah menjadi pembobol-pembobol bank, sebagian lagi mengedarkan bahkan membangun pabrik narkotika, munculnya penipu-penipu melalui sms hadiah, para birokrat yang menjalankan korupsi berjamaah dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini juga barangkali yang bisa menjelaskan mengapa hasil angket internasional menobatkan Indonesia sebagai salah satu “Negara Terkorup di Dunia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DR. Suparman mengatakan bahwa seorang wirausahawan adalah seorang pengusaha yang secara moral bersih.  Jujur dan berintegritas, jauh dari perilaku korupsi serta kolusi.  Dan itu yang dibutuhkan bangsa ini, kalau kesejahteraan rakyat memang menjadi prioritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, menurut saya, bagi seorang wirausahawan sejati tidaklah perlu memotivasi diri dengan faktor kekayaan semata.  Riskan, sebab begitu kekayaan tidak mau datang dengan segera, kita pasti tergoda untuk mencari jalan pintas.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, istimewanya, akan banyak pihak lain, yang dengan tangan terbuka akan menerima kita untuk bersama-sama mencari jalan pintas di blantika bisnis Indonesia yang sudah ambur adul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama kita masih mau berharap bahwa suatu waktu kelak landasan moral bangsa Indonesia akan kembali membaik, sehingga pada gilirannya nanti juga akan membawa perbaikan kesejahteraan bersama yang lebih adil, maka sebaiknya kita mencari pemicu motivasi yang lain saja. (rh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusman Hakim&lt;br /&gt;Pengamat Kewirausahaan&lt;br /&gt;E-mail: rusman@gacerindo.com&lt;br /&gt;Web: http://www.gacerindo.com&lt;br /&gt;Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com&lt;br /&gt;Mobile:   0816.144.2792&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-3423579750756920954?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/3423579750756920954/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=3423579750756920954' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/3423579750756920954'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/3423579750756920954'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2007/08/apa-yang-kau-cari-palupi.html' title='Apa Yang Kau Cari Palupi?'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-117133292025863860</id><published>2007-02-12T18:06:00.000-08:00</published><updated>2007-02-12T18:15:20.480-08:00</updated><title type='text'>KEWIRAUSAHAAN DI TENGAH BENCANA</title><content type='html'>KEWIRAUSAHAAN DI TENGAH BENCANA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, bangsa Indonesia mempunyai potensi dan bakat terpendam untuk bisa maju.  Hanya saja, sejauh ini belum ada pihak-pihak yang mempunyai otoritas yang mampu menyerap potensi tersebut dan menuangkannya ke dalam sebuah konsep terpadu guna meningkatkan taraf hidup bangsa.  Andaikan hal itu dapat terjadi, bukan mustahil dalam waktu relatif singkat, Indonesia akan menjadi sebuah negara yang sejahtera, adil makmur gemah ripah loh jinawi toto tentrem kertoraharjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potensi terpendam yang dimaksud adalah semangat dan bakat kewirausahaan.  Hal itu dapat disimak dari berbagai kejadian yang terjadi sepanjang “minggu bencana” tatkala banjir melanda ibukota Jakarta sejak Jumat 2 Februari 2007 yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal musim penghujan, semangat wirausaha sudah merebak dengan munculnya fenomena “ojek payung” di mana kita lihat banyak orang terutama justru anak-anak kecil menyewakan payung kepada orang-orang yang membutuhkan, seperti para karyawan kantor, ibu-ibu yang ingin belanja dan lain-lain.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide “ojek payung” tentu sangat sederhana, tapi manfaatnya luar biasa.  Bisa dibayangkan bagaimana senangnya para karyawan dengan dandanan yang serba keren dan necis, bisa terhindar dari keadaan basah-kuyup – yang tentu akan menyebabkan mereka batal kerja – hanya dengan membayar 2 – 3 ribu rupiah pada bocah-bocah yang berbisnis sambil menggigil kedinginan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di fase selanjutnya, ketika beberapa kendaraan bermotor mogok di tengah jalan di bawah guyuran hujan deras, terlihat pula para pemuda turun tangan menawarkan jasa “dorong mobil” untuk menolong para pengemudi apes, dengan imbalan sejumlah uang.  Ini memang bisnis klasik dan tradisional, tapi manfaatnya tetap signifikan sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat musim hujan makin menggila dan banjir mulai bermunculan di berbagai tempat, permasalahan yang timbul pun makin kompleks.  Warga terkurung di rumah karena lingkungan sekitar terkepung air setinggi lebih dari 30 sentimeter.  Mereka yang berniat pergi kerja menjadi kesulitan melintasi banjir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka muncul lagi sebuah “implementasi kewirausahaan” yang diperlihatkan para pemuda setempat.  Dengan “kreativitas instan”, mereka terinspirasi untuk memanfaatkan gerobak-gerobak sebagai sarana pengangkut orang dan barang melintasi banjir.  Dengan tarif 20 ribuan rupiah, para pemuda berjiwa bisnis itu bisa melakukan “win-win business solution” yang benar-benar manfaat.  Para karyawan dapat menyelamatkan penampilannya yang memang harus necis, sepeda-sepeda motor juga terhindarkan dari risiko mogok dan rusak di terjang air, sementara para “intant businessmen” pun mendapatkan rejeki yang halal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya berhenti di situ, manakala banjir mulai surut meninggalkan sisa-sisa kotoran, lumpur, sampah dan limbah yang luar biasa banyaknya di rumah-rumah warga, semangat kewirausahaan bangsa Indonesia muncul lagi dalam bentuk lain.  Beberapa orang, sebagian di antaranya adalah pemulung, berinisiatif menawarkan jasa pembersihan rumah kepada para pemilik rumah yang kesulitan menangani sendiri pekerjaan itu.  Maka, transaksi bisnis pun terjadilah, dengan uang jasa sebesar Rp. 10.000, rumah tinggal pun menjadi bersih kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih menarik lagi adalah apa yang terjadi pada hari-hari terakhir ini.  Ada satu dua orang wirausahawan dadakan, yang secara cantik sekali berkeliling menawarkan peralatan pembersih rumah, utamanya alat pembersih lantai yang bentuknya mirip penghapus kaca mobil, tapi berukuran besar dan bergagang panjang.  Juga ada yang menjajakan sapu lidi yang ampuh untuk membersihkan lantai mau pun halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita mau mencermati, tak pelak lagi rangkaian fenomena di atas menunjukkan bahwa bangsa kita, yang terpresentasikan oleh lapisan masyarakat kelas bawah, adalah bangsa yang memiliki daya juang, kreativitas serta semangat kewirausahaan tinggi.  Ini merupakan modal intangible yang sungguh-sungguh potensial.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, kalau potensi ini belum juga tereksplorasi, berapa lama lagikah bangsa Indonesia harus menunggu sampai tercapainya kondisi yang benar-benar sejahtera?  Wallahu alam..(rh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** Artikel berita ini dapat Anda baca juga di portal wirausaha http://www.gacerindo.com, dilengkapi dengan foto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusman Hakim&lt;br /&gt;Pengamat Kewirausahaan&lt;br /&gt;E-mail: rusman@gacerindo.com&lt;br /&gt;Web: http://www.gacerindo.com&lt;br /&gt;Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com&lt;br /&gt;Mobile:   0816.144.2792&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-117133292025863860?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/117133292025863860/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=117133292025863860' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/117133292025863860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/117133292025863860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2007/02/kewirausahaan-di-tengah-bencana.html' title='KEWIRAUSAHAAN DI TENGAH BENCANA'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-116607176084521450</id><published>2006-12-13T20:47:00.000-08:00</published><updated>2006-12-13T20:49:21.210-08:00</updated><title type='text'>BISNIS ITU PERMAINAN, BUKAN ILMU PENGETAHUAN</title><content type='html'>Selama kita merasa belum familiar dan takut memulai bisnis, biasanya yang timbul di pikiran kita adalah: “belajar!”.  Pilihannya mungkin dengan jalan mengambil program S2 dan jadi seorang MBA, atau ikut sebanyak-banyaknya seminar dan pelatihan, atau bisa juga dengan berguru dan mengabdi pada seorang begawan bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira, sudah selaraskah alur pemikiran yang sedemikian dengan apa yang terjadi pada kenyataannya? Mari kita telaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan dari kita berbisnis karena ingin sukses, lalu menjadi kaya raya.  Kita membayangkan, betapa enak dan hebatnya bila kita dapat sesukses dan sekaya Bill Gates atau Donald Trump.  Menurut pandangan masyarakat pada umumnya, mereka itulah orang-orang sukses yang sebenar-benarnya. Merekalah sosok-sosok pebisnis yang prestasinya membuat banyak orang terobsesi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tidak heran jika para pakar pun berusaha menyadap dan mempelajari segala hal yang ada pada orang-orang sukses itu, dengan harapan dapat mentransfer nilai-nilai kesuksesannya kepada orang-orang lain yang juga ingin menjadi figur sukses.  Mereka berpendapat bahwa: “Leaders are made, not born”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, segala sepak terjang yang dilakukan oleh para pebisnis tersebut, dikumpulkan, dipilah-pilah, lalu dianalisis.  Dari analisis itu dibuat teori-teori.  Hasilnya, muncullah berbagai teori kesuksesan yang terkemas dalam materi-materi “ilmu bisnis”,  wacana profesionalisme, ilmu kepemimpinan (leadership), dan lain sebagainya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang awam memang ingin sekali menemukan cara-cara yang bisa membantu mereka untuk secara cepat mencapai kesuksesan.  Semacam rel kereta yang tinggal diikuti saja akan mengantar orang tiba di gerbang kejayaan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, apa benar kalau kita ingin menjadi figur sukses -- lebih spesifiknya pebisnis sukses -- harus menempuh perjalanan yang sarat dengan teori-teori kesuksesan seperti itu?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berbagai catatan yang ada, tampaknya tidak demikian.  Banyak sepak-terjang yang dilakukan oleh para pemimpin bisnis dunia tidak mencerminkan bahwa kesuksesan mereka disebabkan pembelajaran yang sungguh-sungguh dalam ilmu bisnis, profesionalisme dan teori kepemimpinan.  Tidak juga  pengetahuan ekonomi, teori-teori tentang kebebasan finansial, ilmu marketing dan lain sebagainya.  Pun, tidak karena mereka rajin mengikuti seminar kesuksesan atau lokakarya tentang strategi bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak, banyak pemimpin bisnis ternyata merupakan orang-orang yang justru tidak suka belajar, malas sekolah, dan hanya ingin bermain-main saja.  Boro-boro ikut seminar atau lokakarya.  Lho kok bisa?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa contoh kasus.  Yang pertama, Thomas Alva Edison.  Nama ini sudah kita tahu sejak di bangku SD bukan?  Namun, tentunya kita kenal Edison lebih sebagai tokoh ilmu pengetahuan, karena sekolah memfokuskan ajaran hanya pada penemuan atas lampu pijar dan berbagai temuan teknis lain yang dilakukannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jarang kita memperhatikan bahwa sesungguhnya Thomas Alva Edison adalah juga seorang pengusaha besar yang sukses.  Ia adalah pemilik dan pendiri berbagai perusahaan dengan nama-nama seperti Lansden Co. (mobil/otomotif), Battery Supplies Co. (baterai), Edison Manufacturing Co. (baterai dsb), Edison Portland Cement Co. (semen dan beton), North Jersey Paint Co. (cat), Edison General Electric Co. (alat listrik dll), dan banyak lainnya.  Salah satu yang masih berjaya sampai sekarang adalah General Electric.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah untuk mencapai itu semua Edison harus bersusah-payah mengikuti berbagai sekolah dan pendidikan tinggi?  Atau mengikuti seminar kelas dunia yang diselenggarakan oleh para pakar kesuksesan, pakar bisnis atau pakar financial freedom?  Ternyata tidak.  Figur Edison adalah figur pemalas yang hanya tahan 3 minggu bersekolah.  Ia lebih suka bermain-main dengan perkakas, dengan kawat dan dengan listrik. Itu kesenangannya dan dengan itu ia sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain adalah Kenji Eno.  Ia juga tidak suka sekolah.  Ia cuma suka bermain-main dengan permainan, istimewanya dengan video games.  Kelas 2 SMA berhenti sekolah terus nganggur.  Lalu dapat kerja di perusahaan  perangkat lunak, sampai akhirnya ia berhasil mendirikan perusahaan perangkat lunaknya sendiri yang dinamakan WARP.  Dalam tempo beberapa tahun saja Kenji Eno mampu membawa perusahaannya menjadi perusahaan video games terhebat di dunia yang diakui oleh tokoh-tokoh industri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena-fenomena yang dibuat oleh orang-orang semacam Edison dan Kenji Eno ini memberi kesan kepada kita semua bahwa bisnis itu sebenarnya lebih dekat kepada sebuah permainan, dan terlalu jauh untuk diperlakukan sebagai sebuah ilmu pengetahuan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gede Prama yang dikenal sebagai pakar manajemen (bahkan dijuluki Stephen Covey Indonesia), mengomentari fenomena Kenji Eno sebagai kesuksesan dari kebebasan berfikir yang mampu melompat, karena belum terkena polusi-polusi yang dibuat sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, adalah keliru mempelajari fenomena pemimpin, untuk menciptakan pemimpin.  Demikian juga, keliru mempelajari fenomena pebisnis sukses, untuk mencetak pebisnis sukses.  Sebab, fenomena pemimpin (atau pebisnis) adalah fenomena manusia, yang tidak sama dengan fenomena alam.  Kalau Isaac Newton mempelajari peristiwa jatuhnya buah apel ke tanah (fenomena alam) dan kemudian menemukan hukum gavitasi, maka itu oke-oke saja.  Karena fenomena alam tidak berubah, hukum gravitasi pun akan tetap  abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, mempelajari fenomena manusia pasti akan menimbulkan frustrasi.  Sebab, manusia merupakan mesin perubahan, sehingga tidak akan ada fenomena manusia yang tinggal tetap abadi sepanjang masa, berlawanan dengan yang kita lihat pada peristiwa jatuhnya buah apel. &lt;br /&gt;Pemimpin, dalam bidang apa pun termasuk bisnis, adalah sosok manusia yang bebas, yang bertindak semaunya tanpa memperhatikan teori mau pun kaidah, sehingga nyaris percuma kalau kita ingin mempelajari dan mengikuti jejak sepak terjangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba lihat, pada saat terjadinya resesi ekonomi dunia tahun 1929, semua orang berdasarkan teori-teori yang ada, berusaha untuk berlaku sehemat mungkin.  Tapi sebaliknya, Matsushita si raja elektrik dari Jepang malah royal mengeluarkan uang.  Seakan uang itu tidak lebih dari mainan saja layaknya.  Meski pun bukan tanpa alasan dia berlaku demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat juga Kim Woo Chong, pendiri imperium Daewoo.  Ketika semua pengusaha (juga dengan teori-teori yang ada) berkonsentrasi memasuki pasar negara-negara kaya semacam Amerika dan Eropa, ia malah dengan santainya masuk ke pasar-pasar “keras” seperti Iran, Sudan dan Rusia serta negara-negara blok timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kesia-siaan” mempelajari dan berusaha mengikuti sepak terjang para pemimpin bisnis bisa dirasakan secara langsung di lapangan.  Saat pertama kali Harvard Business Review mempublikasikan konsep pemasaran yang beken dengan “Marketing Mix” 4P (product, price, place dan promotion), nyaris semua pengusaha serta pakar bisnis menganut konsep ini secara fanatik.  Begitu juga dengan perguruan-perguruan tinggi dan sekolah manajemen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, tidak terlalu lama, sebagai akibat “ulah” para pemimpin bisnis yang gemar bermain-main, perubahan tren perekonomian dan industri memaksa para pakar dan pembelajar merubah lagi konsepnya dengan 6P, 8P bahkan yang terakhir disebutkan sebagai 12P.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus bagaimana?  Kalau kita harus bersiaga setiap saat untuk belajar dan tidak ketinggalan zaman dengan ilmu marketing, kapan kita berbisnis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya rasa kita semua banyak yang terjebak dan hanyut dalam “arus ilmu pengetahuan” yang dibuat oleh mereka yang “pakar ilmu pengetahuan”, sehingga kita tidak sempat lagi berinovasi yang justru merupakan kunci sukses bisnis. Kita malah terus menerus “dipaksa” mengejar ketinggalan ilmu pengetahuan tanpa tahu di mana ujung pangkalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya: ”Sebenarnya kita mau jadi pebisnis atau mau jadi ilmuwan sih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri yakin bahwa bisnis dan kesuksesan itu adalah semacam permainan saja.  Seperti apa yang dikatakan oleh William Cohen dalam tulisannya “The Art Of The Leader” : “Success is acquired by playing hard, not by working hard..”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengacu pada obsesi banyak orang tentang Bill Gates dan Donald Trump sebagaimana disebut di atas, perlu diketahui bahwa kedua orang tokoh ini pun mencapai sukses dari kesenangannya bermain-main. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bill Gates sejak masih berusia 13 tahun sudah bermain-main dengan perangkat lunak komputer, dan dengan itu ia menjadi salah satu orang terkaya di dunia.  Donald Trump juga sejak kecil selalu bermain-main ke kantor ayahnya, Fred Trump.  Dia suka sekali melihat-lihat maket gedung dan pencakar langit, sebelum tertarik dengan bidang bisnis sang ayah, yaitu properti.  Dan jadilah Donald Trump seorang Raja Properti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir yang ingin saya sampaikan adalah, orang yang mempelajari ilmu kepemimpinan tidak akan menjadi pemimpin.  Tapi, orang yang mencoba menjadi pemimpin, akan menjadi pemimpin.  Demikian juga, orang yang mempelajari ilmu bisnis, tidak akan menjadi pebisnis.  Tapi, orang yang mencoba menjadi pebisnis, akan menjadi pebisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusman Hakim&lt;br /&gt;Pengamat Kewirausahaan&lt;br /&gt;E-mail: rusman@gacerindo.com&lt;br /&gt;Web: http://www.gacerindo.com&lt;br /&gt;Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com&lt;br /&gt;Mobile: +62 21 816.144.2792&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-116607176084521450?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/116607176084521450/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=116607176084521450' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/116607176084521450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/116607176084521450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2006/12/bisnis-itu-permainan-bukan-ilmu.html' title='BISNIS ITU PERMAINAN, BUKAN ILMU PENGETAHUAN'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-116338834384664788</id><published>2006-11-12T19:23:00.000-08:00</published><updated>2006-11-12T19:25:44.240-08:00</updated><title type='text'>BIZMART YANG SAYA LIHAT</title><content type='html'>BIZMART YANG SAYA LIHAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang telah dicanangkan via internet, acara “Kopi Darat” ke-IV milis Bisnis-Smart ternyata jadi dilaksanakan.  Meski ditandai dengan berbagai “silang-pendapat” serta perubahan tempat, Kopdar akhirnya berjalan mulus dan cukup mengesankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara yang dihadiri lebih dari 20 orang itu, digelar pada hari Sabtu 11 November 2006 dengan mengambil lokasi di kafe “Bukafe” Jalan Duren Tiga Raya, Jakarta Selatan.  Hadir antara lain, para aktivis serta petinggi milis seperti Anton Witono, Rio Nasution, Iwan, Roesmiyati, Eko dan tentu saja tidak ketinggalan “bos” Bisnis Smart, penulis buku “Cara Brilian Menjadi Karyawan Beromset Miliaran” (CBMKBM), Masbukhin Pradhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara-acara yang diagendakan pada acara tersebut secara berturut-turut setelah dibuka oleh panitia, adalah presentasi tentang masalah “Branding”, dibawakan oleh Rio Nasution, dilanjutkan dengan paparan mengenai “Menguak Daerah Abu-Abu antara Bisnis dan Wirausaha” oleh Rusman Hakim, dan dilanjutkan oleh Masbukhin Pradhana dengan mengambil acuan dari materi yang dibawakan oleh 2 pembicara sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah makan siang, Kopdar dilanjutkan lagi dengan presentasi tentang pembentukan Koperasi Bizmart, lengkap dengan jadwal kerja beberapa bulan ke depan dari unit operasional Bizmart yang masih embrionik tersebut.  Berbicara dalam sesi ini Stephanus Kurnianto dengan “stage-act” cukup mengesankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agenda dilanjutkan lagi dengan sesi tanya-jawab, di mana para hadirin dapat melontarkan berbagai pertanyaan kepada para pembicara seputar masalah-masalah kewirausahaan.  Dan terakhir, semua hadirin dilibatkan dalam acara ramah-tamah, “door-prize”, serta foto bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hal yang cukup mengesankan dalam Kopi Darat Ke-IV ini, yaitu suasana kebersamaan yang sangat kental di antara sesama anggota milis.  Sebagian besar peserta kelihatan ceria dan penuh senyuman.  Di Sabtu pagi yang cerah itu, suasana kafe “Bukafe” seakan bertambah segar dengan senyum ramah serta canda-tawa para member milis Bisnis-Smart.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang juga mengesankan adalah partisipasi yang tinggi dari beberapa wirausahawan.  Meski masih dalam rangka promosi produknya, inisiatif mereka dalam membagi-bagikan produk, patut diacungi jempol.  Tampak antara lain Isdiyanto, Pemimpin Umum Majalah “Wirausaha+Keuangan” yang membagikan puluhan eksemplar majalah, Roesmiyati yang menghadiahkan voucher makan gratis di gerai “Bakmi Patriot” miliknya, Masbukhin yang memberikan “rabat” pagi penjualan buku karyanya sendiri “CBMKBM”, serta beberapa orang lagi dengan kontribusinya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, acara Kopi Darat IV milis Bisnis Smart ini cukup sukses, dan kita perlu angkat topi atas hasil kerja panitia yang telah bekerja keras sejak beberapa waktu sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, ada juga satu hal yang kiranya perlu menjadi masukan bagi para pengelola kelompok “netter” yang anggotanya sudah hampir mencapai 1000 orang ini.  Menurut pengamatan, ada lebih kurang 30% dari keseluruhan audiens yang tampaknya agak kesulitan memperlihatkan kebebasan gerak, kebebasan berbicara serta kebebasan berkiprah di antara sekian banyak hadirin lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang ini tampak begitu diam, nyaris tanpa ekspresi.  Meski terlihat mendengarkan dengan baik setiap materi pembicaraan dan juga memperhatikan dengan seksama apa yang terjadi di ruang pertemuan, namun terkesan mereka rikuh dan sangat pasif dalam berinteraksi dengan sekelilingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal seperti ini tampak berbeda dengan apa yang biasa kita temui di dalam pertemuan-pertemuan sejenis, yang diselenggarakan oleh kelompok-kelompok MLM (Multi Level Marketing}, seperti misalnya CNI atau Amway.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertemuan-pertemuan MLM, nyaris 95% audiens berekspresi dengan begitu bebas dan sangat antusias.  Sedemikian antusiasnya, sehingga walau pun beberapa orang ada yang tidak kebagian tempat strategis dalam sebuah pertemuan, dan harus puas berdiri di bagian pojok belakang, mereka ini tetap terlihat bergairah, bersorak meneriakkan yell-yell, bertepuk tangan, mengacungkan tinju serta tertawa lebar.  Jelas sekali mereka sangat termotivasi di dalam lingkungan bisnisnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena semacam itu bisa kita temui tidak cuma di lingkungan MLM.  Pada kelompok-kelompok agen asuransi pun, para pesertanya memperlihatkan gairah antusiasme serta motivasi yang sangat tinggi.  Demikian juga di beberapa perusahaan multinasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin seyogyanyalah kita berfikir bahwa dalam sebuah komunitas kewirausahaan, motivasi merupakan sebuah kultur dasar yang harus benar-benar dibina.  Tidak pelak lagi bahwa dalam berbisnis, faktor motivasi merupakan sebuah prasyarat yang sangat menentukan.  Sebagaimana yang dilontarkan Ciputra, sang raja properti Indonesia, bahwa ada 3 hal penentu kesuksesan seorang usahawan, yaitu: motivasi, motivasi dan motivasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah mengenali orang-orang yang hidupnya termotivasi.  Mereka adalah orang-orang yang selalu proaktif, berani tampil (meski tidak tampan atau cantik), berani bicara (meski tidak pandai merangkai kata-kata), murah senyum serta selalu cenderung membantu orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena salah satu tujuan dibentuknya komunitas bisnis adalah untuk berbagi, baik berbagi informasi mau pun berbagi kesempatan, maka alangkah cantiknya jika seluruh anggota komunitas dapat “dibentuk” menjadi orang-orang yang termotivasi seperti itu.  Semakin banyak perserta yang “motivated people”, akan semakin efektif pula sebuah milis kewirausahaan. Hal seperti itulah yang sekiranya kita harapkan dapat terjadi di dalam komunitas Bisnis Smart.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan dilupakan, bahwa peserta datang dalam sebuah pertemuan, pasti dengan berbekal sebuah pengharapan, bahwa mereka akan mendapatkan sesuatu atau bahkan banyak hal yang berharga.  Itu sebabnya mereka mau membayar, dan mengorbankan waktu serta energinya untuk bisa hadir.  Mengapa tidak kita sambut pengharapan mereka dengan memberi “imbalan” secara maksimal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, kiranya perlu juga dipertimbangkan oleh otoritas milis, kemungkinan adanya penyelenggaraan sebuah program pelatihan untuk pembinaan motivasi.  Pelatihan tersebut biasanya disebut dengan “Motivation Building Training Prorgam”, di mana di dalamnya terdapat sesi-sesi yang menyangkut proaktivitas, seperti “Self Inventory” dan “Public Speech” .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menekan biaya, kelihatannya bisa dijajaki bahwa di antara sekian banyak anggota di komunitas ini, terdapat orang-orang yang cukup kompeten untuk menjadi trainer, sedangkan untuk mekanisme pelaksanaannya, bisa dipastikan bahwa panitia Kopdar yang selama ini turun tangan, sudah cukup piawai untuk menjamin kelancaran penyelenggaraan program tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga saja…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusman Hakim&lt;br /&gt;Pengamat Kewirausahaan&lt;br /&gt;E-mail: rusman@gacerindo.com&lt;br /&gt;Web: http://www.gacerindo.com&lt;br /&gt;Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com&lt;br /&gt;Mobile: +62 21 816.144.2792&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-116338834384664788?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/116338834384664788/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=116338834384664788' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/116338834384664788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/116338834384664788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2006/11/bizmart-yang-saya-lihat.html' title='BIZMART YANG SAYA LIHAT'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-116269885975866848</id><published>2006-11-04T19:53:00.000-08:00</published><updated>2006-11-04T19:54:20.150-08:00</updated><title type='text'>Antara TDA dan TDB</title><content type='html'>Antara TDA dan TDB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan segala kerendahan hati, perkenankanlah saya untuk memberi sedikit ulasan tentang pertanyaan rekan XXX di milis IEU2002 tentang arti dari TDA dan TDB.  Jelas dan gamblang bahwa jawaban yang diberikan adalah bahwa TDA = Tangan Di Atas = Pengusaha, sedangkan TDB = Tangan Di Bawah = Karyawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menggelitik perasaan saya adalah, apa iya setiap karyawan itu sudah pasti “Tangan Di Bawah”?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pengertian umum, “tangan di bawah” mengandung arti “tangan yang menerima” dan bukan “tangan yang memberi”.  Arti sebaliknya berlaku bagi “tangan di atas”.  Dalam pengertian yang lebih luas, sering diartikan bahwa orang yang “tangan di bawah” adalah mereka yang kehidupannya lebih tergantung dari pemberian orang lain.  Ekstrimnya, kaum tangan di bawah adalah mereka yang nasibnya lebih bergantung pada belas kasihan orang lain.  Mudah-mudahan pengertian ini tidak terlalu salah, atau melenceng terlalu jauh dari arti sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah sekali lagi, timbul pertanyaan, apa benar seorang karyawan sudah pasti “TDB”, dan hidupnya mesti bergantung pada orang lain yang namanya majikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, seorang karyawan akan menjadi “TDB” atau tidak, sama sekali tergantung dari paradigma yang ada di kepalanya saat menjalankan hajat hidupnya sebagai karyawan.  Paradigma itulah yang nanti akan menyebabkan dia menjadi “TDB” atau bukan.  Jadi, tidak selamanya yang disebut karyawan, pegawai, orang gajian atau apa pun namanya, menjadi “TDB” karena bekerja terhadap majikan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 3 (tiga) jenis paradigma di benak karyawan, yaitu pertama: yang bersangkutan cenderung kurang menghargai hubungan kerja, kedua : menghargai hubungan kerja secara berlebihan, dan yang ketiga : menghargai hubungan kerja secara wajar sambil menempatkan diri sejajar, setara, sederajat atau setingkat terhadap majikan, dengan tujuan menjaga unsur keseimbangan yang saling menguntungkan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Ketiga jenis sikap di atas, akan melahirkan tipe-tipe karyawan yang dapat kita kenali dari sepak terjangnya dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Tipe Petualang.&lt;br /&gt;2) Tipe Pengabdi.&lt;br /&gt;3) Tipe Mitra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIPE PETUALANG&lt;br /&gt;Karyawan jenis ini condong memperlakukan perusahaan tempat ia bekerja hanya sebagai obyek yang bisa dikendalikan sesuka hati, atau sebagai tambang emas yang bisa digali dan dikeruk isi perutnya sepuas-puasnya.  Yang termasuk dalam katagori tipe petualang antara lain mereka yang bekerja untuk mencari uang sebanyak-banyaknya dan melakukannya secara “hantam kromo”, tidak peduli halal atau tidak, yang penting duit!  Sehingga terjadilah peristiwa-peristiwa tidak terpuji seperti korupsi materi, korupsi waktu, penggelapan bahkan pencurian dan lain sebagainya.  Sering bolos untuk menjalankan usaha sampingan, juga termasuk dalam golongan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dengan tipe Kutu Loncat. “Kutu loncat” adalah mereka yang selalu berpindah-pindah kerja dari satu perusahaan ke lain perusahaan, tergantung dari pihak mana yang menurutnya lebih baik dalam hal memberi kedudukan dan uang.  Dengan sendirinya, mereka mudah “dibajak” dengan iming-iming gaji besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipe petualang tidak termasuk dalam dikotomi TDA vs TDB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIPE PENGABDI&lt;br /&gt;Sementara itu, sebagian orang berpikiran bahwa kerja pada majikan, sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah rumah tangga.  Mereka berpendapat, dari situlah dapur bisa berasap sehingga semua anggota keluarga bisa makan dan roda kehidupan berputar dengan wajar.  Dengan anggapan ini, mereka selalu mendambakan sebuah pekerjaan yang tenang tenteram, dan bisa dijadikan tumpuan selama hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka orang-orang jenis ini akan terlihat bekerja sehari-hari secara cukup tekun, cukup rajin, tidak terlalu banyak menuntut dan sebaliknya juga tidak terlalu keras bekerja demi karir.  Karena sangat menyenangi ketenangan kerja dalam lingkup tanggung jawab terbatas, mereka tahan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang “itu-itu” juga, dalam suasana yang monotone tanpa perubahan apa pun.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada peristiwa PHK, orang-orang ini akan menjadi sangat panik, karena sesuai dengan jalan pikiran mereka, PHK akan menyebabkan rumah tangga porak-poranda.  Dapur akan kehilangan asapnya, sumber makan keluarga akan terhenti, anak-anak terlantar dan tidak terbayang kegiatan apa yang bisa mereka lakukan setelah berhenti dari pekerjaan sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipe pengabdi inilah yang pada umumnya menganggap majikan sebagai dewa penolong kehidupan, sehingga merasa bahwa posisi mereka ada di bawah posisi majikan.  Merekalah yang mengganggap diri mereka sendiri sebagai “TDB” alias tangan di bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIPE MITRA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang karyawan yang membangun hubungan kerja berdasarkan falsafah kemitraan, akan mempunyai perilaku yang sama sekali berbeda dibanding mereka yang menganut falsafah kerja petualang atau pengabdian semu.  Di sini, karyawan penganut kemitraan menganggap perusahaan majikan sebagai amanah yang harus dijaga, dipelihara, dibina  serta dikembangkan dengan penuh tanggung jawab.  Sehingga tidak pernah selintas pun timbul pikirannya untuk melakukan korupsi, penggelapan serta hal-hal lain yang tak terpuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak, ia juga tidak pernah menganggap majikan sebagai dewa penolong yang memberinya penghidupan, karena ia sadar bahwa apa yang diterimanya dari sang majikan merupakan timbal balik dari jasa-jasa, kepiawaian, energi, waktu serta profesionalisme yang ia dedikasikan kepada perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, paradigma karyawan tersebut sudah menerapkan konsep “True Salesmanship” yang berbasiskan pemikiran kerjasama saling menguntungkan.  Sebuah transaksi yang didasarkan atas jual-beli berprinsip “Win-win solution”, di mana semua pihak diuntungkan, semua pihak berbahagia dan tidak ada pihak yang dirugikan atau teraniaya.  Oleh sebab itu, sosok seperti ini tidak dapat digolongkan dalam profil “TDB”, melainkan “TDA” bersama-sama dengan majikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan konsep pemikiran seperti itu, secara sadar atau tidak, unsur kewirausahaan sudah cukup dominan dalam sepak terjang karyawan tipe ini.  Maka tidaklah mengherankan, kalau pada suatu saat nanti, karyawan tipe mitra akan muncul secara surprise,  sebagai seorang wirausahawan tangguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Himbauan saya bagi teman-teman yang merasa “TDB”, dan merasa masih agak terlalu jauh untuk sampai di tatanan wirausahawan mandiri, ada satu langkah awal yang cukup efektif, yaitu merubah paradigma dari seorang karyawan yang “TDB”, menjadi karyawan yang “TDA”.  