Thursday, May 21, 2009

4 DIMENSI USAHAWAN DALAM MENANGGAPI PERUBAHAN


4 DIMENSI USAHAWAN DALAM MENANGGAPI PERUBAHAN

Menurut catatan saya, sedikitnya ada 4 jenis dimensi ruang di mana para usahawan harus mampu berkiprah. Pada 4 dimensi ruang itu pula , para usahawan membekali diri dengan 4 jurus dasar sebagai solusi untuk bertahan dalam kehidupan yang sewaktu-waktu bisa berubah.

Hal ini sebenarnya tidak melulu tentang sepak terjang para pengusaha atau pebisnis, melainkan juga mencakup semua kelompok sosial yang bermental proaktif, tangguh, tanggap serta trengginas terhadap setiap perubahan yang mungkin terjadi. Empat dimensi itu adalah sebagaimana diuraikan di bawah ini.

(1)
Pada keadaan pasar (ekonomi) normal, solusinya adalah nilai tambah
atas hal-hal teknis.

Apabila keadaan sedang tidak menunjukkan ketidakstabilan, tidak juga ada gonjang-ganjing dalam masalah politik, ekonomi, sosial atau lainnya, maka solusi untuk tetap eksis di blantika kehidupan berbisnis, biasanya dilakukan dengan meningkatkan nilai tambah atas hal-hal teknis pada produk, baik barang mau pun jasa. Sebab apa?

Sebab dalam dimensi ruang seperti ini, yang memegang peranan utama adalah memang hal-hal yang menyangkut kualitas produk, teknologi, ketersediaan bahan baku, ketersediaan SDM dan lain sebagainya.

Sampai kepada tingkat persaingan yang intensitasnya masih termasuk normal, para usahawan harus berkonsentrasi pada masalah bagaimana membuat nilai tambah yang memungkinkan produk mereka menjadi lebih unggul terhadap para pesaingnya.

(2)
Pada keadaan pasar yang ambur-adul, solusinya adalah pergeseran citra.

Ketika tingkat persaingan sudah meninggi sedemikian rupa hingga menciptakan kondisi tidak sehat, maka pasar berubah menjadi apa yang oleh Chan Kim dan Renee Mauborgne disebut sebagai “Lautan Merah” yang berdarah-darah. Di sini semua orang menderita, pasar yang buruk mengakibatkan usaha keras dan biaya besar hanya memberikan sangat sedikit hasil yang tidak sepadan dengan ongkos yang dikeluarkan.

Solusinya adalah dengan melakukan pergeseran citra atas produk, antara lain dengan merubah definisi usaha, kemasan serta kategori produk, jangkauan segmen pasar, serta berbagai keunggulan kompetitif yng sangat spesifik. Dengan jalan ini, sang usahawan bisa menciptakan sebuah pasar baru yang bebas dari persaingan tak sehat. Dengan kata lain ia telah menciptakan “Samudera Biru” yang aman sentosa (Kim dan Renee: “Blue Ocean Strategy”).

Cara lainnya adalah dengan mengeksplorasi berbagai ceruk pasar yang baru atau “niche markets”, yaitu celah pasar yang belum tergarap di tengah-tengah pasar yang sudah ada.

(3)
Pada situasi krisis yang parah di suatu lokasi, solusinya adalah pergeseran geografis.

Adakalanya, sebagai akibat kebijakan pemerintah yang kurang adil, langkanya sumber-sumber daya ekonomi, atau faktor-faktor force majeur seperti huru-hara, bencana atau bahkan perang, suatu kawasan berubah menjadi daerah krisis yang “tak layak bisnis”.

Untuk mengatasi hal itu, para usahawan dan juga berbagai fihak yang memiliki nalar dan daya juang, umumnya akan mengambil jalan keluar dengan melakukan pergeseran atau perpindahan geografis. Termasuk dalam hal ini fenomena “pengusaha perantauan” yang merantau dari daerah asal mereka ke daerah lainnya, urbanisasi penduduk dari pedesaan ke perkotaan, dan juga pengungsian dari satu negeri ke negeri lainnya. Bukti empiris memperlihatkan contoh, bahwa pengungsi Vietnam yang menghebohkan beberapa waktu lalu, sebagian besar merupakan kaum pengusaha di negeri asalnya.

Dengan analogi yang sama, sejarah memunculkan fenomena sejenis pada peristiwa eksodusnya kaum Yahudi yang kemudian mendirikan negara Israel, hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah serta hijrahnya para pejuang RI dari Yogyakarta pada tahun 1949.

(4)
Pada krisis global, solusinya adalah: “Fasten your belt!”, benarkah?

Krisis global tentunya mencengkeram hampir seluruh kawasan di dunia. Oleh sebab itu krisis ini tidak tepat untuk diatasi dengan jurus-jurus seperti disebutkan di atas. Satu-satunya jalan keluar yang selama ini dianjurkan oleh pakar ekonomi dan dianut oleh masyarakat di hampir semua negara adalah dengan jalan “fasten your belt” alias “kencangkan ikat pinggang Anda”.

Maka tidak heran kalau kita lihat pada masa krisis seperti sekarang, semua orang berusaha menghemat, pengeluaran benar-benar diawasi dan dikendalikan, tidak ada yang mau memulai transaksi jika tidak betul-betul bisa dipertanggungjawabkan.

Namun, jarang yang menyadari bahwa dengan bersikap demikian ketat, sebenarnya kita telah mengundang krisis yang lebih hebat lagi. Para pengusaha cerdas dan para ekonom yang arif mengkhawatirkan bahwa justru dengan sikap menahan diri yang berlebihan, perputaran roda perekonomian akan semakin berat. Dan sikap seperti itu pula yang akan menyebabkan masa krisis akan menjadi semakin panjang dan lama.

Sangat mengesankan apa yang dilakukan oleh Konosuke Matsushita pada era krisis tahun 1929, di mana ia dengan keyakinan penuh justru lebih meningkatkan pengeluaran dan transaksi-transaksi bisnisnya. Ia melatarbelakangi aksinya itu dengan kata-kata: “Jika semua orang menahan uangnya dan tidak bertransaksi, maka kehidupan ekonomi akan mati..”

Nah, sejalan dengan apa yang dilontarkan oleh Pak Matsushita, ijinkan saya menghimbau agar marilah kita hadapi dan atasi krisis global ini secara bersama dan serentak, dengan jalan tetap bertransaksi secara wajar. Harapannya adalah agar dalam waktu tidak terlalu lama lagi badai akan berlalu, dan kehidupan akan kembali membahagiakan kita semua. Amin.


Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
Gacerindo Entrepreneurial Leadership Center
E-mail: rusman@gacerindo.com
Portal: http://www.gacerindo.com/
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com/
Web: http://www.pempekpatrol.com/
Mobile: 0816.144.2792



















Friday, May 15, 2009

MENYASAR ATAU KESASAR?




MENYASAR ATAU KESASAR?

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat kehormatan untuk berwawancara di studio Radio Pelita Kasih (RPK-FM) Jakarta. Seperti biasa, topik untuk saya adalah soal pembahasan bisnis dan kewirausahaan. Saya berperan sebagai narasumber, sedangkan mitra acara RPK adalah Ir. Novry Sabmen Simanjuntak, Pemimpin Umum dan Perusahaan Majalah “AdInfo”, sebuah media bisnis kawasan yang berlokasi di Jakarta Barat.

Setelah saya menjawab sejumlah pertanyaan, host penyiar radio RPK mengalihkan pertanyaan pada Novry. Sebuah pertanyaan terlontar: “Pak Novry, sebagai sebuah media dalam bentuk majalah kawasan, sebenarnya apa yang menjadi tujuan utama AdInfo dalam berbisnis?”

Novry menjawab dengan sigap kira-kira seperti ini: “Kami menyasar para pengusaha yang beroperasi di daerah Jakarta Barat…bla..bla..” dan sang penyiar tampak puas dengan jawaban beliau.

Dasar otak saya yang terlalu liar (yang kadang-kadang saya sendiri sulit mengendalikannya), di tengah hujan pertanyaan baik dari host mau pun dari masyarakat pendengar RPK, masih “sempat-sempatnya” terpikir oleh saya: “Pasti yang dimaksud Novry dengan ‘menyasar’ adalah ‘membidik sasaran’, bukannya ‘kesasar’ yang berarti ‘tersesat’..”

Dewasa ini memang cukup banyak kata-kata yang terasa baru di telinga saya, dan biasanya orang medialah yang paling cepat menyerap serta mengaplikasikannya di lapangan. Saya salut terhadap mereka, karena dari media jugalah saya pertama kali berkenalan dengan kata-kata semacam “mengejawantah”, “menengarai”, “mengunduh”, “mengunggah” dan lain sebagainya.

Namun sempat juga saya tersenyum sendiri, membayangkan kalau ada orang menerjemahkan kalimat Novry menjadi: “Kami kesasar ke para pengusaha....”.

Bahasa Indonesia memang unik, seunik bangsa ini yang terdiri dari beribu pulau, bermacam budaya, beragam warna kulit, berbagai adat istiadat, berjenis-jenis agama, dan beratus bahasa serta sub bahasa, mulai dari bahasa nasional Bahasa Indonesia, bahasa daerah, sampai pun bahasa prokem (preman) juga ada.

Untuk alasan itulah, saya menjadi cinta Indonesia, cinta bangsa ini berikut segala problematika dan suka duka yang tak dapat disamai oleh bangsa lain..

Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
Email: rusman@gacerindo.com
Web: http://www.gacerindo.com/, http://www.pempekpatrol.com/
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com/
Mobile: 0816.144.2792

Sunday, January 25, 2009

WORK WITH, NOT WORK FOR..!


WORK WITH, NOT WORK FOR..!

Minggu, 18 Januari 2009

Pada hari pertama menjalani karir kemandirian di dekade 1990an, saya datang ke kantor pusat klien saya -- salah satu bank pemerintah terbesar -- untuk menandatangani kontrak sebagai konsultan independen.

Waktu itu, manajer SDM ternyata masih mengikuti rapat, maka ia memerintahkan seseorang untuk menyiapkan lembar kontrak untuk saya. Seorang staf yang terlihat amat lugu tergopoh-gopoh menyerahkan seberkas dokumen. Ternyata yang dia serahkan keliru, karena yang dibawanya adalah draf blanko perjanjian kerja untuk pegawai kontrak. Namun karena ingin tahu, saya sempatkan juga untuk membaca draf tersebut. Apa saja sih, yang dibahas dalam perjanjian kerja pegawai kontrak, pikir saya.

Baru membaca paragraf pertama, saya sudah surprised. Di situ tertulis: “PARA PIHAK: ..BANK XYZ….untuk selanjutnya disebut PEMBERI KERJA….. … si Polan,…untuk selanjutnya disebut PENCARI KERJA…”

Saya merasa aneh dengan kata-kata “pemberi kerja” dan “pencari kerja” itu. Kenapa tidak digunakan sebutan “Pihak Pertama” dan “Pihak Kedua” saja, sebagaimana lazimnya tertulis pada sebuah perjanjian kerjasama, MoU atau sejenisnya. Sungguh exposure pada istilah “pencari kerja” itu bernada melecehkan.

Nah, kalau pada paragraf pertama saja, istilah yang dipakai sudah terasa vulgar, maka jangan ditanya paragraf-paragraf selanjutnya. Nyaris semua pasal bertendensi menekan dan memarginalkan posisi, harga diri serta jaminan yang akan diterima oleh pegawai kontrak.

Saya menyerahkan kembali dokumen tersebut sambil berkata: “Pak, maaf ya.. Ini salah, bukan draf kontrak ini yang untuk saya. Saya bukan pencari kerja. Bank ini yang justru mencari saya untuk jadi konsultan. Oleh karena itu, tolong sampaikan pada pak Manajer supaya dibuatkan yang baru dan khusus untuk saya..”

Sang staf terperangah, dan sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu, saya susulkan kata-kata: “Bilang juga pada beliau, bahwa yang tanda tangan harus Pak Direktur. Saya keberatan kalau yang tanda tangan kontrak saya Manajer SDM..”. Setelah itu saya pergi meninggalkan sang staf yang masih salah tingkah.

Kenapa saya berani berlaku searogan itu? Tidak, saya bukan arogan. Itu hanya manuver entrepreneurial dalam upaya menaikkan posisi tawar saya, sekaligus pindah ke kuadran yang lebih bernuansa kemandirian. Nothing to lose.., karena saat itu saya masih bekerja di salah satu perusahaan IT paling bergengsi di Indonesia, saya tidak khawatir apa-apa. Kontrak jadi ditandatangani syukur, tidak pun tidak masalah.