Insya Allah, setelah itu jalan menuju kemandirian akan lebih terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusman Hakim&lt;br /&gt;Pengamat Kewirausahaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E-mail: rusman@gacerindo.com&lt;br /&gt;Web: http://www.gacerindo.com&lt;br /&gt;Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com&lt;br /&gt;Mobile: +62 21 816.144.2792&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-116269885975866848?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/116269885975866848/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=116269885975866848' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/116269885975866848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/116269885975866848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2006/11/antara-tda-dan-tdb.html' title='Antara TDA dan TDB'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-116186064215426288</id><published>2006-10-26T04:02:00.000-07:00</published><updated>2006-10-26T04:04:02.233-07:00</updated><title type='text'>Puasa, Lebaran dan Kemenangan</title><content type='html'>PUASA, LEBARAN DAN KEMENANGAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terasa bulan puasa yang satu bulan penuh telah kita liwati.  Hari Raya Idul Fitri telah pula kita rayakan dan nikmati bersama, dengan anggota keluarga, handai taulan, sanak famili, para sahabat dan orang-orang tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita mau berfikir, bukankah bulan puasa serta Hari Raya semacam ini entah sudah berapa kali kita mengalaminya?  Bukankah tiap tahun hari-hari yang sakral itu datang lagi dan lagi, sejak kita masih kecil, tumbuh remaja, dewasa dan beranjak tua?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa sebenarnya maksud yang terkandung dalam peristiwa itu, adakah hikmah di dalamnya?  Dan sudahkah kita bisa mengambil manfaatnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa pun kita, pegawai negeri, profesional atau pun wirausahawan, sudah pasti bisa mengambil banyak hikmah dari prosesi bulan puasa sampai kepada Hari Raya yang kita sebut dengan Hari Kemenangan itu.  Apa sajakah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESADARAN AKAN “JER BASUKI MOWO BEO”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenikmatan berhari raya, hanya dapat dirasakan secara maksimal oleh mereka yang benar-benar menunaikan ibadah puasa secara penuh.  Artinya, cuma oleh mereka yang menahan lapar, haus serta hawa nafsu selama satu bulan penuh, dengan sepenuh-penuh kesadaran akan makna ibadah yang dijalankannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka akan menginsyafi, bahwa kenikmatan tersebut baru mampu diperoleh, setelah melalui perjuangan berat, dalam bentuk kosongnya perut, keringnya tenggorokan, lemas dan tak berdayanya tubuh yang sebelumnya begitu perkasa, ditambah dengan kelelahan mental melawan gejolak emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna yang terkandung dari proses ini memberikan kita pencerahan tentang hal bahwa setiap keberhasilan, setiap kesuksesan dan setiap kemenangan yang memilik nilai, hanyalah yang diperoleh melalui perjuangan. Semakin berat dan keras perjuangan yang dilalui, semakin manis pula madu kemenangan yang bisa direguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, benarlah apa yang dikatakan oleh pepatah Jawa: “Jer basuki mowo beo”, setiap keberhasilan memerlukan biaya.  Ini juga yang mengingatkan kita semua kepada peribahasa yang sejak kecil kita telah diajarkan: “Bersakit-sakit lebih dahulu, bersenang-senang kemudian..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V I S I &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu tujuan dari berpuasa di bulan Ramadhan adalah untuk memberikan kesempatan pada kita, guna melakukan instrospeksi alias mawas diri, atas apa-apa yang telah kita lakukan selama ini.  Adakah semua sepak terjang kita telah sesuai dengan yang seharusnya, dan apakah perjalanan yang telah kita lalui masih tetap berada pada jalur yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dapat dipungkiri bahwa selama bulan puasa, terutama pada minggu-minggu terakhir, kegiatan bisnis serta pemerintahan, mengalami penurunan.  Bukannya tanpa maksud, karena biasanya para pimpinan perusahaan dan organisasi memanfaatkan situasi itu untuk mengadakan konsolidasi ke dalam.  Mereka sedikit mengurangi kegiatan ke luar, sebaliknya, pengamatan ke dalam, evaluasi serta penataan kembali ditingkatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal seperti itu memang sejalan dengan tujuan ibadah puasa, di mana kita mendapatkan kesempatan untuk melakukan konsolidasi untuk menata kembali perjalanan hidup kita ke depan, agar lebih baik dan mantap melanjutkan perjuangan sehabis Hari Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEAN AND MEAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya, meski ada beberapa kekecualian, seorang pelaku puasa akan mengalami penurunan badan yang cukup drastis.  Saya sendiri termasuk orang yang “sensitif”, sehingga setiap habis berpuasa sebulan lamanya, paling sedikit saya akan kehilangan 4 kilogram berat badan. Tubuh dan wajah saya akan terlihat kurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, di balik kekurusan itu, saya merasakan sesuatu yang mengenakkan.  Tubuh saya terasa ringan, gerakan saya lebih bebas dan gesit, serta merasa suasana tubuh bagaikan kembali ke masa SMA dulu (waktu SMA bobot saya hanya 54 kg).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada istilah dalam bisnis, yang disebut “Lean And Mean”.  Istilah ini artinya “kurus tanpa lemak, tapi sehat dan gesit”.  Sebuah badan usaha, secara berkala perlu diterapi untuk selalu “lean and mean”.  Artinya, perusahaan seyogyanya selalu diawasi dan dikendalikan untuk tidak terlalu “gemuk dan tambun”, sehingga bebannya berat, dan manuvernya melamban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan yang “gemuk dan tambun” akan selalu kalah dalam persaingan, sehingga perlu memangkas semua unsur yang berlebihan, seperti kelebihan SDM yang tidak efektif, biaya-biaya ekstra yang tidak terlalu diperlukan, birokrasi yang terlalu panjang dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEPEDULIAN SOSIAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah perusahaan yang didukung oleh masyarakat, pasti akan memperoleh kemajuan yang signifikan.  Oleh sebab itu, perlu sekali diperhatikan kegiatan-kegiatan yang menunjukkan kepedulian sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menyelesaikan ibadah puasa, sebelum fajar menyingsing di Hari Raya, seluruh umat diminta untuk menunaikan kewajiban membayar zakat fitrah dan juga zakat maal (zakat kekayaan).   Besarnya zakat maal ini bagi umat Islam adalah 2,5 persen dari nilai kekayaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, kalau kita memiliki harta sebesar Rp. 100 juta, maka kita wajib menyisihkan Rp. 2,5 juta untuk diberikan kepada fakir miskin.  Saya tidak tahu apakah ada di antara kita yang masih merasakan jumlah 2,5 persen ini terlalu berat atau terlalu besar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tahukah Anda, bahwa di antara teman-teman kita umat Nasrani, zakat maal itu adalah sebesar 10 persen?  Jika mereka mempunyai uang Rp. 100 juta, maka yang akan dialokasikan untuk charity adalah Rp. 10 juta!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menghimbau, bagaimana kalau kita semua mencoba belajar menyisihkan 10 persen untuk dizakatkan, dan lihatlah bagaimana alam semesta akan memberikan tanggapannya terhadap kasih sayang pada sesama yang Anda tunjukkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan ada suatu pemikiran lain yang akan saya ajukan, yaitu sebuah konsep tanggung jawab sosial yang mungkin akan Anda anggap terlalu revolusioner, atau akan Anda beri label “gila”, jika Anda belum mendengar penjelasannya secara tuntas.  Apakah itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kalau kita mulai saat ini berikrar untuk menyisihkan zakat maal kita itu 100 persen?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eit, please.. jangan buru-buru mencap saya mengada-ada atau sinting.  Dan jangan cepat-cepat berfikir bahwa Anda akan diajak untuk bekerja bhakti sepanjang hidup.  Dengarkan dulu ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga tidak setuju kalau Anda dan saya meraup 100 persen dari seluruh pendapatan untuk dibagikan begitu saja kepada fakir miskin.  Kenapa?  Karena itu tidak mendidik.  Kita bukan memberi pancing, tapi sekadar memberi ikan.  Itu sebuah bentuk pemanjaan, dan hampir semua bentuk pemanjaan, umumnya tidak mendidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya maksud dengan zakat maal 100 persen adalah, sebuah paradigma bahwa kita menjalankan usaha dengan niat dan anggapan bahwa seluruh aset, seluruh sumber daya dan seluruh keuntungan yang diperoleh dari usaha kita adalah untuk didedikasikan kepada masyarakat banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana implementasinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hitunglah semua biaya yang diperlukan, seperti biaya operasional, biaya overhead, biaya gaji karyawan dan biaya-biaya lainnya seperti biasanya.  Lalu tentukan besar gaji Anda sendiri, menurut yang Anda anggap pantas dan lebih dari cukup untuk membiayai hidup Anda, keluarga dan seluruh tanggungan Anda.  Tentukan juga Retained Earning (RE), besaran laba yang perlu ditahan guna mengembangkan usaha selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah setelah itu, Anda harus konsekwen.  Jangan mengambil lebih banyak dari jatah Anda, mulai saat itu semua keuntungan bersih yang diperoleh perusahaan, adalah hak milik masyarakat banyak.  Perusahaan harus mendirikan sedikitnya sebuah yayasan, atau bekerja sama dengan yayasan-yayasan di luar perusahaan, untuk mengelola 100 persen net profit Anda itu untuk kepentingan sosial.&lt;br /&gt;Dengan demikian, dapatlah kita meyakinkan diri bahwa manfaat kehidupan kita, berikut semua badan usaha yang kita dirikan adalah benar-benar mencapai manfaat yang maksimal.  Pikirkanlah dan putuskan.  Anda berani?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPIRITUAL ECO SYSTEM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana tulisan saya yang lalu, dunia ini bergerak berdasarkan siklus-siklus.  Segala sesuatu bergerak menurut aturan baku yang bersifat alamiah.  Ada yang masuk, ada yang keluar.  Ada yang menaik, ada yang menurun.  Semua membentuk sebuah lingkaran yang berulang, yang kita sebut siklus.  Siklus itu adalah apa yang kita sebut dengan ekosistem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara fisik, ekosistem dapat terlihat dari fenomena alam bagaimana air menguap karena sinar matahari, naik ke atas, mengkondensasi membentuk awan, menjadi berat lalu jatuh ke bumi dalam bentuk hujan dan kembali menjadi air. Lalu siklus pun berulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita lihat juga bagaiman petani menebar bibit, bertumbuh, menjadi ranum dan matang, untuk kemudian dituai dan dipanen.  Lalu siklus pun berulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pun tidak terbebas dari lingkaran yang serupa.  Kita makan dan minum sebagai masukan, tapi kita pun harus mengeluarkan dan membuang sesuatu agar kesehatan terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara spiritual, sistem melingkar juga berlaku, kita sebut sebagai “Spiritual Eco System”.  Bila kita menarik sesuatu, kita perlu juga mengeluarkan sesuatu.  Kalau kita ingin memperoleh rejeki dalam jumlah besar, maka kita pun harus berderma dalam jumlah yang juga besar.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang siapa bekerja keras, alam akan mencatatnya, dan pada waktunya alam pun akan memberikan ganjaran berkah lengkap dengan bonus yang terkadang tidak tersangka-sangka besarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunci dari semua itu adalah keyakinan.  Keyakinan adalah iman, dan itulah pula sebenarnya yang terkandung dalam peribadatan kita dalam prosesi berpuasa sampai dengan Hari Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat idul Fitri 1427H, mohon maaf lair bathin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusman Hakim&lt;br /&gt;Pengamat Kewirausahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Email: rusman@gacerindo.com&lt;br /&gt;Web: http://www.gacerindo.com&lt;br /&gt;Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com&lt;br /&gt;Mobile: 0816.144.2792&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-116186064215426288?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/116186064215426288/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=116186064215426288' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/116186064215426288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/116186064215426288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2006/10/puasa-lebaran-dan-kemenangan.html' title='Puasa, Lebaran dan Kemenangan'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-116186050921709648</id><published>2006-10-26T04:00:00.000-07:00</published><updated>2006-10-26T04:06:07.046-07:00</updated><title type='text'>Anomali Kehidupan</title><content type='html'>Anomali Kehidupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekolah dulu, seorang guru saya pernah menyampaikan sebuah teori fisika yang mengatakan bahwa sifat semua benda di dunia ini adalah sama, yaitu memuai bila dipanaskan, dan menyusut bila didinginkan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori ini berlaku buat semua benda, tidak terkecuali air, demikian kata beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada suatu keadaan bertendensi terbalik, yang dinamakan “anomali air”.  Keadaan dimaksud terjadi pada saat air dipanaskan pada suhu +4º Celcius.  Ternyata air tidak memuai.  Sebaliknya, air tersebut menyusut.  Demikian juga pada saat air didinginkan pada suhu -4º Celcius, sebaliknya dari menyusut, eh.. dia malah mengembang.  Aneh kan?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, setelah saya fikir-fikir, dalam kehidupan ini juga banyak kejadian yang aneh-aneh.  Saya bahkan ingin mengatakannya banyak anomali dalam kehidupan ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya dualisme dalam kehidupan kita, itu saja sudah aneh.  Coba pikir, ada panas ada dingin.  Ada kecil ada besar.  Ada baik ada buruk. Ada siang ada malam  Kita bisa menyebutkan lagi seribu satu contoh dualisme, kalau mau.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelanjutan dari keanehan itu adalah, lho kok kita hidup di dunia ini harus memilih salah satu dari dua kutub dualisme?  Alim ulama dan para pendeta mengatakan bahwa kita harus memilih hanya kebaikan, dan membuang jauh-jauh yang namanya keburukan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru saya di sekolah menekankan, kita harus selalu rajin dan melenyapkan kemalasan.  Dokter mengatakan bahwa kita harus mengutamakan kebersihan dan kesehatan.  Berantas kekotoran, ketidakbersihan serta ketidaksehatan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kok begitu ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa Tuhan tidak menciptakan saja monoisme, sebagai ganti dari dualisme.  Dengan begitu kita semua hanya mengenal yang baik-baik saja.  Kita hanya tahu kebaikan, kebajikan, kebersihan, kesehatan dan semua yang sifatnya positif-positif saja.  Dan kita tidak perlu tahu dengan yang negatif, seperti keburukan, kejahatan, kekotoran, kemalasan, dan lain sebagainya.  Kan dengan begitu, manusia juga tidak akan mengalami kebimbangan atau keraguan dalam memilih jalan hidupnya, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUHAN Maha Besar..  Itulah akhirnya yang saya bisa ucapkan tatkala menemukan secuil pencerahan.  Dualisme memang sudah karakternya dunia.  Manusia memang diturunkan ke dunia untuk menentukan sikap, untuk memilih.  Akankah manusia memilih kebenaran bagi dirinya, dan menolak kebathilan?  Akankah orang akan memilih semua yang positif dan menyingkirkan yang negatif?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monoisme, di mana yang ada hanyalah semua yang baik-baik saja, cuma terdapat di dalam surga.  Bukan di dunia.  Di surga hanya ada bahagia, tidak ada sengsara.  Hanya ada kenikmatan tidak ada kesakitan. Hanya ada suka cita tidak ada muram durja. Tuhan memberikan itu semua untuk manusia.  Tapi manusia sendirilah yang mengubahnya menjadi berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Adam, ditengah-tengah kehidupannya yang serba nikmat itu, kok sempat-sempatnya memetik buah khuldi, sehingga berakibat pecahnya monoisme menjadi dualisme?  Kok berani-beraninya dia berbuat begitu hingga timbul konfrontasi antara Tuhan dengan Setan?  Sadarkah dia bahwa perbuatannya itu telah menyebabkan seluruh keturunan manusia menjadi sengsara, hidup terombang-ambing di dunia fana yang penuh dengan kebimbangan dan ketakutan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beratus bahkan beribu tahun umat manusia harus menanggung derita penghidupan dunia dalam kegelapan, kebutaan serta ketidakmengertian tentang hakikat hidup ini.  Manusia bahkan tidak tahu siapa dirinya yang sebenarnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukur alhamdulillah, bahwa sedikit demi sedikit, sejumlah manusia bijak dapat juga mengungkap rahasia kehidupan.  Kaum waskita di negeri Cina berhasil menemukan bahwa semua yang kelihatan saling bertentangan itu sebenarnya berasal dari sumber yang sama.  Bahwa dualisme itu asalnya dari monoisme.  Bahwa yang gelap dan yang terang, yang tinggi dan yang rendah, yang benar dan yang salah, yang panas dan yang dingin, semuanya bersumber satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba cernakan kata-kata ini: “Yang ada berasal dari yang tiada, yang tiada berasal dari yang ada.  Yang tiada itu sesungguhnya ada, dan yang ada itu sebenarnya tidak ada.  Baik yang ada mau pun yang tiada pada dasarnya bersumber dari yang satu, itulah yang disebut TAO..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huahaha… saya ingin mengatakan bahwa kalau Anda bukan tipe manusia yang keranjingan spiritualisme, jangan coba-coba menelaah kata-kata itu.  Bisa-bisa Anda akan merasa gila sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, saya ingin menyampaikan bahwa sesungguhnya di antara dua hal yang bertentangan itu memang ada hubungan yang sangat erat.  Itu kalau kita tidak mau mengatakannya tidak saja berhubungan, tapi bahkan saling tarik menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba perhatikan, kalau Anda menganggap bahwa makan enak itu sesuatu hal yang positif, maka sekali mengumbar makan enak, penyakit pun akan datang “sok akrab” dengan diri Anda.  Suatu hal yang negatif, bukan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, pada saat Anda menginginkan kesembuhan atau kesehatan yang optimal (positif), jangan heran kalau dokter akan menjejali Anda dengan aneka material yang umumnya terasa pahit, sekaligus harus menjauhi makanan-makanan enak (negatif). Itulah, yang saya maksud dengan tanda-tanda “anomali kehidupan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Anda menganggap kenyamanan merupakan suatu hal yang positif, dan menjadi tujuan akhir dari kehidupan Anda.  Tentu yang Anda cari adalah kemapanan, kelimpahan harta serta segala sesuatu yang serba teratur, serba tenang tenteram serta menjauhkan diri dari perubahan-perubahan, apalagi kejutan-kejutan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi banyak peristiwa yang terjadi ternyata tidak konsisten dengan anggapan tersebut.  Ada seorang komisaris sebuah perusahaan besar, digaji tinggi dan ia cukup datang sebulan sekali ke kantornya yang megah.  Sekilas kebanyakan orang mengira ia sudah hidup mapan dan nyaman dengan kondisi yang demikian.  Nyatanya, sang komisaris mengaku sangat tidak kerasan dengan kondisi seperti itu, dan ia menginginkan tantangan-tantangan yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang profesional muda yang menjadi konsultan di perusahaan saya, dengan perasaan sungkan meminta agar honornya dihentikan sementara waktu sampai volume pekerjaan yang diberikan padanya kembali pada tingkat kepadatan seperti sebelumnya.  Yang terjadi adalah ia merasa risih dan tidak enak hati, saat harus menerima sejumlah uang setiap bulan, tanpa kerja dan tanggung jawab yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa begitu? Ya, dia merasa ada sesuatu yang hilang.  Sesuatu yang tidak seimbang.  Sebelum ini, ia selalu menerima bayaran, setelah memberikan kontribusi kerja yang bermanfaat. Maka ia merasakan kenikmatan maksimal dengan penghasilannya. Tapi, setelah beban kerjanya nyaris tiada lagi, dan ia tetap dibayar, kenikmatan itu pun nyaris pula sirna.  Bahkan sebaliknya, berubah menjadi beban moral bagi dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian cukup jelas bagi kita untuk menyimpulkan bahwa keadaan pahit dan manis, nyaman dan tertekan, kaya dan miskin, bahagia dan sengsara, semuanya ada dalam lingkup sebuah sistem maha besar dari alam semesta ini.  Dan jangan lupa bahwa kedua ekstrim positif dan negatif itu, semuanya diperlukan bila kita ingin mengerti mekanisme kehidupan dunia.  Itulah yang saya sebut dengan “anomali kehidupan”, dan itu pula yang disebut oleh saudara-saudara kita dengan “Tao”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anomali yang menjelaskan mengapa seorang anggota keluarga Rockefeller, yang seakan menganggap uang tidak lebih berharga dari pasir dan debu di jalan, akhirnya memilih berkelana di hutan-hutan belantara dan menemui kematiannya di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Topik yang sama juga menjelaskan kenapa Elvis Presley, Marilyn Monroe dan banyak selebriti lain yang telah bergelimang uang akhirnya jatuh ke lembah narkoba, sekadar untuk mengejar dan mencari “sesuatu yang hilang” itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para spiritualis  penganut aliran tertentu di India, Persia dan Timur Tengah, mengadakan aktivitas-aktivitas penyiksaan diri guna memenuhi persyaratan ritual mereka.  Untuk apa?  Tidak lain juga untuk menemukan “sesuatu yang hilang” agar kehidupan mereka kembali dalam keseimbangan hakiki di alam semesta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan kita yang berkecimpung dalam kehidupan kerja, baik sebagai karyawan mau pun sebagai usahawan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak dari kita merasa galau dengan kondisi yang dialami saat ini.  Kondisi di mana kita merasa begitu menderita karena kesulitan keuangan di tengah-tengah krisis ekonomi berkepanjangan.  Cemas memikirkan masa depan diri dan anak-anak kita kelak.  Geram melihat para pemimpin yang tidak lagi memiliki hati nurani karena sepak terjangnya yang korup, arogan, dan sewenang-wenang.  Kesal karena setiap hari diperintah-perintah orang lain yang disebut “boss”, padahal gaji kecil tak mencukupi, mau jadi pengusaha belum berani..dan sebagainya..dan sebagainya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu kita sadari adalah, inilah yang disebut dengan anomali kehidupan.  Kalau saja kita menyadari dengan sepenuhnya, maka sesungguhnya kita tidak lagi harus merasa menjalani kehidupan dengan keterpaksaan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sadar bahwa unsur negatif pun diperlukan dalam dunia ini.  Tekanan hidup melatih kita untuk menjadi seorang yang tangguh.  Kesulitan ekonomi mendidik kita untuk berkarya, bahwa persoalan sebenarnya bukanlah pada kesulitan ekonomi itu sendiri, melainkan alam menghendaki kita untuk berkarya.  Bila karya sudah membudaya dalam hidup, otomatis tidak akan ada lagi kesulitan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, teman sekalian.  Izinkan saya untuk sedikit berpesan, nikmatilah kehidupan saat ini, bagaimana pun adanya kondisi Anda.  Bila Anda sekarang dalam keadaan yang serba kurang, sadarilah bahwa Anda sedang melengkapi kebutuhan hidup pada kutub negatifnya.  Nanti, bila Anda telah sukses dan hidup berkelimpahan, Anda akan dapat menikmatinya secara penuh, tanpa perlu jatuh ke dunia narkoba, atau berkelana ke hutan.  Kalau Anda sekarang ada dalam kelimpahan, coba periksa, apa Anda bisa menikmatinya dengan baik?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda merasa tidak bisa menikmatinya secara baik dan cenderung jenuh, serta tidak tahu lagi apa yang mesti Anda perbuat, nah.. itu artinya Anda belum cukup mengalami sisi negatif kehidupan.  Anda belum cukup mengalami pennderitaan yang membuat Anda pantas memperoleh segala kelimpahan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah “anomali kehidupan”…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusman Hakim&lt;br /&gt;Pengamat kewirausahaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E-mail: rusman@gacerindo.com&lt;br /&gt;Web: http://www.gacerindo.com&lt;br /&gt;Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com&lt;br /&gt;Mobile: 0816.144.2792&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-116186050921709648?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/116186050921709648/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=116186050921709648' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/116186050921709648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/116186050921709648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2006/10/anomali-kehidupan.html' title='Anomali Kehidupan'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-115759519074974427</id><published>2006-09-06T19:11:00.000-07:00</published><updated>2006-09-06T19:13:11.056-07:00</updated><title type='text'>Ayam Negeri Dan Ayam Kampung</title><content type='html'>Pada suatu hari, seorang ayah dan seorang anak laki-lakinya yang sudah menjelang dewasa tampak sedang bersama-sama memberi makanan pada ayam-ayam peliharaan mereka.  Keluarga ini memang memelihara banyak ayam dari berbagai jenis, yang terbagi menjadi dua golongan besar, yaitu ayam kampung dan ayam negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di sela-sela kesibukan itu, tiba-tiba sang ayah bertanya pada anaknya : “Nak, kalau kau harus memilih, yang mana kau lebih suka, jadi ayam negeri atau jadi ayam kampung?”  Sang anak  tertegun mendengar pertanyaan tersebut.  Ia tidak mampu menjawab.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksud ayah?” katanya sejurus kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini hanya sebuah permisalan.  Bila kelak engkau menjadi lebih dewasa nanti, ada dua cara hidup yang bisa engkau pilih, yaitu cara hidup seperti ayam negeri, atau sebagai ayam kampung”, jelas ayahnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, aku tahu !  Tentu aku memilih hidup seperti ayam kampung.  Ia selalu bebas pergi ke mana saja ia mau..”, jawab sang anak dengan antusias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si ayah yang bijaksana ini tersenyum sambil membenarkan.  “Selain kebebasan, masih banyak hal-hal lain yang bisa kita ambil dari kehidupan ayam kampung, dibanding dengan kehidupan ayam negeri”, lanjut ayahnya.  Lalu ia mulai berbicara panjang lebar untuk menjelaskan falsafah hidup ayam kampung kepada anak kesayangannya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayam kampung berbeda terhadap ayam negeri dalam banyak hal.  Perbedaan pertama yang telah disebut di atas adalah hal kebebasan.  Ayam kampung selalu hidup bebas di alam lepas.  Pergi ke sana ke mari mencari makan, bermain, dan bercengkerama.  Sementara itu, ayam negeri selalu hidup di kandang yang bagus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada malam hari, ayam kampung tidur seadanya, di mana saja.  Tidak perlu di kandang, bahkan acapkali hanya di atas jerami atau pada seutas ranting.  Sedangkan ayam negeri siang malam ada di kandang yang nyaman, termasuk waktu tidur.  Kandangnya itu, benar-benar dibuat nyaman, bersih karena setiap hari dibersihkan.  Kesehatan lingkungannya di jaga, bahkan temperatur ruangan harus selalu diatur dengan nyala lampu agar tetap hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayam kampung mencari makan sendiri, berjuang menyibak semak-semak, mengorek sampah, merambah selokan, berpanas dan berhujan menyantap apa saja yang bisa disantapnya.  Tidak peduli kotoran dan tidak hirau pelimbahan,  demi menyambung hidup yang keras dari hari ke hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayam negeri di lain pihak, disediakan makanan oleh majikannya dengan makanan khusus.  Penuh gizi dan bebas hama.  Jadwal teratur, dan tidak boleh menyentuh makanan sembarangan.  Sekali-sekali pada waktu-waktu tertentu, ayam negeri juga diberi suntikan agar lebih sehat dan produktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kenyataan itu, tentu terpikir oleh kita bahwa sudah sepantasnya kalau ayam negeri memiliki kelebihan dalam segala hal dibanding ayam kampung.  Tapi apa nyatanya? Ayam negeri sangat sensitif.  Ada keadaan yang sedikit saja menyimpang dari seharusnya, sakitlah ia.  Satu sakit, yang lain pun sakit, dan akhirnya semua mati.  &lt;br /&gt;Sebaliknya,.ayam kampung tidak pernah sakit, tubuhnya sehat dan kuat, berkat gemblengan alam.  Itu yang membuatnya tidak pernah sakit.  Ia pun berjuang setiap hari di alam terbuka, melawan kekerasan alam untuk mencari nafkahnya.  Ayam kampung juga memiliki rasa pengorbanan, tidak ragu untuk menyibak semak, mengorek sampah dan merambah selokan, berpanas dan berhujan sambil membimbing anak-anaknya mencari makan, agar mereka tegar seperti induknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang ayah yang bijaksana tadi berkata lagi : “Lihat, meski bergelimang berbagai kenyamanan, ayam negeri itu sesungguhnya sudah kehilangan identitas sebagai makhluk yang bebas.  Statusnya sudah diubah oleh mahluk lain yang bernama manusia, tidak lagi sebagai mahluk hidup, melainkan sebagai mesin.  Mesin yang menghasilkan telur dan daging dalam jumlah besar bagi keperluan manusia..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moral apa yang bisa kita serap dari fenomena ayam kampung dan ayam negeri ini?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia bisa berkaca dari cermin kehidupan ayam negeri dan ayam kampung.  Dalam bekerja mencari nafkah serta meniti karir, kebanyakan generasi muda menghendaki kehidupan nyaman tidak ubahnya bagai kehidupan ayam negeri.  Mendambakan hidup nikmat di mana segala kebutuhannya dipenuhi, jauh dari beratnya perjuangan hidup, jauh dari gemblengan dan tantangan alam, bahkan kalau perlu tidak usah tahu dengan yang namanya cucuran keringat serta beratnya banting tulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak selesai sekolah, rata-rata pemuda sudah terpola untuk bisa diterima bekerja di sebuah perusahaan besar, menerima gaji besar, mendapat sejumlah jaminan dan fasilitas-fasilitas tertentu, mampu membeli rumah dan mobil sendiri, serta berkantor di salah satu gedung megah dan mewah di kawasan bisnis bergengsi.  Sekolah dianggap sebagai sarana yang memberikannya standar pengakuan sebagai tiket untuk mendapatkan semua itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana terselip sebuah pengharapan bahwa, semakin tinggi pendidikan yang ditempuh, semakin tinggi pula jabatan yang akan ia peroleh dari perusahaan, dan mereka mengira, semakin santai pula pekerjaan yang akan diberikan kepadanya.  Hidup tenang dengan serba berkecukupan bahkan berkelimpahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu disangsikan lagi bahwa pedoman hidup yang dianut generasi muda ini, sama dan sebangun dengan liku-liku kehidupan ayam negeri.  Mereka menginginkan kenyamanan dan berbagai fasilitas yang diberikan oleh majikan, sama seperti ayam negeri menerima kenyamanan dan berbagai fasilitas dari majikannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menginginkan kesehatan dan jadwal hidup yang serba teratur, sama seperti ayam negeri menerima kesemua itu dari majikannya.  Mereka memerlukan perhatian penuh tentang kesejahteraan diri dan keluarga, memerlukan tuntunan dan pimpinan untuk memperlancar tugas dan kewajibannya, sama seperti seperti yang diberikan majikan kepada ayam-ayam negeri itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun mereka tidak menyadari bahwa pada saat yang sama, mereka telah kehilangan kebebasan dirinya, sebagai hak azasi manusia yang paling hakiki.  Mereka tidak bisa lagi pergi dan terbang ke sana ke mari seperti seekor elang di langit lepas.  Sama seperti yang dialami oleh ayam negeri.  Lebih-lebih lagi, mereka telah kehilangan identitas diri sebagai mahluk hidup, karena status dirinya, disadari atau tidak, telah dirubah menjadi mesin yang sangat produktif demi kepentingan majikannya.  Juga sama seperti ayam negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Falsafah hidup seperti ayam negeri, benar-benar merupakan suatu hal yang menyesatkan, terutama bagi kalangan muda.  Orang akan terpedaya dengan perasaan nikmat dalam kehidupan yang terkungkung di antara sisi-sisi tembok beton kantor atau rumahnya yang mewah. Padahal di luar, masih teramat banyak orang yang tidak cukup beruntung untuk mendapatkan pekerjaan, hidup susah di rumah-rumah kumuh dan pengap.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; Falsafah ayam negeri hanya mengajarkan manusia untuk memuja kenyamanan diri semata.  Meski tidak ada yang salah untuk memperoleh kesejahteraan, kesenangan dan kemewahan bagi diri dan keluarga, namun pola hidup demikian cenderung membuat orang menjadi figur yang selfish dan egois, selalu mementingkan diri sendiri.  Tidak ada lagi rasa prihatin dan empati kepada sesama.  Apalagi keinginan berkorban untuk orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sindrom kenikmatan juga akan menyebabkan kaum muda kehilangan semangat dan daya juang, sehingga tidak akan mau lagi ikut memikirkan bagaimana berpartisipasi untuk memajukan negara dan bangsa, mengentaskan kemiskinan rakyat jelata dan berbagai aspek sosial lainnya yang amat dibutuhkan oleh masyarakat banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ujung rangkaian dari berbagai kesenangan yang memabukkan itu, akhirnya akan muncullah masalah yang paling berat, yaitu kenyataan bahwa generasi muda akan menjelma menjadi generasi yang ringkih, getas dan sensitif.  Generasi yang mudah patah saat dihadapkan pada situasi krisis, sebagai akibat terlalu dimanjakan oleh kenikmatan.  Lagi-lagi sama seperti ayam negeri yang sensitif terhadap berbagai penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusman Hakim&lt;br /&gt;Pengamat Kewirausahaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E-mail: rusman@gacerindo.com&lt;br /&gt;Web: http://www.gacerindo.com&lt;br /&gt;Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com&lt;br /&gt;Mobile: 0816.144.2792&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-115759519074974427?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/115759519074974427/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=115759519074974427' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/115759519074974427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/115759519074974427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2006/09/ayam-negeri-dan-ayam-kampung.html' title='Ayam Negeri Dan Ayam Kampung'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-115681763835141453</id><published>2006-08-28T19:10:00.000-07:00</published><updated>2006-08-28T19:13:58.813-07:00</updated><title type='text'>To Be Or Not To Be</title><content type='html'>To Be Or Not To Be&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pemimpin bangsa Cina modern, Dr. Sun Yat Sen, adalah orang yang menpopulerkan semboyan “to be or not to be”.  Secara bebas, semboyan tersebut bisa diterjemahkan menjadi : “berhasil atau tidak berhasil”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata tersebut mengandung arti yang dalam.  Manusia harus selalu menyadari bahwa sistem dualisme selalu mengatur dunia ini dalam dua kutub yang saling berlawanan.  Ada gelap ada terang, ada tinggi ada rendah, ada besar ada kecil dan seterusnya.  Oleh sebab itu, dalam mengejar suatu cita-cita, perlu selalu dipahami bahwa pilihannya juga hanya ada dua, yaitu berhasil atau gagal.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhasil berarti kemenangan, gagal berarti kehancuran.  Maka, dalam hal perjuangan mencapai cita-cita luhur, tidak ada kompromi.  Tidak ada pilihan untuk setengah berhasil atau setengah gagal.  Yang ada hanya “berhasil” !  Kita menolak kegagalan, sehingga kegagalan harus dicoret dari kamus kehidupan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemimpin telah menetapkan bahwa pilihan harus hanya satu, yaitu “berhasil”.  Tidak pernah ada kegagalan.  Yang mungkin ada hanyalah “belum berhasil”, bukan kegagalan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para kandidat yang ingin menjadi pemimpin usaha yang berhasil, harus benar-benar mengambil intisari pelajaran ini.  Tidak akan pernah ada kegagalan, selama kita belum berhenti berusaha.  Sir Winston Churchill mengatakan : “Jangan mengaku kalah ! Jangan, jangan dan jangan pernah menyerah dalam hal apa pun yang Anda lakukan !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu dimengerti bahwa suatu perjalanan panjang menuju cita-cita adalah suatu garis penghubung antara dua titik yang saling berjauhan, yang satu di sini yang lain nun jauh di sana, dan diantara keduanya terdapat serangkaian gunung terjal serta lembah dan jurang yang curam.  Gunung terjal menempatkan kita di posisi ketinggian pada satu saat, sedangkan lembah dan jurang mengharuskan kita berada di kerendahan pada saat berikutnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada sesuatu yang salah dengan hal itu, semua wajar-wajar saja dan memang seharusnya begitu.  Demikian juga berbagai kemenangan dan kejatuhan kecil sepanjang perjalanan menuju sukses, adalah suatu hal yang wajar-wajar saja dan memang harus dilalui.  Tidak ada jalan pintas.  Tiada kebahagian tanpa pengorbanan, jer basuki mowo beo, pepatah Jawa mengatakan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah perjalanan hidup adalah sebuah proses belajar tanpa henti.  Tidak ada garis finish, kecuali saat kematian.  Dan aturan alam menghendaki bahwa proses belajar memang harus sarat dengan jatuh bangun, karena jatuh bangun akan membuat manusia menjadi makin matang dan piawai.  Jatuh bangun membentuk pengalaman, sedangkan pengalaman adalah guru terbaik bagi siapa pun.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang belajar mengendarai sepeda akan lebih mahir setelah mengalami jatuh bangun sebanyak 100 kali daripada orang lainnya yang hanya mengalami hal itu sebanyak 50 kali.  Seorang anak balita (usia di bawah lima tahun) yang mengalami jatuh bangun lebih banyak ketika belajar berjalan, akan lebih kuat dan lebih waspada daripada anak lainnya yang mengalaminya lebih sedikit.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga seorang uahawan yang berkali-kali mengalami kejatuhan sebelum sukses, akan menjadi pengusaha yang tangguh dan tak perlu diragukan lagi kepiawaiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hal-hal itu, tulisan ini ingin memberi pesan kepada semua saja, baik yang sudah dalam proses jadi pengusaha mau pun yang masih menjadi karyawan, agar dalam usaha mewujudkan cita-cita jangan sekali-kali mengenal kata menyerah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nikmatilah kerja, karena kenikmatan sejati terletak pada penjiwaan dan penghayatan kerja, bukan pada hasilnya, baik berupa uang mau pun materi lainnya.  Kenikmatan kerja sifatnya abadi, sementara kenikmatan materi bersifat sementara, berjangka pendek dan menyesatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusman Hakim&lt;br /&gt;Pengamat Kewirausahaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E-mail: rusman@gacerindo.com&lt;br /&gt;Web: http://www.gacerindo.com&lt;br /&gt;Blod: http://rusmmanhakim.blogspot.com&lt;br /&gt;Mobile: 0816.144.2782&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-115681763835141453?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/115681763835141453/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=115681763835141453' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/115681763835141453'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/115681763835141453'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2006/08/to-be-or-not-to-be.html' title='To Be Or Not To Be'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-115605709440449470</id><published>2006-08-19T23:55:00.000-07:00</published><updated>2006-08-19T23:58:14.680-07:00</updated><title type='text'>Business Owner dan Individual Dependency</title><content type='html'>Business Owner dan Individual Dependency&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini, kebanyakan dari kita telah mengerti bahwa untuk menjadi pengusaha, atau Business Owner, orang tidak perlu melakukan segala kegiatan sendiri.  Kita telah mengerti bahwa yang namanya pendelegasian tugas itu “wajib” hukumnya, sepanjang kita ingin menjadi pemilik usaha yang cerdas alias “smart”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ungkapan yang lebih tegas, seorang pemilik usaha tidak perlu hadir di tempat usahanya.  Baik tempat usaha itu berupa toko, kantor atau tempat lainnya.  Bahkan dalam buku-buku tentang kiat bisnis, disebutkan bahwa andaikata sang pengusaha pergi jalan-jalan keliling dunia selama setahun pun, bisnis akan tetap jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya benar!  Namun demikian, ada sesuatu di balik ungkapan tersebut yang dapat membuat kita terjebak.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendelegasian tugas, tidak dapat dilakukan secara seketika pada saat perusahaan baru berdiri.  Pendelegasian tugas juga bukan berarti semua tanggung jawab pemilik usaha dilimpahkan semua secara tuntas..tas!..kepada bawahannya.  Masih ada beberapa tugas yang harus dilakukan sendiri oleh owner, terutama dalam hal pengawasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah berfikir bahwa karena kita telah melakukan pendelegasian, lantas kita bisa melupakan semua hal tentang perusahaan.  Lalu kita hanya beraktivitas untuk bersenang-senang dan berlibur.  Atau fokus menyusun strategi untuk mendirikan perusahaan baru.  Yang lama, biarin aja, toh sudah ada yang mengurus, ngapain dipikirin..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendelegasian tugas biasanya dilaksanakan secara bertingkat.  Yang paling umum di delegasikan adalah tugas-tugas yang bersifat teknis.  Kalau saya berusaha dalam bidang penjualan eceran pisang goreng misalnya, maka saya akan melimpahkan tugas-tugas teknis seperti mencari pisang yang bagus, mengolah tepung dan menggoreng sampai menyajikannya, kepada bawahan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan tugas-tugas lainnya yang bersifat lebih strategis, seperti menentukan harga jual, mencari lokasi usaha yang baik, mencari resep-resep baru sampai menciptakan terobosan-terobosan bisnis yang lebih mutakhir, saya lakukan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu pun kalau memang saya sudah sanggup merekrut orang untuk bekerja sebagai bawahan.  Kalau, belum ya semua saya kerjakan sendiri dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada perusahaan yang sudah agak lebih besar, tapi kepemilikan usahanya masih dipegang oleh satu orang, boleh jadi pekerjaan-pekerjaan teknis sudah seluruhnya dilimpahkan pada para manajer.  Pemilik usaha mengawasi kinerja para manajer itu, baik secara langsung mau pun melalui laporan berkala yang diterimanya setiap minggu, bulan dan tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemilik toko, restoran, kafe, atau bengkel sering kali masih “turun tangan” mengawasi jalannya operasional usaha sambil sesekali ikut membantu melayani pelanggan. Tujuannya jelas: melihat secara langsung kinerja para pelaksana, memberi dukungan moral kepada para karyawan, sekaligus mengambil alih tanggung jawab dari tangan karyawannya dalam kasus-kasus kritis yang mungkin terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho, kenapa para pemilik usaha ini masih juga harus turun tangan sendiri?  Bukankah sudah ada yang namanya store manager, duty manager, front office manager dan manager-manager lainnya?  Apakah pendelegasian tugas tidak dimengerti oleh para business owner itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, tidak juga.  Hampir semua pemilik usaha bernuansa modern sekarang ini mengerti tentang hal itu.  Tapi, di lapangan, “teori” tidak akan secara otomatis bisa diterapkan secara seketika dan utuh.  Jangan mengira bahwa kalau ada ungkapan  yang mengatakan: “pemilik usaha cukup bermalas-malasan di rumah, sementara semua pekerjaan dikerjakan oleh para karyawan”, lantas penerapannya akan langsung seperti itu. Apalagi, pada perusahaan-perusahaan yang relatif masih muda, yang baru beroperasi selama kurang dari 3 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak faktor lain yang mempengaruhi sehingga jalannya skenario tidak bisa persis seperti yang diharapkan.  Misalnya, faktor kesiapan mental pramuniaga, karyawan yang nakal dan suka korupsi, manajer yang tidak mampu mengatasi pelanggan yang rewel atau marah-marah dan banyak kejadian lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Individual Dependency&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu hal yang menarik dari kasus-kasus pendelegasian yang harus mendapat pengecualian, adalah apa yang disebut individual dependency atau ketergantungan individu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa itu ketergantungan individu, dan kepada siapa kebergantungannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Macam-macam.  Ada pelanggan, yang hanya mau berhubungan dengan seorang salesman tertentu dari sebuah perusahaan untuk urusan-urusan produk yang dibelinya dari perusahaan dimaksud.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tidak pernah mau dilayani oleh salesman lain, atau bahkan oleh atasannya, meski salesman tersebut sedang berhalangan.  Ia lebih suka menunggu beberapa hari sampai orang yang dikehendakinya itu bisa menemuinya katimbang harus dilayani orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain kasus, seorang EDP Manager sebuah perusahaan besar, hanya mau dilayani oleh seorang teknisi tertentu untuk urusan pemeliharaan dan perbaikan sistem Teknologi Informasi perusahaannya.  Dia sama sekali tidak mau dilayani oleh teknisi lain, sekali pun telah diberi penjelasan bahwa teknisi lain juga mempunyai kualifikasi dan kepiawaian yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelanggan-pelanggan dengan kualifikasi tertentu, hanya mau dilayani oleh pemilik usaha atau Direktur Utama. Mereka tidak mau dilayani oleh pejabat lainnya, apalagi oleh seorang staf pelaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus-kasus seperti di atas, menunjukkan adanya ketergantungan pelanggan kepada figur-figur tertentu, dengan alasan yang kadang-kadang kurang logis.  Akan tetapi, kejadian demikian sudah sering terjadi dan kini telah menjadi fenomena lumrah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pimpinan perusahaan yang berpengalaman, pasti telah memakluminya, dan mereka biasanya cukup bijaksana untuk mengakomodir keinginan pelanggan-pelanggan yang unik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lingkungan perusahaan, terutama yang masih dimiliki satu orang, business owner  umumnya sangat mewaspadai kemungkinan-kemungkinan seperti itu.  Itu sebabnya, banyak dari mereka selalu menyempatkan diri hadir di gerainya, atau kalau ia seorang supplier, meluangkan waktu untuk datang ke kantor pelanggannya tanpa diminta.  Semata-mata untuk mengantisipasi timbulnya masalah, yang pihak pelanggan tidak ingin membicarakannya dengan orang lain, selain dengan si pemilik usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, perlu dimengerti bahwa selalu ada kejadian di mana seakan-akan pendelegasian tugas tidak berjalan secara harfiah, sebagaimana kita baca dalam buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusman Hakim&lt;br /&gt;Pengamat Kewirausahaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E-mail: rusman@gacerindo.com&lt;br /&gt;Web: http://www.gacerindo.com&lt;br /&gt;Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com&lt;br /&gt;Mobile: 0816.144.2792&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-115605709440449470?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/115605709440449470/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=115605709440449470' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/115605709440449470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/115605709440449470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2006/08/business-owner-dan-individual.html' title='Business Owner dan Individual Dependency'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-115547725970306335</id><published>2006-08-13T06:52:00.000-07:00</published><updated>2006-08-13T06:54:30.670-07:00</updated><title type='text'>Jadi Pengusaha Kok Nggak Enak Ya?</title><content type='html'>Seorang teman yang entrepreneur pernah mengeluh: “Wah, jadi pengusaha itu nggak enak.  Capek!  Capek fisik sih nggak apa-apa, tapi capek mental?  Mana tahan…?”  Demikian dia mengutarakan uneg-unegnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho kok bisa gitu?” saya bertanya heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman ini cerita serius: “Sekarang ini, saya praktis harus kerja 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan harus selalu siap siaga untuk kepentingan orang lain dan untuk hal apa pun”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bayangkan saja, dalam satu kejadian, saya sedang mengendarai mobil ke luar kota untuk satu urusan keluarga yang penting.  Tahu-tahu, hp saya berdering.  Ketika saya angkat, ternyata dari klien saya Pak Anu.  Beliau minta saya mencarikan stik golf dengan merek dan tipe tertentu, dan ditunggu di lapangan golf di pusat kota saat itu juga. Gila nggak?  Tapi, ya terpaksa putar haluan, balik ke Jakarta lagi.  Sebagai rekanan, tugas harus saya laksanakan. Kalau nggak, ya… tahu sendiri, bakul nasi saya bisa terbalik..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia melanjutkan bahwa perisiwa semacam itu bukan satu-dua kali terjadi, tapi sering.   Bukan kejadian aneh kalau menjelang tengah malam waktu siap-siap pergi tidur, telpon berbunyi.  Seorang klien minta ditemani ke karaoke atau ke pub untuk “berdugem”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kantor, selain urusan-urusan kantor, ia juga mesti berbaik hati mengurus hal-hal tetek bengek dari klien-klien besarnya.  Mulai dari urusan perbaikan mobil pribadi yang bersangkutan, sampai juga membantu mencarikan informasi tentang sekolah di luar negeri untuk kepentingan anak-anak para pejabat kliennya tersebut.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokoknya macam-macamlah, sehingga lama kelamaan, ia akhirnya merasa jenuh juga dengan hal-hal yang begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi sebuah cerita dari seorang teman lain, yang “curhat” beberapa waktu sebelumnya.  Namanya  Jacky.  Dia adalah pemegang franchise sebuah merek terkenal dari Inggris, yang menjual produk-produk apparel and lifestyle,  seperti pakaian, dasi, sepatu dan lain sebagainya.  Semuanya untuk konsumsi kelas menengah ke atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokonya, yang ada di PIM (Pondok Indah Mall – Jakarta), selalu ramai dikunjungi orang, baik yang benar-benar serius belanja, mau pun yang hanya sekadar melihat-lihat.  Saya ikut senang melihat kemajuan usaha si Jacky, karena sejak acara “Grand Launching” – di mana saya juga diundang -- saya cukup antusias memantau perkembangan yang terjadi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai suatu hari, dia mengutarakan rasa tidak bahagianya dalam menjalankan bisnis tersebut.  Ia berkisah bagaimana hatinya sangat jengkel melayani pelanggan-pelanggan rewel.  Meski mengerti bahwa produk yang dijualnya adalah barang-barang berkualitas dengan harga tinggi, namun ia berpendapat tidak selayaknya para pelanggan itu menjadi begitu rewel, menuntut ini-itu yang kadang-kadang nyaris tidak masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau hanya complain tentang kualitas barang yang sudah dipakai hampir seminggu, lalu minta ditukar dengan yang baru, ia masih sanggup melayaninya. Tapi ada juga, pelanggan-pelanggan yang seakan beli barang bukan untuk dipakai dan dinikmati, melainkan memang hanya untuk memberi masalah pada dirinya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang kegemarannya menteror orang lain, mentang-mentang kaya.  Begitu jalan pikiran si Jacky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada orang yang mengeluhkan bahwa sepatu yang baru dibeli dari tokonya, setelah dipakai beberapa hari ketahuan ada cacatnya.  Orang itu menuntut Jacky bertanggung jawab.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sudah dijelaskan bahwa barang yang sudah dibeli tidak dapat ditukar atau dikembalikan, sang pembeli tidak mau mengerti.  Sebaliknya malah mengancam akan memuat kasus ini di koran, kalau Jacky tidak bisa memberi  pertanggungjawaban yang memuaskan.  Gilanya, ketika Jacky mengalah dan menawarkan penggantian barang dengan yang baru, si pelanggan rewel ini menolak!  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ketusnya orang tersebut mengatakan dia hanya ingin melihat Jacky memberi solusi yang profesional, bukan sekadar menukar barang.  Namun ia sendiri tidak mau menjelaskan apa yang dimaksud dengan “solusi profesional” itu.  “Kalau Anda merasa profesional, tentu Anda sudah tau dong apa yang Anda harus perbuat pada saya?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, nasib si Jacky teman saya ini memang tidak terlalu beruntung.  Karena ternyata, bukan hanya satu orang itu pelanggannya yang super rewel dan “teroris”.  Dalam satu bulan ada saja 1 atau 2 pelanggan baru yang datang dengan perilaku yang aneh-aneh dan eksentrik.  Semuanya menyusahkan dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau ada 10 orang brengsek lagi datang ke sini, mending gue tutup aja deh toko ini..”, keluh si Jacky putus asa..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dua kasus di atas, saya sempat mengadakan tanya jawab yang agak mendalam dengan kedua sahabat tadi.  Pada akhir tanya jawab itu, saya memperoleh kesimpulan bahwa kemungkinan besar telah terjadi “tidak kecocokan” antara karakter dan kepribadian kedua teman tersebut dengan bidang usaha yang dipilihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua bidang bisnis yang diutarakan di atas, adalah bidang-bidang usaha yang bersifat pelayanan.  Teman pertama berkecimpung dalam dunia pemasok (supplier), sedangkan yang kedua, si Jacky, menggeluti bidang eceran (retail), di mana mereka sama-sama harus menghadapi berbagai permintaan dan tuntutan yang datang dari pelanggannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang harus dicamkan benar oleh pelaku usaha bidang pelayanan adalah, bahwa yang dituntut dari mereka adalah kesediaan untuk melakukan sesuatu berdasarkan kebutuhan, keinginan serta selera pelanggannya.  Bukan selera mereka sendiri.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran ini harus sudah benar-benar ada, sejak pertama kali si pengusaha membuat keputusan untuk memulai usaha dalam bidang tersebut, serta terjun ke dalamnya secara serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kewirausahaan, ada sebuah anjuran untuk mengenali terlebih dahulu jenis kepribadian yang dimiliki seseorang, sebelum yang bersangkutan memutuskan untuk menggeluti sebuah bidang usaha tertentu.  Karena apa?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena setiap bidang usaha juga mempunyai karakternya sendiri-sendiri, masing-masing bersifat spesifik terhadap yang lain.  Oleh sebab itu, perlu sekali mengidentifikasi, apakah karakter seseorang itu cocok atau tidak dengan karakter dari usaha yang dipilihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika terjadi tidak kesesuaian, bisa diramalkan bahwa dalam waktu tidak terlalu lama, si pengusaha akan merasa “tidak betah” bahkan akhirnya “tersiksa” oleh bidang usaha yang dipilihnya sendiri.  Buntutnya jelas, bisnis akan menjadi tersendat, bahkan bisa menjadi layu sebelum berkembang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya, pada kejadian-kejadian semacam ini, para pelaku usaha akan merasakan bahwa menjadi pengusaha itu ternyata “tidak enak”, tidak seindah apa yang mereka lihat pada pengusaha-pengusaha lain yang sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu pulalah alasannya, mengapa banyak orang merasa bahwa mereka tidak bakat atau tidak mampu menjadi pengusaha.  Padahal, yang terjadi sebenarnya bukanlah tidak mampu jadi pengusaha, melainkan hanya tidak cocok dengan bidang usaha yang dipilih.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikitnya ada 4 tipe kewirausahaan primer yang ada pada diri manusia.  Yaitu, tipe “D” atau “Dominan”, tipe “P” atau “Pop”, tipe “S” atau “Servis” (Pelayanan) serta tipe “K” atau “Konvensional”.  Nah, masing-masing tipe kepribadian manusia ini sifatnya sangat khas, sehingga bidang usaha yang sesuai untuk mereka juga berbeda satu dengan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari namanya, mudah untuk dimengerti bahwa tipe kepribadian yang sesuai untuk melakukan bisnis jenis pelayanan, adalah tipe “S”.  Namun bagaimanakah caranya agar kita atau seseorang dapat mengenali dirinya sebagai tipe “S” atau bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin sekali membahas secara tuntas tentang masalah kesesuaian kepribadian seseorang dengan jenis bidang usaha yang akan dijalankan, karena memang hal ini termasuk satu hal penting dalam kewirausahaan.  Sayang sekali, pembahasan dimaksud akan memakan halaman yang terlalu panjang, sehingga kurang layak untuk disajikan dalam milis internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berharap, apabila rekan-rekan di milis berminat untuk mengetahui dirinya termasuk tipe kepribadian apa, serta bidang-bidang usaha apa yang sesuai untuk dilakoni, mudah-mudahan ada kesempatan bagi saya untuk mempresentasikannya dalam waktu dekat.  Entah dalam suatu acara seminar, pertemuan informal, “kopi darat” atau kesempatan-kesempatan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam sukses,&lt;br /&gt;Rusman Hakim&lt;br /&gt;Pengamat Kewirausahaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E-mail: rusman@gacerindo.com&lt;br /&gt;Web: http://www.gacerindo.com&lt;br /&gt;Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com&lt;br /&gt;Mobile: 0816.144.2792&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-115547725970306335?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/115547725970306335/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=115547725970306335' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/115547725970306335'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/115547725970306335'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2006/08/jadi-pengusaha-kok-nggak-enak-ya.html' title='Jadi Pengusaha Kok Nggak Enak Ya?'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-115444446587260562</id><published>2006-08-01T07:59:00.000-07:00</published><updated>2006-08-01T08:01:06.300-07:00</updated><title type='text'>BERHARAP YANG TERBAIK, BERSIAP YANG TERBURUK</title><content type='html'>Dua hari yang lalu, saya menerima sebuah pesan singkat (sms) dari seorang teman.  Isinya, sebuah kabar duka tentang meninggalnya seorang rekan, yang sudah sekian tahun tidak berjumpa. Namanya Tedjo (bukan nama sebenarnya).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya menelpon balik kepada si pengirim sms, dia bercerita bahwa rekan kami yang meninggal itu sungguh bernasib naas.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula Tedjo adalah seorang wirausahawan sukses, bahkan karena suksesnya itu ia bisa terpilih sebagai Ketua Umum sebuah asosiasi pengusaha dalam bidang bisnis tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belasan tahun, sejak zaman Orde baru, Tedjo berkiprah sebagai pengusaha yang penuh kejayaan, kegemerlapan serta keglamoran.  Ia kebanggaan keluarga, terutama bagi isteri dan anak-anak, serta sekaligus menjadi kebanggaan para sahabat dekatnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai suatu ketika, beberapa saat sebelum gerakan reformasi meletus, lahan bisnis yang sudah bertahun-tahun digarapnya, diambil alih oleh seorang pejabat pemerintah yang berkuasa.  Dan ternyata, peristiwa itu menjadi sebuah momentum dari sebuah perjalanan panjang penuh kepahitan bagi kehidupan Tedjo selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang pengusaha yang pernah gilang-gemilang sekian lama, di mana ia telah menjadi lambang kejayaan sebuah komunitas besar dari sebuah industri, Tedjo mencoba bertahan.  Ia percaya bahwa dirinya masih cukup piawai untuk merebut kembali kepemimpinan bisnis di pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tedjo mungkin saja benar.  Kepiawaian dalam bidang usaha yang telah digeluti selama waktu yang lama, ditambah ketahanan finansial yang cukup besar hasil kucuran keringatnya selama ini, memberi bukti bahwa ia masih mampu terus berkiprah selama lebih dari lima tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, hasil perjuangannya itu cuma sebatas mempertahankan nafas.  Kinerja perusahaannya tidak kunjung meningkat, bahkan sedikit demi sedikit statistik memperlihatkan degradasi yang terus menurun.  Meski segala kemampuan dan segala jurus bisnis yang dipunyai telah dikerahkan sepenuh-penuhnya, namun tetap saja tidak membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan berlalunya sang waktu, pamor seorang Tedjo yang dahulu adalah tokoh kebanggaan komunitasnya, kebanggaaan keluarga dan para sahabat, mulai memudar.  Dan akhirnya pada tahun ke tujuh, perusahaan milik Tedjo harus gulung tikar dengan meninggalkan sejumlah hutang yang harus dibayar.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh sial nasib tokoh kita ini. Para sahabat yang tadinya begitu dekat dan akrab,  sekarang pergi meninggalkan dirinya satu per satu.  Seakan tidak ada lagi yang mau peduli akan nasibnya yang sedang dirundung malang.  Bagaikan sekawanan kumbang yang terbang pergi entah ke mana setelah puas menghisap madu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncaknya adalah ketika tanpa pernah disangka, sang isteri yang selama ini kelihatan setia mendampingi di saat sukses, kini ikut-ikutan berubah sikap.  Tiada lagi senyum mesra, tidak ada lagi canda tawa dan tiada lagi pandangan penuh kekaguman pada sang suami.  Yang ada hanya sikap acuh tak acuh, senyum sinis, kata-kata menusuk hati serta perilaku yang sudah di luar kendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehebat-hebatnya seorang Tedjo, ia tetaplah seorang manusia yang terdiri dari darah dan daging.  Ia bukan terbuat dari baja atau beton bertulang. Usaha yang bangkrut serta beban finansial yang menyertainya, ditambah lagi beban mental yang harus diterima dari perubahan sikap para sahabat dan terutama isterinya sendiri, telah membuat Tedjo terpukul luar dalam.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak mampu lagi berfikir jernih.  Kecerdasan otaknya yang selama ini sangat brilian mencetuskan ide-ide bisnis, kini membeku.  Depresi mental pun menyergap, dan ia menjadi sosok yang sakit-sakitan.  Satu tahun ke depan setelah peristiwa penutupan perusahaannya, adalah masa-masa di mana ia harus keluar-masuk rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, tanpa dukungan moral dari pihak keluarga serta para sahabatnya, Tedjo pun berpulang ke rakhmatullah beberapa waktu kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wafatnya Tedjo, bukanlah peristiwa pertama yang membuat saya harus berfikir tentang seluk beluk kehidupan ini, teristimewa tentang liku-liku kehidupan yang melingkupi para wirausahawan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun sebelum kematian Tedjo, seorang teman lain berinisial F, pernah mengirim kabar kepada saya bahwa ia sedang berada di ruangan sebuah rumah sakit, karena esok harinya akan menjalani operasi jantung yang cukup kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F bercerita dengan jujur bahwa hal itu bermula dari sebuah peristiwa yang terjadi kira-kira 2 tahun sebelumnya.  Sebuah peristiwa di mana ia harus menelan kenyataan pahit, bahwa proyeknya yang bernilai milyaran rupiah, dibatalkan begitu saja oleh seorang pejabat yang baru diangkat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Protes sana, protes sini, urus sana urus sini, semua usahanya itu sia-sia belaka. Dan akhirnya, investasi bermilyar rupiah pun amblas! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shock berat, menyebabkan tekanan jiwa dan gangguan jantung, yang berakhir di meja operasi.  Syukurlah teman ini akhirnya selamat dan sembuh, dengan meninggalkan bekas sayatan panjang membelah dada serta lengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar bagaimana pun, peristiwa-peristiwa semacam ini adalah sebuah realitas.  Sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri keberadaannya, dan seharusnya tidak pula kita berpaling darinya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wirausahawan, sejalan dengan makna yang terkandung dalam kata “wira”, adalah seorang patriot.  Seorang pejuang, yang memperjuangkan harkat dan kehormatan diri, keluarga serta masyarakat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi pertanyaan adalah, bisakah kejadian-kejadian semacam itu dicegah?  Dapatkah jatuhnya korban diminimalisir sampai sesedikit mungkin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana telah saya paparkan pada tulisan terdahulu, seorang wirausahawan perlu melakukan balance adjustment  atas 2 hal penting, yaitu keberanian versus kecerdikan (bravery vs smartness).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecerdikan lebih bersandar kepada logika.  Dengan dasar-dasar pemikiran yang sederhana, sebenarnya seseorang akan dapat menekan tingkat risiko stres dan depresi, sampai ke tingkat cukup signifikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terkesan dengan kiat seorang teman di milis, yang mengajukan sebuah konsep berbasis smartness.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teorinya sederhana.  Yaitu, apabila kita membangun sumber penghasilan lebih dari satu kuadran (misalnya satu di kuadran “B”/bisnis dan satu lagi di kuadran “S”/self employed), maka tentunya posisi keuangan kita akan lebih aman dibanding kalau kita cuma mempunyai sumber di satu kuadran saja.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan sebuah solusi yang sangat cerdik.  Banyak yang sudah mempraktikkannya.  Sebagai contoh, beberapa teman menjalankan usaha sambil tetap mempertahankan statusnya sebagai pegawai, untuk jangka waktu beberapa lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep yang sama seharusnya dapat diterapkan juga dalam kasus-kasus bisnis sebagaimana diceritakan di atas.  Andaikata teman saya Tedjo mau menjalankan bisnis di dua atau tiga bidang usaha yang berbeda sekaligus, mungkin cerita akan menjadi lain.  Wallahu alam..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi Spiritual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping kecerdikan berdasarkan logika, ada sebuah solusi lain yang lebih bersifat hakiki, yang sebenarnya jauh lebih ampuh untuk digunakan sebagai penangkal stress dan depresi mental.  Solusi dimaksud adalah solusi berdasarkan kiat-kiat spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, sudah seharusnya seorang entrepreneur mempersiapkan diri sebaik-baiknya -- termasuk dalam aspek spiritual – sebelum ia benar-benar terjun ke dalam kancah persaingan bisnis yang ganas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negeri barat, kebanyakan kaum pengusaha adalah penganut-penganut agama Kristen yang baik. Sementara di Taiwan, Korea dan China, kaum pengusahanya rata-rata berbisnis dengan berpedoman kepada Konfusianisme.  Dan mereka sangat memahami aspek-aspek spiritual.  Spiritualisme yang diterapkan dalam dunia kewirausahaan, disebut “entrepreneurial spiritualism”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, untuk mengatasi depresi mental yang dialami para usahawan, diperlukan kesadaran tentang entrepreneurial spirituality.  Ini adalah salah satu wacana yang merupakan bagian terpenting dari pengetahuan kewirausahaan secara utuh. Dengan kesadaran dimaksud, seorang entrepreneur  akan selalu berada dalam kondisi:  “berharap untuk yang terbaik, tapi tetap siap untuk yang terburuk”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang sekali bahwa pembahasan mengenai hal terebut memerlukan penulisan panjang, yang tidak mungkin bisa dimuat hanya dalam satu artikel saja.  Namun demikian, apabila rekan-rekan di milis, Pak Moderator serta sidang pembaca sekalian berminat untuk mencermati apa yang disebut dengan entrepreneurial spirituality, saya bersedia untuk menuangkannya dalam satu rangkaian tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu dengan segala kerendahan hati, saya mohon masukannya…!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusman Hakim&lt;br /&gt;Pengamat Kewirausahaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E-mail: rusman@gacerindo.com&lt;br /&gt;Web: http://www.gacerindo.com&lt;br /&gt;Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com&lt;br /&gt;Mobile: 0816.144.2792&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-115444446587260562?