Seperti telah saya duga, esok harinya pagi-pagi sang Manajer SDM sudah menelpon. “Halo, Pak Rusman? Maaf kejadian kemarin Pak. Hari ini Bapak ditunggu Pak Direktur untuk tandatangan kontrak, dengan format khusus untuk Bapak sebagai konsultan independen..”

Anda tahu kenapa saya begitu yakin? Karena 2 hari sebelumnya saya sudah berhasil “menaklukkan” 3 orang konsultan bule dalam sebuah paparan. Saya kebetulan mampu menunjukkan pada mereka, titik-titik penting yang menyebabkan proyek IT mereka macet selama 2 tahun. Bule-bule ini langsung “jatuh hati” pada saya, dan mendesak agar saya segera bergabung dengan mereka di bank pemerintah itu. Karena mereka berasal dari perusahaan konsultasi internasional ternama, masing-masing dari Booz, Allen and Hamilton (BAH), Harvard Institute for International Development (HIID) serta Comprehensive Marketing System (CMS) yang direkrut Depkeu, saya percaya mereka akan mampu “memaksa” Direksi Bank untuk memakai jasa saya. Dan itu terbukti..!

Namun, bukan itu point saya. Ada yang lebih penting. Dari apa yang saya ceritakan di atas, setidaknya ada 3 bahan kajian yang perlu mendapat perhatian, yaitu:

Pertama, salah satu tantangan berat yang dihadapi generasi muda dalam merintis masa depannya adalah adanya tekanan-tekanan dari generasi tua yang mengendalikan perusahaan-perusahaan nasional, BUMN dan lain-lain, berupa marginalisasi posisi tawar kaum muda. Seperti dalam kasus di atas, di mana status generasi muda yang berpotensi menjadi profesional, hanya diperlakukan sebagai “pencari kerja” dengan kompensasi serta jaminan serba terbatas.

Dengan provokasi seperti itu, tidak heran kalau selama ini para karyawan selalu dihinggapi perasaan bahwa dirinya tidak lebih dari “kuli” atau “tangan di bawah”, sehingga lambat laun mereka pun kehilangan karakter leadershipnya.

Kedua, bahwa untuk menghindari jebakan menjadi karyawan bercitra kuli atau tangan di bawah, maka seyogyanya kaum muda harus dapat melakukan sepak terjang yang entrepreneurial. Hanya dengan jalan itu, seseorang yang relatif masih yunior dapat menempatkan diri sebagai sesama tangan diatas terhadap pihak lain. Tentu saja mereka harus membekali diri dengan sumber daya pengetahuan atau keterampilan yang diperlukan. Seperti ditunjukkan dalam cerita di atas, bagaimana “anak kemarin sore” seperti saya berhasil mengadakan business deal langsung dengan direksi bank ternama yang didukung para konsultan mancanegara.

Ketiga, ada langkah lebih ideal untuk kaum muda merintis kehidupan yang lebih baik. Yaitu, bermodalkan entrepreneurial mindset yang dilengkapi dengan satu saja kecakapan di bidang tertentu, seseorang akan dapat mendirikan sebuah usaha mandiri. Dengan jalan ini, otomatis posisinya akan terangkat sebagai “majikan kecil dengan tangan di atas” . Toh, ada pepatah yang berbunyi: “Lebih baik jadi bos kecil, daripada jadi kuli besar..!”

Untuk menjadi usahawan, tidak melulu dengan membuka gerai makanan, bengkel, warung atau toko di pinggir jalan. Juga tidak perlu repot membeli ruko lebih dulu dan hak-hal lain yang tidak substansial. Bagi kalangan menengah, banyak entrepreneurial efforts yang lebih memadai seperti jadi konsultan, freelancer, trainers, dan banyak lagi.

Rekan saya David, pembicara dari Dynamic Life Singapore pernah mengatakan: “WORK WITH.., NOT WORK FOR..”. Artinya, bagi kita yang entrepreneurial, (meski masih berstatus pegawai sekali pun), jangan mengatakan bahwa Anda bekerja untuk seseorang, tapi berkatalah bahwa Anda bekerja bersama seseorang. Dengan demikian Anda tetap memiliki posisi tawar yang baik, tanpa harus dimarginalkan sebagai tangan di bawah..

Semoga bermanfaat !

Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
Profec’s Entrepreneurial Leadership Center
E-mail: rusman@gacerindo.com
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com/
Web: http://www.rusmanhakim.com/ (under construction)
Mobile: 0816.144.2792

THE EAGLE HAS LANDED


THE EAGLE HAS LANDED

26 Januari 2009: Sebuah renungan di Tahun Baru Imlek 2560

Saya menyukai film perang, dan salah satu yang menurut saya paling hebat adalah film berjudul: THE EAGLE HAS LANDED (Sang Garuda Telah Mendarat). Film yang diperani oleh Michael Caine ini berkisah tentang kegagahperkasaan seorang perwira legendaris Nazi Jerman yang bernama Kolonel Kurt Steiner. Di situ ditayangkan bagaimana sang kolonel dengan keberanian yang luar biasa ditunjang kemampuan tempur 16 orang para komando, berhasil mendarat di Inggris dan mengobrak-abrik pasukan Sekutu yang waktu itu sudah menduduki Polandia.

Sejak awal hingga akhir, penonton terus diprovokasi dengan adegan-adegan pertempuran menegangkan, seru dan sarat dengan nilai-nilai patriotisme yang heroik. Meski pada akhirnya Kolonel Steiner gugur sebagai martir, namun misi yang diembannya berhasil dengan sukses sekaligus menimbulkan kerugian besar pada pasukan Sekutu. Itu adalah sebuah kisah nyata yang terjadi di lingkungan militer saat perang.

Sebuah kisah heroisme saat damai juga terjadi di lingkungan sipil. Sepak terjang seorang Kolonel lain yang tidak kalah serunya telah menginspirasi banyak orang. Dialah Kolonel Sanders, yang di usia 65 tahun telah begitu gagah-berani menjelajah benua Amerika dengan mengendarai sebuah mobil tua, mengetuk 1000 lebih pintu rumah orang hanya untuk mencari mitra dalam rangka membangun kerajaan bisnisnya, Kentucky Fried Chicken (KFC).

Semua kisah -- baik yang difilmkan atau dibukukan -- hanya menjadi seru, menarik serta berharga untuk disimak apabila di dalamnya banyak adegan-adegan menegangkan. Guncangan-guncangan emosional selalu diperlukan guna membuat sebuah true-story berkualitas. Siklusnya pun selalu menampilkan hal yang sama, mulai dari sang tokoh muncul dalam situasi penuh tekanan, tidak jarang diwarnai dengan ketidakberdayaan, keterbatasan, cercaan bahkan hinaan, lalu dilanjutkan dengan perjuangan gagah berani, dan diakhiri dalam 2 kemungkinan, yaitu sukses (happy ending), atau martir (sad ending).

Saya membayangkan, betapa bangganya anak cucu Kol. Steiner dan juga Kol. Sanders ketika mendengar kisah-kisah luar biasa tentang sepak terjang orang-orang tua mereka. Bangga karena menyadari bahwa pendahulu mereka adalah para leaders yang dihormati.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita merangkai kisah hidup kita sendiri dengan berbagai pengalaman mendebarkan, seru serta menegangkan sehingga menjadikannya kisah yang berkualitas?

Kalau belum, mari tinggalkan zona nyaman yang hingga sekarang masih kita rangkul erat-erat, lalu terjun ke medan tempur sebagaimana The Eagle Has Landed. Tidak masalah apakah akhir kisah kita akan “happy ending”, ataukah “sad ending”. Yang penting, dengan terjun ke medan tempur kita telah membuat kisah hidup kita berkualitas. Kisah yang anak cucu kita bangga mendengarnya, bukan justru malu karena orang tuanya pecundang yang tidak pernah bertempur sama sekali.

Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
Profec’s Entrepreneurial Leadership Center
E-mail: rusman@gacerindo.com
Portal: http://www.gacerindo.com/
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com/
Web: http://www.rusmanhakim.com/ (under construction)
Mobile: 0816.144.2792

Saturday, November 22, 2008

HARI-HARI OMONG KOSONG



HARI-HARI OMONG KOSONG..

Dalam acara ramah tamah pada peresmian sebuah lembaga keuangan mikro baru-baru ini di Depok, seorang mantan bankir tampaknya tertarik dengan status saya yang disebut pengamat kewirausahaan. Beliau mendekat sambil berkata: “Pak, kami dari perbankan dan juga lembaga-lembaga keuangan mikro merasa sangat berkepentingan dengan wirausaha. Oleh sebab itu, kami sekarang ini sedang mengedepankan program-program yang membantu perkembangan Usaha Kecil dan Mikro (UKM) di Indonesia..”.

“Wah bagus sekali, Pak. Apa saja kriteria dalam menentukan UKM mana yang akan dibantu, dan mana yang tidak?” tanya saya.

Sang mantan bankir tertawa seraya mengatakan: “Mudah saja. Kita tinggal lihat gerai usahanya, ramai tidak? Lalu lihat pembukuan keuangannya, transaksi dan arus kasnya bagus tidak? Kalau gerainya ramai, dan laporan keuangannya bagus, berarti usahanya lancar dan berpotensi untuk sukses. Nah, yang begitulah yang akan kita bantu..”

“Lalu, kalau pengusaha kecil yang gerainya belum ramai, arus keuangannya masih tersendat-sendat, bagaimana?” tanya saya lagi.

“Yah, kalau yang begitu, ya belum bisa dibantu Pak. Kita tidak berani ambil risiko. Lebih baik kita tunggu sampai usahanya lancar..”

Mendengar jawaban ini, saya jadi tersenyum. “Di situlah letaknya perbedaan pandangan antara perbankan dan kewirausahaan, Pak. Dalam kacamata wirausaha, pengusaha yang sudah lancar bisnisnya, seharusnya tidak boleh dibantu..”

“Loh, sebab apa? “ tukas “pak bankir”.

“Sebab, tanpa dibantu pun dia sudah mampu mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi dan dia bisa maju. Oleh karenya, bantuan yang diterima dari bank justru akan melemahkan daya juangnya sebagai wirausahawan tangguh”.

Tanpa bermaksud menggurui, saya lantas mengambil contoh kasus pangusaha-pengusaha bank kelas kakap penerima BLBI. Mereka itu sebenarnya tidak perlu dibantu, tapi pemerintah telah memanjakan mereka dengan berbagai fasilitas yang tidak seharusnya diberikan. Dan sekarang, kita lihat sendiri bagaimana dahsyat akibatnya yang hampir-hampir membangkrutkan negeri ini.

Pak bankir tampak sedikit terperangah, tapi melanjutkan argumentasinya: “Kalau bank atau lembaga keuangan harus membiayai pengusaha yang masih terseok, risikonya terlalu besar Pak. Sebab, apabila pengusaha itu tidak mampu membayar pinjamannya, bukankah semua pihak dirugikan? Dana hilang, sementara masih banyak pengusaha-pengusaha lain yang menunggu bantuan..”

“Bapak betul. Bank dan lembaga keuangan memang bukan bagian dari Departemen Sosial yang bertugas bagi-bagi uang tanpa berharap kembali. Bank hidup dari bunga pinjaman, atau kalau bank syariah mungkin dari bagi hasil. Itu semua adalah bisnis. Jadi kalau boleh, perkenankan saya untuk usul, bagaimana kalau istilah “bantuan” itu dihilangkan saja. Dilihat dari kedua belah pihak, rasanya tidak klop.”

“Dari sisi perbankan, business is business. Tidak ada yang gratis. Pinjam uang, harus bayar bunganya. Atau sisihkan bagi hasilnya. Jadi, sesungguhnya itu bukan bantuan..”, lanjut saya.

“Dari sisi kewirausahaan, pengusaha adalah leader. Tidak ada kata mengemis, dan tidak ada kata mohon belas kasihan bagi seorang leader. Pinjaman adalah bisnis, dan itu harus dibayar. Semua pelaku bisnis haruslah setara-sederajat. Tidak ada istilah “tangan di bawah” bagi pengusaha terhadap siapa pun, termasuk pada bank atau lembaga keuangan.”

Pembicaraan kami terputus di situ, karena acara pengguntingan pita dimulai.

Seselesainya acara peresmian kantor tersebut, dalam perjalanan pulang saya berfikir sendiri. Ya, kalau antara perbankan dan dunia wirausaha terdapat gap masalah pembiayaan, lantas apa jalan keluarnya?

Tiba-tiba saya teringat akan tulisan David Ch’ng tentang sukses kaum minoritas perantauan di Asia Tenggara, yang mengutarakan bahwa salah satu kunci sukses mengatasi masalah pembiayaan usaha adalah dengan jalan membentuk komunitas. Tepatnya, komunitas usaha.

Ya, dan itu pula yang telah dilakukan secara tradisional oleh saudara-saudara kita dari berbagai etnik di Indonesia dalam berbisnis, mulai dari komunitas orang Minang dengan Rumah Makan Padangnya, orang Tegal dengan Wartegnya, orang Bugis, orang Gorontalo, orang Banjar, orang Madura, orang Bali, orang Maluku, serta nyaris hampir semua suku di Indonesia dengan masing-masing komunitasnya. Dan mereka juga sukses!

Nah, temans.. Kita yang hidup di jaman modern ini, tentu lebih sadar dengan manfaat berkomunitas. Dengan cara itu kita berorganisasi, dengan cara yang sama pula kita berkelompok dalam milis-milis. Dengan kesadaran tentang potensi bisnis dalam sebuah komunitas, mengapa pula kita tidak mulai berfikir bagaimana mengeksplorasi sumber daya tersembunyi dari sebuah grup di internet, demi kesuksesan hidup di masa depan? Bukankah kita tidak mau sekadar “harmoko”, hari-hari omong kosong?

Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
Profec’s Entrepreneurial Leadership Center
E-mail: rusman@gacerindo.com
Portal: http://www.gacerindo.com
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com
Web: http://www.rusmanhakim.com, http://www.pempekpatrol.com
Mobile: 0816.144.2792

Saturday, June 07, 2008

“HOT..HOT..OH.. SO HOT..!


“HOT..HOT..OH.. SO HOT..!

Salah satu tayangan iklan yang cukup heboh di televisi beberapa waktu lalu, adalah iklan produk mie instan yang diberi nama “selera pedas”. Tayangannya memang menarik, di mana diperlihatkan perempuan-perempuan muda berkostum ketat warna merah menyala, meliuk-liuk menarikan tarian dinamis sambil diiringi musik keras dengan lagu yang berlirik: “Hot..hot..oh.. so hot..!” dan seterusnya.

Buat saya, kata “HOT” mempunyai makna tersendiri. Sebagai kata dasar yang berarti “panas” atau “pedas”, maka akan tergambar dengan kuat dalam benak saya sesuatu yang mengandung passion, semangat, gairah serta daya juang yang menggebu-gebu.

Begitulah seharusnya kita hidup di dunia ini. Tidak peduli siapa kita, apakah kita seorang karyawan profesional ataukah seorang entrepreneur, maka sudah selayaknya kita melakoni kehidupan dengan “HOT”, penuh passion, penuh semangat, bergairah serta didukung oleh daya juang yang menggebu-gebu.

Bagaimana penjabaran dan implementasinya? Haruskah setiap hari kita menyisihkan waktu untuk menari-menari secara HOT seperti perempuan di tayangan iklan selera pedas?

Bukan! Bukan begitu. Menurut saya kata “HOT” dapat dijabarkan sebagai kependekan dari 3 buah kata, yaitu: “Hati – Otak – Tangan”. Tentu masing-masingnya memiliki makna sendiri-sendiri, yang apabila dipersatukan akan merupakan sebuah paket ampuh yang dapat membawa kita ke jenjang penghidupan sukses.

HATI, menunjukkan integritas, ketulusan dan kejujuran, good attitude, keinginan melayani dan kemauan memberikan nilai tambah. Anda bisa percaya bahwa dengan satu unsur ini saja, bila semua orang memiliki hati yang baik dan bersih, maka dunia dijamin akan menjadi suatu tempat ternikmat di seantero jagat raya. Tidak ada kecurangan, tidak ada kejahatan. tidak ada korupsi dan kehidupan menjadi damai dan tenteram.

OTAK, memberi kontribusi soal kecerdasan. Ada 3 jenis kecerdasan yang bisa dianggap terkait dengan kinerja otak. Seperti kita tahu, ketiganya terdiri dari: Kecerdasan Intelektual (Intellectual Intelligence=II), Kecerdasan Emosi (Emotional Intelligence=EI) serta Kecerdasan Spiritual (Spiritual Intelligence=SI).

Dengan ketiga jenis intelijensia inilah, kita sebagai manusia akan mampu mewujudkan tidak saja “kerja keras”, tetapi lebih dari itu kita juga mampu melakukan “kerja cerdas”. Dan oleh karenanya cita-cita umat manusia untuk senantiasa menciptakan peningkatan kesejahteraan yang menyeluruh dan berkesinambungan, kita yakini dapat tercapai.

TANGAN, merupakan manifestasi dari “kerja”, “komitmen” dan “action”. Tiada perubahan yang benar-benar dapat dijelmakan, apabila tidak ada implementasinya di dunia nyata. Rancangan, rencana, imajinasi atau mimpi akan tetap dalam keadaannya yang “intangible” (maya, semu, tidak nyata) selama tidak ada perbuatan nyata yang membuatnya menjadi “tangible” (berwujud).

HOT adalah esensi kehidupan manusia. Lebih jelasnya, HOT merupakan modal paling hakiki yang dimiliki manusia, yang dengan itu seharusnya kita semua tidak gentar menghadapi segala tantangan kehidupan.

HOT tidak menyiratkan kata-kata yang terkait dengan uang. Kalau Anda seorang calon entrepreneur, itu artinya Anda tidak perlu memusingkan soal ketersediaan uang untuk modal memulai usaha. HOT adalah modal yang sesungguhnya, karena dengan HOT Anda bisa mendapatkan uang.

Kalau Anda seorang profesional, hal ini akan lebih jelas lagi. Seorang profesional sejati tidak pernah memerlukan uang untuk mendapatkan pekerjaan. HOT yang Anda milikilah yang memungkinkan Anda dipercaya menduduki sebuah jabatan. Kecuali, kalau Anda memang seorang profesional tidak qualified, yang biasa melakukan sogok-menyogok untuk memperoleh posisi.

Pada galibnya, kehidupan seorang profesional mau pun seorang entrepreneur tidaklah jauh berbeda. Keduanya seharusnya tidak memerlukan uang untuk modal bekerja atau berusaha.

Nah, dengan penjabaran ini, semoga Anda menjadi yakin bahwa banyak jalan menuju Roma. Apa pun jalan yang Anda ambil, profesional kah atau entrepreneur kah, semuanya sama saja. Anda hanya perlu HOT saat memulai, dan UANG akan datang kemudian.

Selamat bekerja..

Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
Profec’s Entrepreneurial Leadership Center
E-mail: rusman@gacerindo.com
Portal: http://www.gacerindo.com
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com
Mobile: 0816.144

Tuesday, May 27, 2008

DUCK IN THE LAND, DUCK IN THE WATER


DUCK IN THE LAND, DUCK IN THE WATER

Terkadang kita merenung, faktor apakah sebenarnya yang menentukan kesuksesan seseorang dalam hidup ini?

Kita pasti sudah sering mendengar, bahkan diindoktrinasi secara keras oleh orang tua, guru, para senior dan lain-lain, bahwa kesuksesan hidup harus dicapai dengan kerja keras serta pengorbanan.

Bersakit-sakit lebih dahulu, bersenang-senang kemudian..
Tiada hasil tanpa pengorbanan..
No pain, no gain..

Kalimat-kalimat seperti itu boleh dikatakan sudah menjadi konsumsi kita sehari-hari. Namun mengapa yang terjadi sejauh ini, seakan tidak pernah selaras dengannya? Jangankan sukses dan bersenang-senang, untuk mencukupi hidup sehari-hari pun rasanya sudah setengah mati.

Banyak dari kita sudah belasan bahkan puluhan tahun menjalani kehidupan yang penuh kesakitan dan pengorbanan ini. Pengorbanan fisik, pengorbanan finansial atau pun pengorbanan perasaan, tidak kurang-kurang kita berikan demi meraih kebahagiaan hidup yang kita dambakan beserta keluarga. Hasilnya? Tidak ada yang signifikan.. semua serasa jalan di tempat saja..

Saya jadi teringat akan petuah seorang guru motivasi yang pernah mengajar saya pada tahun 1986 dan 1987, lebih dari 20 tahun yang lalu. Beliau orang Singapura, namanya David Chia. Dalam salah satu sesi pelatihannya, David memperkenalkan sebuah analogi yang dinamakan “DUCK IN THE LAND, DUCK IN THE WATER” atau “Bebek Di Atas Tanah, Bebek Di Dalam Air”.

Apa urusan kita dengan bebek?

Bebek merupakan salah satu jenis binatang yang mendapat berkah Tuhan, sehingga ia bisa berjalan dan berlari di atas tanah, dan dapat pula berenang-renang di atas air. Namun demikian coba perhatikan, dari dua tempat itu, di manakah bebek tampak paling bahagia?

David menjelaskan bahwa meski bebek mampu dan tidak bermasalah untuk berkiprah di atas tanah, namun puncak kebahagiaan hewan ini justru ketika berenang-renang di atas air. Di atas airlah seekor bebek akan merasa bebas sebebas-bebasnya, bercengkerama dan berselancar ke sana-ke mari sambil membersihkan bulu-bulu sayapnya yang indah, dan bersikap seakan seisi dunia menjadi paradiso nan indah ceria baginya.

Fenomena bebek ini menjadi referensi bahwa banyak orang di antara kita yang selama bertahun-tahun menjalani kehidupan bagai “DUCK IN THE LAND”, atau bebek yang berjalan di atas tanah. Kenapa?
Karena mereka telah menjalani pengorbanan yang begitu berat demi membangun kehidupan, dengan jalan bekerja di bidang-bidang yang tidak disukai. Bekerja di suatu tempat di mana kreativitas tidak dapat berkembang. Atau bekerja dengan gaji yang tidak mencukupi, namun tidak pernah berani angkat kaki guna mencari peluang yang lebih baik. Dan semua itu, dengan penuh penderitaan dijalani selama bertahun-tahun tanpa henti.

Kenapa mereka seakan tidak pernah berusaha untuk berontak dari keadaan status quo, guna mencapai keadaan yang lebih berbahagia seperti layaknya “DUCK IN THE WATER”?

Sebab, mereka belum menyadari bahwa jalan ke arah itu ada. Dan bahwa jalan bahagia itu tidak perlu ditempuh dengan penuh rasa sakit serta derita. Dan juga bahwa dunia ini sesungguhnya tidaklah sesuram yag mereka sangka. Tuhan sudah memberikan komposisi yang sama baik bagi penderitaan, mau pun bagi kebahagiaan. Dan Dia sudah menyerahkan sepenuhnya kepada manusia, bagian mana yang akan dipilih. Penderitaankah, atau kebahagian?

Kehidupan memang hanya masalah pilihan..

Nah, lebih lanjut David memberikan penjelasan bahwa untuk sukses menemukan kebahagiaan, ada sebuah fomula yang mengatakan: “Kesuksesan terjadi pada saat kekuatan menemukan tempatnya yang sesuai..”! Ini juga yang menjadi analogi: “DUCK IN THE WATER”.. sebagaimana seekor bebek yang memiliki kekuatan untuk berenang-renang, bertemu dengan air telaga yang sejuk dan jernih..

Kalau seekor bebek secara naluriah sadar akan kekuatannya dalam hal berenang di atas air, dapatkah kita menyadari kekuatan apa yang kita miliki agar bisa mengarahkannya pada situasi lingkungan yang sesuai?

Andaikata pencarian tentang kekuatan apa yang kita miliki terasa sulit, ada panduan yang mudah. Yaitu, tinggalkan aktivitas kita yang sekarang hanya memberi penderitaan, dan temukan bidang pekerjaan yang kita sukai. Kalau perlu, jika kita sekarang seorang karyawan, jadilah usahawan. Perdalam kompetensi kita di bidang tersebut, cermati munculnya kesempatan, rebut peluang dan jadilah raja di sana.

Semoga kita semua menjadi “DUCK IN THE WATER”..!

Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
Profec’s Entrepreneurial Leadership Center
E-mail: rusman@gacerindo.com
Portal: http://www.gacerindo.com
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com
Mobile: 0816.144.2792

Wednesday, October 24, 2007

Home Sweet Home, Work Sweet Work


HOME SWEET HOME, WORK SWEET WORK


Banyak orang mengatakan bahwa seburuk apapun keadaan rumah kita, rumah kita tetaplah istana kita. Rumahlah satu-satunya tempat yang dapat memberikan kedamaian, ketenteraman serta kebahagiaan hakiki. Tidak ada tempat lain di dunia ini yang bisa memberikan kebebasan untuk melepaskan diri dari segala belenggu dan topeng-topeng kehidupan, selain di rumah sendiri.