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/115444446587260562/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=115444446587260562' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/115444446587260562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/115444446587260562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2006/08/berharap-yang-terbaik-bersiap-yang.html' title='BERHARAP YANG TERBAIK, BERSIAP YANG TERBURUK'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-115381546173488972</id><published>2006-07-25T01:16:00.000-07:00</published><updated>2006-07-25T01:17:52.806-07:00</updated><title type='text'>ENTREPRENEURSHIP BLEND</title><content type='html'>ENTREPRENEURSHIP’S BLEND&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda suka mendengarkan musik?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau iya, tentu Anda tidak asing dengan peralatan sound system, seperti stereo set, compo, audio amplifier dan lain sebagainya.  Nah, kalau Anda perhatikan, selain tombol “Volume” yang biasa kita gunakan untuk memperbesar atau memperkecil suara, di panel peralatan-peralatan tersebut biasanya ada sebuah tombol yang ditandai dengan tulisan “Balance”, bukan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunanya tombol ini adalah untuk mengatur keseimbangan output antara kanal kiri dengan kanal kanan, sehingga suara yang keluar dari kedua speaker akan benar-benar bagus, seimbang dan menyatu secara harmonis.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada peralatan-peralatan yang lebih canggih, fungsi itu diperkuat dengan satu set tombol geser yang diberi tanda dengan tulisan “Graphic Equalizer” (GE).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengatur posisi masing-masing tombol GE tersebut, seorang penggemar musik yang fanatik akan dimungkinkan untuk menyetel keluaran sound system nya secara lebih akurat, berdasarkan rentang frekuensi yang lebih detail.  Mulai dari nada rendah (bass), nada menengah (mid-range) sampai kepada nada tinggi (treble).  Dengan demikian, ia bisa menikmati alunan musik yang kualitasnya sempurna serta enak didengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti dari pembahasan di atas adalah untuk menunjukkan bahwa ternyata, selalu diperlukan keseimbangan  yang pas dari berbagai unsur pendukung, bila kita ingin memperoleh sesuatu  yang baik, sesuatu yang bagus atau sesuatu yang “powerfull”, dari apa pun yang kita kehendaki di dunia ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga halnya di dunia kewirausahaan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum seorang calon entrepreneur dapat memulai kiprahnya, tentunya terlebih dahulu ia harus  mampu mengatasi hambatan mental berupa keberanian memulai.  Masalah keberanian inilah yang pada umumnya akan menjadi masalah “pertama dan perdana” bagi seorang calon wirausahawan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang tertentu, akan sangat gagah berani menghadapi fase tersebut.  Sehingga dengan enteng langsung berhenti dari pekerjaannya sebagai pegawai orang lain, untuk kemudian mulai menata usaha sendiri.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain fihak, beberapa orang lainnya akan sangat hati-hati, bahkan terlalu hati-hati sebelum memutuskan untuk ganti profesi menjadi pengusaha.  Mereka cenderung ragu untuk begitu saja meninggalkan sumber penghasilan yang selama ini menjadi penopang kehidupannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, tidak mengherankan kalau kemudian, ada saja kita mendengar kisah-kisah tragis tentang kebangkrutan orang-orang yang “terlalu berani” terjun ke dunia usaha tanpa persiapan memadai.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, lebih sering lagi kita menjumpai orang-orang yang berminat menjadi wirausahawan, tapi mengambil sikap kelewat hati-hati.  Kenyataannya, mereka tidak pernah benar-benar berani merubah diri, dari seorang karyawan, menjadi seorang pengusaha sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kasus yang terakhir ini, orang-orang tersebut melakukan sepak terjangnya masih sebatas tanya-kanan tanya-kiri.  Atau paling-paling ikut menjadi anggota beberapa perusahaan MLM, lalu “jualan” di lingkungan teman-teman sekantor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi Yang Diperlukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengaktualisasikan diri menjadi seorang wirausahawan, diperlukan apa yang saya sebut dengan “Entrepreneurship Blend” atau “Adonan Kewirausahaan”.  Adonan ini berupa perpaduan dari berbagai jenis kualitas pribadi, yang berfungsi sebagai unsur-unsur pendukung semangat kewirausahaan seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya, ada 3 (tiga) hal penunjang yang diperlukan bagi seseorang ketika yang bersangkutan pertama kali berniat menerjuni bidang usaha.  Hal-hal itu dalam bahasa Inggris disingkat dengan BSC, terdiri dari Bravery, Smartness dan Creativity.  Dalam bahasa Indonesia, disebut dengan 3K, yaitu Keberanian, Kecerdikan dan Kreativitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hal yang pertama, Bravery dan Smartness, atau Keberanian dan Kecerdikan, cenderung merupakan 2 hal yang bertolak belakang.  Ia berperan seperti tombol “balance” pada perangkat sound system.  Tombol ini bila diputar ke kiri, mengakibatkan suara di kanal kiri menjadi besar, suara di kanal kanan mengecil.  Begitu sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberanian dan Kecerdikan seringkali juga mengambil perilaku seperti itu.  Mereka yang keberaniannya besar, cenderung tidak smart, sehingga kadang-kadang bertindak ceroboh.  Contohnya, orang-orang yang disebut di bagian atas tadi.  Mereka dengan enteng terjun ke dunia bisnis tanpa perhitungan, untuk kemudian kolaps.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, mereka yang terlalu smart, pada akhirnya kehilangan bravery sama sekali.  Sehingga tidak pernah mewujudkan impiannya menjadi usahawan yang bebas merdeka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya, setiap orang yang mau menjelma dari seorang karyawan menjadi seorang usahawan, harus “menyetel” tombol Balance nya sedemikian, sehingga tingkat keberanian dan tingkat kecerdikannya harus betul-betul proporsional.  Dia harus pemberani, tapi dalam waktu yang sama ia juga harus cukup hati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kedua hal tersebut sudah teratasi dengan baik, maka tiba gilirannya untuk memainkan tombol Volume.  Guna menjamin berputarnya roda usaha, seorang pemula perlu meningkatkan intensitas kewirausahawannya dengan mengerahkan segenap daya kreativitasnya agar dapat menghasilkan produk-produk spesifik yang berkualitas.  Produk yang tidak akan mudah ditiru atau dijiplak oleh orang lain, sehingga tidak mudah pula mendatangkan persaingan tidak sehat yang dilakukan kaum pembajak dan oportunis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tiga aspek di atas, Keberanian, Kecerdikan serta Kreativitas (3K), dapat dijamin bahwa seorang wirausahawan akan berhasil menciptakan serta menggerakkan roda usahanya di tahap-tahap awal.  Sedangkan untuk kesinambungan ke depan, ia harus pula memperlengkapi diri dengan sebanyak mungkin nilai-nilai positif, seperti attitude, integritas, proaktivitas, inisiatif, keuletan, kepemimpinan dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana tombol-tombol Graphic Equalizer, yang menjadikan perangkat sound system kelas atas semakin canggih, seorang wirausahawan pemula pun akan dapat menjadikan dirinya sebagai ideal entrepreneur yang profesional dan tangguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusman Hakim&lt;br /&gt;Pengamat Kewirausahaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E-mail: rusman@gacerindo.com&lt;br /&gt;Web: http://www.gacerindo.com&lt;br /&gt;Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com&lt;br /&gt;Mobile: 0816.144.2792&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-115381546173488972?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/115381546173488972/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=115381546173488972' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/115381546173488972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/115381546173488972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2006/07/entrepreneurship-blend.html' title='ENTREPRENEURSHIP BLEND'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-115303214910815133</id><published>2006-07-15T23:40:00.000-07:00</published><updated>2006-07-15T23:42:29.453-07:00</updated><title type='text'>SEBERAPA WIRAUSAHA KAH ANDA?</title><content type='html'>Banyak orang terjun ke dunia usaha, lalu menyebut dirinya sebagai wirausahawan.  Ini menunjukkan bahwa istilah “wirausahawan” itu sudah begitu populer di kalangan masyarakat, sehingga kata-kata ini seakan-akan sudah difahami sebagai pengganti kata “businessman”.  Apakah dengan demikian, kata “wirausahawan’ itu benar-benar sama artinya dengan kata “businesman”?  Dan kata “wirausaha” sama dengan “business”? Mari kita lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diketahui, ledakan perkembangan bisnis terjadi bersamaan dengan terjadinya Revolusi Industri di Inggris.  Lahirnya mesin-mesin industri, membuat dunia perdagangan menjadi marak, karena semua kebutuhan konsumen dengan mudah dapat dipenuhi, tidak peduli berapa banyak jumlah produk yang diminta.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesin mempermudah segalanya.  Mekanisasi industri yang memungkinkan dilakukannya produk masal dengan mutu tinggi, merangsang para pedagang untuk berlomba-lomba menciptakan produk-produk baru yang menarik untuk ditawarkan pada calon pembeli.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Fenomena ini akhirnya berkembang menciptakan iklim persaingan antar produsen dan penjual barang.  Makin hari persaingan makin tajam, dan menyebabkan para pebisnis merasa semakin sulit menjual produknya di pasar.  Dan di sinilah dimulainya degradasi moral.  Beberapa businessman yang merasa terjepit, mulai melakukan kecurangan-kecurangan.  Penipuan, manipulasi mutu dan harga serta banyak lagi tindakan-tindakan tidak terpuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala seperti itu berkembang terus, makin lama keculasan para pedagang makin tidak terkendali.  Etika seakan sudah tidak diindahkan lagi, setiap orang berebut rejeki untuk kepentingan diri sendiri.  Semua cara dihalalkan, kalau perlu dengan menyikut orang lain.  Atau menjual barang terlarang sekali pun.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya pada akhirnya orang mengenal apa yang disebut dengan “mafia”.   Sejenis kelompok bisnis yang tidak segan-segan melukai bahkan membunuh siapa saja (pejabat pemerintah sekali pun) demi kepentingan bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat dunia usaha yang sudah demikian ambur-adul, masyarakat banyak akhirnya mengasosiasikan bisnis sebagai kegiatan kotor, lambang keserakahan yang menjijikkan. Timbul semacam perasaan skeptis di kalangan awam.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadar akan hal itu, beberapa kalangan  pengusaha yang masih memegang nilai-nilai bisnis yang bersih, mulai menerapkan dan mengembangkan prinsip perdagangan baru.  Mereka tetap berpendapat bahwa bisnis itu sebenarnya mengandung nilai-nilai yang luhur.  Dengan bisnis, martabat manusia menjadi ditinggikan dan termuliakan.  Oleh karenanya, sifat serta tindakan buruk harus dilenyapkan dari dunia usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, wacana entrepreneurship pun muncul.  Inilah yang kemudian di Indonesia dikenal dengan istilah “wiraswasta” dan bermetamorfosis menjadi “wirausaha”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, menjadi jelas bahwa perbedaan pertama yang membedakan makna “bisnis” dengan “wirausaha” adalah bahwa “bisnis” memilik arti yang lebih umum, dengan kriteria-kriteria yang lebih longgar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan “wirausaha” mengandung arti tentang serangkaian kegiatan komersial, dengan dilandasi pada attitude yang baik dari pelakunya.  Wirausahawan berkiprah melalui koridor yang lebih sempit, di mana mereka harus memperhatikan berbagai kriteria, rambu dan etika yang akan menjamin kelangsungan kehidupan berbisnis agar selalu menghasilkan manfaat maksimal bagi umat manusia (bukan hanya dirinya sendiri saja).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau pun dalam kenyataannya, “businessmen” mau pun “entrepreneurs” terlibat dalam aktivitas yang sama, dalam ruang dan waktu yang sama pula, namun ada beberapa tolok ukur yang dapat digunakan untuk membedakan kedua jenis pelaku ekonomi ini.  Di antaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Business bersifat “focus on profit”, sedangkan wirausaha bersifat “focus on benefit”.  Seorang pebisnis umumnya memusatkan perhatian pada sebanyak-banyaknya keuntungan komersial yang dapat diperoleh, tanpa memperhatikan dan kalau perlu mengorbankan kepentingan orang lain.  Misalnya, perusahaan pertambangan yang sangat kaya raya, tapi tidak memperhatikan kerusakan lingkungan dan membiarkan masyarakat sekitarnya tetap miskin.  Kalau sang pengusaha adalah seorang wirausahawan tulen, hal itu tak akan terjadi.  Karena ia pasti akan memelihara serta melestarikan lingkungan dan menyejahterakan masyarakat sekitar.  Ia sadar bahwa tindakan itu bukan sekadar tindakan bersifat sosial semata, tapi juga mengandung benefit yang mendukung kemajuan perusahaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bisnis lebih bersifat “win-lose”, sedangkan wirausaha lebih bersifat “win-win “.  Kebanyakan pebisnis menghendaki kekalahan pesaingnya, dengan demikian ia mengira usahanya akan lebih leluasa mengejar keuntungan, tanpa harus memperhatikan kualitas dari produk dan jasa yang dijual.  Wirausaha sebaliknya, lebih merasakan manfaat dari kehadiran para pesaing, dengan demikian setiap saat ia dapat mengukur kualitas produk serta peningkatan kinerja perusahaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bisnis menggunakan pendekatan “kuantitatif”, sedangkan wirausaha menggunakan pendekatan “kualitatif”. Secara tradisional, kaum pebisnis selalu memulai usahanya dengan kapital besar, setidaknya dalam jumlah yang seaman-amannya sesuai dengan ukuran besar-kecilnya suatu bidang bisnis.  Dalam hal ini, pengusaha lebih mengandal pada kekuatan finansial yang ada di bawah kendalinya. Wirausahawan di lain fihak,  memulai usaha dengan modal kecil, kadang tidak sesuai dengan jumlah normal yang diperlukan bagi sebuah bidang usaha.  Tetapi, banyak dari mereka berhasil sukses.  Dalam hal ini, wirausahawan lebih mengandal pada keuletan pribadinya, bukan kepada kekuatan uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bisnis berpedoman kepada “hasil’, sedangkan wirausaha berpedoman kepada “cara’ Pebisnis kebanyakan berkiblat hanya kepada hasil yang harus dicapai, tanpa peduli cara apa yang digunakan.  Misalnya, kalau hendak melakukan pembebasan tanah, kalau perlu mereka akan menggunakan cara-cara kekerasan.  Sebaliknya, wirausahawan lebih menggunakan pendekatan saling menguntungkan.  Tidak jarang dalam suatu program pembebasan tanah yang dilaksanakan seorang wirausahawan, warga yang tergusur justru berubah menjadi orang-orang kaya baru (OKB), bahkan tidak sedikit yang kemudian pergi naik haji dengan istilah mereka sendiri “Haji Gusuran”.  Ciputra adalah salah seorang yang menunjukkan kualitasnya sebagai wirausahawan seperti itu.&lt;br /&gt;5. Pebisnis menganalogikan aktivitasnya sebagai “perang”, dan cenderung “membunuh orang lain”.  Sedangkan wirausahawan lebih berkeinginan untuk “menghidupi orang lain”.  Pada beberapa peristiwa, high-class businessmen  selalu mengincar perusahaan-perusahaan lain yang lebih kecil untuk diakuisisi.  Senang atau tidak senang.  Di masa lalu, taipan yang menguasai bisnis terigu dari hulu sampai ke hilir, selalu memaksa perusahaan-perusahaan mie milik orang lain untuk diambil alih.  Kalau tidak bersedia, pasokan terigunya akan dihentikan, maka mau tidak mau pengusaha-pengusaha mie itu menyerah juga.  Itulah kecenderungan dari sepak terjang seorang pebisnis.  Wirausahawan sebaliknya, mencari momentum untuk dapat bersinergi dengan kompetitor.  Contohnya, Hewlett Packard (HP) memberikan fasilitas dan bantuan kepada pesaingnya “Textronix” untuk memproduksi barang yang sama serta dengan teknologi yang sama pula dengan yang diproduksi oleh HP.  Begitu juga dengan yang dilakukan Astra.  Perusahaan raksasa nasional ini, tidak berupaya untuk mencaplok orang lain.  Sebaliknya, mereka melakukan pendekatan kemitraan, dengan jalan memberikan pembinaan modal dan manjemen kepada perusahaan-perusahaan yang lebih kecil.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Bisnis memasukkan sudut pandang “spekulatif”, sedangkan wirausaha memasukkan sudut pandang “partisipatif” .  Di dunia perdagangan saham, rekasadana dan juga valas, para pebisnis berlomba-lomba mengerahkan segenap kemampuan untuk dapat meraup sebanyak-banyaknya keuntungan finansial.  Mereka memainkan uang tidak ubahnya bagai penjudi-penjudi yang sedang bertaruh.  Seorang wirausahawan, berpartisipasi di dunia saham, reksadana dan valas dengan paradigma sebatas antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya perubahan ekonomi mendadak.  Di samping itu juga atas dasar simpatinya kepada perusahaan-perusahaan yang berkarakter wirausaha, atau kepada pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Businessmen menerapkan teori x atau y, sedangkan wirausahawan menerapkan teori z.  Dalam menangani masalah karyawan, pebisnis biasanya menerapkan teori x atau y (McGregor) yang pada galibnya memperlakukan karyawan hanya sebagai unsur produksi.  Para wirausahawan di lain fihak, condong melakukan pendekatan kemitraan ala teori z (William Ouchi), sehingga para karyawan merasa berbahagia karena diperlakukan sebagai manusia yang sederajat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Seorang wirausahawan adalah seorang (clean) businessman, tapi seorang businessman belum tentu seorang wirausahawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butir-butir penjelasan di atas diharapkan dapat membantu Anda untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang apa yang dimaksud dengan kewirausahaan.  Pada acara-acara pemilihan The Best Entrepreneur, Entrepreneur Of The Year dan semacamnya, maka kriteria-kriteria di atas seyogyanya dapat diterapkan, agar tidak terjadi pemilihan yang tidak proporsional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan berikut mungkin perlu diajukan: “Sudah seberapa wirausaha kah Anda?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusman Hakim&lt;br /&gt;Pengamat Kewirausahaan&lt;br /&gt;E-mail: rusman@gacerindo.com&lt;br /&gt;Web: http://www.gacerindo.com&lt;br /&gt;Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com&lt;br /&gt;Mobile: 0816.144.2792&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-115303214910815133?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/115303214910815133/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=115303214910815133' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/115303214910815133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/115303214910815133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2006/07/seberapa-wirausaha-kah-anda.html' title='SEBERAPA WIRAUSAHA KAH ANDA?'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-115207240638409940</id><published>2006-07-04T21:05:00.000-07:00</published><updated>2006-07-04T21:06:51.726-07:00</updated><title type='text'>SANG BEGAWAN KI AGENG WIRASWASTA (I)</title><content type='html'>SANG BEGAWAN KI AGENG WIRASWASTA (I)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, pada suatu hari terjadilah pertemuan antara Sang Begawan Ki Ageng Wiraswasta dengan Sang Satria Wirausaha.  Pertemuan tesebut dilakukan di suatu tempat yang sunyi dan dirahasiakan, karena Sang Satria menginginkan pembicarakan itu betul-betul dapat memberikan kejelasan tentang suatu hal yang selama ini mengganjal di benaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SANG SATRIA :  Wahai Sang Begawan yang bijaksana.  Ku mohon berilah penjelasan pada ku, makna apa sesungguhnya yang terkandung dalam dunia kewirausahaan?  Apakah “wirausaha” itu sebuah profesi, ataukah ia sejenis ilmu pengetahuan? Atau hanya sebuah wacana tentang semangat kehidupan?&lt;br /&gt;SANG BEGAWAN: Sang Satria yang gagah perkasa.  Memang sebenarnyalah kewirausahaan itu dapat dilihat dari beberapa sudut pandang.  Di satu sisi kewirausahaan dapat dipandang sebagai sebuah profesi, di lain sisi ia juga bisa dipandang sebagai sebuah wacana tentang semangat kehidupan.  Orang-orang terpelajar memasukkannya sebagai suatu bidang keilmuan, dan bahkan sebagian orang tertentu menganggapnya sebagai seni.&lt;br /&gt;SANG SATRIA: Dapatkah engkau menjelaskannya satu per satu pada ku wahai, Sang Begawan? Dari masing-masing sudut pandang itu, yang manakah yang dapat dianggap paling bernilai?&lt;br /&gt;SANG BEGAWAN: Pada tingkatan awam, kebanyakan orang menganggap bahwa wirausaha itu semata-mata sebuah profesi.  Oleh sebab itu, kata “wirausahawan” menjadi sebuah istilah yang membedakan orang yang menuntut penghidupan melalui usaha mandiri, terhadap mereka yang bekerja dan digaji oleh orang lain.  Kalau kita bicara dari sudut nilai (value), maka sudut pandang ini adalah yang terendah nilainya.  Kenapa? Karena di sini kewirausahaan hanya dipandang sebagai sebuah sarana untuk mempertahankan hidup (survival) dan mencari nafkah semata.  Sudah tentu sifatnya sangat egoistik, mementingkan diri sendiri. Maklum, di taraf awal memang orang harus memikirkan kelangsungan hidupnya sendiri lebih dahulu, bukan?  Namun, pada kebanyakan kasus, mereka yang sudah mapan secara ekonomi, tetap saja berpandangan egoistik karena berpegang pada pengertian bahwa wirausaha itu adalah sebuah profesi. Akhirnya, mereka tetap dalam alur pikiran untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, yaitu kalau kebutuhan hidup mereka pribadi sudah terpenuhi, maka pada gilirannya mereka harus pula memenuhi kebutuhan sanak keluarganya, saudara-saudara serta keturunannya mulai dari anak, cucu, cicit begitu seterusnya sampai kalau mungkin, 7 turunan.  Tentu engkau tahu tentang hal ini dan banyak contohnya.&lt;br /&gt;SANG SATRIA: Benar sang Begawan.  Banyak sekali contohnya.  Mereka mengira dengan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, bersenang-senang dan berhura-hura seanak-cucu, mereka telah menunjukkan kepada umum sebuah prestasi besar, yang menurut mereka sudah sepantasnya mendapat apresiasi dari masyarakat.  Mereka ingin orang banyak tahu bahwa mereka telah berhasil mencapai suatu keadaan yang seaman-amannya dari bahaya kelaparan, kemiskinan dan kebangkrutan, sebagaimana yang masih harus dihadapi oleh orang banyak itu sendiri.  Lalu bagaimana pula dengan sudut pandang yang menganggap wirausaha sebagai ilmu?&lt;br /&gt;SANG BEGAWAN: Mereka yang menganggap wirausaha sebagai ilmu, sesungguhnya tidak berwirausaha.  Mereka  hanya menganalisa.  Kebanyakan ilmu pengetahuan yang ada di dunia ini, dimulai dari sebuah analisis tentang suatu fenomena. Sesuatu tejadi lebih dahulu, baru dipelajari lalu timbullah suatu ilmu pengetahuan baru.  Semakin lama, semakin banyak ilmu baru ditemukan.  Ilmu ekonomi ditemukan setelah orang mengenal ilmu matematika lebih dulu.  Ilmu pengetahuan tentang bisnis lebih baru lagi.  Demikian juga dengan kewirausahaan. Kalau kewirausahaan dibakukan menjadi sebuah ilmu, itu sah-sah saja.  Sayangnya, seperti juga ilmu-ilmu non eksakta lainnya, kewirausahaan bersifat dinamis.  Ia selalu berubah, teori tempo dulu dibantah oleh teori hari ini.  Teori hari ini dibantah lagi oleh teori esok hari demikian seterusnya.  Mempelajari ilmu kewirausahaan, sama saja dengan mengejar bayangan.  Itu juga  yang terjadi dengan ilmu manajemen. Pernahkah engkau mendengar tentang pakar manajemen yang akhirnya kebingungan dengan karakter ilmu manajemen itu sendiri?  Seorang usahawan yang mempelajari kewirausahaan sebagaimana mempelajari rumus-rumus matematika, akan menemui kekonyolan yang sia-sia ketika menerapkannya di dunia bisnis yang nyata.  Bagi seorang wirausahawan, mempelajari teori-teori itu bagus.  Tapi, ia tidak akan terikat oleh sebuah teori pun, sepak terjangnya murni dan bebas.  Teori bisa saja ia pakai di satu saat, di lain waktu teori itu dia modifikasi, dan pada kesempatan lain teori yang sama ia buang ke tempat sampah untuk kemudian melakukan sepak terjang yang kontra-teori.  Bagi seorang wirausahawan sukses, apa yang telah diperbuatnya di masa lalu, bisa saja dijadikan teori oleh orang lain. Padahal di saat sekarang, ia telah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang telah dijadikan teori oleh orang lain.  Dapatkah engkau menangkap apa yang kusampaikan ini, wahai Sang Satria?&lt;br /&gt;SANG SATRIA: Aku mengerti, Sang Begawan.  Dan apa pula maknanya jika ada usahawan-usahawan tertentu menganggap kewirausahaan itu sebagai seni?&lt;br /&gt;SANG BEGAWAN: Seni itu berintikan keindahan.  Jarang sekali orang yang dapat merasakan keindahan di kala ia sedang sengsara.  Oleh sebab itu, kebanyakan orang yang merasakan kewirausahaan itu sebagai sebuah seni, adalah mereka yang telah sukses secara ekonomi.  Mereka merasakan keindahan saat mereka berhasil menyelesaikan suatu pekerjaan besar.  Lebih indah lagi sewaktu mereka menghitung uang yang berkelimpahan setelah pekerjaan itu dibayar.  Beberapa pengusaha merasakan keindahan saat mereka berhasil membangun perusahaan-perusahan baru, baik murni milik sendiri mau pun mencaplok perusahaan-perusahaan milik orang lain.  Namun, jangan salah! Tidak semua begitu.  Sebagian pengusaha ada juga  yang merasakan keindahan saat mereka ada dalam saat-saat kritis.  Mereka bergairah di kala perusahaannya ada dalam kesulitan, dikejar target, dijepit dead-line dan lain-lain masalah.  Mereka berjiwa petualang yang tidak suka berdiam lama-lama dalam kondisi adem-ayem-tentrem.  Mereka menyukai tantangan, makin keras tantangannya makin gairahlah mereka.&lt;br /&gt;SANG SATRIA: Jadi apakah sang Begawan hendak mengatakan bahwa pengusaha-pengusaha jenis itulah yang memiliki nilai kewirausahaan terbaik?&lt;br /&gt;SANG BEGAWAN: Tidak juga.  Mereka menikmati seni dan keindahan itu adalah untuk diri mereka sendiri.  Apa yang mereka rasakan hanya mereka sendiri yang dapat menikmatinya.  Orang lain tidak.  Nah, sepanjang sepak terjang berikut kesenangan dan kenikmatan yang diperoleh seorang pengusaha itu masih ditujukan untuk kesenangan diri sendiri, maka ia tidak bisa dikategorikan sebagai pengusaha yang memiliki nilai kewirausahaan (entrepreneurship value) yang baik.  &lt;br /&gt;SANG SATRIA: Kalau demikian, tolong jelaskan sudut pandang seperti apa yang bisa kita kategorikan sebagai sikap kewirausahaan yang ideal, ya Sang Begawan?&lt;br /&gt;SANG BEGAWAN: Baik Sang Satria.  Menurutku, satu-satunya sudut pandang yang perlu dimiliki oleh setiap orang yang berkecimpung di dunia wirausaha, adalah sudut pandang kepemimpinan.  Sudut pandang yang melihat dunia kewirausahaan sebagai wahana kepemimpinan.  Bukan semata-mata wahana perebutan uang, harta benda serta simbol-simbol kekayaan yang materialistis. Orang seperti ini akan memulai usahanya dengan cakupan visi yang luas, bukan saja meliputi diri dan keluarga, tapi juga masyarakat sekitar.  Beberapa tokoh bisnis bahkan memulai kiprahnya dengan visi kebangsaan, yang terpicu setelah melihat kemiskinan dan kesengsaraan rakyat di masing-masing negerinya.  Faktor keunggulan dari wirausahawan seperti ini adalah jelas mereka jauh dari sifat-sifat egoistik. Mereka bahkan mendahulukan kepentingan orang lain katimbang kepentingan diri sendiri.  Oleh karenanya, merekalah yang pantas menyandang nilai-nilai kewirausahaan tertinggi.  Di dalam visi mereka otomatis sudah termasuk faktor spirit, di mana untuk menjadi wirausahawan yang mengayomi banyak orang, tentu diperlukan semangat kewirausahaan yang tinggi.  Termasuk pula unsur sikap mental atau attitude, integritas serta proaktivitas.  Seni dan keindahan bagi mereka adalah ketika melihat para karyawan, pemasok, pelanggan serta masyarakat sekitar tersenyum bahagia saat menikmati karyanya.  Sampai di sini, adakah engkau dapat memahami penjelasanku, wahai Satria?&lt;br /&gt;SANG SATRIA: Benar, Sang Begawan. Aku mengerti. Penjelasanmu meski panjang lebar, tapi cukup memberi pengertian pada ku.  Aku ingin mencerna itu semua selama beberapa waktu, oleh sebab itu mungkin lebih baik pembicaraan ini kita hentikan dulu sampai di sini, sampai lain waktu kita bertemu pula dalam diskusi lebih lanjut.  Ku mohon engkau tidak keberatan kalau lain kali kita dapat berjumpa lagi dalam pembahasan tentang kewirausahaan.&lt;br /&gt;SANG BEGAWAN: Dengan senang hati, Sang Satria.  Kita dapat bertemu lagi di sini di lain waktu.&lt;br /&gt;SANG SATRIA: Terima kasih, Sang Begawan.  Semoga Tuhan memberkati umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Satria Wirausaha dan Sang Begawan Ki Ageng Wiraswasta berpisah dan masing-masing pulang ke tempat kediamannya.  Sang Begawan melanjutkan meditasi, sedangkan Sang Satria berusaha untuk mencamkan hasil pembicaraan itu jauh ke dalam lubuk sanubarinya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusman Hakim&lt;br /&gt;Pengamat Kewirausahaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E-mail: rusman@gacerindo.com&lt;br /&gt;Website: http://www.gacerindo.com&lt;br /&gt;Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com&lt;br /&gt;Mobile: 0816.144.2792&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-115207240638409940?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/115207240638409940/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=115207240638409940' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/115207240638409940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/115207240638409940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2006/07/sang-begawan-ki-ageng-wiraswasta-i.html' title='SANG BEGAWAN KI AGENG WIRASWASTA (I)'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-115128808422005889</id><published>2006-06-25T19:11:00.000-07:00</published><updated>2006-06-25T19:14:44.690-07:00</updated><title type='text'>INVISIBLE ENTREPRENEUR</title><content type='html'>Sewaktu masih bersekolah di SMP dulu, saya punya pengalaman yang unik.  Beberapa teman saya umurnya agak lebih tua dari rata-rata umur siswa SMP kelas 3 di sekolah kami.  Meski hanya lebih tua 2 tahun, namun penampilan mereka sangat berbeda dari siswa-siswa lainnya.  Mereka tampak jauh lebih dewasa dari usia sebenarnya, apalagi dari status mereka yang masih pelajar SMP kelas 3.  Pakaian necis mentereng, sepatu selalu baru dan mengkilat, kadang-kadang pamer kacamata hitam “nite-n-day”, dan kadang-kadang pula merokok sigaret luar negeri (tentunya sembunyi-sembunyi dari penglihatan guru).  Yang paling membuat kagum saya dan teman-teman adalah bahwa mereka selalu datang ke sekolah menggunakan sepeda motor baru yang tampak mewah sekali. (Zaman itu sepeda motor masih merupakan barang mewah, dan pelajar yang menggunakan mobil ke sekolah hanyalah mereka yang anak pejabat saja).  Mereka pun punya punya banyak uang, terbukti dari royalnya mereka mentraktir kami makan atau minum hampir setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan tersebut tentu saja menimbulkan pertanyaan besar di benak saya dan teman-teman.  Dari mana mereka mendapatkan segala kemewahan itu, dan dari mana pula mereka bisa memiliki banyak uang? Bukankah mereka hanya anak-anak SMP kelas 3 yang belum waktunya untuk bekerja?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak tahan menyimpan teka-teki, akhirnya saya putuskan untuk bertanya langsung.  Salah seorang dari teman-teman kami yang “kaya” itu akhirnya membuka rahasia, bahwa ia mendapatkan uang untuk membeli segala sesuatu yang mereka sukai itu bukan dari pemberian orang tua, karena orang tua mereka bukanlah orang kaya.  Mereka mendapatkannya dengan jalan “mengobyek”!  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngobyek?  Apa itu?  Ternyata yang dimaksud dengan “ngobyek” adalah kegiatan “berbisnis” dengan jalan menjadi makelar atau perantara dalam berbagai transaksi jual beli sepeda motor.  Setiap kali transaksi terjadi, mereka akan mendapatkan sekian persen sebagai komisi.  Nah, karena sepeda motor waktu itu masih mahal, dapat dibayangkan berapa besar mereka mendapatkan uang dari kegiatan “ngobyek”.  Apalagi kalau diingat mereka tidak lebih dari anak-anak yang masih berstatus pelajar.  Luar biasa.!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat terkesan dengan sepak terjang teman-teman yang sudah mampu mencari penghasilan sendiri itu.  Mereka mampu beli motor sendiri, yang bahkan tidak semua orang dewasa mampu membelinya.  Buka main..!  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di rumah, saya bercerita kepada orang tua saya tentang kehebatan teman-teman tersebut.  Sambil menyatakan rasa kekaguman saya, saya pun menanyakan pendapat ayah dan ibu bagaimana kalau saya juga mengikuti jejak teman-teman itu untuk “ngobyek”.  Toh hasilnya nyata, dan paling tidak, dengan hasil ngobyek, uang sekolah akan dapat saya bayar sendiri tanpa menggangu keuangan orang tua.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun, tahukah Anda apa jawaban kedua orang tua saya?  Bukan saja mereka tidak menyetujui, mereka bahkan setengah marah mengatakan pada saya: “Tidak, tidak! Lupakan semua itu.  Teman-teman kamu itu nggak bener.. Anak sekolah tugasnya adalah sekolah dan belajar baik-baik.  Jangan sekali-kali tergoda dengan uang.  Sekali kamu tergoda uang, pelajaran kamu akan hancur dan masa depan kamu suram..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kecewa sekali dengan sikap kedua orang tua saya itu.  Tapi ya, sudahlah. Barangkali mereka memang benar, demikan saya menghibur diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahun-tahun kemudian, setelah selesai sekolah dan setelah menjadi profesional beberapa waktu lamanya, saya terjun ke dunia usaha.  Saya mendirikan perusahaan sendiri berbentuk PT dan  memulai semuanya dengan modal kecil yang serba pas-pasan.  Di periode itulah saya baru merasakan betapa beratnya menjadi seorang pengusaha pemula yang tidak mempunyai bekal apa pun untuk berusaha.  Modal cekak milik sendiri, tidak ada panutan, tiada pengalaman sama sekali, serta tak pula punya jaringan yang memadai.  Saking beratnya permasalahan yang saya hadapi, saya sempat dalam hati mengecam pemerintah yang kebijakan-kebijakannya tidak berpihak kepada pengusaha kecil, berlawanan dengan apa yang selama ini didengung-dengungkan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan saja, sebuah usaha kecil yang baru didirikan, sudah harus terbebani dengan pengurusan sekian banyak surat-surat perizinan.  Mulai dari akte pendirian, Surat Domisili Usaha, NPWP, Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak, Tanda Daftar Perusahaan, Surat Izin Usaha Perdagangan, Daftar Rekanan Mampu, Tanda Daftar Rekanan, Surat Izin Penggunaan Bangunan, dan lain sebagainya.  Yang menambah kepusingan adalah kewajiban untuk membuat laporan perpajakan yang harus disampaikan setiap bulan. Padahal, sebagai usaha kecil yang baru mulai, laporan-laporan itu otomatis hanya berisi pemberitahuan tentang penghasilan kita yang nihil dari bulan ke bulan.  