Maka, sungguh indah dan sungguh tepatlah ungkapan: “Home Sweet Home..!”

Namun demikian, kebahagiaan di rumah belum tentu bisa dibawa ke tempat lain, kantor misalnya. Bahagia di rumah, belum tentu bahagia di kantor. Kenyataannya, banyak orang merasa sangat-sangat sulit untuk mengadaptasi kebahagiaan di rumah, ke tempat mereka bekerja. Terlalu banyak intrik dan provokasi yang muncul dan terjadi di lingkungan kerja.

Simaklah apa yang dirasakan oleh mereka yang berprofesi sebagai karyawan profesional. Mereka sering kali merasa “ada ancaman” bahwa sewaktu-waktu mereka bisa di PHK. Perasaan tidak nyaman juga datang dari “ulah” para atasan, para bos (atau bukan bos tapi sangat “bossy”) yang terasa semena-mena memerintah ini dan itu.

Belum lagi persaingan antar karyawan yang begitu ketat, sampai-sampai mencuatkan manuver-manuver tidak sehat mulai dari trik-trik “carmuk” alias “cari muka”, sampai pada pergunjingan dan fitnah terselubung.

Kejadian-kejadian semacam itu, sedikit banyak akan mendistorsi suasana kebahagiaan yang kita bawa dari rumah ke tempat di mana kita berkarir.

Sayangnya, buat kebanyakan orang, tekanan dan stres di tempat kerja sudah dianggap lumrah. Memang itulah budaya hidup di tempat kerja, mau apa lagi?

Hampir semua orang menghabiskan sebagian besar dari waktunya di tempat kerja. Katakanlah, rata-rata orang sekarang bekerja selama 10 – 12 jam sehari. Ini artinya mereka mendedikasikan 50% dari 24 jam waktu yang dimilikinya untuk fokus di sektor karir. Sedangkan 50% lagi dibagi-bagi untuk kegiatan-kegiatan lainnya, seperti bercengkerama dengan keluarga di rumah, bersosialisasi dengan masyarakat, beribadah, belajar, pergi ke gym untuk olahraga dan lain-lain.

Dari situ kita dapat menyimpulkan bahwa manusia masa kini rata-rata hidup tidak bahagia, karena waktunya dominan berada di tempat yang tidak bahagia, yaitu di kantor atau di lingkungan kerja yang penuh dengan tekanan dan stres.

Namun toh orang tidak bisa menghindar dari keharusan kerja, sebab, inilah satu-satunya aktivitas yang merupakan “earning center”, pusat penghasilan yang membiayai semua kegiatan orang yang bersangkutan. Aktivitas-aktivitas lainnya yang berhubungan dengan keluarga, kegiatan sosial, spiritual, kesehatan fisik-mental, semuanya merupakan “cost centers” alias pusat-pusat biaya.

Jadi wajarlah kalau mengingat kepentingannya, kita semua mengalokasikan waktu terbanyak untuk membina karir. Lantas bagaimana caranya agar dalam bekerja kita pun bisa tetap berbahagia? Kalau di rumah kita dapat membangun “home sweet home”, mengapa di kantor kita tidak bisa membangun “work sweet work”?

Berdasarkan observasi, kebanyakan orang bekerja semata-mata dilatarbelakangi motivasi untuk mencari nafkah (subsistence motivation). Mereka merasa harus bekerja karena harus memberi makan diri dan keluarganya. Harus menyekolahkan anak-anaknya. Dan harus membiaya semua kebutuhan operasional rumah tangganya. Harus dan harus..

Dengan motivasi yang “serba harus” ini, tidak heran kalau suasana kerja menjadi sangat tegang dan stres. Kuatir kalau gaji tak mencukupi, tentu tidak bisa lagi memberi makan dan menyekolahkan anak. Kuatir akan ancaman PHK, sama dahsyatnya dengan kuatir akan kiamat.

Bagaimana orang bisa bahagia kalau setiap hari dicekam ketakutan seperti itu?

Untuk membangun suasana “work sweet work”, perlu dilakukan perubahan total atas paradigma dan motivasi kita untuk bekerja. Jangan berfikir bahwa bekerja hanya semata-mata untuk mencari nafkah. Kita harus berfikir jauh lebih besar dari itu. “Think Big”, kata David J. Schwarz.

Bekerja juga harus “enjoyable”, bisa dinikmati semaksimal mungkin. Oleh sebab itu, ada 2 langkah sederhana untuk dapat menjadikan kita bahagia dalam pekerjaan. Yang pertama: cari atau pindah kerja yang bidangnya sesuai dengan kesenangan kita. Tinggalkan saja pekerjaan yang sekarang kalau kita merasa tidak bahagia di situ. Jangan takut, karena dengan bekerja di bidang yang kita senangi, peluang untuk maju akan lebih besar sekian kali lipat. Kalau perlu, bila kita sekarang berstatus karyawan, jadilah seorang usahawan!

Langkah kedua: jadilah raja di sana! Guna menjadi nomor satu di suatu bidang, tentu kita harus piawai. Nah, untuk belajar dan menjadi piawai di suatu bidang yang kita senangi, akan sangat mudah dibanding belajar dan menjadi piawai di bidang yang kita benci. Akan lebih ideal lagi kalau bidang yang disenangi itu adalah juga bidang hobi kita.

Kita akan menjadi seekor harimau yang tumbuh sayap! Dalam kondisi ini, tidak perlu lagi takut di PHK. Tidak perlu lagi stres karena diperintah-perintah orang lain. Dan tidak usah lagi “carmuk” atau sikut-sikutan bersaing dengan teman sejawat.

Selama ini, “Work Sweet Work” jarang menjadi perhatian orang, berbeda dengan “Home Sweet Home” yang selalu didamba dan dibicarakan di berbagai media. Namun demikian seyogyanya kita menyadari bahwa “Work Sweet Work” merupakan energi alamiah yang vital bagi kehidupan setiap orang.

Kadang kita merasa ganjil ketika menyaksikan seorang dokter gigi yang lebih suka main film daripada membuka praktek perawatan gigi. Atau melihat insinyur yang lebih senang bermain musik katimbang menggeluti profesi keteknikan. Aneh ketika tahu bahwa ada pengacara yang ahli hukum eh.. malah getol jadi bintang sinetron.

Saya menangkap bahwa itulah gejala bekerjanya fenomena “Work Sweet Work”, di mana secara disadari atau tidak, beberapa orang yang peka telah mengikuti suara hati nuraninya untuk mencari dan membangun dunia serta kerajaannya sendiri. Di dunia dan kerajaan yang di dalamnya mereka bisa menemukan kebahagiaan sejati.

Maka sebaliknya dari mencibir dengan perasaan aneh, saya justru ingin memberi acungan jempol. Mereka berani tampil beda, dan dengan itu mereka berbahagia.

“Work Sweet Work” adalah sebuah wahana earning center yang subur, kehadirannya akan mendukung “Home Sweet Home” yang indah. Sebaliknya, tanpa “Work Sweet Work”, rona keindahan “Home Sweet Home” akan meredup dan pudar tanpa bisa memberikan kebahagiaan yang berarti. (rh)

*** Artikel ini dapat Anda baca juga di portal wirausaha http://www.gacerindo.com, dilengkapi dengan gambar.

Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
LifeWisdom Presenter
E-mail: rusman@gacerindo.com
Portal: http://www.gacerindo.com
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com
Mobile: 0816.144.2792

Monday, October 22, 2007

Power Of The Verbs


POWER OF THE VERBS



Dalam suatu seminar, seorang peserta berkeluh-kesah kepada Stephen Covey, bahwa kehidupan rumah tangganya tidak bahagia. Ia dan isterinya sudah tidak sepaham lagi, sehingga terlalu banyak pertengkaran yang terjadi. Oleh sebab itu, ia ingin Covey memberinya jalan keluar. “Apa yang harus saya lakukan, Tuan Covey?” demikian ia bertanya.

Setelah berfikir sejenak Stephen Covey menjawab: “Cintai isterimu..”

Sang penanya tertegun, lalu ia menegaskan: “Anda tahu Stephen, saya sudah tidak cinta lagi pada isteri saya. Jadi apa yang harus saya perbuat?”

“Cintai isterimu..”, Stephen Covey mengulangi jawabannya.

“Anda tentu tidak mengerti bahwa sesungguhnya sudah tidak ada lagi perasaan cinta di hati saya terhadap dia..” sang peserta tetap pada pendiriannya.

“Kawan..! Yang saya maksud di sini adalah ‘cinta’ dalam kata kerja. Bukan ‘perasaan cinta’ sebagai kata benda atau kata keadaan. Jadi Anda harus mencintai isteri Anda dalam kata kerja. Lakukanlah, cintai isteri Anda dan Anda akan menemukan cinta itu kembali..”

Meski petikan dialog di atas kelihatan sederhana, namun sebenarnya yang dibahas oleh Stephen Covey adalah sebuah kunci kesuksesan hidup. Sebuah “resep rahasia” yang akan mampu menuntun manusia ke arah kebahagiaan sejati dalam kehidupan yang hingar-bingar ini. Mengapa demikian?

Sebagian besar orang memang lebih banyak menggantungkan kebahagiaan hidupnya pada “kata benda” atau “kata keadaan”. Lebih tepatnya, pada “sesuatu” baik berupa benda, orang atau pun lingkungan.

Yang lebih mengherankan adalah kenyataan bahwa rata-rata manusia hanya mau atau hanya bisa berbahagia, kalau ada alasan tertentu untuk itu. Coba perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini:

“Saya akan sangat berbahagia bila saya berhasil menjadi orang kaya..!”

“Mobil mewah itu sungguh bagus, berteknologi tinggi serta memberikan prestise tersendiri. Alangkah berbahagianya bila saya dapat memilikinya..”

“Dunia serasa gelap, dan tiada lagi kebahagiaan yang tersisa semenjak saya ditinggal oleh kekasih yang sangat saya cintai..”

“Hari mendung menjelang hujan lebat, jalanan macet pula. Hati saya benar-benar tertekan hari ini..”

Empat contoh kalimat di atas menunjukkan secara jelas, betapa banyak orang yang menggantungkan kebahagiaanya pada keadaan (kekayaan), pada benda (mobil mewah), pada orang (kekasih) dan pada lingkungan (cuaca mendung dan jalan macet).

Padahal, kalau kita mau berfikir jernih, mengapa pula kebahagiaan itu harus dilekatkan pada hal-hal di luar kita, baik benda, orang, keadaan mau pun lingkungan?

Kekuatan Kata Kerja

Sejak kelahiran manusia pertama di atas bumi, Tuhan Yang Maha Esa telah memberi perintah agar manusia aktif bekerja untuk dapat mempertahankan hidup. Dalam segala hal, manusia harus “taking action”, maka itu artinya ia harus selalu berada dalam lingkup kata kerja.

Patut disyukuri bahwasanya kesadaran dan etos kerja manusia secara fisik berkembang pesat, sehingga tingkat kemajuan teknologi di dunia industri sekarang sudah sedemikian majunya.

Namun apa lacur, kalau pun kekuatan kata kerja telah mampu membawa kemajuan di tingkat fisik, tidak demikian halnya di tingkat mental. Hampir semua orang berfikir bahwa kekuatan kata kerja hanya berlaku atas segala sesuatu yang kita kerjakan secara fisik. Nyaris tidak pernah terfikir bahwa kekuatan kata kerja juga berlaku atas aktivitas-aktivitas mental dan emosi.

Ambil contoh, emosi-emosi negatif seperti kecewa, marah, takut atau perasaan tertekan, adalah unsur-unsur mental yang dianggap sebagai suatu “keadaan” atau “kondisi”, yang terjadi sebagai akibat pengaruh-pengaruh dari luar. Karena merupakan akibat dari pengaruh luar, maka emosi-emosi semacam itu tidak dapat dikontrol oleh yang bersangkutan.

Nyaris tidak ada orang yang mau berspekulasi bahwa emosi sebenarnya juga merupakan aktivitas manusia yang bisa dikendalikan oleh yang empunya tubuh. Aktivitas yang tentunya bisa dilakukan oleh manusia berdasarkan “kata kerja”.

Penyanyi seriosa sekaliber Surti Suwandi atau Pranawengrum, mampu menstimulir dirinya saat menyanyikan lagu sedih, sampai menangis mengeluarkan airmata yang tidak sedikit. Demikian juga apa yang dilakukan oleh para penyanyi opera dan artis film drama.

Hal tersebut merupakan bukti kecil dan sederhana, bahwa emosi pun bisa “dilakukan”. Dan itulah juga yang sesungguhnya dimaksud oleh Stephen Covey, bahwa “cinta” bukanlah sekadar keadaan emosi yang terjadi dengan sendirinya. Cinta adalah juga sebuah aktivitas manusia yang bisa dilakukan kapan saja sesuai dengan inisiatif si pelaku.

Bahagia dan Sukses Juga Merupakan Kata Kerja

Kita perlu prihatin, bahwa sebagian besar orang menganggap seakan-akan kebahagiaan hanya akan datang kalau ada pemicunya, apakah itu berupa harta benda, perhatian atau kasih sayang seseorang, atau stimulus lain.

Hal ini perlu dikoreksi. Sesungguhnya, kebahagiaan dapat dikendalikan sesuai dengan inisiatif orang yang bersangkutan. Jim Dorner, seorang tokoh kepemimpinan pernah mengatakan bahwa manusia sudah sepantasnya berbahagia, dan itu bisa diperoleh cukup dengan mengatakan: ”I want to be happy! I don’t want to be unhappy!”, tanpa mengait-ngaitkannya dengan faktor luar.

Memang, sesuai dengan hukum sebab dan akibat, segala sesuatu yang terjadi senantiasa karena ada suatu alasan yang melatarbelakanginya. Kekeliruan yang selama ini dilakukan oleh banyak orang sehingga mereka sulit untuk merasa bahagia secara terus menerus adalah bahwa latar belakang kebahagiaan mereka selalu diletakkan pada obyek-obyek luar yang mudah lenyap serta di luar kendalinya.

Padahal, sumber-sumber daya yang permanen ada pada diri kita sendiri merupakan alasan terbaik untuk kita bisa selalu merasa bahagia.

Apa saja? Banyak, antara lain keyakinan akan diri, kepiawaian dalam bidang-bidang tertentu, profesionalisme, semangat dan daya juang, naluri avonturisme, proaktivitas, motivasi, visi, serta kedekatan kita dengan Tuhan. Dengan latihan dan kesadaran akan berbagai kemampuan pribadi inilah, pada akhirnya kita akan terbiasa untuk berbahagia setiap saat, tanpa perlu melihat materi luar apa yang kita miliki.

Pertanyaannya adalah, bagaimana mungkin komponen-komponen tak kasat mata (intangible) seperti semangat, kepiawaian, motivasi, kepercayaan diri dan sebagainya itu dapat menjadi alasan untuk kita berbahagia? Bukankah lebih realistis kalau orang merasa bahagia karena memperoleh banyak uang, memiliki rumah besar dan mobil mewah?

Seperti telah disinggung di atas, uang, rumah besar, mobil mewah dan bahkan kasih sayang orang lain, adalah unsur-unsur luar yang tidak sepenuhnya berada di bawah kendali kita. Sifatnya situasional, sehingga setiap saat bisa saja lenyap dari kepemilikan kita.

Sebaliknya, kemampuan diri pribadi merupakan “mesin kehidupan” yang kita miliki secara abadi, tidak akan hilang sepanjang hayat masih dikandung badan. Uang, mobil serta harta benda lainnya mudah diperoleh asalkan kita mau bekerja memanfaatkan “mesin kehidupan” tersebut secara tepat dan benar.

Silahkan direnungkan.(rh)

*** Artikel ini dapat Anda baca juga di portal wirausaha http://www.gacerindo.com, dilengkapi dengan gambar.

Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
LifeWisdom Presenter
E-mail: rusman@gacerindo.com
Portal: http://www.gacerindo.com
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com
Mobile: 0816.144.2792

Pahlawankah Mereka?


PAHLAWANKAH MEREKA?



“Three Wishes” adalah judul sebuah acara di Metro TV yang secara tidak sengaja saya lihat pada hari Sabtu malam kemarin, tanggal 20 Oktober 2007 sekitar jam 19.30.

Isinya berkisah tentang kehidupan istri-istri tentara Amerika, yang suaminya mendapat tugas maju ke medan perang di berbagai tempat di seluruh dunia. Di situ diperlihatkan bagaimana para isteri tentara yang rata-rata masih berusia muda belia, harus melewatkan hari-hari penantiannya dibawah kecemasan, ketakutan serta kekhawatiran mendalam.

Bayangkan saja, hampir setiap hari mereka menerima khabar dari institusi militer yang berwenang, bahwa ada sejumlah tentara Amerika yang gugur. Misalnya, hari ini diketahui ada 3 personel yang terbunuh, hari berikutnya ada lagi kabar bahwa 14 orang serdadu mati di pertempuran. Demikian seterusnya.

Sayangnya, setiap khabar datang pada pertama kali, yang disampaikan itu hanya mengenai jumlah orang yang tewas, tanpa dilengkapi nama-nama siapa saja yang tewas itu. Diperlukan waktu 1 – 2 hari sebelum data para korban menjadi jelas.

Tentu saja – sebagaimana diceritakan oleh seorang ibu muda - isteri-isteri tentara setiap saat harus “berjuang” melawan debaran jantung menunggu kabar buruk yang akan menjelang. Kalau hari ini terbetik berita bahwa Kopral A tewas, itu artinya Nyonya A seketika menjadi janda, dan anak-anak mereka yang masih kecil mejadi yatim.

Sehingga, hari demi hari mereka lewatkan seakan-akan hanya untuk menunggu giliran siapakah hari ini yang menjadi janda dan siapa pula yang menjadi anak yatim…

Mungkin agak berbeda dari dugaan banyak orang tentang Amerika yang serba makmur, beberapa wanita di “Three Wishes” mengisahkan betapa suami-suami mereka menjadi tentara hanya semata-mata untuk mencari nafkah, guna menghidupi isteri dan anak-anaknya.

Mereka memulai kehidupan dari nol, tidak punya tempat tinggal sendiri dan selalu terbentur dengan berbagai masalah kehidupan, mulai dari soal dapur sampai bagaimana menyekolahkan anak.

Sebagai pasangan muda, tidak heran kalau mereka selalu mendambakan dan berkhayal kalau suatu hari kelak kehidupan rumah tangga mereka akan menjadi mapan. Sudah umum kalau para suami juga melontarkan hajat (wishes) bahwa mereka menginginkan suatu hari nanti akan memiliki sebuah rumah tinggal yang cukup besar dan indah.

Alam mengatur segalanya, dan Dia bekerja dengan caraNya sendiri. “Three Wishes” memperlihatkan betapa pada akhirnya para tentara muda itu – baik yang pulang hidup mau pun yang tinggal nama - mendapatkan anugerah sebagai balas jasa, antara lain sebuah rumah cukup besar yang mereka idam-idamkan untuk mereka tinggali beserta keluarga.

Tampak sebagai sebuah happy ending, tapi benarkah demikian?

Pemirsa sama-sama menyaksikan bagaimana para janda muda yang menggandeng bocah kecil itu menerima pemberian tersebut, dengan senyum kecil tapi mata bengkak yang terus berderai air mata. Sepadankah hadiah rumah yang diterimakan itu dengan nyawa seorang suami yang tak akan pernah bisa hadir bersama kembali?

Demikian juga dengan yang masih hidup. Pada kesempatan berikut, apakah rumah besar itu akan menjadi saksi bisu akan terulangnya masa-masa penantian para isteri atas kepulangan suami, entah dalam keadaan hidup ataukah hanya tinggal nama belaka?

Yang menggelitik perasaan saya adalah, adakah para tentara muda itu bisa dianggap sebagai pahlawan? Untuk siapakah mereka bertempur? Untuk negarakah? Dan untuk apa?

Mereka berperang nun jauh di sana, entah di Irak, di Afghanistan atau di tempat lainnya. Sementara itu tidak ada yang janggal dengan peri kehidupan di seluruh Amerika Serikat. Semua orang sibuk dengan kegiatan rutin, pagi hari pergi kerja ke kantor, sore hari mampir ke kedai minum sejenak melepas lelah sebelum pulang ke rumah, hari libur berekreasi bersama keluarga dan seterusnya. Semua normal, damai dan biasa-biasa saja, tiada perang tiada pula pertempuran.

Lantas, kenapa harus ada sebagian masyarakat yang tidak bisa menikmati kehidupan normal dan damai itu, bahkan harus pergi berperang di negeri orang lain dengan mempertaruhkan diri dan masa depan keluarga? Haruskah mereka menjadi korban dari ambisi para pemimpin negara di sana?

Sungguh berbeda kalau kita bandingkan dengan masa-masa perjuangan kemerdekaan Indonesia dulu. Semua orang berperang, semua orang memanggul senjata dan semua jelas bahwa kita berperang untuk mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan negara sendiri. Bukan untuk negara lain. Dan semua pejuang, baik yang masih hidup mau pun yang gugur, semua adalah pahlawan, pahlawan bangsa, pahlawan kemerdekaan.

Itu dulu. Kini orang telah mengerti bahwa peperangan selalu menyengsarakan dan pertempuran selalu memusnahkan. Yang dibutuhkan manusia sekarang adalah kesejahteraan, kedamaian, keadilan serta kemakmuran. Oleh sebab itu, yang namanya pahlawan seharusnya adalah mereka yang bisa memberikan kontribusi untuk kesejahteraan rakyat, kedamaian, keadilan serta kemakmuran.

Para wirausahawan memilik peluang terbesar untuk menjadi pahlawan semacam itu. Dan Amerika memilikinya. Sebut saja Thomas Watson (IBM), Henry Ford (Ford), Bill Gates (Microsoft), Walt Disney dan sederet nama besar lainnya. Mereka itulah sesungguhnya yang patut menyandang sebutan pahlawan, karena merekalah yang mampu berkontribusi tidak saja untuk kejehahteraan Amerika, tapi juga sekaligus kesejahteraan dunia.

Lantas apa hubungannya dengan Indonesia?

Lebih krusial dari pada Amerika Serikat yang sudah mapan sebagai negara termakmur di dunia, Indonesia yang miskin ini seharusnya lebih menggalakkan kampanye agar sebagian besar warganya mau berkecimpung dalam dunia wirausaha, membangun negeri dan menyejahterakan rakyat. Dan jadilah pahlawan.

Lupakan perang, ciptakan kesejahteraan. Make prosperity, not war.

*** Ditulis dalam rangka menyambut Hari Pahlawan, 10 November 2007(rh)

*** Artikel berita ini dapat Anda baca juga di portal wirausaha http://www.gacerindo.com, dilengkapi dengan foto.

Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
LifeWisdom Presenter
E-mail: rusman@gacerindo.com
Portal: http://www.gacerindo.com
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com
Mobile: 0816.144.2792

Pelatih Terbaik Bukan Terpintar

PELATIH TERBAIK BUKAN TERPINTAR

Ada kalanya seorang trainer dihadapkan pada situasi di mana ada peserta pelatihan yang begitu antusias membombardir pertanyaan-pertanyaan atau komentar-komentar yang bernuansa “menguji” kepiawaian dirinya sebagai pelatih.

Dalam beberapa kasus, intensitas “pengujian” itu begitu tingginya, sehingga sang trainer merasa terteror. Setiap kali sesi tertentu dimulai, “teror” pun dimulai pula sehingga lama kelamaan, sang trainer menjadi merasa sangat tidak nyaman.

Bagi umumnya trainer yunior, sikap para peserta opposan diartikan sebagai tantangan frontal. Mereka merasa sangat terusik, posisinya sebagai trainer yang bertugas untuk melatih dan mengajar audiens, terasa terancam. Ada perasaan bahwa sebagian peserta meragukan kepiawaiannya sebagai pengajar.

Menghadapi keadaaan demikian, trainer-trainer muda biasanya menjadi “groggy”, sehingga sebagai kompensasi, mereka cenderung mempertontonkan pengetahuan dan keahlian yang dimilikinya, termasuk dengan menyebut-nyebut berbagai istilah “keren” serta berusaha untuk selalu mematahkan argumentasi yang diajukan peserta.

Celakanya, kerap terjadi bahwa ada saja peserta yang memang benar-benar lebih piawai, lebih tinggi ilmu pengetahuannya serta lebih berpengalaman. Terhadap peserta jenis ini, trainer yang berusaha “pamer kehebatan” untuk mendapatkan pengakuan audiens, pasti ketemu batunya.

Ketika argumentasi-argumentasi, referensi-referensi dan juga teori-teori yang mereka ajukan ternyata dimentahkan oleh peserta peneror, dengan serta-merta sang trainer menjadi frustrasi, salah tingkah, tidak tahu harus berbuat apa sehingga terlihat begitu “bodoh” di depan orang banyak. Itulah situasi yang paling dibenci dan ditakuti oleh para trainer, dan tidak terlalu berlebihan kalau disebut sebagai “neraka”nya para trainer muda.