Namun itu belum seberapa, ada lagi kejadian-kejadian yang lebih menyebalkan.  Karena waktu itu masih zamannya Orde Baru, maka berbagai pihak yang mengatasnamakan berbagai institusi resmi mencoba mengail di air keruh.  Ada yang mengaku-aku pejabat Depnaker, lalu menghubungi saya dan memaksa untuk membeli buku Undang-Undang Ketenagakerjaan.  Ada yang memperkenalkan diri sebagai seorang Mayor Jenderal yang menjabat sebagai Wakil Ketua DPR, lalu “memaksa” meminta sumbangan sekian juta rupiah, karena ybs. ingin mengadakan turnamen sepakbola wanita di Bekasi.  Ada lagi oknum beratribut partai Golkar yang mengharuskan saya menyumbang salah satu acara yang diadakan partainya Pak Harto tersebut.  Kemudian, datang lagi dua pemuda berseragam KNPI yang juga mendesak meminta kontribusi dalam jumlah yang sudah ditentukan.  Bahkan percaya atau tidak, ada personel Dinas Kebakaran yang datang sambil mendesak saya untuk membeli tabung pemadam api, yang setiap tahun harus diisi ulang.  Pokoknya macam-macam lah.  Meski demikian, perusahaan saya yang pertama ini sempat berjalan selama beberapa tahun.  Seorang teman lama yang melihat usaha ini mulai berkembang, ikut bergabung tak lama kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha kecil yang masih terseok-seok mencari sesuap nasi, ditambah dengan berbagai tekanan dari pihak luar seperti diutarakan di atas, benar-benar membuat saya stres.  Puncaknya terjadi saat krisis moneter merebak di Indonesia.  Sudah jatuh tertimpa tangga.  Sudah krisis, dikhianati teman pula.  Usaha saya benar-benar hancur, proyek perusahaan berikut sebagian besar karyawan saya diboyong teman tadi yang berstatus partner usaha.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepalang tanggung, PT saya bubarkan.  Saya ingin membangun ulang usaha saya tanpa kehadiran siapa pun. Tidak ada lagi partner-partneran.  Kalau teman sejak kecil saja berkhianat, tentu tidak ada lagi orang yang bisa dipercaya, gumam saya dalam emosi. Semua hutang perusahaan saya lunasi dengan semua aset yag masih tersisa.  Uang kas,  peralatan dan perlengkapan perusahaan, semua saya likuidasi.  Belum cukup, tidak kurang dari satu rumah dan dua mobil milik pribadi sekalian saya jual untuk menutup hutang.  Saya berfikir, ini pengalaman luar biasa bagi saya.  Pengalaman yang harus saya hadapi dengan senyum dan kelapangan dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun setelah itu, saya sendiri menjadi bingung. Setelah semua aset habis, apalagi yang dapat saya perbuat?  Berhari-hari lamanya saya tercenung dengan pertanyaan itu, apa yang bisa saya perbuat.. apa yang bisa saya perbuat… semua aset sudah habis.. sudah habis.. Sampai pada suatu hari, ketika pikiran saya menerawang menelusuri perjalanan hidup yang unik ini, saya mendadak teringat dengan sepak terjang teman-teman di SMP dulu, yang berbisnis dengan “mengobyek” sepeda motor.  Aha! Betul, bukankah mereka dulu berbisnis tanpa modal, menjadi perantara, menjualkan motor orang lain dan akhirnya memperoleh banyak uang?  Sebuah inspirasi telah muncul begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan segera saya hubungi seorang teman bisnis yang mempunyai perusahaan komputer cukup besar.  Untuk ukuran komputer lokal, perusahaan dia ini bahkan yang terbesar.  Saya utarakan maksud saya untuk bekerja sama dengan jalan menjadi reseller non-quota dari perusahaannya itu.  Teman ini langsung menyambut baik, bahkan berjanji untuk membantu saya sebaik-baiknya.  Maka sejak itu, saya pun bisa menjalankan bisnis lagi seorang diri, tanpa mitra, tanpa pegawai.  Tugas saya hanya mencari order ke sana ke mari, sedangkan semua pekerjaan administratif dan juga semua pekerjaan teknis, ditangani oleh para staf dari perusahaan teman saya itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan kerja antara saya dengan perusahaan tersebut, dibakukan dalam sebuah MoU (Memorandum of Understanding = Nota Kesepakatan), yang di dalamnya antara lain menunjuk saya sebagai Direktur Marketing yang berhak melakukan penjualan, negosiasi, pengambilan keputusan, sampai ke penandatanganan kontrak untuk dan atas nama perusahaan.  Semua perangkat pemasaran (marketing tools) dipenuhi oleh teman ini, mulai dari kartu nama, brosur, proposal sampai kepada perlengkapan presentasi.  Hanya saja, saya tidak mendapat gaji sama sekali, karena saya bukanlah karyawan, melainkan seorang wirausahawan lepas.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya katakan wirausahawan lepas, karena posisi saya berbeda dengan seorang salesman lepas.  Seorang sales dibebani dengan quota/target, sedangkan saya tidak.  Sales mendapat uang transport dan komisi, sedangkan saya tidak mendapat uang transport, tidak pula komisi.  Yang saya dapatkan adalah “bagi hasil” dan jabatan saya adalah setingkat Direksi (dalam hal ini Direktur Pemasaran).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjalan beberapa bulan, ternyata bisnis saya lancar.  Apalagi, dukungan teman saya cukup maksimal, sehingga saya tidak perlu pusing dengan urusan teknis, seperti instalasi, implementasi, garansi, pemeliharan dan reparasi, karena semua sudah menjadi tanggungan Divisi Teknik dari perusahaan teman saya itu.  Demikian juga dengan urusan administrasi seperti kontrak jual-beli, penagihan, laporan pajak dan tetek bengek lainnya, semua sudah beres tanpa saya ikut campur tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kerja seperti itu, wah.. saya merasa bagaikan seekor macan yang tumbuh sayap.  Konsentrasi saya penuh hanya kepada masalah penjualan, sehingga dalam waktu relatif singkat sejumlah order sudah saya dapatkan.  Pelaksanaan lapangan lancar, urusan bagi hasil juga alhamdulillah lancar.  Saya senang, teman saya dan perusahaannya pun senang.  Inilah sebuah mekanisme kerja sama yang betul-betul didasarkan atas konsep “win-win solution”, sebagaimana diistilahkan oleh Stephen Covey.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lancarnya usaha seperti ini, membuat saya menjadi “ketagihan”.  Saya coba untuk menerapkan skema kerja sama yang serupa dengan perusahaan-perusahaan lain.  Ternyata, sebagian besar perusahaan yang saya hubungi menyambut baik tawaran kerja sama yang saya ajukan.  Tidak kurang dari 4 perusahaan besar menjadi mitra saya setelah itu. Saya lihat, asalkan konsep kerja dan proposal yang diajukan dasarnya jelas, masuk akal dan menjanjikan keuntungan yang proporsional bagi kedua pihak, rata-rata perusahaan akan bersedia menjalankannya.  Maka demikianlah,sedikitnya sekitar 2 tahun kemudian, saya berkiprah sebagai “One Man Enterprise” (perusahaan 1 orang), usahawan yang berkiprah betul-betul hanya mengandallan duit orang lain, tenaga orang lain dan bahkan perusahaan orang lain.  Saya betul-betul bahagia dengan bekerja seperti itu.  Kerja fokus, duit lancar, pekerjaan tetek bengek dikerjakan orang lain.  Satu-satunya hal yang sedikit mengganggu fikiran saya hanyalah, haruskah saya berusaha dengan cara seperti ini terus, di mana yang muncul hanyalah nama perusahaan orang lain, bukan nama perusahaan saya.  Bukankah kalau demikian, saya sepantasnya disebut sebagai “Invisible Entrepreneur”, pengusaha yang tidak kelihatan, karena tak pernah memunculkan nama perusahaan sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini, saya masih menjabat sebagai direktur di 2 perusahaan, serta sebagai Vice President di sebuah perusahaan lainnya.  Semua perusahaan itu sepenuhnya milik orang lain, bukan milik saya.  Selain di salah satu di antaranya, dimana saya punya sedikit saham, saya tidak punya saham lain dari perusahaan-perusahaan tersebut.  Tapi penghasilan saya sering kali lebih besar dari beberapa pemilik saham.  Komposisi bagi hasil yanng tercantum di MoU memungkinkan hal itu bisa terjadi.  Itu juga sebabnya, saya sering menolak jika saya ditawari pembelian saham oleh para mitra saya.  Alasan saya, kalau saya menjadi pemilik saham, maka saya harus ikut menanggung rugi saat perusahaan merugi.  Sedangkan sebagai mitra, saya tidak memiliki kewajiban demikian.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun begitu, belum lama ini saya putuskan juga untuk membentuk sebuah PT yang total milik saya sendiri.  Hanya untuk antisipasi bila suatu saat saya ingin mengaktualisasikan prestasi saya melalui korporasi milik sendiri.  Akan tetapi, kebimbangan tentang apakah saya akan terus berkiprah sebagai Invisible Entrepreneur, masih terus membayangi pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai suatu saat, dalam sebuah acara aanweijzing (penjelasan tender) saya berkenalan dengan seorang pengusaha yang sama-sama mengikuti lelang pekerjaan.  Tadinya, pembicaraan kami hanyalah mengenai hal-hal yang ringan saja. Akan tetapi, mungkin karena rasa kesesuaian di antara kami, pembicaraan makin mengarah ke hal-hal yang lebih serius dan pribadi.  Di situlah akhirnya saya menyadari bahwa rekan baru ini ternyata memiliki kesamaan dalam perjalanan hidupnya dengan saya.  Ternyata ia seorang Invisible Entrepreneur juga!  Bukan seorang karyawan dan bukan seorang profesional, tapi seorang pengusaha tunggal yang maju di dunia bisnis mempergunakan bendera perusahaan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat saya surprised adalah penjelasannya tentang bagaimana dia menjiwai sepak terjangnya sebagai seorang Invisible Entrepreneur :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya bahagia dengan cara saya berbisnis seperti sekarang ini.  Bukan saja karena menyangkut kepentingan saya dalam memudahkan cara berbisnis, tapi juga dengan pertimbangan lain menyangkut masa depan keluarga dan anak-anak saya.  Saya sengaja tidak mendirikan perusahaan sendiri, karena saya tidak ingin mewariskan hutang-piutang dan masalah lain kepada anak-anak saya kalau perusahaan itu pailit dan bangkrut.   Sebaliknya, bila perusahaan itu maju dan berkembang menjadi perusahaan besar, saya juga tidak ingin anak-anak saya menjadi serakah, saling bermusuhan memperebutkan harta warisan.  Perusahaan itu akan mendatangkan fitnah bagi kerukunan dan keutuhan keluarga serta anak-anak saya di kemudian hari.  Ada satu hal yang lebih penting lagi, yaitu bila saya meninggalkan warisan berupa perusahaan besar yang menjamin kehidupan masa depan anak cucu saya dengan harta benda yang berkelimpahan, maka itu sama artinya saya sudah merampas hak-hak mereka dalam kehidupannnya.  Hak-hak apa?  Yaitu hak mereka untuk merasakan perjuangan hidup, hak mereka untuk berkreasi, hak mereka untuk merasakan tidak saja kesenangan dan kemewahan, tapi juga hak mereka untuk merasakan tekanan, penderitaan dan kesusahan hidup.  Kedengarannya aneh, bukan?  Tapi itulah sebuah kebenaran.  Semua kesenangan dan kemewahan hanya akan dapat dinikmati apabila seseorang sudah mengetahui dan merasakan yang namanya penderitaan dan kesusahan.  Kesenangan, kekayaan dan kemewahan hanya terasa nikmat, bila orang merasakan lebih dulu pahit getir perjuangan dalam mendapatkannya.  Anak cucu kita akan tidak tahu lagi apa yang mereka harus perbuat di dunia ini, apabila semua kesenangan dan kebutuhan mereka sudah kita penuhi.  Mereka tidak akan merasakan nikmatnya semua harta benda itu, mereka hanya menggunakan tanpa persaan apa-apa.  Dan mereka akan mencoba untuk mencari hal-hal lain yang bisa memberikan nikmat kepada mereka dalam bentuk lain.  Keadaan seperti itu akan rawan sekali bagi mereka untuk terjerumus ke hal-hal negatif, foya-foya, judi, bahkan narkoba.  Sebab, kita sudah merampas hak mereka untuk mendapatkan giliran menghadapi tantangan hidup, bertualang dan berkreasi serta mendapatkan pengertian serta pencerahan tentang kehidupan.  Ya.. itulah antara lain sebabnya saya sekarang berkiprah dengan cara saya sendiri…” teman baru ini berkata seraya tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tercenung dengan uraiannya yang sangat spiritual itu.  Setelah beberapa waktu saya berfikir dan mengevaluasi, saya hanya bisa mengambil kesimpulan bahwa teman ini bukan saja seorang Invisible Entrepreneur, tapi lebih tepatnya adalah seorang Idealistic-Invisible-Entrepreneur… (Pengusaha Ideal Yang Tidak Menampakkan Diri) ….  Setidaknya ia telah memperkaya wawasan saya dengan sebuah sikap hidup unik, bebas dan mandiri..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusman Hakim&lt;br /&gt;Pengamat Kewirausahaan&lt;br /&gt;E-mail: rusman@gacerindo.com&lt;br /&gt;Website: http://www.gacerindo.com&lt;br /&gt;Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com&lt;br /&gt;Mobile: 0816-144.2792&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-115128808422005889?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/115128808422005889/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=115128808422005889' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/115128808422005889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/115128808422005889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2006/06/invisible-entrepreneur.html' title='INVISIBLE ENTREPRENEUR'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-114879454213472723</id><published>2006-05-27T22:33:00.000-07:00</published><updated>2006-05-27T22:35:42.196-07:00</updated><title type='text'>KISAH SANG MENTOR (Bagian III..)</title><content type='html'>KISAH SANG MENTOR (Bagian III..)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di belakang rumah, dekat dapur, ternyata ada sebuah tangga menurun menuju sebuah ruang bawah tanah, yang ukurannya tidak terlalu besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ruangan ini dulunya dipakai orang tua saya untuk menyimpan padi, karena beliau petani.  Karena saya tidak lagi bertani, maka sekarang saya pakai sebagai ruang kerja”, ujar Pak Soma seraya menunjuk ke sudut ruangan.  Semua yang hadir melihat betapa di tempat itu terdapat satu set komputer lengkap dengan aksesorisnya, faksimili dan ada juga seperangkat radio komunikasi yang tampak sudah tua.  “Saat sekarang saya berhubungan dengan kantor pusat melalui internet yang ada di komputer ini.  Tapi dua puluh tahun lalu, ketika internet belum ada , saya gunakan radio SSB itu..”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawan dan Hadi termangu sambil berdecak kagum, tapi Bu Soma hanya senyum-senyum saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, kebetulan di ruangan ini ada 4 buah kursi.  Silahkan duduk di sini saja.  Sekarang saya ingin meneruskan pembicaraan dengan suatu hal yang menurut saya cukup penting”, Pak Soma mengangsurkan tangannya untuk mempersilahkan hadirin duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya katakan ini cukup penting, karena berhubungan langsung dengan kalian berdua, Wawan dan Hadi.  Saya perlu menekankan bahwa orang berusaha itu perlu memegang etika.  Jangan curang, jangan culas. Tidak sombong, jangan pamer kehebatan, kekuasaan dan kekayaan. Itu sebabnya, saya larang Direksi menggunakan mobil mewah, kalau tidak sedang dalam dinas yang betul-betul memerlukan mobil mewah.  Kamu lihat Wan, di depan itu ada mobil niaga yang diparkir? Nah, itulah mobil si Hadi sebagai Direksi kalau sedang dalam perjalanan non-dinas resmi seperti sekarang.  Saya lihat kamu ke sini mengendarai BMW 720i..”, ujar Pak Soma.  Yang ditegur hanya tersipu malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu, ingat bahwa kita punya tanggung jawab terhadap lingkungan sosial.  Banyak berderma, menyumbang orang miskin.  Jangan lupa lingkungan tempat kita berada.  Saya sebagai pemilik warung di kampung, telah melakukannya.  Kampung ini tertata dengan baik, jalan-jalan beraspal mulus, lingkungan bersih dan asri, fasilitas umum mulai dari sistem irigasi, air bersih untuk minum, WC dan tempat mandi umum, tempat ibadah dan lain sebagainya, semua tersedia.  Siapa sangka bahwa semua itu berasal dari sumbangan seorang tua jelek penunggu warung?”, kata Pak Soma berseloroh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa warga kampung mengetahui kalau semua itu dari Bapak?”, tanya Wawan dan Hadi hampir serentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Soma tertawa kecil. “Tidak.  Mereka hanya tahu itu hasil kerja Pak Lurah dan Pak Camat.  Saya selama ini menjalin kerja sama dengan pemerintah setempat untuk itu semua.  Dan tentu saja minta mereka merahasiakan jati diri saya..hehe.. Itu yang saya maksud dengan tanggung jawab sosial, tapi tidak perlu menjadi sombong dan ingin dipuji saat kita melakukannya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadi dan Wawan mengangguk-angguk tanda setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, sekarang bagian yang terakhir dan terpenting..”, lanjut bos PT Harimau Sakti itu.  “Ini sejarah bisnis kamu Wan. Saya 21 tahun lalu sangat terharu tatkala kamu datang ke saya untuk pamit dan menyatakan diri untuk pergi ke kota dan memulai usaha.  Saya terharu karena kamu waktu itu masih amat muda belia, baru 19 tahun, tapi semangat kamu sudah menggebu-gebu. Maka saya benar-benar serius memberikan semua yang saya tahu tentang dunia bisnis kepadamu Wan.  Tidak itu saja, ketika kamu berangkat, diam-diam saya menelpon seorang anggota Direksi PT Harimau Sakti untuk mengikuti dan memantau semua yang kamu lakukan di kota.  Orang itu adalah atasannya si Hadi dan sekarang sudah pensiun.  Namanya Pak Slamet. Ketika usaha kamu masih kecil, saya minta Pak Slamet untuk datang menjadi salah seorang pelanggan setia kamu.  Saya berjaga-jaga kalau-kalau kamu kesulitan di awal usaha, setidaknya kamu masih punya pelanggan setia.  Tapi syukur, kamu cukup sukses, pelanggan kamu banyak, sehingga Pak Slamet tidak perlu berperan terlalu aktif.  Ia cuma salah seorang pelanggan biasa diantara sekian banyak pelanggan kamu yang lain. Setelah perusahaan kamu menjadi besar, saya minta salah seorang manajer keuangan kepercayaan saya serta seorang sekretaris, melamar ke kantor kamu berbekal referensi dari salah satu anak perusahaan Harimau Sakti  yang saya yakin kamu tidak pernah mendengar namanya.  Karena mereka memang piawai, mereka diterima baik di perusahaan kamu Wan, dan sejak itu mereka bekerja menjadi mata-mata saya untuk memantau segala sepak terjang kamu di dunia bisnis.  Jangan khawatir Wan, mereka tidak pernah memata-matai urusan pribadi kamu. Maksud saya hanya ingin menjaga agar bisnis kamu tetap berada di jalur  yang benar. Nah, melalui manajer keuangan dan sekretaris itulah, selain menerima informasi mengenai semua sepak terjang bisnis kamu, saya juga selalu menitipkan kiat-kiat usaha kepadamu tanpa kamu pernah menyadari bahwa itu dari saya..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya juga ingin kamu tidak menjadi pengusaha yang cengeng.  Itu sebabnya PT Harimau Sakti selalu membayangi perusahaan kamu di setiap pasar.  Di pasar ritel, kamu kalah dari perusahaan si Hadi ini, tapi tetap menang terhadap perusahaan-perusahaan lain.  Demikian juga di sektor korporasi.  Di pemerintahan, dari 8 kali tender, kamu kalah 7 kali, tapi saya instruksikan orang-orang saya agar kamu menang di satu kali tender sisanya.  Ini untuk membangkitkan semangat dan rasa penasaran kamu Wan.  Kalau kamu saya kalahkan total, pasti kamu akan putus asa, sehingga bukannya penasaran, kamu bisa-bisa malah patah arang..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berdasarkan pantauan kami, kamu memang benar-benar pengusaha yang baik, ulet dan penuh tanggung jawab, Wan.  Kamu tidak pernah melakukan hal-hal yang aneh-aneh, tidak hura-hura, selalu memikirkan kesejahteraan karyawan dan banyak hal positif lainnya. Sampai sekarang, orang-orang saya tetap memantau kamu, itu sebabnya saya tahu rencana kamu untuk datang ke kampung ini. Maka saya lantas memanggil si Hadi, memberitahukan rencana untuk mengatur pertemuan dengan kamu hari ini.  Hari ini juga saya melihat hal-hal baik dari dirimu, antara lain kamu telah memberitahukan isteri saya tentang rencana kamu untuk membalas budi dengan niat untuk memperbaiki dan merenovasi rumah dan warung saya.  Meski mengendarai BMW, saya lihat kamu masih mau mengemudikan mobil sendiri ke kampung tanpa supir dan kencenderungan menjadi bossy. Saya terkesan..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana hening sejenak..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sementara itu, kamu kan tahu Wan, bahwa saya tidak memiliki keturunan.  Saya sudah tua dan tidak juga ada salah satu famili saya yang piawai di bidang bisnis modern.  Oleh sebab itu, straight to the point, dengan ini saya nyatakan keinginan saya di depan isteri saya dan si Hadi ini, untuk meminta kamu, Darmawan, agar bersedia kiranya menerima tanggung jawab atas perusahaan PT Harimau Sakti.  Dengan demikian, semua saham saya di perusahaan ini menjadi milikmu.  Kamu tidak usah risau dengan nasib saya dan isteri, karena saya benar-benar ingin kembali menjadi Soma yang dulu, Soma orang kampung penjaga warung kelontong yang hidup damai serta tenteram beserta seluruh warga kampung lainnya..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di detik itu, kepala Wawan terasa berdenyut-denyut dengan keras.  Matanya membelalak dan mulutnya ternganga tanpa disadari.  Tidak pernah diduganya bahwa hari ini akan terjadi rentetan peristiwa yang sungguh-sungguh aneh dan nyaris tak masuk akal, menyebabkan dirinya terkaget-kaget antara percaya dan tidak.  Ia merasa kecil berhadapan dengan bos Harimau Sakti ini, karena selama 21 tahun berkarya, ternyata semua pencapaiannya masih berada di bawah bayang-bayang kebesaran seorang Pak Soma.  Atau tepatnya, Citra Sumawidjaya, pendiri sekaligus pemilik kelompok usaha PT Harimau Sakti.  Namun demikian, semua pujian yang diberikan tokoh ini pun terasa penuh kejujuran dan ketulusan, sehingga di lain sisi, ia merasa bangga pula dengan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat beberapa saat, ia baru bisa menjawab: “Beri waktu saya berfikir, Pak…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Soma tersenyum. “Tentu saja Wan.  Kamu tenang saja, dan tidak perlu jawab sekarang. Kamu fikirkan saja dengan santai, hanya pesan saya, inilah kesempatan kamu untuk berkontribusi lebih banyak lagi kepada masyarakat.  Kalau kamu lewatkan, wah.. kamu telah menyia-nyiakan kesempatan berbuat baik yang diberikan Tuhan..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mulai hari ini, saya harap kamu terus berhubungan dengan Hadi, ia akan membantumu memberikan pandangan-pandangan, informasi–informasi dan masukan-masukan yang mungkin kamu butuhkan..” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya pikir, itu saja yang saya ingin sampaikan.  Barangkali ada yang mau ditanyakan? Wawan? Hadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena keduanya terlihat bimbang lalu menyatakan tidak ada pertanyaan, Pak Soma berkata: “ Nah, sekarang sebaiknya kita makan dulu bersama-sama. Sudah hampir waktu ashar..” Tanpa banyak bicara, mereka berempat lantas berpindah ke ruang makan, lalu makan siang bersama.  Di sini tampak mereka lebih banyak tenggelam dalam fikirannya masing-masing..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan itu bubar setelah sholat ashar.  Dalam perjalanan pulang di atas mobilnya, Wawan berfikir: “Hari ini aku mengalami peristiwa yang mengguncangkan.  Ternyata di dunia ini ada sosok manusia seperti Pak Soma. Sosok seorang pemimpin yang mampu bekerja untuk orang banyak, tanpa orang banyak perlu tahu tentang dirinya. Di atas itu semua, dialah seorang mentor bisnis paling luar biasa yang pernah aku temukan. Tuhan Maha Besar..”   (Selesai).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusman Hakim&lt;br /&gt;Pengamat Kewirausahaan&lt;br /&gt;E-mail: rusman@gacerindo.com&lt;br /&gt;Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com&lt;br /&gt;Web: http: //www.gacerindo.com&lt;br /&gt;Mobile: 0816.144.2792&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-114879454213472723?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/114879454213472723/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=114879454213472723' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/114879454213472723'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/114879454213472723'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2006/05/kisah-sang-mentor-bagian-iii.html' title='KISAH SANG MENTOR (Bagian III..)'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-114879439365007186</id><published>2006-05-27T22:31:00.000-07:00</published><updated>2006-05-27T22:33:13.730-07:00</updated><title type='text'>KISAH SANG MENTOR (Bagian II..)</title><content type='html'>KISAH SANG MENTOR (Bagian II ..)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di tempat yang dituju, ia heran karena ada sebuah mobil jenis niaga parkir di depan warung.  Meski begitu, ia tetap bergegas masuk ke dalam ruang tamu.  Di situ ia menjumpai seorang pria sedang duduk menunggu sendirian sambil membalik-balik majalah usang yang memang tersedia di meja.  Ketika pria ini menoleh ke arahnya, lagi-lagi Wawan terheran-heran, karena ternyata sang tamu adalah seseorang yang sudah ia kenal.  Bahkan, amat sangat kenal, karena dia inilah salah seorang pejabat tinggi dari perusahaan pesaing terberatnya, PT Harimau Sakti. Mereka sudah beberapa kali bertemu ketika mengikuti tender di instansi-instansi pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, Pak Hadi!? Lho kok bisa ada di sini Pak?”, Wawan menyapa sambil mengekspresikan keheranannya.  Yang disapa segera berdiri menyambut tidak kalah akrabnya: “Halo Pak Darmawan..! Apa kabar, Pak? Saya sudah menunggu Bapak dari setengah jam yang lalu..  Selamat datang dan selamat jumpa Pak!”, sambil tertawa ia mengulurkan tangan untuk bersalaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho..? Pak Hadi menunggu saya? Ah, Bapak pasti bergurau ya..?”, Wawan mencoba tersenyum sambil berkata dalam hati, ada lelucon apa ini?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun orang yang dipanggil Pak Hadi itu menjawab dengan serius: “Benar Pak Darmawan.  Saya diperintah Pak Citra untuk datang ke mari menunggu Bapak.  Katanya ada yang mau dibicarakan dengan beliau..”  Bagi Wawan, kalau di dunia ini ada teka-teki yang paling sulit, maka kejadian itu merupakan teka-teki yang lebih sulit lagi untuk ditebak.  Tapi seorang petinggi perusahaan sekaliber Hadi tentu tidak akan melecehkan dirinya dengan gurauan yang tidak pada tempatnya.  Ia merasa air mukanya menjadi bodoh, lalu bertanya lirih: “Pak Citra itu siapa..?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini lho, Pak?  Yang punya rumah dan warung ini, namanya Pak Citra.  Dia bos saya, pendiri sekaligus pemilik perusahaan PT Harimau Sakti..!” Pak Hadi menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh .. eh.. Pak Soma maksud Bapak?”, tanya Wawan gugup.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya! Di kampung ini, Pak Citra memang dikenal dengan nama Pak Soma. Tapi di kantor kami beliau dipanggil dengan sebutan Pak Citra. Kan nama lengkap beliau: Citra Sumawidjaya..” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan Hadi yang terakhir ini benar-benar membuat limbung Wawan.  Bagai ada petir di siang bolong, begitulah yang dirasakan olehnya.  Otaknya berputar: “Aku kenal Pak Soma dari kecil.  Ia kan cuma seorang warga sederhana dari kampung ini?”&lt;br /&gt;Kalau betul Pak Soma itu seperti apa yang dijelaskan oleh Pak Hadi ini, maka sungguh ia akan malu karena seakan-akan telah “pamer kekayaan” dengan berhajat memperbaiki rumah seorang bos besar pemilik perusahaan nasional bertaraf internasional.  Dan pantaslah kalau 20 tahun yang lalu, sang pemilik warung itu mampu memberikan petuah-petuahnya yang “sophisticated.  Tapi yang betul-betul membuatnya tidak habis pikir, mengapa Pak Soma harus membawakan diri sebagai seorang tua lugu dan sederhana yang hidup di kampung? Dan bagaimana pula caranya dia bisa mengawasi dan mengatur perusahaan dari sebuah kampung yang jauh dan terpencil ini?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum selesai rasa terkejut dan tidak percaya yang meledak di benak Wawan, tiba-tiba terdengar suara salam: “Assalamu ‘alaikum..” dari dalam rumah dan sesosok bayangan menerobos masuk ruang tamu.  Ternyata ialah Pak Soma, atau Pak Citra Sumawidjaya.  “Alaikum salam..”, hampir serentak Wawan dan Hadi menjawab sekaligus menghampiri serta menjabat tangan tokoh yang sudah sangat senior ini.  Wawan bahkan sampai mencium tangan serta memeluk Pak Soma-nya itu sambil setengah membungkuk, tanda rasa hormat yang sangat dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk beberapa menit terjadi basa-basi di antara mereka, sebelum kemudian Pak Soma mempersilahkan tamu-tamunya untuk duduk.  Ibu Soma pun lantas bergabung dengan mereka.  Tuan rumah tersenyum ramah lalu berkata: “Pertama-tama saya ingin mohon maaf sebesar-besarnya pada Wawan, yang saat ini pasti dilanda kebingungan. Iya kan Wan?”  Semua yang hadir tertawa dan Wawan  pun mau tidak mau juga tertawa tersipu-sipu.  “Benar Pak Soma. Saya bingung dan tolong jelaskan semua ini..” ujarnya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik..baik. Langsung saja saya ceritakan semua.. Saya orang asli kampung ini. Hanya saja, karena kedua orang tua saya meninggal pada saat saya masih muda, maka saya putuskan untuk pergi merantau ke kota bersama istri.  Waktu itu saya baru berusia 20 tahun, sedangkan kamu belum ada, Wan”, Pak Soma mengawali ceritanya.  “Rumah ini kami titipkan pada seorang saudara, dan pergi dengan bekal sekadarnya saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di kota kami numpang tinggal di rumah seorang teman dari orang tua saya selama kira-kira dua tahun untuk memulai usaha.  Syukur bahwa Tuhan memberkahi usaha kami sehingga dalam waktu 10 tahun, usaha tersebut berkembang pesat sekali.  Kami tidak saja mampu membangun rumah besar untuk tempat tinggal, tapi bahkan bisa membangun 2 buah perusahaan sekaligus dalam kurun waktu itu.  Tahun-tahun selanjutnya bahkan merupakan rangkaian kesuksesan, sehingga terbentuklah sebuah kelompok usaha PT Harimau Sakti seperti yang sudah kamu tahu, Wan..”, kata Pak Soma sambil menoleh ke arah Darmawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada tahun ke 16 perantauan kami di kota, saya putuskan untuk mengangkat sebuah Dewan Direksi yang akan mengelola perusahaan secara langsung, lalu kami kembali ke kampung ini.  Saya ingat benar, kamu waktu itu kamu baru berusia 9 tahun, Wawan..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, samar-samar saya ingat kejadian itu Pak..”, kata Darmawan lirih.  “Tapi, sebetulnya apa penyebabnya sampai Bapak memutuskan kembali ke kampung, padahal waktu itu perusahaan Bapak sedang maju-majunya?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu tahu Wan. Saya ini orang kampung dan semula merantau ke kota karena terpaksa.  Ternyata, suasana pergaulan bisnis di kota amat berbeda dengan kehidupan di kampung.  Saya merasakan, lingkungan bisnis di kota itu tidak nyaman, orang berhubungan satu sama lain dengan senyum palsu, tiada ketulusan, tampak akrab tapi sebenarnya mencari kesempatan untuk saling menjatuhkan satu sama lain. Sahabat hanya ada pada saat kita jaya, menghilang pada saat kita susah.  Segala sesuatu diukur dengan uang. Kalau tiada uang, maka tidak ada senyum, tidak ada pula sahabat.  Itulah dunia bisnis di kota.”  Sampai di situ nada suara Pak Soma agak meninggi.  Lalu ia melanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lain halnya dengan di kampung.  Di sini, persahabatan dilaksanakan secara murni. Basisnya persaudaraan semata.  Tiada pamrih, tiada intrik dan tiada provokasi yang disebabkan uang.  Suasana tenang, damai dan tenteram.  Saya tidak bisa lari dari kenikmatan kampung seperti ini. Oleh karenanya, begitu usaha saya mapan, saya putuskan kembali ke sini.  Semua urusan usaha saya percayakan pada Direksi.  Salah satu dari anggota Direksi itu, ya si Hadi ini..” kata Pak Soma sambil menoleh ke Pak Hadi.  Yang disebut terakhir ini tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lantas bagaimana cara Bapak sebagai pemilik, memantau kinerja perusahaan itu Pak?  Kampung ini kan sangat jauh dari kota? Dan mengapa pula Bapak harus terus menerus menyamar, membawakan diri sebagai penjaga warung sederhana selama bertahun-tahun?” Wawan bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah saya katakan bahwa saya sangat menikmati suasana kampung yang damai dan tenteram ini.  Saya tidak mau kehilangan itu.  Kalau saya kembali ke sini dan berubah menjadi orang kaya raya, maka pasti pandangan orang-orang sekitar jadi berubah pula.  Mereka akan berkata, Pak Soma sekarang bukan Pak Soma yang dulu lagi.  Pak Soma sekarang ini bau duit.  Lantas, orang-orang akan memasang senyum palsu saat berjumpa dengan saya dan memperlakukan saya dengan cara yang berbeda.  Nah itulah yang akan merusak suasana.  Bisa-bisa budaya kota yang materialistis dan penuh kepalsuan akan pindah ke sini. Itu yang tidak saya kehendaki. Maka sebisa mungkin saya berusaha untuk tetap menjadi Pak Soma yang dulu..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Tentang bagaimana saya mengontrol perusahaan?  Kamu kan sudah tahu, bahwa sebuah perusahaan yang sudah mapan, akan tidak memerlukan lagi kehadiran pemiliknya.  Semuanya sudah berjalan berdasarkan sistem yang baku.  Juga ada Dewan Direksi berikut stafnya yang terdiri dari para manajer yang akan mengelola operasional harian.  Paling sering saya hanya akan datang ke kantor sekitar 1 atau 2 bulan sekali, saat di mana saya pamit dengan tetangga untuk belanja barang dagangan warung saya..hehe..”, Pak Soma memberi penjelasan sambil tertawa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang di samping itu, saya tetap berusaha berkomunikasi secara intensif dengan si Hadi ini di kota.  Caranya?  Mari ikut saya, saya akan tunjukkan”, ajak sang tuan rumah.  Semua yang hadir bangkit berdiri lalu mengikuti Pak Soma dengan perasaan ingin tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      (Bersambung ke Bag. III..)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-114879439365007186?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/114879439365007186/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=114879439365007186' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/114879439365007186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/114879439365007186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2006/05/kisah-sang-mentor-bagian-ii.html' title='KISAH SANG MENTOR (Bagian II..)'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-114879424566682937</id><published>2006-05-27T22:29:00.000-07:00</published><updated>2006-05-27T22:30:45.913-07:00</updated><title type='text'>KISAH SANG MENTOR (bagian I..)</title><content type='html'>KISAH SANG MENTOR  (Bagian I..)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu siang hari yang teduh, sekitar jam 11, sebuah mobil mewah bermerek BMW jenis 720i warna cerah, meluncur perlahan memasuki kampung.  Mobil yang masih baru dan mulus itu tampak kontras dengan suasana sekitar yang memantulkan citra pedalaman yang sederhana.  