Trainer senior yang sudah cukup makan asam garam pelatihan, berpegang pada basis pemikiran bahwa menjadi seorang trainer tidak perlu berpretensi sebagai figur yang harus selalu lebih pandai dari pesertanya. Mereka siap menghadapi keadaan, di mana pada sesi-sesi tertentu akan ada peserta yang lebih piawai dari mereka.

Lalu, bagaimana caranya mengatasi situasi-situasi kritis seperti di atas?

Dalam dunia pelatihan, para pelatih unggulan mempunyai jurus pamungkas yang handal. Pertama, kehadiran peserta tukang teror yang memang lebih pandai, tidak dipandang sebagai “duri dalam daging” yang akan mengacaukan unjuk kerjanya sebagai trainer di depan kelas. Mereka justru menerima keadaan ini sebagai keuntungan, yang akan memungkinkan kualitas pelatihan menjadi lebih baik lagi.

Kedua, pelatih unggul dapat membaca apa motivasi yang ada dibalik ulah seorang peneror. Yang paling umum, peserta tersebut biasanya hanya ingin mencari pengakuan bahwa dia orang pintar. Dia butuh perhatian dan pujian, oleh sebab itu perlu diakomodir.

Kemungkinan lainnya adalah bahwa benar ada orang-orang pintar yang sangat idealis. Orang-orang ini menginginkan bahwa program pelatihan yang mereka peroleh benar-benar berkualitas serta bermanfaat, sehingga mereka merasa perlu mengetahui apakah sang pelatih memang cukup piawai. Itulah alasan mengapa mereka melancarkan “teror pertanyaan” pada trainernya.

Seorang trainer tidak perlu merasa khawatir bahwa dirinya akan dianggap tidak cakap, hanya karena kehadiran peserta yang lebih pintar pada sesi-sesi tertentu. Sebab apa?

Sebab, sebelum sebuah program pelatihan digelar, ada sebuah tahapan yang disebut tahap “pre-assessment”. Pada tahap ini, lembaga penyelenggara pelatihan mengadakan penyaringan dan evaluasi tentang klasifikasi para peserta training.

Kriteria-kriteria tertentu yang diterapkan pada para calon peserta di tahap pre-assessment seharusnya akan membentuk sebuah kelompok peserta yang memiliki klasifikasi seragam. Dengan demikian, lembaga pelatihan juga akan tahu klasifikasi trainer seperti apa yang diperlukan untuk menangani kelompok tersebut.

Oleh sebab itu, bila ternyata pada saat pelatihan digelar ada orang-orang yang memiliki klasifikasi lebih tinggi “terselip” dalam kelas, itu bukanlah kesalahan trainer bersangkutan. Dengan alasan ini, seorang trainer seyogyanya tetap tenang dan tidak perlu merasa terganggu oleh kehadiran mereka.

Bahkan sebaliknya, seorang “smart trainer” akan mendapatkan kesempatan untuk memanfaatkan peserta istimewa tersebut. Yang biasa dilakukan oleh trainer berpengalaman adalah, pada saat “teror” mulai dilancarkan oleh sang peserta, dengan sangat bijak sang trainer akan mempersilahkan orang tersebut maju ke depan podium untuk berbicara menyampaikan argumentasinya.

Bila argumentasi yang disampaikan ternyata benar, trainer akan mengajak semua hadirin untuk memberikan applause (tepuk tangan meriah) seraya ia sendiri juga melontarkan pujian-pujian tulus kepada peserta itu.

Sejak saat itulah, setiap kali ada pertanyaan yang sedikit “canggih” dilontarkan peserta lain, sang trainer akan mempersilahkan peserta istimewa itu untuk terlebih dahulu menjawabnya.

Dengan jalan ini, pelatih yang bijak sudah mampu mengatasi beberapa persoalan yang dihadapinya secara sekaligus. Bila si peneror merupakan peserta yang hanya ingin diakui sebagai orang pintar, obsesinya segera terpenuhi saat pertama kali ia diberi kesempatan berbicara di depan audiens.

Nafsu terornya biasanya akan segera berkurang banyak. Bahkan, ketika setiap kali ada pertanyaan ia diminta menjawab, orang ini akan sadar bahwa dirinya sedang “dikontra-teror” oleh sang pelatih, sehingga nafsu terornya pun hilang.

Di sisi lain, bila peneror adalah peserta idealis yang menginginkan kualitas, sejak pertama kali diberi kehormatan maju ke depan podium, biasanya orang tersebut akan bersedia bekerja sama dengan memberikan informasi serta masukan-masukan yang bermanfaat. Tidak jarang bahwa peserta jenis ini akhirnya secara sukarela menempatkan diri bagaikan seorang asisten pelatih. Tanpa diminta, tanpa dibayar!

Nah, bila saat ini Anda adalah seorang trainer yunior, ada baiknya melatih diri dengan trik seperti di atas, dan Anda segera menjadi seorang Smart Trainer !! (rh)

*** Artikel ini dapat Anda baca juga di portal wirausaha http://www.gacerindo.com, dilengkapi dengan gambar.

Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
LifeWisdom Presenter
E-mail: rusman@gacerindo.com
Portal: http://www.gacerindo.com
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com
Mobile: 0816.144.2792

Sunday, August 05, 2007

Apa Yang Kau Cari Palupi?

APA YANG KAU CARI PALUPI?

Pada tanggal 30 Juli 2007 yang baru lalu, majalah “Globe” edisi Asia, melalui Executive Chairman nya Rizal Ramli mempublikasikan daftar peringkat orang-orang terkaya di Indonesia. (Kompas, 31 Juli 2007).

Dari daftar tersebut dapat dibaca bahwa gelar Orang Terkaya Nomor 1 di Indonesia saat ini dipegang oleh Budi Hartono, pemilik perusahaan PT Djarum Kudus dengan nilai aset sebesar 37,8 triliun rupiah.

Disusul kemudian oleh Rachman Halim, bos Gudang Garam di tempat kedua dengan kekayaan senilai 31,5 triliun. Sementara tempat ketiga diisi oleh dedengkot kelompok Sinar Mas, Eka Tjipta Widjaja dengan harta sebesar 27,9 triliun rupiah.

Sebelumnya, beberapa waktu yang lalu majalah beken “Forbes” juga mengumumkan daftar Orang-orang Terkaya di Indonesia.

Saat itu, formasinya berbeda. Yang bertengger di peringkat teratas adalah Sukanto Tanoto dari Raja Garuda Mas (Rp. 25 T). Peringkat kedua dipegang oleh Putera Sampoerna (Rp. 19 T), sedangkan di tempat ketiga ada Eka Tjipta Widjaja (Rp. 18,2 T).

Melihat angka-angka kekayaan mereka ini, mungkin ada di antara kita yang kesulitan membayangkan, sebenarnya seberapa besarkah uang triliunan milik orang-orang terkaya tersebut?

Saya bisa mengatakan bahwa mereka memang “benar-benar kaya”, karena jumlah uang yang mereka miliki memang “benar-benar buessarr..”. dan untuk itu saya bisa menunjuk satu kejadian sebagai acuan.

Dulu, sewaktu heboh peristiwa korupsi yang dilakukan oleh Edy Tanzil, dana yang ditilep oleh bos kelompok Golden Key itu adalah sebesar 1,3 triliun. Seorang pembaca “Kompas” yang tergelitik dengan jumlah tersebut, lantas mencoba menghitung, seberapa “besar” kah uang 1 triliun sebenarnya?

Ia lalu mengasumsikan bahwa uang 1 triliun itu diberikan dalam bentuk uang kertas pecahan 100 rupiah. Diukurnya panjang dan lebar dari selembar uang kertas tersebut, kemudian dihitung ada berapa lembar 100 perakan yang dibutuhkan guna melengkapi nilai 1 triliun.

Rasa keingintahuan mendorongnya untuk menghitung seberapa luaskah apabila seluruh lembar uang kertas 100-an rupiah digelar di atas tanah, sampai mencapai nilai 1 triliun. Hasilnya?

Wow, ia sendiri “surprised”! Karena ternyata luas “uang cepekan” yang digelar sampai senilai 1 triliun, akan menutupi keseluruhan luas Pulau Jawa!

Fuantastik.. kata seorang teman.

Maka ia yakin kalau jumlah kekayaan 150 orang kaya Idonesia, yang konon mencapai Rp. 419 triliun digelar dengan cara yang sama, maka seluruh luas wilayah Republik Indonesia akan tertutup habis, baik daratan mau pun lautannya..

Angka Tertinggi

Saya mencoba untuk mengkaji dengan cara saya sendiri. Dulu di Indonesia, ada sebutan “jutawan” untuk menggambarkan orang kaya atau banyak duit. Beberapa waktu kemudian istilah tersebut tampaknya menjadi ketinggalan jaman, sehingga muncul istilah pengganti, yaitu “milyarder” karena orang kaya uangnya tidak lagi cuma jutaan, tapi milyaran.

Lalu, kalau sekarang mereka uangnya sudah triliunan begitu, saya nggak tau lagi istilahnya apa? Triliuner?

Satu triliun itu kalau ditulis dengan angka, maka paling tidak harus ada angka nol sebanyak 12 buah. Ditambah angka 1 di depannya, maka total ada 13 digit.

Lantas, sampai berapa digitkah angka yang harus dicapai oleh para orang kaya agar prestasinya tidak dapat lagi digeser oleh orang lain? Berapakah angka tertinggi yang ada di dunia ini?

Angka atau bilangan tertinggi di dunia ini tidak ada, bahkan manusia pun tidak tahu cara menuliskan angka yang mewakili nilai “tidak terhingga”, sehingga disepakati bahwa dipakai simbol “∞” untuk keperluan itu.

Nah, kalau angka tertinggi itu tidak pernah ada, saya berfikir, bukankah kontes pemeringkatan orang-orang terkaya itu juga menjadi pekerjaan yang sia-sia? Tidakkah itu sama dengan pekerjaan mengejar-ngejar bayangan, yang sampai kapan pun tidak akan pernah sampai dititik akhir?

Seorang teman sempat mengeritik saya: “Pak Rusman, bukankah kita lihat di arena olah raga juga berlaku seperti itu? Coba lihat, atlit lompat tinggi tidak akan pernah mencapai langit sampai kapan pun mereka melompat, kan? Tapi kompetisi selalu digelar. Atlit-atlit unggulan datang, berprestasi maksimal, mereka lalu menjadi juara di puncak kejayaannya untuk kemudian digusur lagi oleh mereka yang datang belakangan. Muncul juara baru, begitu seterusnya, dan itulah siklus hidup. Yang penting itu semua bermanfaat..”

“Justru itu yang saya maksud..”, jawab saya menimpali.

“Kejuaraan olah raga memang mendatangkan banyak manfaat bagi banyak orang. Atlit menjadi sehat, termotivasi, dan mereka pun dibayar untuk prestasinya. Pihak penyelenggara berikut berpuluh-puluh pekerja mendapat penghasilan dari karcis masuk, penonton pun terhibur..”

“Nah, kalau bicara mengenai manfaat, mari kita lihat sampai di mana manfaat yang bisa ditarik dari sebuah kontes orang-orang kaya. Jumlah kekayaan yang dilibatkan tidak main-main lho. Ratusan triliun itu lebih besar dari anggaran belanja negara di bidang apapun, selama satu tahun. Kalau uang sekian banyak benar-benar dimanfaatkan untuk kemaslahatan masyarakat, tentunya keadaan negeri ini tidak separah sekarang. Coba lihat, pengangguran berapa juta orang? Kelaparan di mana-mana, kemiskinan merajalela. Itu sebabnya saya merasa kontes semacam itu tidak banyak mendatangkan manfaat..”

Kesenjangan Sosial

Publikasi pemeringkatan orang-orang terkaya di Indonesia, lebih condong merupakan publikasi tentang kesenjangan sosial yang ada di Indonesia. Karena, sementara sekelompok kecil orang menguasai sekian banyak potensi ekonomi negara, di sisi lain kita lihat kemelaratan yang berlarut-larut menimpa sebagian besar rakyat.

Pertanyaannya adalah, seberapa jauhkah keberadaan kaum kaya itu mendatangkan manfaat bagi rakyat banyak?

Kita tidak menutup mata bahwa di antara orang-orang kaya itu terdapat beberapa pengusaha yang telah berjasa “menghidupi” ribuan buruh yang bekerja di pabrik-pabrik mereka.

Tapi, buruh tetaplah buruh, sebuah profesi yang sama-sama kita tahu kondisinya, gajinya, serta kesejahteraannya seperti apa. Demikian juga masa depannya, yang dari tahun ke tahun ya begitu-begitu juga..

Kita tidak menutup mata akan adanya para pengusaha kaya yang menjadi “filantropis”. Mereka maju ke depan saat terjadi berbagai bencana dan menyumbangkan banyak dana guna membantu para korban. Tapi, seberapa ikhlaskah? Seberapa besar? Dan tidak adakah maksud lain di balik itu semua?

Seorang taipan negeri ini dengan ringan mengatakan menyumbang 2 milyar untuk korban tsunami di Aceh, seraya mengatakan: “Itu hanya sebagian kecil dari harta saya..”

Alhamdulillah, yang bersangkutan mau menyumbang sesama. Tapi, hanya itukah?

Kalau sang taipan menyumbang 2 milyar dari hartanya yang 20 triliun misalnya, maka itu berarti dia menyumbang sebesar 1 per mil dari total aset yang dimiliki. Bandingkan bila seorang pesuruh kantor yang seluruh miliknya bernilai 2 juta rupiah, lalu ia menyumbang sebesar Rp. 50.000 untuk Aceh, berarti dia memberi sebesar 2,5 persen dari hartanya. Tidak jelas lagi, mana yang lebih berharga dari keduanya, sumbangan sang taipan, ataukah sumbangan si pesuruh?

Bukankah rakyat tidak hanya butuh kerja hari ini untuk bisa makan hari ini, dan diberi ransum saat bencana datang saja? Mereka butuh masa depan yang lebih baik..

Motivasi

Beberapa orang mengatakan bahwa daftar orang-orang terkaya di Indonesia itu dapat dimanfaatkan sebagai motivasi bagi kalangan pengusaha Indonesia untuk lebih memacu prestasinya secara lebih maksimal, sehingga diharapkan di masa mendatang akan ada lebih banyak lagi pengusaha-pengusaha sukses yang berkontribusi besar untuk negara.

Rizal Ramli pun mengatakan bahwa daftar orang-orang terkaya yang dipublikasikan oleh institusinya itu merupakan terobosan dari semangat kewirausahaan dan talenta komunitas bisnis Indonesia.

Benarkah demikian?

Kalau melihat apa yang saya utarakan di atas, kehadiran orang-orang kaya tampaknya tidak terlalu banyak mengangkat derajat kehidupan rakyat Indonesia. Kemiskinan dan kelaparan yang masih berlarut-larut di segala pelosok tanah air menjadi bukti nyata.

Dilain fihak, sebagaimana banyak saya tuliskan pada tulisan-tulisan sebelumnya, motivasi menjadi kaya akan merupakan upaya yang riskan. Di tengah-tengah budaya hidup yang serba materialistis ini, di mana orang menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan kekayaan, pemeringkatan orang-orang kaya justru bisa mendatangkan mudarat.

Sebab apa?

Sebab, sebelum adanya angket pemeringkatan tersebut, masyarakat telah terlebih dahulu dimotivasi habis-habisan oleh kultur kehidupan yang mendewakan kemewahan selama lebih dari 30 tahun, sejak zamannya Orde Baru berkuasa.

Lihat saja film atau sinetron Indonesia, yang tanpa relevansi jelas, begitu banyak mengeksploitir kekayaan sebagai daya tariknya. Kalau Anda datang ke lahan parkir para wakil rakyat yang terhormat di Senayan, di situ kita bisa lihat “pameran mobil mewah” milik beliau-beliau yang sudah pasti kaya-kaya semua.

Di kota-kota besar, apartemen-apartemen mewah memasang harga yang tidak tanggung-tanggung. Rata-rata bisa mencapai di atas 1 milyar rupiah. Tapi, sulitkah untuk mengerti mengapa di negeri miskin ini, apartemen mewah sudah “sold-out”, terjual habis bahkan sebelum pembangunan fisiknya dimulai?

Hal-hal semacam itu merupakan pencetus motivasi rakyat banyak untuk bisa menjadi kaya. Di tengah-tengah kondisi negeri saat sekarang, di mana mencari pekerjaan susah, mencari peluang usaha juga susah, tidak ada pilihan lain selain mencari jalan pintas. Maka jangan heran kalau kemudian beberapa pengusaha berubah menjadi pembobol-pembobol bank, sebagian lagi mengedarkan bahkan membangun pabrik narkotika, munculnya penipu-penipu melalui sms hadiah, para birokrat yang menjalankan korupsi berjamaah dan lain sebagainya.

Ini juga barangkali yang bisa menjelaskan mengapa hasil angket internasional menobatkan Indonesia sebagai salah satu “Negara Terkorup di Dunia”.

DR. Suparman mengatakan bahwa seorang wirausahawan adalah seorang pengusaha yang secara moral bersih. Jujur dan berintegritas, jauh dari perilaku korupsi serta kolusi. Dan itu yang dibutuhkan bangsa ini, kalau kesejahteraan rakyat memang menjadi prioritas.

Oleh sebab itu, menurut saya, bagi seorang wirausahawan sejati tidaklah perlu memotivasi diri dengan faktor kekayaan semata. Riskan, sebab begitu kekayaan tidak mau datang dengan segera, kita pasti tergoda untuk mencari jalan pintas.

Dan, istimewanya, akan banyak pihak lain, yang dengan tangan terbuka akan menerima kita untuk bersama-sama mencari jalan pintas di blantika bisnis Indonesia yang sudah ambur adul.

Selama kita masih mau berharap bahwa suatu waktu kelak landasan moral bangsa Indonesia akan kembali membaik, sehingga pada gilirannya nanti juga akan membawa perbaikan kesejahteraan bersama yang lebih adil, maka sebaiknya kita mencari pemicu motivasi yang lain saja. (rh)



Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
E-mail: rusman@gacerindo.com
Web: http://www.gacerindo.com
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com
Mobile: 0816.144.2792

Monday, February 12, 2007

KEWIRAUSAHAAN DI TENGAH BENCANA

KEWIRAUSAHAAN DI TENGAH BENCANA

Sebenarnya, bangsa Indonesia mempunyai potensi dan bakat terpendam untuk bisa maju. Hanya saja, sejauh ini belum ada pihak-pihak yang mempunyai otoritas yang mampu menyerap potensi tersebut dan menuangkannya ke dalam sebuah konsep terpadu guna meningkatkan taraf hidup bangsa. Andaikan hal itu dapat terjadi, bukan mustahil dalam waktu relatif singkat, Indonesia akan menjadi sebuah negara yang sejahtera, adil makmur gemah ripah loh jinawi toto tentrem kertoraharjo.

Potensi terpendam yang dimaksud adalah semangat dan bakat kewirausahaan. Hal itu dapat disimak dari berbagai kejadian yang terjadi sepanjang “minggu bencana” tatkala banjir melanda ibukota Jakarta sejak Jumat 2 Februari 2007 yang lalu.

Di awal musim penghujan, semangat wirausaha sudah merebak dengan munculnya fenomena “ojek payung” di mana kita lihat banyak orang terutama justru anak-anak kecil menyewakan payung kepada orang-orang yang membutuhkan, seperti para karyawan kantor, ibu-ibu yang ingin belanja dan lain-lain.

Ide “ojek payung” tentu sangat sederhana, tapi manfaatnya luar biasa. Bisa dibayangkan bagaimana senangnya para karyawan dengan dandanan yang serba keren dan necis, bisa terhindar dari keadaan basah-kuyup – yang tentu akan menyebabkan mereka batal kerja – hanya dengan membayar 2 – 3 ribu rupiah pada bocah-bocah yang berbisnis sambil menggigil kedinginan.

Di fase selanjutnya, ketika beberapa kendaraan bermotor mogok di tengah jalan di bawah guyuran hujan deras, terlihat pula para pemuda turun tangan menawarkan jasa “dorong mobil” untuk menolong para pengemudi apes, dengan imbalan sejumlah uang. Ini memang bisnis klasik dan tradisional, tapi manfaatnya tetap signifikan sampai sekarang.

Saat musim hujan makin menggila dan banjir mulai bermunculan di berbagai tempat, permasalahan yang timbul pun makin kompleks. Warga terkurung di rumah karena lingkungan sekitar terkepung air setinggi lebih dari 30 sentimeter. Mereka yang berniat pergi kerja menjadi kesulitan melintasi banjir.

Maka muncul lagi sebuah “implementasi kewirausahaan” yang diperlihatkan para pemuda setempat. Dengan “kreativitas instan”, mereka terinspirasi untuk memanfaatkan gerobak-gerobak sebagai sarana pengangkut orang dan barang melintasi banjir. Dengan tarif 20 ribuan rupiah, para pemuda berjiwa bisnis itu bisa melakukan “win-win business solution” yang benar-benar manfaat. Para karyawan dapat menyelamatkan penampilannya yang memang harus necis, sepeda-sepeda motor juga terhindarkan dari risiko mogok dan rusak di terjang air, sementara para “intant businessmen” pun mendapatkan rejeki yang halal.

Tidak hanya berhenti di situ, manakala banjir mulai surut meninggalkan sisa-sisa kotoran, lumpur, sampah dan limbah yang luar biasa banyaknya di rumah-rumah warga, semangat kewirausahaan bangsa Indonesia muncul lagi dalam bentuk lain. Beberapa orang, sebagian di antaranya adalah pemulung, berinisiatif menawarkan jasa pembersihan rumah kepada para pemilik rumah yang kesulitan menangani sendiri pekerjaan itu. Maka, transaksi bisnis pun terjadilah, dengan uang jasa sebesar Rp. 10.000, rumah tinggal pun menjadi bersih kembali.

Lebih menarik lagi adalah apa yang terjadi pada hari-hari terakhir ini. Ada satu dua orang wirausahawan dadakan, yang secara cantik sekali berkeliling menawarkan peralatan pembersih rumah, utamanya alat pembersih lantai yang bentuknya mirip penghapus kaca mobil, tapi berukuran besar dan bergagang panjang. Juga ada yang menjajakan sapu lidi yang ampuh untuk membersihkan lantai mau pun halaman.

Kalau kita mau mencermati, tak pelak lagi rangkaian fenomena di atas menunjukkan bahwa bangsa kita, yang terpresentasikan oleh lapisan masyarakat kelas bawah, adalah bangsa yang memiliki daya juang, kreativitas serta semangat kewirausahaan tinggi. Ini merupakan modal intangible yang sungguh-sungguh potensial.

Lantas, kalau potensi ini belum juga tereksplorasi, berapa lama lagikah bangsa Indonesia harus menunggu sampai tercapainya kondisi yang benar-benar sejahtera? Wallahu alam..(rh)


*** Artikel berita ini dapat Anda baca juga di portal wirausaha http://www.gacerindo.com, dilengkapi dengan foto.

Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
E-mail: rusman@gacerindo.com
Web: http://www.gacerindo.com
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com
Mobile: 0816.144.2792

Wednesday, December 13, 2006

BISNIS ITU PERMAINAN, BUKAN ILMU PENGETAHUAN

Selama kita merasa belum familiar dan takut memulai bisnis, biasanya yang timbul di pikiran kita adalah: “belajar!”. Pilihannya mungkin dengan jalan mengambil program S2 dan jadi seorang MBA, atau ikut sebanyak-banyaknya seminar dan pelatihan, atau bisa juga dengan berguru dan mengabdi pada seorang begawan bisnis.

Kira-kira, sudah selaraskah alur pemikiran yang sedemikian dengan apa yang terjadi pada kenyataannya? Mari kita telaah.

Kebanyakan dari kita berbisnis karena ingin sukses, lalu menjadi kaya raya. Kita membayangkan, betapa enak dan hebatnya bila kita dapat sesukses dan sekaya Bill Gates atau Donald Trump. Menurut pandangan masyarakat pada umumnya, mereka itulah orang-orang sukses yang sebenar-benarnya. Merekalah sosok-sosok pebisnis yang prestasinya membuat banyak orang terobsesi.

Maka tidak heran jika para pakar pun berusaha menyadap dan mempelajari segala hal yang ada pada orang-orang sukses itu, dengan harapan dapat mentransfer nilai-nilai kesuksesannya kepada orang-orang lain yang juga ingin menjadi figur sukses. Mereka berpendapat bahwa: “Leaders are made, not born”.

Selanjutnya, segala sepak terjang yang dilakukan oleh para pebisnis tersebut, dikumpulkan, dipilah-pilah, lalu dianalisis. Dari analisis itu dibuat teori-teori. Hasilnya, muncullah berbagai teori kesuksesan yang terkemas dalam materi-materi “ilmu bisnis”, wacana profesionalisme, ilmu kepemimpinan (leadership), dan lain sebagainya.