Pengemudinya seorang pria ganteng berusia 40-an tahun, kelihatan mengendarai kendaraannya dengan santai sambil sebentar-sebentar menengok ke kiri dan ke kanan, seakan takjub dengan pemandangan yang baru dilihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hm, kampungku ini sudah berubah, banyak kemajuan. Rumah-rumah penduduk sekarang bagus-bagus dan rapi. Jalanannya beraspal dan mulus. Penduduknya makin ramai dan banyak kegiatan bisnis. Walau begitu, suasananya tetap asri, damai dan tenteram sebagaimana umumnya sebuah kampung di kaki pegunungan..” ia bergumam sendirian.  “Ah..tak terasa sudah 20 tahun berlalu..”, dan ia menghela nafas panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berkendara beberapa menit dari mulut kampung, BMW berhenti di depan sebuah rumah yang di bagian samping-depannya difungsikan sebagai warung kelontong.  Pria itu tidak langsung turun dari mobilnya, melainkan berpaling memandang ke arah warung tersebut.  Suasana sepi-sepi saja, hanya terlihat seorang remaja putri sedang membeli sesuatu, dilayani oleh seorang ibu-ibu tua.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikirannya pun menerawang.  “Inil rumah Pak Soma.  Pemilik warung yang sederhana, namun siapa sangka nasihatnya yang bijak telah membuat aku menjadi pengusaha sukses dan kaya-raya seperti sekarang.  Sebagai balas jasa, aku telah berjanji pada diri sendiri bahwa aku akan memperbaiki rumahnya ini serta membangunnya menjadi sebuah rumah besar yang cukup mewah dan lengkap. Dan warungnya akan aku sulap menjadi sebuah mini market agar penghasilan Pak Soma dan isteri dapat meningkat..”.  Lalu ingatannya berkilas balik jauh ke sebuah peristiwa yang terjadi 21 tahun silam.  Ia ingat benar betapa waktu itu ia baru berusia 19 tahun, bertekad mengadu nasib pergi ke kota.  Atas anjuran kedua orang tuanya, ia pamit kepada Pak Soma, seorang tetangga, pada malam sebelum keberangkatannya.  Di situlah, entah bagaimana, seorang bapak setengah baya yang sederhana, memberikan berbagai petuah kepadanya tentang kiat-kiat berusaha.  Ia sendiri tidak pernah mengerti, bagaimana orang kampung pemilik warung seperti Pak Soma bisa memberikan nasihat-nasihat yang begitu canggih, seakan ialah seorang pengusaha besar di negeri ini.  Namun demikian, itulah satu-satunya pegangan yang ia miliki untuk berjuang di perantauan.  Ia pun berangkat dengan percaya diri keesokan paginya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, tentu beliau sudah tua sekali sekarang..”, pikirnya.  Ketika ia melihat bahwa remaja putri yang berbelanja sudah selesai, ia buru-buru turun dari mobil.  Ia mendekat seraya memandang pada ibu-ibu tua penjaga warung, dan segera tahu siapa yang dipandangnya. “Selamat siang, Bu Soma..”, sapanya sopan.  Perempuan itu menoleh dan memandang penuh selidik.  “Ya..? Siapa..ya..?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya Bu,.. Darmawan, anak Pak Rusli, tetangga Ibu..  Ibu lupa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Darmawan?..Eh.. Wawan..? Wawan ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya benar Bu Soma.  Ini Wawan. Bagaimana kabarnya Bu? Wah, ibu kelihatan sehat sekali..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika wajah tegang Ibu Soma mengendur. “Oh.. benar kamu  Wan?  Baru datang..?” Ia langsung menghampiri dengan ramai senyuman, menarik tangan pria ganteng itu sambil berkata: “Ayuk masuk..  wah kamu sudah dewasa sekarang ya! Necis dan ganteng lagi… Syukur.. syukur alhamdulillah..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mari..mari silahkan duduk, Nak.  Jangan malu-malu.  Rumah ini masih seperti dulu, jadi anggap seperti rumahmu juga..”, si Ibu berusaha mencairkan kekakuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria yang dipanggil Wawan itu masuk ke ruang tamu lalu duduk di sebuah kursi.  Percakapan basa-basi berlangsung beberapa saat, sampai akhirnya sang pengusaha sukses bertanya: “Pak Soma ada, Bu? Saya kangen banget sama beliau..”  Bu Soma menjawab:” Oh,  Bapak masih di masjid, ada urusan di sana.  Mungkin 1 jam lagi baru kembali, sehabis sholat dzuhur..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya? Kalau begitu, saya tinggal dulu ya Bu?  Mau lihat rumah ibu saya di kampung ini, sudah 20 tahun gak pernah saya lihat lagi rumah itu.  Entah seperti apa sekarang..?  Nanti jam 2 saya balik lagi ke sini…”   Bu Soma tertegun sejenak, tapi segera berkata: “ Iya baik Wan. Nanti saya kasih tahu Bapak, biar dia tunggu di sini sampai jam 2..”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pergi, Darmawan bercerita pada Bu Soma bahwa ia selama ini merasa sangat berhutang budi pada Pak Soma, karena kesuksesannya sekarang adalah berkat nasihat dan petuah yang diberikan secara serius oleh suami perempuan itu.  Dan ia langsung mengutarakan niatnya untuk membalas budi dengan jalan merenovasi total rumah serta warung milik pasangan suami isteri tersebut.  Ibu Soma tersenyum lebar mendengar hajat “si Wawan”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah yang dimaksud Wawan sebagai “rumah ibunya” itu hanya berjarak beberapa puluh meter dari rumah Pak Soma. Dalam sekejap ia sudah sampai di sana.  Kedua orang tuanya tidak lagi tinggal di situ, karena sudah sejak lama ia ajak ke kota, pindah ke sebuah rumah yang khusus ia bangun.  Rumah itu ditunggui oleh adik sepupunya, yang kebetulan sedang duduk-duduk di ruang depan sambil ngobrol dengan beberapa orang tetangga dekat. Bukan main kagetnya mereka ketika mengetahui anggota keluarga yang sudah 20 tahun lebih menghilang, kini muncul begitu saja. Dengan gembira mereka “berkangen-kangenan” sejenak, saling peluk, bersalaman sambil saling tanya, setelah itu Wawan pergi ke belakang membersihkan diri dan segera beristirahat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil selonjor kaki di sebuah kursi malas, Wawan menerawang kembali. “Semua keluarga dan famili di kampung ini gembira dan bangga bahwasanya aku telah menjadi pengusaha yang sangat sukses.  Tapi mereka tidak tahu bahwa aku sendiri masih merasa ada ganjalan di hati.  Sesukses-suksesnya aku dan sebesar-besarnya perusahaanku,  masih belum apa-apa dibanding dengan perusahaan saingan yang satu itu..”   Wawan terbayang akan sebuah nama – nama perusahaan saingannya – PT Harimau Sakti, yang selama ini membuatnya tidak bisa tidur nyenyak.  Sebab, setiap bersaing dengan perusahaan ini, pihaknya selalu kalah.  Di bidang bisnis ritel, perusahaannya kalah dalam merebut pangsa pasar.  Di segmen korporasi, ia juga kalah.  Terakhir, dari 8 kali tender pemerintah, ia hanya berhasil merebut 1 kali kemenangan.  Selebihnya, 7 kali tender dimenangkan oleh PT Harimau Sakti.  Hal inilah yang selama ini dirasakan bagai duri dalam daging oleh Wawan.  Berbagai jurus bisnis dan strategi telah ia jalankan, tapi tidak merubah peta percaturan bisnisnya, ia tetap kalah.  “Apa yang salah dengan ku?”, demikian pertanyaan yang selalu berkecamuk dalam otaknya.  Lelah berpikir, tanpa disadari akhirnya ia tertidur di kursi malas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat jam 2 siang, Wawan terkejut dan bangun dari tidur.  Melihat jam tangan, ia bergumam sendiri: “ Wah, sudah waktunya.  Pak Soma pasti sudah menunggu..”  Dengan sigap ia sambar kunci mobil dari atas meja, langsung berlari ke luar menuju mobilnya yang diparkir di halaman.  Tanpa membuang waktu lagi, ia masuk ke dalam kabin kemudi, menghidupkan mesin dan seketika itu juga meluncur menuju rumah Pak Soma.  “Aku tak ingin pertemuan ini meleset dan mengecewakan bintang penolongku..”, katanya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     (Bersambung ke bagian II…)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-114879424566682937?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/114879424566682937/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=114879424566682937' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/114879424566682937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/114879424566682937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2006/05/kisah-sang-mentor-bagian-i.html' title='KISAH SANG MENTOR (bagian I..)'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-114794727986793393</id><published>2006-05-18T03:13:00.000-07:00</published><updated>2006-05-18T03:14:40.283-07:00</updated><title type='text'>Cara Gila Menjadi Pengusaha</title><content type='html'>CARA GILA JADI PENGUSAHA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu, saya membaca email di milis EU-2002 yang menawarkan DVD “Cara Gila Menjadi Pengusaha”.  Karena saya adalah orang yang selalu tertarik dengan media-media yang membawakan berbagai content baru, saya coba order DVD tersebut melalui pesanan on-line. Ternyata, dalam waktu 48 jam, DVD sudah saya terima, sehingga pada malam harinya, ketika sudah agak santai, saya bisa mencoba untuk memutarnya di komputer saya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh sentral dalam rekaman itu sudah tentu Purdi E. Chandra,  pemilik lembaga pendidikan “Primagama” sekaligus pencetus ide “Cara Gila Jadi Pengusaha”.  Pada pemunculannya di menit-menit pertama, saya terkesan bahwa penampilan Purdi “biasa-biasa” saja.  Malah saya berfikir, tampaknya tokoh kita ini bukan tipe seorang presenter sebagaimana yang kita lihat dalam diri Kris Biantoro atau Farhan, lebih-lebih bukan juga tipe orator, seperti Bung Karno atau Fidel Castro misalnya. Maka, alih-alih dari melihat action beliau, saya coba untuk “hanya” mendengarkan materi pembicaraannya saja.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucu juga apa yang terjadi kemudian.  Awalnya, saya sangat santai, bahkan terlalu santai ketika menyimak tanpa melihat ke layar, sambil mencoret-coret di atas kertas untuk keperluan kantor esok pagi.  Namun tak lama, ibarat mesin diesel yang memerlukan beberapa waktu untuk menjadi panas, begitu pulalah perkembangan perhatian saya pada tayangan DVD tersebut.  Lewat sepuluh menit sejak pembukaan, pembahasan Purdi makin menarik.  Saya mulai meletakkan pena dan menoleh ke layar monitor.  Lewat 30 menit, posisi duduk saya sudah sedemikian dekat dengan layar kaca, dan ketika bos Primagama ini mulai mengupas hal-hal yang berbau spiritual, saya sudah sangat terpaku menyimak penuh konsentrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah Anda, bahwa akhirnya saya menghabiskan waktu menyaksikan DVD yang berdurasi lebih dari 3 jam itu, sampai pukul 1 lewat tengah malam? Dan non stop pula?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal yang bisa saya tangkap dari tayangan DVD “Cara Gila..”, terutama sekali dari figur Purdi E. Chandra sendiri.  Dan dari banyak hal tersebut, beberapa di antaranya saya kira perlu dicermati:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Purdi yang kita kenal sebagai sosok praktisi kewirausahaan, ternyata tidak saja memahami secara utuh tentang seluk beluk dunia bisnis dari segi teknis-praktis, namun lebih dari itu, ia juga mengerti dengan baik soal-soal yang menyangkut aspek spiritual.  Di antaranya, ia mengatakan bahwa kalau seseorang ingin berhasil dalam berwirausaha, maka orang itu juga harus memperhatikan bahwa diperlukan aktivitas beramal, bersedekah atau kegiatan apa saja yang sifatnya memberi.  Jangan sekali-kali berfikir  ingin untung sendiri, hanya menerima tanpa pernah memberi pada orang lain.  Sebab, alam selalu memerlukan perimbangan, kalau ada sesuatu  yang masuk, maka seharusnya juga ada yang keluar  Kalau ada yang tercurah ke bawah, maka seharusnya juga ada yang menguap ke atas.  Sebagaimana alam mengatur air hujan yang turun ke bumi, mengisi sungai dan laut, menguap karena terkena panas matahari, berubah menjadi awan, untuk kemudian terjadi kondensasi dan akhirnya turun menjadi air hujan kembali. Dengan begitu, siklus alam ini berjalan dengan baik, tidak ada yang tersumbat.  Siklus yang secara fisika kita sebut dengan “ecosystem”, suatu sistem universal yang mengatur perimbangan interaksi berbagai unsur yang terdapat di alam ini. Purdi sangat yakin bahwa sistem yang sama berlaku pula dalam dunia tak kasat mata, bahwa sebuah “spiritual ecosystem” juga berjalan secara harmonis.  Sebuah sistem yang memberi pengaruh kuat atas segala fenomena yang terjadi di muka bumi, tidak terkecuali di dunia usaha.  Chin Ning Chu, pimpinan perusahaan Asian Marketing Consultant, dalam karyanya “Thick Face Black Heart” (Muka Tebal Hati Hitam) menulis tentang hal yang sejalan dengan keyakinan Purdi.  Chin menamakan fenomena spiritual itu dengan “darma”, yaitu sebuah hukum perimbangan yang mutlak terjadi menurut ketentuan-ketentuan alam.  Siapa yang menanam, dia akan menuai.  Sebaliknya, siapa ingin menuai, maka ia harus menanam terlebih dahulu.  Demikian seterusnya.  Lebih  jauh, pendiri Primagama ini juga berusaha menyadarkan audiens bahwa semua sistem keseimbangan alam itu berasal hanya dari satu sumber saja, yaitu Sang Maha Sistem, Sang Penguasa Alam Semesta yang kita sebut dengan Tuhan.  Maka, Purdi mengajak semua pendengarnya untuk meningkatkan spiritualisme terhadap Tuhan dengan berzikir, memuji kebesaran Allah sebanyak-banyaknya, kapan saja dan di mana saja.  Ini luar biasa, sebab hampir semua wirausahawan top di dunia ini adalah orang-orang  yang menjunjung tinggi spiritualisme.  Ambil contoh, DR. An Wang (Wang Computers) dan Stan Shih (Acer) adalah penganut-penganut konfusianisme yang kental.  Ternyata, Purdi mengerti itu!&lt;br /&gt;2) Seminar tersebut dinamakan “Cara Gila Menjadi Pengusaha”, oleh karenanya tidak heran kalau pembicaranya juga menyebut-nyebut soal kegilaan dalam memulai usaha.  Kalau tidak hati-hati, orang bisa saja menerjemahkan “gila” itu sebagai “gila-gilaan”, yang berkonotasi sebuah kenekatan tanpa perhitungan, kesemberonoan atau sebuah tindakan berjibaku tanpa mempedulikan lagi akibat-akibatnya.  Apakah demikian?  Entah karena memang sulit, atau karena yakin bahwa pendengarnya adalah orang-orang yang cerdas semua, saya tidak melihat Purdi E. Chandra menjabarkan lebih jauh tentang makna kegilaannya itu secara eksplisit.  Ini tentu cukup riskan.  Sebab, salah-salah, sebagian orang akan benar-benar mengartikan kegilaan itu sebagai tindakan pasukan jibaku-tai, tindakan bertaruh nyawa secara untung-untungan tanpa mikir!  Meski demikian, saya kagum dengan cara tokoh ini mengistilahkan kata-kata simpel “gila”.  Saya yakin, bahwa itulah cara Purdi untuk mensimplifikasi sebuah konsep kreativitas, yang oleh Edward De Bono diistilahkan dengan kata-kata “lateral thinking”.  Coba perhatikan apa yang dikatakan oleh Edward: “…we have not yet paid serious attention to creativity. The first and most powerful reason is that every valuable creativity idea must always be logical in hindsight.  If not logical in hindsight, then it would simply be a crazy idea..”  Kita belum memberikan perhatian serius atas kreativitas.  Penyebab utamanya adalah kita selalu beranggapan bahwa ide yang kreatif itu harus masuk akal, jika tidak masuk akal, maka itu hanyalah sebuah ide gila..!  Edward De Bono memang pakar kreativitas.  Ia mengerti sekali, bahwa kreativitas yang paling berharga itu hanya berjarak tipis terhadap kegilaan.  Dan kegilaan Edward telah ia buktikan sendiri ketika ia mencetuskan ide untuk memasang lift di bagian luar gedung, bukan di dalam, demi menjawab tantangan penghematan ruang.  Terbukti sekarang kita lihat berbagai gedung perkantoran, mal dan pusat perbelanjaan memasang liftnya di bagian luar gedung.  Dengan kegilaan yang sama, UNITED COLORS OF BENETTON mendirikan banyak sekali gerai-gerai kecil dengan paduan warna-warni yang memikat hati.  Dengan kegilaan yang sama, Pepsi menggelar pertunjukan super kolosal sang maha bintang Michael Jackson demi mengangkat citra produk minumannya.  Dan dengan kegilaan yang sama pula, Purdi E. Chandra mengembangkan franchising Primagama ke seluruh Indonesia.&lt;br /&gt;3) Bagaimana pula dengan istilah “kaya” dan “malas”?  Intuisi saya mengatakan bahwa kalau orang sekaliber Purdi mengatakan “kaya”, maka yang dikatakannya itu adalah “kaya” (dengan tanda kutip) bukan kaya (tanpa tanda kutip).  Apa artinya? “Kaya” artinya sejahtera bersama, paling tidak mereka yang memiliki kelebihan mau berbagi dengan mereka yang kekurangan. Sedangkan kaya berarti mereka yang ingin makmur sendiri, hanya menerima tanpa mau memberi, egois, hura-hura sendiri, plesir sendiri dan akhirnya mati sendiri pula.  Demikian juga dengan perbedaan antara “malas” dengan malas.  “Malas” artinya bekerja dengan ide dan gagasan, dengan otak bukan dengan otot, smart work, efektif dan efisien.  Sedangkan malas adalah kemalasan ala si Kabayan, tidur sepanjang hari dari pagi sampai ke pagi lagi, tanpa pernah menggunakan baik otot mau pun otaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan final yang dapat saya tarik dari DVD “Cara Gila Menjadi Pengusaha” adalah tidak terbatas dari sekadar mengatakan bahwa figur Purdi E. Chandra itu sebagai figur yang hebat dan monumental, tapi lebih dari itu saya ingin menyampaikan bahwa berbahagialah bangsa Indonesia ini yang masih diberi kesempatan untuk memiliki sosok wirausahawan seperti dia.  Sosok yang dalam kesuksesannya, masih mau berbagi dengan sesama, agar banyak orang juga berkesempatan meraih sukses serupa.  Dibutuhkan lebih banyak lagi Purdi-Purdi lain, agar bangsa tercinta ini dapat segera bangkit dari keterpurukan yang sudah berlarut-larut.  Saya juga ingin menyampaikan selamat kepada warga EU, yang sudah dikaruniai Tuhan untuk bertemu dan belajar tentang sukses dari orang sukses seperti Purdi.  Semoga akan segera muncul Purdi-Purdi junior yang akan menyusul jejak  sang “Mbah” menggalang kekuatan ekonomi bangsa melalui kewirausahaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirul kata perkenankan saya mengucapkan kalimat dalam bahasa Mandarin : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ZHU NIMEN DOU KUAI’ LE”&lt;br /&gt;“Semoga Anda semua berbahagia”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusman Hakim&lt;br /&gt;Pengamat Kewirausahaan&lt;br /&gt;E-mail: rusman@gacerindo.com&lt;br /&gt;Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com&lt;br /&gt;Web: http: //www.gacerindo.com&lt;br /&gt;Mobile: 0816.144.2792&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-114794727986793393?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/114794727986793393/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=114794727986793393' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/114794727986793393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/114794727986793393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2006/05/cara-gila-menjadi-pengusaha.html' title='Cara Gila Menjadi Pengusaha'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-114774572316311583</id><published>2006-05-15T19:13:00.000-07:00</published><updated>2006-05-15T19:15:23.510-07:00</updated><title type='text'>Skandal Adam dan Hawa</title><content type='html'>SKANDAL ADAM DAN HAWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua tentu ingat akan kisah Nabi Adam dan isterinya Siti Hawa.  Kedua insan nenek moyang bangsa manusia ini hidup tenteram bergelimang nikmat tiada tara di surga yang dilimpahkan oleh Tuhan, Allah SWT.  Mau makan, tinggal makan; karena di sana sudah tersedia berbagai jenis buah-buahan nan lezat, harum dan segar. Mau minum, ya tinggal minum; sebab di situ terdapat sungai yang di dalamnya mengalir “nectar” dengan cita rasanya yang manis tak terperi.  Tiada penyakit, tiada bencana, tiada kejahatan, tiada rasa khawatir, tiada ketakutan, tiada kecemasan.  Pokoknya, segala yang ada hanyalah kenikmatan dan kesenangan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan keadaan yang seperti itu, tentunya kita berfikir, tidak akan ada lagi hal apa pun yang diinginkan oleh Adam mau pun Hawa.   Bayangkan saja, semua serba ada, serba tidak kekurangan dan semua serba menyenangkan!  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, apa lacur.. Sesosok makhluk yang namanya iblis telah menghancurkan segalanya.  Dengan tutur kata menghanyutkan, iblis berhasil membangkitkan keinginan Adam dan Hawa untuk memperoleh buah larangan yang bernama “buah khuldi”.  Dan ketika pada akhirnya keinginan itu dilaksanakan dengan memetik buah tersebut, Tuhan yang marah dengan serta merta mencampakkan keduanya ke bumi, ke dunia yang fana tempat di mana kita semua sekarang berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Adam dan Hawa. Kalian telah bersalah dengan mengumbar nafsu keinginan yang berlebih-lebihan.  Padahal, semua kebutuhanmu telah Aku penuhi dengan sebaik-baiknya. Ketahuilah, bahwa perilaku yang demikian itu disebut “serakah”.  Sayang sekali, tiada tempat di surga ini bagi mereka yang serakah. Maka mulai hari ini, kalian Aku turunkan ke dunia yang fana, agar kalian dapat memperbaiki diri dengan jalan menghapus semua sifat serakah yang ada di batin kalian..” demikian Tuhan berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari soal apakah kisah skandal Adam dan Hawa ini berlangsung persis sebagaimana diceritakan di atas atau tidak, ada satu hal yang perlu kita cermati.  Yaitu moral dari cerita itu sendiri.  Mari kita bahas hal-hal di bawah ini:&lt;br /&gt;• Bahwa kita umat manusia yang sekarang “terpaksa” menghuni planet bumi, tidak lain tidak bukan adalah disebabkan oleh perilaku “serakah” yang muncul di benak nenek moyang kita, Adam dan Hawa.  Dan bahwa Tuhan telah menentukan bahwa kita tidak akan dapat kembali menikmati kenikmatan surgawi, selama sifat serakah itu masih bersemayam.  Maka tidak usahlah kita heran bahwa setelah ribuan tahun tinggal di bumi, sisa-sisa perilaku serakah itu masih masih tetap saja ada, yang dalam kenyataannya terwujud dalam tindakan korupsi, manipulasi, penipuan, mafia-isme, premanisme dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;• Bahwa umat manusia yang tidak ingin berubah dan tetap serakah, akan terus tinggal di bumi yang fana sampai nanti hari kiamat, di mana bumi yang sudah tua akan melebur dan berubah menjadi neraka.&lt;br /&gt;• Hakikat kehidupan sebenarnya sederhana dan mudah, yaitu bahwa akar dari segala kejahatan yang ada di dunia ini adalah sifat serakah, yang apabila manusia mau menghilangkan dari benaknya, niscaya semua orang dengan serta merta akan diterima kembali oleh Tuhan di surganya yang maha indah.  Itulah pula yang oleh Sang Buddha disebut sebagai “pohon keinginan” yang setiap saat harus diwaspadai, dipantau dan dikendalikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sekarang timbul pertanyaan, bagaimana caranya mengidentifikasi bahwa suatu tindakan itu dilandasi oleh sifat serakah? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana tindakan yang dilakukan Adam dan Hawa di Taman Firdaus dulu, maka suatu tindakan dapat digolongkan ke dalam kategori keserakahan, apabila tindakan dimaksud dilakukan semata-mata berdasarkan keinginan menambah-nambah kesenangan pribadi, padahal yang bersangkutan sudah berada dalam kesenangan dan kenikmatan yang lebih dari cukup.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan berikut mungkin muncul: “Lantas, apa yang bisa dilakukan oleh seseorang yang sudah berada dalam kesenangan dan kenikmatan, agar tindak-tanduk dan sepak-terjangnya tidak masuk dalam kategori keserakahan?”  Jawabnya sederhana sekali: “Bekerjalah untuk orang lain, untuk masyarakat banyak.  Pada tingkatan ini, semakin banyak yang Anda lakukan dan semakin tinggi prestasi yang Anda capai, akan semakin baiklah reputasi Anda dan semakin sejahtera pula masyarakat sekitar Anda..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia wirausaha adalah sebuah dunia yang sensitif terhadap keserakahan.  Pengusaha yang “asyik dengan kesuksesan”, akan mudah sekali tergelincir masuk ke dalam kubangan keserakahan.  Bermula dari keberhasilan meraih kesuksesan-kesuksesan kecil, merambah naik ke tingkatan kesuksesan-kesuksesan besar, seorang pengusaha sangat mungkin untuk segera berperilaku tak terkendali ditandai dengan dimulainya sepak terjang untuk menguasai lahan-lahan orang lain, membendung laju pertumbuhan pesaingnya dengan berbagai cara yang dihalalkan, bahkan sampai kepada upaya untuk mencaplok hak-hak milik masyarakat umum, seakan belum puas sebelum seluruh isi dunia ini menjadi miliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah untuk menemukan contoh tentang pengusaha-pengusaha serakah.  Di zaman Orde Baru, pengusaha-pengusaha jenis ini bermunculan dalam jumlah yang sangat banyak.  Begitu banyak, sehingga karena sepak terjang mereka begitu ganasnya, seorang Kwik Kian Gie sampai-sampai merasa perlu untuk menjuluki mereka dengan sebutan “business animals”.  Dan bagi generasi muda sekarang, juga akan mudah mengenali mereka karena sebagian di antaranya telah berpindah tempat menjadi penghuni penjara, sebagian lagi menjadi buronan Interpol, serta ada juga yang telah meninggal dunia dalam pelarian, sebagaimana nasib orang-orang kaya yang terjebak dalam “money centered life”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vivere Peri Coloso&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Almarhum Presiden Soekarno pernah mempopulerkan istilah “Vivere Peri Coloso”, sebuah istilah dalam bahasa Itali yang artinya lebih kurang: “nyerempet-nyerempet bahaya”.  Dan begitulah sesungguhnya dunia usaha.  Seorang pengusaha yang ingin tetap hadir dalam blantika bisnis, harus berani “nyerempet-nyerempet bahaya”. Memberikan pelayanan yang baik tanpa harus menyogok, bersaing harga tanpa harus melakukan “dumping”  dan lain sebagainya.  Dan untuk itu diperlukan naluri bisnis yang tinggi dan peka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar baiknya adalah bahwa para wirausahawan sejati ternyata arif dengan hal itu. Seorang adik saya yang dalam manuver “BODOL”nya menggandeng seorang “pangeran” dari dinasti Bakrie, menceritakan sesuatu yang menarik.  Ia berkisah bahwa dalam sebuah rapat, sang pangeran memberikan pengarahannya bahwa dunia bisnis itu memang dunia yang penuh risiko, penuh dengan intrik, agitasi dan provokasi, sehingga diperlukan kelihayan tertentu untuk mengatasi semua itu.  Namun begitu – demikian sang pangeran – bukan tidak mungkin suatu waktu, seorang pengusaha akan tersandung dan terjerembab ke dalam suatu manuver bisnis yang dapat menyebabkan dirinya disorot masyarakat sebagai tokoh bisnis yang memiliki kecenderungan serakah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, untuk mencegah terjadinya hal-hal semacam itu, seorang pengusaha perlu selalu ingat, bahwa dirinya bekerja untuk orang lain, untuk masyarakat banyak. Dan itu harus diwujudkan dengan tindakan-tindakan nyata, seperti ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan sosial, misalnya dengan menyumbang ke panti-panti asuhan, menyokong dunia pendidikan, mendirikan tempat-tempat ibadah, rumah sakit dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukur alhamdulillah, baru-baru ini majalah “Swa” memberitakan bahwa beberapa tokoh pengusaha sukses ternyata telah aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial,  yang secara langsung mau pun tidak langsung, telah menggambarkan diri mereka sebagai figur yang tidak serakah, karena telah nyata-nyata bekerja untuk kepentingan orang banyak.  Di antara para pengusaha yang tampil sebagai philanthropist (dermawan) itu terdapat antara lain:  Sudamek (Kacang Garuda), Jakob Oetama (Kompas), Martha Tilaar (Martina Berto), Raam Punjabi (Multivision Plus), Rudy J. Pesik (Birotika Semesta/DHL), Soedarpo Sastrosatomo (Samudera Indonesia), Sofyan Wanandi (Gemala Group) dan lain-lain.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang terkaya di dunia pun, Bill Gates, yang selama ini ditengarai sebagai tokoh bisnis yang serakah, ternyata merupakan seorang dermawan pula.  Ia menyumbangkan banyak dana untuk kepentingan pemberantasan penyakit AIDS dan malaria, melalui “Bill and Melinda Gates Foundation”. Dan jangan kaget, kalau biang kerok krisis keuangan George Soros pun ternyata termasuk dalam barisan para philanthropist. Ia konon telah merelakan uangnya sebesar 5.40 milyar dolar Amerika untuk kepentingan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita berdoa, semoga makin banyak wirausahawan, kecil mau pun besar, yang tidak sudi terperosok ke dalam jebakan keserakahan, untuk makin menunjukkan dirinya sebagai pengusaha dermawan yang peduli pada sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(*** Ditulis sebagai pelengkap tulisan Roni Yuzirman “Karena serakah kawan saya bangkrut” ***)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SALAM WIRAUSAHA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusman Hakim&lt;br /&gt;Pengamat Kewirausahaan&lt;br /&gt;rusman@gacerindo.com&lt;br /&gt;Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com&lt;br /&gt;Web: http: //www.gacerindo.com&lt;br /&gt;Mobile: 0816.144.2792&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-114774572316311583?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/114774572316311583/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=114774572316311583' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/114774572316311583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/114774572316311583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2006/05/skandal-adam-dan-hawa.html' title='Skandal Adam dan Hawa'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-114713562111594997</id><published>2006-05-08T17:44:00.000-07:00</published><updated>2006-05-08T17:47:01.626-07:00</updated><title type='text'>Sukses - lanjutannya?</title><content type='html'>“Sukses – apa lanjutannya?” Ini sebuah judul email yang menggelitik.  Simpel, tapi susah jawabnya ya kan? Pertanyaan “sukses itu apa?”, sudah susah dijawab, apalagi lanjutannya..? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kalau kita mengacu kepada pendapat mayoritas masyarakat  yang pada umumnya menganggap bahwa sukses itu identik dengan uang, maka ada baiknya kalau kita meninjau lebih jauh apa gerangan yang ada di balik itu semua.  “Money oriented people” biasanya beranggapan bahwa pada saat Anda berhasil mengumpulkan sejumlah besar uang, maka di situlah letak kesuksesan Anda.  Kesuksesan yang bersifat terminal, artinya Anda telah sampai ke titik akhir dari sebuah perjuangan panjang.  Titik di mana Anda tidak perlu lagi bekerja, titik di mana Anda juga telah memperoleh kebebasan penuh, kebebasan untuk berbuat apa saja sekehendak hati.  Mau tidur di saat orang lain sibuk pergi ke kantor, ya boleh saja.  Mau jalan-jalan ke luar negeri atau main golf di saat orang lain sedang bersitegang di ruang rapat, ya nggak ada yang larang.  Pokoknya, apa pun yang Anda mau lakukan, tidak akan ada yang keberatan. Istri, suami, kerabat, famili, pegawai, dan siapa pun, termasuk mertua pun pasti tak akan menegur, apalagi mencegah. Toh Anda sudah kaya, dan barangkali inilah yang kebanyakan orang mengartikannya sebagai indiksasi sebuah “financial freedom”.  Kebebasan keuangan, merdeka secara finansial!  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan, sementara orang-orang lain masih menjadi budak uang, bekerja mati-matian setiap hari untuk dapat memburu uang, Anda justru telah berhasil menjajah uang, menyuruhnya bekerja untuk mengundang teman-temannya yang lain menjadi pekerja Anda.  Hebat sekali kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya benar. Anda hebat.  Hanya saja, kaya atau sukses itu sifatnya relatif.  Tidak definitif. Sukses atau kesuksesan sudah pasti sulit untuk dibuatkan tolok ukurnya. Kalau kaya?  Bisakah diambilkan angka-angka yang bisa mewakili kesuksesan kita? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau si Badu yang berpenghasilan 2 juta rupiah sebulan, berjalan-jalan di sebuah perkampungan kumuh yang penduduknya banyak busung lapar, maka dia mungkin akan merasa dialah orang terkaya di lingkungan itu.  Tapi kalau ia kemudian melintas di kompleks elit semacam Pondok Indah Jakarta, kemungkinan besar ia akan merasa berubah miskin seketika itu juga.  Seorang teman yang pengusaha, selama ini merasa telah mencapai tingkatan hidup yang “financial free” sehingga mengekspresikannya dengan bepergian ke luar negeri berulang kali setiap tahun.  Namun suatu saat, ia berkata kepada saya, bagaimana ia merasa miskin kembali, saat mengunjungi Hollywood di Amerika Serikat.  Lho, bagaimana ini?  Siapa miskin, siapa kaya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya dengar, orang terkaya di dunia yang namanya Bill Gates juga masih datang ke kantor setiap hari.  Aneh ya, apakah ia ini merasa masih kurang kaya atau kurang sukses? Atau belum benar-benar “financial free”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, itulah yang namanya sebuah relativitas.  Saya hanya berfikir, andaikata Anda menganggap kelimpahan uang sebagai sebuah terminal akhir, maka Dewa Kesuksesan akan menyambut Anda dengan kata-kata: “Happy landing in your own paradise..” lalu Anda dipersilahkan masuk kesebuah pintu gerbang yang di dalamnya terhampar sebuah padang rumput hijau indah serta luas tiada bertepi.  Sepintas pemandangan itu sangat-sangat indah, tapi Anda bingung harus melangkah ke mana.  Yang umum terjadi, pada masa-masa awal orang akan sangat menikmati terminal akhir dari sebuah kesuksesan seperti itu, namun perlahan tapi pasti, di suatu batas ia akan mengalami kejenuhan yang menyebabkannya merasa kehilangan tujuan.&lt;br /&gt;Saya mendeteksi fenomena itu sebagai sebuah sindrom.  Dari pembicaraan dengan beberapa rekan yang berkompetensi dalam aspek-aspek kejiwaan, belum ditemukan istilah yang benar-benar tepat dan baku untuk itu.  Oleh karenanya saya cenderung untuk memberi istilah sebagai “sindrom kehilangan tujuan”, atau kalau boleh disingkat, kita sebut saja sebagai “SKT”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Penyebab sindrom tersebut adalah karena seseorang menganggap “keberhasilan dalam mengumpulan banyak uang” sebagai sebuah titik akhir dari sebuah perjuangan.  Dan bila keberhasilan sebagaimana yang didefinisikan itu  telah tercapai, maka saat itulah “sidrom kehilangan tujuan” akan muncul.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak dari SKT ini cenderung negatif, dan bisa terjangkit pada semua orang dari profesi apa saja, dan tersebar mulai dari lapisan masyarakat paling bawah, sampai ke lapisan paling atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tingkat lapisan masyarakat bawah, bisa kita lihat gejala SKT menghinggapi mereka yang merasa kebutuhan pokoknya telah terpenuhi.  Beberapa rekan yang bekerja sebagai sopir atau pesuruh kantor (office boy) di perusahaan-perusahaan besar, menerima gaji yang jauh lebih tinggi, bila dibanding karyawan sejenis di perusahaan lain. Gaji tersebut sudah berlebihan menurut kebutuhan mereka, sehingga walau sebagian ditabung,  masih ada sejumlah uang tersisa yang entah untuk apa nantinya digunakan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mereka akhirnya terkena SKT, karena setelah semua kebutuhan pokok dan nafkah keluarga telah terpenuhi, untuk apa lagi kelebihan uang itu ?  Apa lagi yang harus dilakukan ?  Maka. seperti telah disinggung di atas, SKT cenderung berakibat negatif.  Sebagian dari mereka akhirnya pergi ke dunia gelap, foya-foya, mabuk-mabuk dan banyak yang merencanakan kawin lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tingkat menengah, gejalanya tidak jauh berbeda.  Foya-foya sudah menjadi standar yang lumrah.  Kalangan menengah biasanya menginjak taraf kemapanan sekitar umur 40-an tahun.  Maka SKT menjelma dalam bentuk yang sudah sangat dikenal masyarakat, antara lain berupa “masa puber kedua” dan semacamnya.  Makin tinggi tingkat kecukupan seseorang dalam soal materi—(ini sering diidentikkan orang sebagai keberhasilan hidup)--SKT menampakkan dampaknya lebih dahsyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kalangan atas, banyak dari kaum elit memelihara istri-istri simpanan, mencari hiburan keluar negeri, berjudi di pusat-pusat perjudian internasional.  Yang lebih parah, para pengusaha raksasa yang terkena SKT, melanjutkan sepak terjangnya dengan merugikan orang lain, misalnya mencaplok perusahaan-perusahaan yang lebih kecil, berkolusi untuk menguasai lahan-lahan milik masyarakat yang berpotensi ekonomi dan banyak tindakan-tindakan tidak etis lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya apabila seseorang menganggap keberhasilan dalam mengumpulkan kekayaan materi sebagai sebuah “titik awal” dari sebuah perjalanan lanjutan menuju kesuksesan lain yang lebih bermakna dan lebih berkualitas.  Orang-orang tipe ini tidak akan terkena sindrom, sebab Dewa Kesuksesan tidak menyambut mereka dengan kata-kata: “Happy landing…...”, melainkan dengan ucapan “Welcome on board..”, untuk selanjutnya mempersilahkan orang sukses menaiki kapal yang dikemudikannya, lalu berlayar menuju pulau-pulau kesuksesan berikut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa saja yang dimaksud dengan pulau-pulau kesuksesan berikut itu? Ya, antara lain mendirikan pabrik-pabrik baru yang mampu menampung banyak pekerja dalam rangka menanggulangi kasus pengangguran, mendirikan bank-bank perkreditan rakyat yang membantu kelangsungan usaha rakyat kecil, mendirikan yayasan-yayasan yang membina kaum jompo dan yatim piatu, sekolah-sekolah dan last but not least… menyelenggarakan seminar-seminar dan pelatihan-pelatihan kewirausahaan untuk berbagi pengetahuan serta pengalaman, agar banyak orang dapat mengikuti jejaknya menjadi pengusaha yang berhasil….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusman Hakim&lt;br /&gt;Pengamat Kewirausahaan&lt;br /&gt;Email: rusman@gacerindo.com&lt;br /&gt;Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com&lt;br /&gt;Group: gacerindo-club@yahoogroups.com&lt;br /&gt;Mobile: 0816-144.2792&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-114713562111594997?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/114713562111594997/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=114713562111594997' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/114713562111594997'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/114713562111594997'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2006/05/sukses-lanjutannya.html' title='Sukses - lanjutannya?'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-114645537569637493</id><published>2006-04-30T20:48:00.000-07:00</published><updated>2006-04-30T20:49:35.820-07:00</updated><title type='text'>Jangan Menilai Sebuah Buku Hanya Dengan Membaca Satu Halaman Saja</title><content type='html'>Jangan Menilai Sebuah Buku Hanya Dengan Membaca Satu Halaman Saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda sekarang adalah seorang wirausahawan yang cukup berhasil, lalu Anda bertemu dengan seorang karyawan yang tampak rajin bekerja, akankah Anda lantas mencibir, seraya berkata dalam hati: “Hm, inilah figur seorang karyawan dan ia bekerja setengah mati, padahal biar sampai tua pun, ia tidak akan pernah bisa kaya..”  &lt;br /&gt; Kalau demikian halnya, kemungkinan besar Anda telah melakukan sebuah kekeliruan.  Sebab, Anda telah melakukan penilaian atas masa depan seseorang hanya dari statusnya saat ini. Anda telah memvonis sebuah buku tebal hanya dengan membaca 1 halaman permulaan saja.  &lt;br /&gt;Ada banyak macam motivasi yang menyebabkan seseorang menjadi karyawan.  Ada yang memang semata-mata karena alasan ekonomi demi mencari nafkah sehari-hari.  Ada pula yang istilah kasarnya, ingin “numpang hidup”.  Ada juga yang ingin mendapatkan status sosial. (Karyawan jenis ini biasanya bisa dicirikan dari kecenderungannya mencari kerja pada perusahaan-perusahaan besar atau perusahaan asing yang memiliki reputasi internasional/MNC = Multi National Company). Tapi ada satu jenis lagi yang perlu kita cermati, yaitu mereka yang sebenarnya berjiwa wirausaha, tapi karena perhitungan tertentu, mereka memilih untuk terlebih dahulu menjadi karyawan di perusahaan orang lain. (Tentang seluk-beluk motivasi kerja ini, Anda dapat membaca buku saya “Cermin Kepemimpinan” terbitan PT Elex Media Komputindo).&lt;br /&gt;Alasan seorang cikal-bakal wirausahawan menjadi karyawan terlebih dulu, biasanya tidak jauh dari 2 hal penting: mengumpulkan modal, serta belajar dari pengalamannya bekerja di perusahaan orang lain.&lt;br /&gt;Tahukah Anda bahwa ada banyak sekali tokoh-tokoh kewirausahaan yang berasal dari kuadran E (mployee)? Beberapa di antaranya adalah:&lt;br /&gt;1) Konosuke Matsushita:  Tokoh ini adalah tokoh wirausaha kelas dunia.  Ialah raja peralatan listrik dari Jepang, dengan perusahaannya Matsushita Corporation.  Ia merintis karirnya dengan jalan bekerja pada orang lain terlebih dahulu, antara lain menjadi pegawai toko sepeda dan karyawan perusahaan listrik.&lt;br /&gt;2) Stan Shih:  Ia adalah seorang tokoh bisnis asal Taiwan, yang berhasil membangun perusahaan produsen komputer merek ACER.  Sebelum sukses meluncurkan Acer menjadi perusahan kaliber internasional, ia adalah seorang karyawan dari perusahaan elektronika “Qualitron”.&lt;br /&gt;3) Enny Hardjanto:  Saya rasa Anda tahu tokoh yang satu ini, sebab dulu ialah yang sering menghubungi Anda dalam urusan kartu kredit Citibank. Ya, Enny dulunya adalah Vice President Citibank Indonesia.  Tapi ia telah memilih dunia usaha sebagai jalur karir lanjutannya, dengan mendirikan PT Hanesa Endera Sakti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapatkah Anda membayangkan, seandainya Anda sebagai entrepreneur pada suatu saat bertemu tokoh-tokoh ini ketika mereka berstatus karyawan, lalu Anda mencibir kepada mereka seraya menggumam: “Anda karyawan, dan Anda tidak akan bisa kaya..”   Beberapa tahun kemudian Anda bertemu lagi dengan mereka, dan ternyata tokoh-tokoh itu telah berlipat-lipat kali lebih sukses dari Anda, apa yang Anda rasakan?  Saya rasa, sedikitnya Anda akan terperangah…bukan?&lt;br /&gt;Kalau kita mengira bahwa “kewirausahaan” itu adalah sebuah profesi, maka saya khawatir bahwa kita telah keliru.  Kewirausahaan sejatinya adalah sebuah nilai (entrepreneurship value) yang perwujudannya harus didukung oleh semangat kewirausahaan (entrepreneurship spirit).  Oleh sebab itu, jangan heran kalau sekarang ini telah berkembang wacana tentang kewirausahaan di lingkungan perusahaan, yang penerapannya melibatkan para karyawan.  Wacana itu sekarang populer dengan istilah “Intrapreneurship”.  Tidak kurang dari perusahaan-perusahaan raksasa kaliber dunia sekarang terlibat dalam kegiatan-kegiatan Intrapreneurship, antara lain IBM, Xerox, Kodak dan lain sebagainya. (Lain kali akan saya coba untuk mengulas tentang Intrapreneurship ini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusman Hakim&lt;br /&gt;Pengamat Kewirausahaan&lt;br /&gt;Email: rusman@gacerindo.com&lt;br /&gt;Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com&lt;br /&gt;Group: gacerindo-club@yahoogroups.com&lt;br /&gt;Mobile: 0816-144.2792&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-114645537569637493?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/114645537569637493/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=114645537569637493' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/114645537569637493'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/114645537569637493'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2006/04/jangan-menilai-sebuah-buku-hanya.html' title='Jangan Menilai Sebuah Buku Hanya Dengan Membaca Satu Halaman Saja'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-114645520361690312</id><published>2006-04-30T20:45:00.000-07:00</published><updated>2006-04-30T20:46:43.843-07:00</updated><title type='text'>KUADRAN “E” Versus KUADRAN “B”</title><content type='html'>KUADRAN “E” Versus KUADRAN “B” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama ini, penerbit Elex Media Komputindo (Gramedia Group) meluncurkan sebuah buku yang berjudul “Siapa Bilang Karyawan Tidak Bisa Kaya” kepada masyarakat yang memang haus akan buku-buku kiat sukses kehidupan.  Buku buah karya Safir Senduk itu rupanya memang sangat menarik, terbukti dari cukup hangatnya sambutan dari berbagai kalangan di masyarakat.  Tidak heran kalau kemudian, beberapa orang pembaca yang merasa terinspirasi, lantas membawa isu ini ke berbagai milis internet.  &lt;br /&gt; Tanpa diduga, naiknya judul buku tersebut ke dunia maya, telah mengundang adu argumentasi antara sejumlah peserta milis yang mendukung ide bahwa karyawan pun bisa menjadi kaya, melawan sekelompok peserta lainnya yang menentang ide dimaksud.  Kelompok terakhir ini, yang hampir seluruhnya merupakan para wirausahawan, berkilah bahwa sekaya-kayanya seorang karyawan akan lebih kaya seorang majikan (note bene adalah pengusaha) yang mempekerjakan karyawan.  &lt;br /&gt; Sebenarnya, masalah apakah yang dijadikan fokus perdebatan tersebut?  Apakah hanya semata-mata soal jumlah kekayaan yang akan mampu diraih seorang pengusaha dibanding yang mungkin bisa dikumpulkan seorang karyawan? &lt;br /&gt; Saya menyempatkan diri untuk berfikir sejenak seusai membaca berbagai e-mail yang terlibat dalam wacana ini.  Saya merasakan adanya aroma persaingan, antara satu kelompok sosial yang terdiri dari orang-orang yang berprofesi sebagai karyawan, dengan kelompok lain yang menyatakan dirinya sebagai kelompok entrepreneur.  Ada nuansa yang merefleksikan “upaya perlawanan” kelompok karyawan yang selama ini dianggap “tidak mungkin bisa kaya”, terhadap dominasi kelompok pengusaha yang sudah terlanjur menjadi simbol kekayaan serta kesuksesan. &lt;br /&gt;Kenapa dua kelompok profesi itu harus saling bertentangan, sampai “berseteru” di internet? Bukankah semua tahu bahwa seharusnya mereka saling membutuhkan?  &lt;br /&gt;Bila seorang entrepreneur mengkampanyekan isu kewirausahaan agar orang lain mau menjadi “Business Owner”, itu adalah hal yang baik dan sah-sah saja.  Tapi pasti bukan dengan maksud agar semua orang menjadi pengusaha sehingga tidak ada lagi orang yang mau menjadi karyawan, bukan?  Sebaliknya, bila seorang pekerja mengklaim bahwa profesi sebagai karyawan merupakan sebuah kemuliaan, itu juga hal yang sangat benar, dan tak perlu dibantah.  Tapi tentunya bukan semata-mata karena ingin kaya, kan? &lt;br /&gt;Nah, sekarang, coba bayangkan, apabila para pengusaha harus menjalankan usahanya tanpa dukungan seorang karyawan pun, masih mungkinkah Robert Kiyosaki mengelompokkan orang-orang ini di kuadran “B”?  Di lain pihak, kalau karyawan mau bekerja, tapi tidak ada pengusaha yang membayar gajinya, masihkah kelompok ini ditempatkan di kuadran “E”?  &lt;br /&gt;Saya rasa, jelas dan gamblang, jawabannya adalah: tidak. Kenapa? &lt;br /&gt;Sebab, bila terjadi keadaan seperti itu, di mana pengusaha bekerja tanpa karyawan (karena tidak ada lagi orang yang mau jadi karyawan), dan karyawan bekerja tanpa majikan (karena jadi karyawan toh sudah bisa kaya), maka kedua-duanya akan terlempar ke kuadran S, kuadrannya orang-orang yang berstatus “Self Employed” ! &lt;br /&gt;Hal ini tentu memberi pencerahan kepada kita bahwa mempertentangkan kedua kuadran “E” dan “B” akan merupakan pekerjaan yang “jauh panggang dari api”.  Setiap orang menjalankan karmanya masing-masing, yang satu berbeda dengan yang lain.  Biarlah mereka yang garis tangannya menjadi karyawan, berbahagia dengan kehidupannya sebagai karyawan berikut segala suka dan dukanya.  Dan biarlah mereka yang ditakdirkan menjadi pengusaha tetap berbahagia dengan status pengusahanya, lengkap pula dengan segala suka dukanya.  Semua profesi adalah terhormat, dan tidak ada satu profesi yang lebih terhormat dari profesi yang lain.  Yang jelas, setiap profesi merupakan satu komponen dari sebuah jaringan maha besar dalam kehidupan ini, yaitu “interdependency”, di mana setiap orang memiliki ketergantungan pada orang lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusman Hakim&lt;br /&gt;Pengamat Kewirausahaan&lt;br /&gt;Email: rusman@gacerindo.com&lt;br /&gt;Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com&lt;br /&gt;Group: gacerindo-club@yahoogroups.com&lt;br /&gt;Mobile: 0816-144.2792&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-114645520361690312?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/114645520361690312/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=114645520361690312' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/114645520361690312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/114645520361690312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2006/04/kuadran-e-versus-kuadran-b.html' title='KUADRAN “E” Versus KUADRAN “B”'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-114610273197559852</id><published>2006-04-26T18:36:00.000-07:00</published><updated>2006-04-26T18:52:12.410-07:00</updated><title type='text'>Terjun Langsung ke Dunia Usaha?</title><content type='html'>TERJUN LANGSUNG KE DUNIA USAHA?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam milis wirausaha, kerap kita jumpai e-mail yang nadanya menghimbau  seseorang untuk segera terjun ke dunia usaha.  Kata-kata himbauannya kira-kira seperti ini: “Langsung aja mandi, gak usah kebanyakan mikir..”, atau “Langsung aja terjun, kalau terlalu banyak pertimbangan, ya gak akan pernah jadi…”, dst…dst..  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E-mail seperti itu sudah sering muncul di berbagai milis internet. Namun demikian, kenyataan tetap memperlihatkan, bahwasanya pendamba kewirausahaan yang masih belum berani terjun total, jumlahnya cukup banyak.  Ada yang masih bertahan dalam status sebagai pegawai orang lain, dan ada juga yang setelah sekian lama, masih saja dalam keadaan “bertanya-kanan-bertanya-kiri” tanpa tujuan yang jelas.  Lho, kenapa begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat setuju dengan himbauan “langsung terjun” ini.  Sebab benar, kalau terlalu banyak pertimbangan ini-itu, biasanya minat tinggallah minat, yang selamanya tidak kunjung menjadi kenyataan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, saya merasa perlu memberikan tambahan kata-kata: “dengan catatan”.   Catatan apa?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan bahwa sebelum terjun, calon pengusaha seyogyanya sudah mempunyai sebuah “peta perjalanan” yang benar dan baik.  “Benar” artinya sesuai dengan yang dibutuhkan, “baik” artinya dilengkapi data-data yang terpercaya.  Ambil contoh, kalau kita ingin berlayar dari Jakarta menuju Sorong di Papua, maka harus ada peta yang akan menuntun kita melayari rute-rute pelayaran yang aman. Dengan peta yang sama kita juga akan  dapat menentukan tempat-tempat di mana akan transit, seperti Surabaya, Makassar, Ambon untuk selanjutnya sampai di Sorong.  Bayangkan kalau kita tidak mempunyai peta sama sekali, betapa besarnya risiko pelayaran tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dimaksud dengan “peta perjalanan” dalam urusan memulai sebuah bisnis, tidak lain adalah sebuah rencana usaha, atau dalam istilah yang umum, disebut “Business Plan” (BP).   Dengan BP inilah, seorang kandidat pengusaha akan dapat memantapkan kepercayaan dirinya, untuk tidak ragu-ragu terjun serius ke dalam bisnis.  Sebab, ia akan tahu secara pasti apa sebenarnya tujuan usahanya (visi), sebagaimana dalam contoh di atas, seakan-akan pelayarannya telah ditetapkan menuju kota Sorong.  Ia akan tahu pula, misi-misi apa sajakah yang harus dilakukan, yang digambarkan bagaimana perjalanannya akan melalui kota-kota Surabaya, Makassar dan Ambon untuk transit.  Di samping itu, dengan BP, seorang pengusaha menjadi arif untuk tidak memasuki bidang-bidang yang berisiko bagi bisnisnya, sebagaimana kapalnya akan berlayar menjauhi tempat-tempat berbahaya yang penuh batu karang, alur badai dan lain sebagainya.  Ia pun akan mengerti dari mana ia akan memperoleh dan mengelola sumber-sumber daya yang diperlukan, termasuk sumber daya keuangan, seperti halnya bagaimana ia akan mendapatkan bahan bakar saat memulai pelayaran, dan bagaimana pengisian selanjutnya di perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah cukup terjun ke dunia usaha yang maha luas -- yang luasnya bagaikan lautan tak bertepi -- hanya berbekal motivasi saja.  Memang motivasi adalah modal dasar kita untuk melakukan segala sesuatu, karena tanpa motivasi orang akan loyo sebelum bertindak apa pun.  Namun demikian, tanpa sebuah peta yang benar dan baik, kemungkinan terbesarnya kita akan menemui risiko yang bukan tidak mungkin akan berakibat fatal bagi bisnis, sekaligus masa depan kita.  Tidak peduli seberapa besar pun motivasi yang kita miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stephen Covey mempunyai penggambaran yang menarik tentang motivasi ini.  Ia mengandaikan, kalau seseorang ingin berkendara berkeliling di dalam kota Michigan, sedangkan orang itu tidak mempunyai peta kota tersebut, lalu malah meggunakan peta kota Detroit, maka semakin tinggi motivasinya, makin cepat pula ia akan tersesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak akan menutup mata akan adanya beberapa orang tertentu yang dengan berani terjun ke dunia bisnis tanpa panduan apa pun pada awalnya, dan sukses!  Akan tetapi,  berapa banyak jumlah orang yang demikian?  Terus terang saya tidak mempunya data yang akurat tentang hal tsb., tapi menurut pengamatan jumlahnya tidak akan banyak, 10% pun sudah terlalu banyak.  Dari sejumlah kasus seperti itu, umumnya yang berperan adalah faktor keberuntungan, yang tentu saja tidak akan dapat menjadi acuan bagi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Anda pernah membaca tentang sejarah asal muasal nenek moyang bangsa Indonesia? Literatur mengatakan bahwa bangsa kita ini sebenarnya berasal dari sebuah daerah di Asia, yang waktu itu dinamakan India Belakang.  Kalau tidak salah, letaknya kira-kira berdekatan dengan negeri Vietnam sekarang ini.  Nah, waktu itu, disebabkan musim paceklik dan bencana alam, ditambah lagi dengan kezaliman penguasa, beribu-ribu penduduk melakukan eksodus, melarikan diri dengan kapal-kapal kayu mengarungi samudera maha luas untuk mengungsi.  Mereka memutuskan pergi ke arah selatan dengan harapan akan menemukan sebuah negeri baru yang masih kosong untuk dapat mereka tinggali.  Maka tanpa persiapan yang memadai, ribuan orang itu pun beramai-ramai berlayar ke selatan menggunakan ratusan bahkan ribuan kapal-kapal kecil yang terbuat dari kayu.  Apa yang terjadi?  Sebagian kecil dari mereka, tidak sampai 30% nya selamat mencapai daratan baru yang dinamakan Nusantara, tapi sebagian besarnya, lebih  dari 70% gagal mencapai tujuan.  Sebagian tenggelam di tengah laut dan menjadi mangsa ikan hiu, sebagian lagi tersapu badai hilang entah ke mana, dan selebihnya mati karena sakit dan kelaparan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran yang dapat diambil dari peristiwa sejarah ini adalah bahwa barang siapa terjun ke suatu kancah perjuangan tanpa persiapan yang matang, apalagi tanpa persiapan sama sekali, maka kemungkinan “survival”nya adalah kecil sekali, tidak sampai 30%, bahkan mungkin jauh lebih kecil lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya, dan tentu saja kita semua, pasti tidak menginginkan ada kejadian di mana calon-calon wirausahawan Indonesia yang jumlahnya ribuan, terjun berama-ramai ke dalam dunia wiraswasta begitu saja tanpa berbekal peta yang benar dan baik, untuk kemudian sebagian besar lenyap “tersapu bersih” oleh ganasnya lautan dunia usaha, atau menjadi mangsa binatang-binatang bisnis (business animal) yang buas atau mungkin juga tersesat di rimba raya perdagangan dan industri, sampai kehabisan sumber daya sama sekali.  Saya sedih dan terharu ketika beberapa waktu yang lalu, sempat membaca e-mail seorang rekan yang menceritakan bagaimana ia, karena begitu terobsesi dengan buku-buku seri financial freedom dari Robert “Rich Dad Poor Dad” Kiyosaki, dengan serta merta melepaskan pekerjaan dan jabatan yang mapan di Citibank Jakarta, untuk kemudian terjun penuh ke dunia bisnis.  Ternyata, keputusan yang hanya didasari oleh motivasi menggebu-gebu itu memaksanya untuk menerima kenyataan bahwa cuma dalam waktu relatif singkat, ia harus kehilangan segala-galanya.  Menjadi miskin dan harus mencari-cari pekerjaan baru guna mengulang perjalanan karir kembali dari bawah…  Dan saya lebih terharu lagi ketika rekan ini pada baris-baris terakhir e-mailnya dengan jiwa besar dan patriotik sekali mengaku tidak menyesal dan suatu saat akan kembali ke dunia wirausaha..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia bisnis adalah sebuah  kancah perjuangan.  Kalau kita bandingkan itu sebagai sebuah peperangan, maka panglima perang Sun Tzu pernah bersabda:  “Apabila Anda menginginkan kemenangan di medan perang, maka terlebih dahulu Anda harus mengenal dengan baik keadaan sekitar, sungai-sungai, gunung-gunung serta hutan-hutan yang ada, dengan demikian baru pintu kemenangan akan terbuka untuk Anda ..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Safety Net&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih takut untuk terjun segera ke dunia usaha?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sebuah Business Plan belum cukup untuk membuat Anda berani terjun berbisnis, maka ijinkan saya untuk berbagi beberapa kiat tambahan guna memberikan rasa aman lebih jauh.  Kiat-kiat ini, fungsinya mirip dengan perangkat “safety net”, semacam jaring pengaman yang biasa digunakan oleh para pemain akrobat, khususnya pemain trapeze.  Dengan demikian, bila Anda jatuh, masih ada “sesuatu” yang akan menjaga keselamatan Anda sehingga tidak perlu mengalami bencana yang terlalu fatal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Memulai Usaha Tidak Berarti Harus Menyediakan Sejumlah Uang:  Kebanyakan orang mengartikan mulainya sebuah usaha identik dengan keharusan menyediakan sejumlah besar uang untuk investasi awal. Apakah itu untuk kantor, pabrik, peralatan, overhead dan lain sebagainya. Sebenarnya, tidaklah harus demikian.  Sebuah upaya kewirausahaan dapat dimulai tanpa investasi apa pun. Modal dengkul pun bisa.  Pada kesempatan mendatang saya akan sampaikan sebuah artikel, bagaimana seorang wirausahawan dapat mengembangkan diri mulai dari modal dengkul, sampai dapat berbisnis helikopter.  Oleh sebab itu, camkanlah bahwa Anda tidak boleh dan tidak usah mengeluarkan dana apa pun di awal usaha.&lt;br /&gt;• Pergunakan Potensi Orang Lain:  Prinsip BODOL (Bisnis Optimis Duit Orang Lain) adalah prinsip yang benar, selama Anda dapat memegang etika bisnis dengan baik.  Kalau Anda mempunyai sebuah konsep usaha yang bagus, Anda dapat menuliskannya dalam sebuah proposal yang menarik, lalu cari seseorang dari kuadran I (Investor) untuk bekerja sama.&lt;br /&gt;• Pergunakan Kemapanan Bisnis Orang Lain:  Ini adalah sebuah konsep yang sudah sangat dikenal, wujudnya antara lain bisa berupa franchise atau semacamnya.&lt;br /&gt;• Berbagi Tugas Strategis Dengan Istri/Suami:  Kiprah Anda di dunia usaha akan jauh lebih aman kalau Anda berbagi tugas dengan pasangan, yaitu sementara Anda berjuang di dunia kewirausahaan, istri atau suami tetap bekerja sebagai karyawan.  Dengan demikian, pengeluaran rumah tangga dapat dialokasikan pada penghasilan pasangan Anda, dan tidak boleh diganggu gugat untuk keperluan bisnis.&lt;br /&gt;• Dan banyak Lagi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berharap, tulisan ini sedikit banyak akan dapat memberi sumbangan bagi rekan-rekan wirausahawan guna menambah wawasan pemikiran sekaligus membantu rekan-rekan lain yang mungkin masih merasa gamang untuk terjun langsung ke dunia bisnis.  Bagi yang barangkali masih belum terlalu familiar dengan apa yang disebut “Business Plan” dan ingin berdiskusi lebih jauh, silahkan menghubungi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan mendatang, mudah-mudahan saya akan bisa menyusulkan sebuah tulisan lagi tentang bagaimana “tidak terjun”, melainkan “turun perlahan” ke dunia bisnis dengan bantuan “tali pengaman”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam sukses,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusman Hakim&lt;br /&gt;Pengamat Kewirausahaan&lt;br /&gt;Email: rusman@gacerindo.com&lt;br /&gt;Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com&lt;br /&gt;Group: gacerindo-club@yahoogroups.com&lt;br /&gt;Mobile: 0816-144.2792&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-114610273197559852?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/114610273197559852/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=114610273197559852' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/114610273197559852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/114610273197559852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2006/04/terjun-langsung-ke-dunia-usaha.html' title='Terjun Langsung ke Dunia Usaha?'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-114471425717873853</id><published>2006-04-10T17:03:00.000-07:00</published><updated>2006-04-10T17:18:55.110-07:00</updated><title type='text'>KEWIRAUSAHAAN, SEBAGAI SEBUAH NILAI</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;KOLOM: ENTREPRENEURSHIP’S COMMON SENSE:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JUDUL : KEWIRAUSAHAAN, SEBAGAI SEBUAH NILAI&lt;br /&gt;Oleh: Rusman Hakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini, dunia kewirausahaan (kewiraswastaan) tampaknya sudah mulai diminati oleh masyarakat luas. Namun, karena kurangnya informasi, banyak orang merasa masih belum jelas tentang aspek-aspek apa saja yang melingkupi dunia wiraswasta. Sebagian orang beranggapan bahwa kewiraswastaan adalah dunianya kaum pengusaha besar dan mapan, lingkungannya para direktur dan pemilik PT, CV serta berbagai bentuk perusahaan lainnya. Oleh karena itu, kewirawastaan sering dianggap sebagai wacana tentang bagaimana menjadi kaya. Sedang kekayaan itu sendiri seakan-akan merupakan simbol keberhasilan dari kewiraswastaan.&lt;br /&gt;Bukan hanya sebagian masyarakat awam yang berpikir demikian, karena ternyata beberapa lembaga pembinaan kewiraswastaan juga mempunyai persepsi yang mirip dengan itu. Pada beberapa kesempatan, lembaga-lembaga tersebut menampilkan figur tokoh-tokoh sukses yang katanya berhasil menjadi kaya, dengan jalan berwiraswasta. Figur sukses itu antara lain terdiri dari tokoh-tokoh pengusaha besar yang masyarakat mengenalnya sebagai orang-orang terkemuka yang dekat dengan para pejabat pemerintahan.&lt;br /&gt;Terlepas dari siapa tokoh-tokoh sukses dan kaya yang ditampilkan itu, serta bagaimana cara mendapatkan kekayaannya, marilah kita kembali ke inti persoalan : “Benarkah kewiraswastaan merupakan wacana tentang bagaimana caranya untuk menjadi kaya ?”&lt;br /&gt;Kalau bicara sekadar menjadi kaya, tentu semua orang maklum bahwa tidak semua orang kaya adalah pengusaha, sebaliknya tidak semua pengusaha adalah orang kaya. Rata-rata pejabat di Indonesia sudah termasuk orang kaya atau orang berada, apalagi kalau pejabat itu korup. Karyawan-karyawan swasta, terutama para general manager dan direktur juga banyak yang kaya. Bahkan, ada pengemis jalanan berpenghasilan lebih dari Rp. 300.000,- bersih per hari, dan jelas bahwa ia berpotensi untuk menjadi kaya. Dapatkah mereka semua, termasuk para koruptor dan pengemis, menjadi figur panutan dalam wacana kewirausahaan ? Rasanya tidak lah ya..?&lt;br /&gt;Kewiraswastaan atau kewirausahaan sebenarnya bukanlah bertujuan untuk menjadi kaya. Setidaknya inilah yang dekemukakan oleh para perintis kewiraswastaan di Indonesia sejak 3 dekade yang lalu. Merintis masa depan dengan belajar menjadi pengusaha lebih mirip dengan belajar bagaimana mengemudikan kendaraan. Seorang instruktur pada sebuah sekolah mengemudi mobil pernah berkata pada para siswanya, yang dalam praktek selalu berusaha untuk menjalankan kendaraan dengan kecepatan tinggi : “Keterampilan mengemudi bukan dilihat dari seberapa cepat kendaraan dipacu. Karena memacu kecepatan adalah hal yang mudah. Itu hanya soal seberapa dalam kita menginjak pedal gas. Ilmu mengemudi lebih merupakan keterampilan bagaimana menjalankan mobil dari keadaan tidak bergerak, menjadi bergerak dan berjalan dengan stabil, serta bermanuver dengan baik sesuai keadaan, berbelok, maju, mundur, parkir, menanjak, menurun dan lain sebagainya, tanpa membahayakan diri sendiri ataupun orang lain. Kecepatan adalah soal lain..”&lt;br /&gt;Apa yang dikatakan sang instruktur memang benar. Keberhasilan mengemudi bukan dilihat dari seberapa cepat kendaraan dipacu. Demikian pun keadaannya dengan kewiraswastaan. Keberhasilan berwiraswasta tidaklah identik dengan seberapa berhasil seseorang mengumpulkan uang atau harta serta menjadi kaya, karena kekayaan bisa diperoleh dengan berbagai cara, termasuk mencuri, merampok, korupsi, melacur dan lain-lain perbuatan negatif. Sebaliknya kewiraswastaan lebih melihat bagaimana seseorang bisa membentuk, mendirikan serta menjalankan usaha dari sesuatu yang tadinya tidak berbentuk, tidak berjalan bahkan mungkin tidak ada sama sekali. Seberapa kecil pun ukuran suatu usaha, jika dimulai dengan niat baik, cara-cara yang bersih, keberanian dan kemandirian, sejak dari nol dan kemudian bisa berjalan dengan baik, maka nilai kewiraswastaannya jelas lebih berharga, daripada sebuah perusahaan besar yang dimulai dengan bergelimang fasilitas, penuh kolusi serta sarat dengan keculasan.&lt;br /&gt;Dalam kewiraswastaan, kekayaan menjadi relatif sifatnya. Ia hanya merupakan produk bawaan (&lt;em&gt;by-product&lt;/em&gt;) dari sebuah usaha yang berorientasi kearah prestasi. Prestasi kerja manusia yang ingin mengaktualisasikan diri dalam suatu kehidupan mandiri. Ada pengusaha yang sudah amat sukses dan kaya, tapi tidak pernah menampilkan diri sebagai orang yang hidup bermewah-mewah, dan ada juga orang yang sebenarnya belum bisa dikatakan kaya, namun berpenampilan begitu glamor dengan pakaian dan perhiasan yang amat mencolok. Maka soal kekayaan pada akhirnya terpulang kepada masing-masing individu. Keadaan kaya-miskin, sukses-gagal, naik dan jatuh merupakan keadaan yang bisa terjadi kapan saja dalam kehidupan seorang pengusaha, tidak peduli betapapun piawainya dia. Kewiraswastaan hanya menggariskan bahwa seorang wiraswastawan yang baik adalah sosok pengusaha yang tidak sombong pada saat jaya, dan tidak berputus asa pada saat jatuh.&lt;br /&gt;Tidak ada satu suku kata pun dari kata “wiraswasta” yang menunjukkan arti kearah pengejaran uang dan harta benda, tidak pula kata wiraswasta itu menunjuk pada salah satu strata, kasta, tingkatan sosial, golongan ataupun kelompok elit tertentu.&lt;br /&gt;Terkadang orang tidak menyadari bahwa “wiraswasta” tidak sama dengan “swasta” dan “orang swasta” tidak dengan sendirinya merupakan wiraswastawan sejati, meskipun mungkin yang bersangkutan menyatakan diri begitu.. Ini disebabkan “wiraswasta” mengandung kata “wira”, yang mempunyai makna luhurnya budi pekerti, teladan, memiliki karakter yang baik, berjiwa kstaria dan patriotik. Oleh sebab itu dapat dipastikan bahwa seorang wiraswastawan sejati selalu memegang etika sebaik-baiknya dalam berbisnis.&lt;br /&gt;Orang swasta yang berhasil mengumpulkan harta berlimpah, tidak dapat dikatakan sebagai wiraswastawan sejati, selama harta yang dikumpulkannya itu didapat dengan jalan yang tidak benar seperti kolusi, memeras, menipu, mafia-isme dan lain-lain aktivitas sejenis.&lt;br /&gt;Saya menemukan bahwa kadang-kadang terjadi salah pengertian tentang istilah “kewiraswastaan” yang merupakan terjemahan dari kata asing “entrepreneurship”. Ada pendapat bahwa kewiraswastaan tidak hanya terjadi dikalangan orang atau perusahaan swasta saja, tetapi juga ada dilingkungan perkoperasian, lingkungan pendidikan bahkan dilingkungan badan-badan usaha milik pemerintah (BUMN). Oleh karenanya, “entrepreneurship” bukan monopoli kelompok perusahaan swasta saja. Maka kemudian timbul istilah “wirausaha” yang dianggap lebih universal dalam penerapannya. Gejala ini berlanjut lebih spesifik lagi dengan munculnya istilah “kewirakoperasian” untuk para aktivis koperasi.&lt;br /&gt;Saya berpendapat, istilah “wiraswasta” tidak hanya menunjuk kepada orang-orang dari kalangan perusahaan swasta. Sebagai istilah yang mewakili kata “entrepreneurship”, penggunaannnya sudah sangat universal, sehingga sebetulnya tidak perlu lagi direvisi. Secara etimologi, sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Suparman Sumahamidjaya, arti kata wiraswasta bisa diuraikan lebih kurang sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wira = luhur, berani, jujur, ksatria.&lt;br /&gt;swa = sendiri.&lt;br /&gt;sta = berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, maksud dari kata wiraswasta adalah, mewujudkan aspirasi kehidupan berusaha yang mandiri dengan landasan keyakinan dan watak yang luhur. Lebih spesifiknya, kaum wiraswastawan sejati adalah mereka yang berani memutuskan untuk bersikap, berpikir dan bertindak secara mandiri, mencari nafkah dan berkarir dengan jalan berusaha di atas kemampuan sendiri, dengan cara yang jujur dan adil, jauh dari sifat-sifat keserakahan dan kecurangan.&lt;br /&gt;Definisi di atas tidak membatasi bahwa wiraswastawan harus seorang yang menjalankan perusahaan milik sendiri. Dengan demikian kewiraswastaan berlaku di lingkungan manapun, termasuk koperasi, BUMN, pengusaha kaki lima, makelar bahkan di lingkungan karyawan sekalipun. Sebab apa? Karena kaum profesional yang status formalnya adalah seorang karyawan, pada hakikatnya merupakan seorang wiraswastawan juga, karena mereka bekerja dengan menjual “leadership”, atas dasar kemitraan bisnis yang adil dan saling menguntungkan, dan bukan atas dasar keinginan untuk “menumpang hidup” semata. Para distributor dari sebuah perusahaan multi-level-marketing, sebagaimana agen-agen asuransi, juga merupakan pribadi-pribadi yang berusaha secara mandiri dan mereka berwiraswasta. Beberapa perusahaan yang telah maju ternyata juga didirikan oleh para mantan karyawan yang memiliki naluri kewiraswastaan. Hal ini menguatkan bukti bahwa nilai-nilai kewiraswastaan memang ada dimana-mana. Hanya saja, kewirawastaan ada yang kelihatan secara jelas, ada yang tersembunyi.&lt;br /&gt;Betapa pun saya menyambut baik munculnya berbagai istilah alternatif, karena hal tersebut dengan sendirinya akan memperkaya khasanah kosakata bahasa Indonesia yang masih memerlukan pembinaan-pembinaan lebih jauh. Sebab itu, dalam situs ini akan dipergunakan istilah “wiraswasta” dan “wirausaha” secara silih berganti, agar tidak menimbulkan kejenuhan.&lt;br /&gt;Beberapa aktivitas yang memiliki kandungan nilai kewirausahaan, baik yang jelas maupun yang tersembunyi bisa dicontohkan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). Pengusaha-pengusaha “kantoran” yang menjalankan perusahaan milik sendiri atau bermitra. Baik dari kelas pengusaha besar, menengah ataupun kecil.&lt;br /&gt;2). Pengusaha-pengusaha seperti pedagang kaki lima, warung nasi, restoran, toko klontong, bengkel, salon dan lain-lain.&lt;br /&gt;3). Pengusaha candak kulak, seperti bakul jamu, tukang bakso pikul/grobak, dan lain sebagaiya.&lt;br /&gt;4). Pengurus dan anggota-anggota koperasi.&lt;br /&gt;5). Tokoh-tokoh pemasaran, seperti para direktur dan manajer pemasaran, sales representative, business representative, salesmen/girl door to door.&lt;br /&gt;6). Para distributor multi-level-marketing serta para agen asuransi.&lt;br /&gt;7). Tokoh-tokoh profesi seperti dokter, pengacara, notaris, konsultan yang membuka praktik sendiri, sampai supir taksi.&lt;br /&gt;8). Mereka yang menjalankan bisnis sambilan, tanpa melecehkan pekerjaan utamanya sebagai karyawan.&lt;br /&gt;9). Para karyawan, yang sambil bekerja, berusaha mengumpulkan modal dan belajar untuk mempersiapkan diri menjadi pengusaha nantinya.&lt;br /&gt;10). Para makelar yang jujur.&lt;br /&gt;11). Kaum profesional yang menjual leadership pada perusahaan-perusahaan besar mulai dari yang menjabat sebagai presiden direktur, direktur atau manajer.&lt;br /&gt;12). Pekerja free-lance, instruktur-instruktur aerobik, pelatih olahraga yang bekerja waktu penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-114471425717873853?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/114471425717873853/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=114471425717873853' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/114471425717873853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/114471425717873853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2006/04/kewirausahaan-sebagai-sebuah-nilai.html' title='KEWIRAUSAHAAN, SEBAGAI SEBUAH NILAI'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-114464907208210657</id><published>2006-04-09T23:02:00.000-07:00</published><updated>2006-04-10T18:31:32.460-07:00</updated><title type='text'>KEPIAWAIAN MENJUAL</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/6656/2078/1600/gerobaksayur%20copy.0.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/6656/2078/200/gerobaksayur%20copy.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;KOLOM: ENTREPRENEURSHIP’S COMMON SENSE:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JUDUL : KEPIAWAIAN MENJUAL&lt;br /&gt;Februari 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menguasai seluk beluk produk yang dijual, merupakan suatu keharusan bagi setiap penjual. Masalah ini mirip dengan kondisi seorang guru, yang terlebih dahulu harus menguasai suatu ilmu, sebelum bisa mengajarkannya pada murid-murid. Barangkali, tugas penjual lebih berat dari pada tugas seorang guru, karena kalau guru cukup mengajar sesuatu menurut apa adanya, maka seorang penjual selain mengajar dan memperagakan, ia harus juga dapat memikat konsumen agar tertarik membeli produk yang ia jajakan.&lt;br /&gt;Seorang penjual tidak akan bisa menarik minat calon pelanggan, selama ia tidak mampu menjelaskan dengan baik semua hal-ihwal barang atau jasa yang ia tawarkan, atau ia tidak bisa menjawab setiap pertanyaan yang diajukan. Di atas itu, ia juga harus bisa mengalihkan pusat perhatian orang kepada faktor-faktor keunggulan produk secara maksimal, dan tanpa maksud menipu atau menyembunyikan hal-hal buruk, perlu diusahakan agar kesan orang terhadap faktor kelemahan produk bisa minimal. Perlu diingat, bahwa tidak ada yang sempurna didunia ini. Tidak ada gading yang tak retak. Produk yang baik adalah produk yang disiapkan secara teknis sedemikian rupa oleh pabrik, sehingga semua kelemahannya sudah diperhitungkan tidak akan merugikan pemakai, selama prosedur yang benar, diperhatikan baik-baik. Oleh karenanya, pengetahuan tentang produk perlu sekali dikuasai oleh semua penjual, agar dalam penyerahannya kepada konsumen tidak akan menimbulkan kesan ada unsur-unsur penipuan.&lt;br /&gt;Walaupun tujuan peragaan adalah untuk menonjolkan keunggulan, namun unsur-unsur kelemahan harus juga disampaikan secara jujur. Untuk mengatasi kelemahan produk, umumnya pabrik telah menyiapkan prosedur-prosedur, aturan-aturan pemakaian yang harus diikuti oleh konsumen. Sampaikanlah itu semua, ajarkan dan beri contohnya. Dengan jalan ini, penjual akan mendapat rasa penghargaan dari konsumennya sebagai orang yang jujur dan profesional.&lt;br /&gt;Ada beberapa penjual yang karena sifat malas dan ingin mudahnya saja, lantas mengabaikan keharusan memiliki pengetahuan produk. Ia tidak mau membaca spesifikasi barang, tidak juga mempelajari petunjuk pemakaian dan lain-lainnya, sehingga melakukan penjualan secara “amatiran”. Saat memberikan peragaan, ketika ditanya soal kelemahan produknya, ia cenderung menutup-nutupi seakan barang itu adalah barang paling sempurna didunia, atau ketika terdesak mencari jawaban, memberikan keterangan “ngawur” dan dikarang-karang sendiri. Akibatnya, calon pelanggan tidak respek terhadapnya. Mereka yang kritis malah curiga, jangan-jangan ini sebuah penipuan!&lt;br /&gt;Selanjutnya, untuk mengantisipasi adanya persaingan dari produk-produk sejenis, seorang penjual dituntut untuk mampu menggali segala nilai tambah yang mungkin ada dan tersembunyi didalam sebuah komoditi. Misalnya, kita dapat mengambil sebuah model, umpamanya buku. Dimata orang yang memiliki naluri kewiraniagaan, buku tidak hanya berguna untuk satu hal tertentu saja, melainkan memiliki keaneka ragaman manfaat, antara lain sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, sebagai bahan bacaan dikala senggang, sebagai barang dagangan bagi kaum pedagang buku, untuk sarana menulis dan menggambar, untuk hadiah kepada seseorang, sebagai hiasan didalam rumah, sebagai status sosial bagi orang-orang terpelajar, bisa sebagai bahan sumbangan ke perpustakaan umum, bahkan buku bekas pun bisa dijual atau diloakkan.&lt;br /&gt;Dengan berbekal kejelian melihat nilai tambah dari sebuah produk, seorang penjual akan bisa berhasil memenangkan sebuah persaingan yang amat ketat. Disini berlaku hukum relativitas atas “selling points” (faktor-faktor unggulan yang akan dijual) dari sebuah produk, yang mengatakan bahwa terjadi atau tidaknya sebuah transaksi penjualan, bukan ditentukan oleh kondisi produknya sendiri, melainkan oleh kelihaian siwiraniaganya. Yang dimaksud tentu kepiawaian wiraniaga tersebut dalam menggali selling points tadi. Ada pemeo yang mengatakan bahwa ditangan seorang penjual yang hebat, (maaf), kotoran manusia pun bisa berubah menjadi emas. Penulis melihat, pemeo ini bukanlah sekadar kata-kata kiasan yang terlalu dilebih-lebihkan, melainkan sebuah ungkapan yang benar terjadi secara fisik. Karena, ternyata ada seorang pengusaha yang berhasil sukses, dengan jalan berkecimpung dalam bidang “pertinjaan”, meliputi penyedotan, perbaikan dan pembuatan septic-tank, dan sebagainya. Tentu kita dapat menyimpulkan, bahwa sesungguhnyalah pengusaha tersebut mempunyai naluri bisnis yang amat tajam, sehingga bisa melihat dan memanipulasi nilai-tambah pada tinja untuk menjadi tambang emas bagi diri dan keluarganya !&lt;br /&gt;Jelas bahwa setiap benda didunia ini mempunyai nilai manfaat, walaupun barang itu dibuat untuk maksud tertentu, atau malah mungkin tidak pernah dirancang untuk apapun juga, seperti daun kering misalnya, ia tetap bisa digunakan dan memiliki nilai tambah. Dengan kesadaran inilah seorang penjual akan bisa berkiprah sebaik-baiknya, seakan benda apapun akan bisa dijual tanpa banyak masalah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-114464907208210657?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/114464907208210657/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=114464907208210657' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/114464907208210657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/114464907208210657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2006/04/kepiawaian-menjual.html' title='KEPIAWAIAN MENJUAL'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-114464828532616169</id><published>2006-04-09T22:50:00.000-07:00</published><updated>2006-04-10T04:10:45.186-07:00</updated><title type='text'>SINCEREPRENEUR</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SINCEREPRENEUR&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tahukan Anda bahwa saat ini banyak istilah-istilah berkembang di kalangan kewirausahaan di dunia, yang sangat berhubungan dengan istilah entrepreneur? Dari sekian banyak istilah itu, terdapat antara lain kata-kata: intrapreneurship, yang membahas soal-soal semangat kewirausahaan di lingkungan perusahaan, ultrapreneurship, yang menunjukkan mutu kewirausahaan yang istimewa dari seorang entrepreneur dan ada lagi yang namanya ecopreneur. Yang terakhir ini ditujukan pada pengusaha-pengusaha yang peduli terhadap kelestarian lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah dalam kaitannya dengan pembahasan di atas, saya ingin berpartisipasi kepada dunia wirausaha dengan menyumbang sebuah istilah lagi, yang saya sebut dengan: sincerepreneur. Dan yang perlu saya tekankan di sini adalah bahwa ini bukanlah sekedar istilah, melainkan sebuah konsep. Yaitu konsep hidup yang seyogyanya dapat dilakoni oleh kita semua yang mengklaim diri sebagai entrepreneur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sincerepreneur berasal dari kata “sincere” yang berarti “tulus dan jujur” digabung dengan penggalan kata “entrepreneur”. Saya rasa mudah dimengerti apa yang saya maksud dengan istilah itu, yaitu tentang pengusaha yang benar-benar bekerja dengan hati yang tulus dan jujur, serta tidak untuk kepentingan diri sendiri saja, melainkan untuk dan mendahulukan kepentingan orang banyak. Secara pendek, konsep “sincerepreneur” adalah, “sekali kita berhasil memenuhi kebutuhan dasar untuk kehidupan kita dan keluarga, maka sejak itu pula kita mulai bekerja untuk orang lain..” Apa artinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abraham Maslow telah membuat teori tentang kebutuhan manusia, yang disebut dengan segi tiga Maslow. Teori ini mengatakan bahwa kebutuhan manusia itu terdiri dari tingkatan-tingkatan. Yang pertama adalah kebutuhan dasar, meliputi makan, minum, pakaian dan lain sebagainya. Berikutnya adalah kebutuhan sosial, di mana orang perlu membangun hubungan-hubungan antar manusia guna menyempurnakan hajat hidupnya. Kemudian ada kebutuhan self esteem (pengakuan), aktualisasi diri serta kebutuhan spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konsep sincerepreneur, seorang usahawan mempunyai acuan bahwa setelah penghasilannya dapat menutupi kebutuhan dasar kehidupannya, artinya kebutuhan SPPK (sandang, pangan, papan dan kendaraan) nya terpenuhi, berikut kebutuhan keluarga seperti sekolah anak dan rekreasi ala kadarnya, maka sejak itu ia harus bekerja untuk kepentingan masyarakat. Uang lebih yang dimilikinya adalah milik masyarakat, yang harus ia gunakan untuk mendirikan perusahaan atau yayasan yang dapat menampung sebanyak-banyaknya orang bekerja. Meski pun ia tetap berhak menggunakan uangnya untuk apa pun yang ia anggap perlu, namun seyogyanya tidak menjurus kepada kepentingan pribadi yang berbau hura-hura, foya-foya, mengejar kenikmatan duniawi, atau pun yang bersifat mubazir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi seorang sincerepreneur, semua kegiatan yang berbau hura-hura dan mubazir, adalah dosa. Sebaliknya, semua kegiatan yang ditujukan atau ada kaitannya dengan membantu atau menolong orang lain, adalah wajib. Barangkali, hal demikian terdengar seperti mengada-ada dan sungguh sulit untuk dilakukan oleh sebagian besar orang. Tapi percayalah, orang perlu mengerti bahwa kebahagian dalam menolong orang lain adalah jauh lebih besar dari pada kebahagiaan dalam memperkaya diri sendiri. Kebahagian dalam berkorban adalah lebih nikmat dari pada kebahagiaan dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat egoisme. Kebahagiaan dalam bekerja untuk orang lain adalah kebahagiaan spiritual yang langgeng dan hakiki, sedangkan kebahagian bekerja untuk diri sendiri bersifat pemuasan nafsu sekejap yang tak pernah terpuaskan, bagaikan meminum air laut, makin diminum makin haus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, self esteem adalah hal yang perlu dihilangkan dari daftar prioritas, karena sincerepreneur bekerja tanpa pamrih, tidak mengejar popularitas. Aktualisasi diri merupakan wahana untuk berkontribusi sebanyak-banyaknya kepada umat manusia, sedangkan spiritual merupakan tahap akhir dari semua karyanya yang dipersembahkan kepada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri dari seorang sincerepreneur antara lain adalah tidak pernah mengumbar ekspresi kesuksesan dalam bentuk-bentuk kepemilikan yang berlebihan seperti rumah dan mobil mewah atau gaya hidup eksklusif yang ingin membedakan dirinya dari kebanyakan orang yang dianggap belum sukses. Meski pun secara ekonomi seorang sincerepreneur sudah sangat mapan, namun dalam penampilannya hanya sebatas citra seorang kelas menengah dengan berbagai fasilitas yang juga sebatas citra kalangan menengah. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-114464828532616169?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/114464828532616169/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=114464828532616169' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/114464828532616169'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/114464828532616169'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2006/04/sincerepreneur.html' title='SINCEREPRENEUR'/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20657680.post-114464795449833274</id><published>2006-04-09T22:41:00.000-07:00</published><updated>2006-04-09T22:45:54.526-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;                              SEBUAH PESAN KEPADA WIRAUSAHAWAN INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Di era 1970-an, TVRI pernah menyiarkan siaran pembinaan kewirausahaan di bawah asuhan seorang tokoh bernama DR. Suparman Sumahamidjaya. Wah, inilah acara kegemaran saya, yang tidak pernah saya lewatkan setiap kali acara tsb. ditayangkan (setiap hari Selasa setiap minggu).  Kalau tidak salah, itulah pertama kalinya --  dengan restu pemerintah – nilai-nilai kewirausahaan ditanamkan ke dalam benak masyarakat Indonesia melalui acara televisi. Tujuannya jelas, bahwa pemerintah menyadari keterbatasannya dalam hal penyediaan lapangan kerja, sehingga, dengan kampanye kewiraswastaan, masyarakat diharapkan dapat menolong dirinya sendiri secara ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa itu, istilah yang dipakai secara umum adalah “wiraswasta”, sedangkan istilah “wirausaha” baru muncul beberapa waktu kemudian, dan populer sampai sekarang. Menurut DR. Suparman, kata “wiraswasta” adalah terjemahan dari sebuah kata dalam bahasa asing (Perancis), “entrepreneur”, yang bila diuraikan akan menjadi seperti ini:&lt;br /&gt;                        wira, berarti berani, jujur, tulus dan berbudi luhur&lt;br /&gt;                        swa, artinya “sendiri”&lt;br /&gt;                        sta, maknanya “berusaha”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, kata-kata itu melukiskan figur seseorang yang menjalankan usaha secara mandiri, dilandasi sifat dan sikap yang luhur. Dengan demikian, seorang pengusaha, baik “wira”-swasta, mau pun “wira”-usaha, seharusnya memiliki sifat-sifat yang baik dan terpuji.  Tidak berkolusi dengan pejabat, tidak memanipulasi takaran/timbangan, tidak serakah, tidak menyikut orang lain dan tidak mata duitan.  Yang terakhir inilah yang sebenarnya ingin saya bahas dalam kesempatan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperempat abad berlalu setelah era DR. Suparman, perkembangan kewirausahaan sungguh sangat menggembirakan.  Meski pun pada kenyataannya, penerimaan Pegawai Negeri Sipil (PNS) masih diminati pelamar yang datang berduyun-duyun, namun di balik itu, ada fenomena yang bagi saya benar-benar mencengangkan.  Sekarang ini, banyak sekali angkatan muda yang berminat, bahkan sangat terobsesi menerjuni bidang kewirausahaan.  Kursus-kursus kewirausahan tumbuh bak jamur di musim hujan, bisnis waralaba terus merebak, tidak saja yang global, tapi terutama sekali yang lokal bertebaran di mana-mana.  Klub-klub dan milis-milis entrepreneur juga bermunculan. Terlebih lagi, ternyata sudah banyak tokoh-tokoh muda Indonesia yang menjadi pakar bisnis, mentor-mentor kewirausahaan, konsultan-konsultan entrepreneurship yang naik ke panggung-panggung seminar, pelatihan serta lokakarya yang dengan begitu brilliannya membawakan topik-topik pembicaraan tentang kiat-kiat hidup sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang saya kagum dan senang sekali dengan kenyataan bahwa kaum muda Indonesia sudah dapat berekspresi sedemikian rupa, cerdas dan bijak.  Semoga fenomena ini tidak semata-mata fenomenal, seperti kata orang dulu, hangat-hangat tahi ayam, tapi akan terus berkembang dan bertumbuh. Makin banyak tokoh wirausaha yang dilahirkan, dan makin banyak pula pengusaha-pengusaha “bersih” yang muncul bahu-membahu memperkokoh ketahanan ekonomi bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Motivasi ala Amerika&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hanya ada satu hal yang masih mengusik perasaan saya.  Dari berbagai pembicaraan di seminar, di pembicaraan sehari-hari bahkan di milis, terlalu sering saya mendengar ungkapan “bagaimana menjadi kaya”.  Apalagi setelah nama Robert Kiyosaki melambung, maka pemeo “retired young, retired rich” seakan sudah menjadi jargon kalangan muda yang menamakan diri sebagai “entrepreneur”.   Apa benar seorang entrepreneur sejati, memotivasi diri hanya sebatas  “retired young, retired rich”? Pensiun muda pensiun kaya?  Setelah itu apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang pengamat kewirausahaan, saya melihat bahwa wacana profesionalisme, kewirausahaan serta kiat-kiat hidup sukses banyak didominasi oleh tokoh-tokoh yang berasal dari Amerika.  Mereka inilah yang banyak mencuatkan kata-kata tentang kekayaan, tentang kelimpahan uang, rumah mewah sampai kapal pesiar dan pesawat pribadi.  Tiga puluh tahun yang lalu saja, orang sudah kenal dengan yang namanya Napoleon Hill. Tokoh ini sangat masyhur dengan bukunya “Think and Grow Rich” (Berfikir dan Menjadi Kaya). Seorang tokoh lain,  Tyler G. Hicks, dalam bab pertama bukunya “How To Start Your Own Business..”menulis:  “Ketahuilah Nikmat Menjadi Kaya. Hanya Dengan Bekerja Di Rumah.dst..” serta bercerita bagaimana dia menghabiskan waktu liburnya di atas kapal pesiar.   Anthony Robbins dalam “Awaken The Giant Within” juga menyinggung soal kekayaan materi berupa pesawat pribadinya.  Lantas muncul lagi Robert Kiyosaki yang mengajarkan bagaimana menjadi kaya dengan jalan menyuruh uang bekerja untuk kita.  Lalu populerlah pemeo yang tadi: “retired young, retired rich”..!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak mengatakan bahwa menjadi kaya itu salah.  Bahkan dalam banyak hal, menjadi kaya itu jauh lebih baik dari pada menjadi miskin. Saya hanya khawatir, bahwa kita sedang berbicara kepada publik di Indonesia yang sedang parah-parahnya terjangkit demam konsumerisme, materialisme serta korupsi  Bukan tidak mungkin, penghamburan kata-kata tentang kekayaan serta motivasi berlebihan tentang kekayaan akan menjadikan orang terbius dengan angan-angan yang melambung, sehingga suatu saat, sewaktu sadar bahwa kekayaan itu tidak datang dengan segera, akhirnya mereka mengambil jalan pintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah tidak ada hal lain yang lebih ideal untuk memotivasi orang agar mau bekerja keras?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya perlu diperbandingkan, mengapa pembicara-pembicara Amerika menggunakan isu kekayaan sebagai motif, dan bagaimana dampaknya bila hal yang sama diterapkan di Indonesia.  Betapa pun Amerika jelas berbeda dengan Indonesia.  Negeri Paman Sam adalah negeri termakmur di dunia, negara terkuat yang didukung oleh sumber daya manusia paling berkualitas di seantero jagat.  Tingkat kemiskinan sudah bisa dianggap nol.  Oleh sebab itu, tidak akan ada lagi wacana yang menarik publik Amerika, apabila yang dibicarakan hanya sekadar tentang bagaimana keluar dari perangkap kemiskinan, atau bagaimana mengatasi status pengangguran dengan jalan menjadi wirausahawan.  Jelas itu tidak akan menarik lagi.  Harus dicarikan hal lain yang lebih bombastis. Maka kekayaanlah yang dianggap cukup “menjual”,  karena dengan menjadi kaya barulah orang di Amerika merasa bermakna dan “terpandang”.  Di suatu negeri yang rata-rata warganya sudah mapan dalam hal ekonomi, menjadi kaya (raya) hanyalah merupakan refleksi sebuah prestasi. Tidak ada beban moral atas kekayaan itu, karena semua orang di sekitar juga sudah hidup berkecukupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan di Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini saya agak cemas, melihat betapa para motivator kita hanya mengedepankan isu kekayaan, kenikmatan hidup duniawi yang egoistis bahkan menjurus hedonis, serta mudahnya menjadi kaya, tanpa perlu kerja keras.  Adakah kehidupan ini benar-benar semudah membalikkan tangan?  Di tengah-tengah hiruk-pikuknya isu entrepreneurship sekarang ini, beberapa mentor, dalam usaha memotivasi para peminat bisnis, bahkan menggunakan slogan yang tidak tanggung-tanggung: “Kalau ingin kaya, jangan kerja keras, tapi jadilah pemalas..!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, beliau-beliau ini secara tersirat ingin menganjurkan apa yang disebut dengan “smart work”, kerja cerdas yang memungkinkan efisiensi waktu, biaya dan energi demi pencapaian target dalam bingkai waktu yang telah direncanakan.  Dan bukannya “hard work” versi buruh pabrik yang nyaris tidak pernah merasakan manisnya madu kesuksesan, karena kesuksesan itu telah menjadi hak milik abadi dari para majikan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, slogan tetaplah slogan. Kalimat-kalimat pendek berisiko menyebabkan salah kaprah.  Misalnya, menjadi pemalas itu tidak perlu diajarkan atau dianjurkan. Sifat malas memang sudah “bakat alam” semua manusia, apalagi orang Indonesia, termasuk saya. Jadi rasanya tidak perlulah menganjurkan orang menjadi pemalas.  Kalau slogan lain mengatakan “Jadilah Kaya Hanya Dengan Bekerja Di Rumah”, maka kemungkinan besar orang akan menyerap kata-kata “kaya”nya saja, tapi mengabaikan kata “bekerja”. “Bekerja Di Rumah” akan menjadi berarti “Berleha-leha Di Rumah”. Pada saat sekian lama berleha-leha di rumah dan kekayaan tidak kunjung datang, maka jalan pintas pun menjadi pilihan berikut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak contoh tentang orang-orang yang frustasi karena kepingin cepat kaya, lalu mengambil jalan pintas.  Antara lain, bagaimana beberapa pengusaha berubah menjadi pembobol-pembobol bank, sebagian lagi mengedarkan bahkan membangun pabrik narkotika, penipu-penipu melalui sms hadiah, para birokrat yang menjalankan korupsi berjamaah dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kembali kepada slogan “retired young, retired rich”, hendaklah kita bertanya kepada diri sendiri, sudah sedemikian egoisnyakah kita?  Di saat-saat bangsa dan negara sedang ambur-adul dengan rakyat miskin dan busung lapar yang masih begitu banyak bertebaran di seluruh pelosok tanah air, tegakah kita berfikir untuk menjadi kaya-raya, pensiun muda lalu pergi keliling dunia dengan kapal pesiar dan pesawat pribadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali ada baiknya kalau kita mengambil acuan yang lebih sesuai.  Kalau kita harus ber-“xenophilia” (gandrung dengan segala sesuatu yang berasal dari negeri asing), maka kita dapat menemukan pebisnis-pebisnis yang sangat ideal, yang pengarahan-pengarahannya lebih sesuai dengan kondisi Indonesia, antara lain Kim Woo Chong, CEO sekaligus pendiri dari imperium bisnis asal Korea, Daewoo.  Atau Akio Morita, salah satu pemilik perusahaan raksasa dari Jepang,  yaitu Sony.  Kalau harus nasionalis, kita akan dapat menemukan pengusaha dengan idealisme tinggi, tidak lain adalah Thayeb M. Gobel, pendiri PT National Gobel. Dan kalau kita harus  berbicara secara sedikit spiritual, kita juga akan bisa menyimak apa yang dikatakan oleh Mahatma Gandhi, atau meneladani Nabi  yang juga pengusaha sekaligus penguasa, yaitu Muhammad SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa kata mereka dan bagaimana cara mereka memotivasi orang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tambahkanlah Sedikit Idealisme Dalam Berbisnis&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Idola saya dalam dunia usaha, adalah Kim Woo Chong, pendiri Daewoo.  Kim tidak pernah merekomendasikan aktivitas yang bersifat hura-hura atau hedonisme.  Jangankan berlibur dengan menikmati nyamannya kapal pesiar, bermain golf pun tidak pernah ia lakukan, meski perangkat golf yang paling canggih dia punya. Padahal, umumnya pegusaha pasti memanfaatkan permainan ini paling tidak sebagai sarana lobi.  Begitu juga nonton bioskop, nyanyi di karaoke, minum-minum di pub dan lain sebagainya, pantang bagi Kim Woo Chong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua aktivitas yang bersifat hura-hura diharamkan oleh Kim.  Karena apa?  Ia berpendapat, meski memiliki uang triliunan rupiah, ia tidak berhak menggunakannya secara semena-mena.  Apalagi untuk kegiatan yang tidak jelas manfaatnya.  Setiap sen dari uang yang dikeluarkan, harus dapat dipertanggungjawabkan, karena semua uang tersebut berasal dari jerih payah serta tetesan keringat bayak orang. Mulai dari karyawan, buruh, mandor, manajer, pemasok barang, sampai pelanggan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kim juga tidak suka akan wacana “pensiun muda, pensiun kaya”.  Ia sangat kecewa ketika suatu kali bertemu dengan seorang pemuda penyandang gelar MBA, yang menyatakan tidak sanggup bekerja di Daewoo karena takut kerja keras. Bahkan ketika ditanya apa cita-citanya, sang pemuda menjawab bahwa ia ingin bekerja di perusahaan asing yang mau memberinya gaji besar tanpa harus kerja keras.  Setelah beberapa tahun, dengan uang gaji yang dikumpulkannya, ia akan berhenti kerja, pensiun, lalu bersama pacarnya akan membuka kafe dan hidup santai, tenang dan tenteram sepanjang hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap seperti ini, menurut Kim, adalah cerminan dari sikap mental “melempem dan egois” yang ditunjukkan oleh tipikal generasi muda Korea, yang terlanjur terkena “sindrom kenyamanan”, sebagai dampak kemajuan industrialisasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya dari egoisme, seharusnya setiap generasi memiliki semangat pengorbanan, bekerja demi kesejahteraan banyak orang dan terutama sekali, demi kesejahteraan generasi berikutnya.  Itulah kunci kenapa Amerika menjadi sebuah negeri yang benar-benar makmur dengan rakyatnya yang sejahtera.  Generasi pendahulu merekalah yang telah bekerja keras membangun Amerika dari sejak ditemukannya, diteruskan oleh generasi-generasi berikutnya, sampai terwujud Amerika yang kaya raya seperti sekarang ini.  Itulah idealisme yang seyogyanya dikobarkan oleh para motivator bisnis di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua usaha atau perusahaan yang baik dan ideal, umumnya dimulai dari sebuah idealisme.  Bukan sekadar untuk menjadi kaya sendiri untuk kemudian berfoya-foya keliling dunia dan menghabiskan waktu di klub-klub malam.  Mari kita lihat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1)      DAEWOO:&lt;/strong&gt;   Kim Woo Chong memulai usahanya dengan satu acuan tentang bagaimana mengatasi penderitaan bangsanya seusai Perang Korea di mana negara tersebut jatuh ke dalam kondisi ekonomi yang benar-benar hancur.  Ia tidak memvisualisasikan dirinya kelak menjadi orang kaya, tapi sebaliknya ia mencita-citakan bangsa dan negara Korea yang bisa mengejar ketinggalannya dalam bidang-bidang ekonomi dan teknologi, terhadap negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.  Untuk bisa mengejar ketinggalan itu, ia menyimpulkan bahwa orang Korea harus mampu bekerja dalam jumlah jam kerja  yang 2 kali lebih banyak dari jam kerja orang Amerika. Kim kemudian mencontohkan, bagaimana ia sendiri bekerja setiap hari mulai dari jam 5 pagi sampai jam 9 malam, sementara orang lain bekerja mulai dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2)      SONY CORP:&lt;/strong&gt;   Akio Morita, memutuskan untuk mendirikan perusahaannya, Sony, dengan satu motivasi yang muncul akibat melihat bagaimana hancur luluhnya Jepang setelah dibom atom oleh Amerika.  Peristiwa tersebut merupakan indikator bahwa bangsa Jepang ternyata masih kalah di segala bidang oleh Amerika, oleh karenanya, bangsa Jepang harus menebus kekalahannya itu dengan bekerja dan belajar sungguh-sungguh.  Tidak satu literatur pun yang menceritakan bahwa Akio Morita berkhayal untuk menjadi orang kaya yang pelesiran ke sana ke mari keliling dunia.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3)      PT NATIONAL GOBEL:&lt;/strong&gt;  Thayeb Mohammad Gobel, tadinya adalah seorang karyawan yang bekerja untuk orang lain.  Tapi hati kecilnya berkata lain, bahwa ia ingin memiliki usahanya sendiri.  Niat dan cita-citanya itu segera dia cetuskan, segera setelah melihat bagaimana banyak orang di Jakarta mandi, mencuci bahkan berkumur di kali Ciliwung yang airnya begitu kotor dan keruh, jauh dari nilai-nilai kesehatan. Ia insyaf itulah gambaran kemiskinan rakyat Indonesia dan ia berbulat tekad untuk berkontribusi mengatasi penderitaan banyak orang melalui perusahaan yang didirikannya, PT National Gobel.&lt;br /&gt;4&lt;strong&gt;)      MAHATMA GANDHI:&lt;/strong&gt;   adalah seorang tokoh politik sekaligus spiritual di India.  Ia memberikan pengarahannya kepada masyarakat banyak tentang nilai-nilai sebuah aktivitas (kerja), yang jauh lebih berharga daripada uang (hasil kerja):” Kebahagian sejati itu terletak pada aktivitas kerja, bukan pada hasil kerja itu sendiri”..&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;5)      NABI MUHAMMAD:&lt;/strong&gt;  Nabi Muhammad adalah seorang pedagang atau pengusaha, dan dalam perjalanan hidupnya ia bahkan menjadi seorang Khalifah (Kepala Negara).  Sebagai seorang pemimpin yang berkuasa atas seluruh Jazirah Arab, maka kekayaan beliau sudah sulit untuk diukur, saking kayanya. Tapi apa yang dijalankan beliau dalam hidupnya adalah, ia hanya tinggal di sebuah rumah gubuk sederhana, tidur di atas selembar tikar sederhana pula, serta makan ala kadarnya. Jauh dari yang namanya hura-hura dan pemanjaan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks apa yang saya paparkan di atas, maka saya ingin sekali mengajak saudara-saudara, teman-teman dan rekan-rekan para entrepreneur, calon entrepreneur, para mentor dan pelatih bisnis, instruktur pelatihan kewirausahan, para pembicara seminar dan lokakarya, agar seyogyanya dapat me-review isu-isu motivasinya yang selama ini mungkin hanya sebatas pada kekayaan materi semata.  Sebab, isu kekayaan berisiko menimbulkan berbagai dampak yang kurang baik, antara lain orang menjadi egoistis dan kurang kepedulian pada sesama.  Karena, bukankah kalau seseorang ingin menjadi kaya, harus ada pula mereka yang miskin?  Di samping itu, motivasi kekayaan biasanya bersifat rapuh, karena, jika setelah sekian waktu bekerja dan ternyata kekayaan tidak kunjung datang, maka orang akan mudah putus asa dan malas bekerja lebih jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang terakhir, orang akan terperangkap dalam sebuah gaya hidup yang disebut “Money Centered Life”, kehidupan yang berpusat kepada uang.  Pada saat uang meninggalkan seseorang, maka hancur pulalah hidup orang tersebut.  Sudahkan Anda pernah membaca kisah tentang akhir kehidupan yang tragis dari orang-orang super kaya Amerika yang terjebak dalam “Money Centered Life”, seperti Charles Schwab, Jessy Livermore,  Ivan Krueger, Samuel Insull, Howard Hopson, Arthur Cotton, Richard Whitney, Leon Frasier, dan Albert Fall? Kalau belum dan Anda tertarik untuk membacanya, Anda bisa menghubungi saya dan saya akan mengirimkan 1 kopi dari cerita tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini saya persembahkan kepada segenap bangsa Indonesia tidak dengan maksud apa-apa, selain daripada panggilan jiwa untuk peduli kepada nasib bangsa ini, nasib sebagian besar saudara-saudara kita yang masih diterpa berbagai penderitaan berupa kemiskinan, kemelaratan, kelaparan serta kebodohan.  Marilah kita bersama-sama bekerja keras membangun negeri tercinta ini melalui jalur apa saja sesuai dengan kemampuan kita masing-masing, terutama para rekan sejawat yang menyatakan diri sebagai entrepreneur, bekerjalah terus guna meraih kesejahteraan yang maksimal dan merata, yang bisa dinikmati semua warganegara secara adil.  Lupakanlah wacana untuk menjadi kaya sendiri, dan lupakanlah semua khayalan tentang pensiun muda, karena wirausahawan tidak mengenal kata pensiun. Selama hayat dikandung badan, selama itu pula kita bisa berkontribusi pada orang banyak.  Lupakan pula semua kesenangan duniawi, pelesiran dan hura-hura.  Jangan lakukan itu selama masih sangat banyak saudara-saudara kita yang miskin dan kelaparan, yang anak-anaknya kurus kering kurang gizi dan tidak mampu bersekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SALAM WIRAUSAHA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusman Hakim&lt;br /&gt;Pengamat Kewirausahaan&lt;br /&gt;&lt;a href="mailto:rusman@gacerindo.com"&gt;rusman@gacerindo.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mobile: 0816.144.2792&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20657680-114464795449833274?l=rusmanhakim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/feeds/114464795449833274/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20657680&amp;postID=114464795449833274' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/114464795449833274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20657680/posts/default/114464795449833274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rusmanhakim.blogspot.com/2006/04/sebuah-pesan-kepada-wirausahawan.html' title=''/><author><name>Rusman Hakim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10416964444624397782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://www.gacerindo.com/_images/instruktur-foto-rusman.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry></feed>