Orang-orang awam memang ingin sekali menemukan cara-cara yang bisa membantu mereka untuk secara cepat mencapai kesuksesan. Semacam rel kereta yang tinggal diikuti saja akan mengantar orang tiba di gerbang kejayaan.

Namun demikian, apa benar kalau kita ingin menjadi figur sukses -- lebih spesifiknya pebisnis sukses -- harus menempuh perjalanan yang sarat dengan teori-teori kesuksesan seperti itu?

Dari berbagai catatan yang ada, tampaknya tidak demikian. Banyak sepak-terjang yang dilakukan oleh para pemimpin bisnis dunia tidak mencerminkan bahwa kesuksesan mereka disebabkan pembelajaran yang sungguh-sungguh dalam ilmu bisnis, profesionalisme dan teori kepemimpinan. Tidak juga pengetahuan ekonomi, teori-teori tentang kebebasan finansial, ilmu marketing dan lain sebagainya. Pun, tidak karena mereka rajin mengikuti seminar kesuksesan atau lokakarya tentang strategi bisnis.

Di lain pihak, banyak pemimpin bisnis ternyata merupakan orang-orang yang justru tidak suka belajar, malas sekolah, dan hanya ingin bermain-main saja. Boro-boro ikut seminar atau lokakarya. Lho kok bisa?

Ada beberapa contoh kasus. Yang pertama, Thomas Alva Edison. Nama ini sudah kita tahu sejak di bangku SD bukan? Namun, tentunya kita kenal Edison lebih sebagai tokoh ilmu pengetahuan, karena sekolah memfokuskan ajaran hanya pada penemuan atas lampu pijar dan berbagai temuan teknis lain yang dilakukannya.

Maka jarang kita memperhatikan bahwa sesungguhnya Thomas Alva Edison adalah juga seorang pengusaha besar yang sukses. Ia adalah pemilik dan pendiri berbagai perusahaan dengan nama-nama seperti Lansden Co. (mobil/otomotif), Battery Supplies Co. (baterai), Edison Manufacturing Co. (baterai dsb), Edison Portland Cement Co. (semen dan beton), North Jersey Paint Co. (cat), Edison General Electric Co. (alat listrik dll), dan banyak lainnya. Salah satu yang masih berjaya sampai sekarang adalah General Electric.

Apakah untuk mencapai itu semua Edison harus bersusah-payah mengikuti berbagai sekolah dan pendidikan tinggi? Atau mengikuti seminar kelas dunia yang diselenggarakan oleh para pakar kesuksesan, pakar bisnis atau pakar financial freedom? Ternyata tidak. Figur Edison adalah figur pemalas yang hanya tahan 3 minggu bersekolah. Ia lebih suka bermain-main dengan perkakas, dengan kawat dan dengan listrik. Itu kesenangannya dan dengan itu ia sukses.

Contoh lain adalah Kenji Eno. Ia juga tidak suka sekolah. Ia cuma suka bermain-main dengan permainan, istimewanya dengan video games. Kelas 2 SMA berhenti sekolah terus nganggur. Lalu dapat kerja di perusahaan perangkat lunak, sampai akhirnya ia berhasil mendirikan perusahaan perangkat lunaknya sendiri yang dinamakan WARP. Dalam tempo beberapa tahun saja Kenji Eno mampu membawa perusahaannya menjadi perusahaan video games terhebat di dunia yang diakui oleh tokoh-tokoh industri.

Fenomena-fenomena yang dibuat oleh orang-orang semacam Edison dan Kenji Eno ini memberi kesan kepada kita semua bahwa bisnis itu sebenarnya lebih dekat kepada sebuah permainan, dan terlalu jauh untuk diperlakukan sebagai sebuah ilmu pengetahuan.

Gede Prama yang dikenal sebagai pakar manajemen (bahkan dijuluki Stephen Covey Indonesia), mengomentari fenomena Kenji Eno sebagai kesuksesan dari kebebasan berfikir yang mampu melompat, karena belum terkena polusi-polusi yang dibuat sekolah.

Menurut saya, adalah keliru mempelajari fenomena pemimpin, untuk menciptakan pemimpin. Demikian juga, keliru mempelajari fenomena pebisnis sukses, untuk mencetak pebisnis sukses. Sebab, fenomena pemimpin (atau pebisnis) adalah fenomena manusia, yang tidak sama dengan fenomena alam. Kalau Isaac Newton mempelajari peristiwa jatuhnya buah apel ke tanah (fenomena alam) dan kemudian menemukan hukum gavitasi, maka itu oke-oke saja. Karena fenomena alam tidak berubah, hukum gravitasi pun akan tetap abadi.

Akan tetapi, mempelajari fenomena manusia pasti akan menimbulkan frustrasi. Sebab, manusia merupakan mesin perubahan, sehingga tidak akan ada fenomena manusia yang tinggal tetap abadi sepanjang masa, berlawanan dengan yang kita lihat pada peristiwa jatuhnya buah apel.
Pemimpin, dalam bidang apa pun termasuk bisnis, adalah sosok manusia yang bebas, yang bertindak semaunya tanpa memperhatikan teori mau pun kaidah, sehingga nyaris percuma kalau kita ingin mempelajari dan mengikuti jejak sepak terjangnya.

Coba lihat, pada saat terjadinya resesi ekonomi dunia tahun 1929, semua orang berdasarkan teori-teori yang ada, berusaha untuk berlaku sehemat mungkin. Tapi sebaliknya, Matsushita si raja elektrik dari Jepang malah royal mengeluarkan uang. Seakan uang itu tidak lebih dari mainan saja layaknya. Meski pun bukan tanpa alasan dia berlaku demikian.

Lihat juga Kim Woo Chong, pendiri imperium Daewoo. Ketika semua pengusaha (juga dengan teori-teori yang ada) berkonsentrasi memasuki pasar negara-negara kaya semacam Amerika dan Eropa, ia malah dengan santainya masuk ke pasar-pasar “keras” seperti Iran, Sudan dan Rusia serta negara-negara blok timur.

“Kesia-siaan” mempelajari dan berusaha mengikuti sepak terjang para pemimpin bisnis bisa dirasakan secara langsung di lapangan. Saat pertama kali Harvard Business Review mempublikasikan konsep pemasaran yang beken dengan “Marketing Mix” 4P (product, price, place dan promotion), nyaris semua pengusaha serta pakar bisnis menganut konsep ini secara fanatik. Begitu juga dengan perguruan-perguruan tinggi dan sekolah manajemen.

Tapi, tidak terlalu lama, sebagai akibat “ulah” para pemimpin bisnis yang gemar bermain-main, perubahan tren perekonomian dan industri memaksa para pakar dan pembelajar merubah lagi konsepnya dengan 6P, 8P bahkan yang terakhir disebutkan sebagai 12P.

Terus bagaimana? Kalau kita harus bersiaga setiap saat untuk belajar dan tidak ketinggalan zaman dengan ilmu marketing, kapan kita berbisnis?

Saya rasa kita semua banyak yang terjebak dan hanyut dalam “arus ilmu pengetahuan” yang dibuat oleh mereka yang “pakar ilmu pengetahuan”, sehingga kita tidak sempat lagi berinovasi yang justru merupakan kunci sukses bisnis. Kita malah terus menerus “dipaksa” mengejar ketinggalan ilmu pengetahuan tanpa tahu di mana ujung pangkalnya.

Pertanyaannya: ”Sebenarnya kita mau jadi pebisnis atau mau jadi ilmuwan sih?”

Saya sendiri yakin bahwa bisnis dan kesuksesan itu adalah semacam permainan saja. Seperti apa yang dikatakan oleh William Cohen dalam tulisannya “The Art Of The Leader” : “Success is acquired by playing hard, not by working hard..”.

Mengacu pada obsesi banyak orang tentang Bill Gates dan Donald Trump sebagaimana disebut di atas, perlu diketahui bahwa kedua orang tokoh ini pun mencapai sukses dari kesenangannya bermain-main.

Bill Gates sejak masih berusia 13 tahun sudah bermain-main dengan perangkat lunak komputer, dan dengan itu ia menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Donald Trump juga sejak kecil selalu bermain-main ke kantor ayahnya, Fred Trump. Dia suka sekali melihat-lihat maket gedung dan pencakar langit, sebelum tertarik dengan bidang bisnis sang ayah, yaitu properti. Dan jadilah Donald Trump seorang Raja Properti.

Terakhir yang ingin saya sampaikan adalah, orang yang mempelajari ilmu kepemimpinan tidak akan menjadi pemimpin. Tapi, orang yang mencoba menjadi pemimpin, akan menjadi pemimpin. Demikian juga, orang yang mempelajari ilmu bisnis, tidak akan menjadi pebisnis. Tapi, orang yang mencoba menjadi pebisnis, akan menjadi pebisnis.



Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
E-mail: rusman@gacerindo.com
Web: http://www.gacerindo.com
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com
Mobile: +62 21 816.144.2792

Sunday, November 12, 2006

BIZMART YANG SAYA LIHAT

BIZMART YANG SAYA LIHAT

Seperti yang telah dicanangkan via internet, acara “Kopi Darat” ke-IV milis Bisnis-Smart ternyata jadi dilaksanakan. Meski ditandai dengan berbagai “silang-pendapat” serta perubahan tempat, Kopdar akhirnya berjalan mulus dan cukup mengesankan.

Acara yang dihadiri lebih dari 20 orang itu, digelar pada hari Sabtu 11 November 2006 dengan mengambil lokasi di kafe “Bukafe” Jalan Duren Tiga Raya, Jakarta Selatan. Hadir antara lain, para aktivis serta petinggi milis seperti Anton Witono, Rio Nasution, Iwan, Roesmiyati, Eko dan tentu saja tidak ketinggalan “bos” Bisnis Smart, penulis buku “Cara Brilian Menjadi Karyawan Beromset Miliaran” (CBMKBM), Masbukhin Pradhana.

Acara-acara yang diagendakan pada acara tersebut secara berturut-turut setelah dibuka oleh panitia, adalah presentasi tentang masalah “Branding”, dibawakan oleh Rio Nasution, dilanjutkan dengan paparan mengenai “Menguak Daerah Abu-Abu antara Bisnis dan Wirausaha” oleh Rusman Hakim, dan dilanjutkan oleh Masbukhin Pradhana dengan mengambil acuan dari materi yang dibawakan oleh 2 pembicara sebelumnya.

Setelah makan siang, Kopdar dilanjutkan lagi dengan presentasi tentang pembentukan Koperasi Bizmart, lengkap dengan jadwal kerja beberapa bulan ke depan dari unit operasional Bizmart yang masih embrionik tersebut. Berbicara dalam sesi ini Stephanus Kurnianto dengan “stage-act” cukup mengesankan.

Agenda dilanjutkan lagi dengan sesi tanya-jawab, di mana para hadirin dapat melontarkan berbagai pertanyaan kepada para pembicara seputar masalah-masalah kewirausahaan. Dan terakhir, semua hadirin dilibatkan dalam acara ramah-tamah, “door-prize”, serta foto bersama.

Ada hal yang cukup mengesankan dalam Kopi Darat Ke-IV ini, yaitu suasana kebersamaan yang sangat kental di antara sesama anggota milis. Sebagian besar peserta kelihatan ceria dan penuh senyuman. Di Sabtu pagi yang cerah itu, suasana kafe “Bukafe” seakan bertambah segar dengan senyum ramah serta canda-tawa para member milis Bisnis-Smart.

Hal lain yang juga mengesankan adalah partisipasi yang tinggi dari beberapa wirausahawan. Meski masih dalam rangka promosi produknya, inisiatif mereka dalam membagi-bagikan produk, patut diacungi jempol. Tampak antara lain Isdiyanto, Pemimpin Umum Majalah “Wirausaha+Keuangan” yang membagikan puluhan eksemplar majalah, Roesmiyati yang menghadiahkan voucher makan gratis di gerai “Bakmi Patriot” miliknya, Masbukhin yang memberikan “rabat” pagi penjualan buku karyanya sendiri “CBMKBM”, serta beberapa orang lagi dengan kontribusinya masing-masing.

Secara keseluruhan, acara Kopi Darat IV milis Bisnis Smart ini cukup sukses, dan kita perlu angkat topi atas hasil kerja panitia yang telah bekerja keras sejak beberapa waktu sebelumnya.

Namun demikian, ada juga satu hal yang kiranya perlu menjadi masukan bagi para pengelola kelompok “netter” yang anggotanya sudah hampir mencapai 1000 orang ini. Menurut pengamatan, ada lebih kurang 30% dari keseluruhan audiens yang tampaknya agak kesulitan memperlihatkan kebebasan gerak, kebebasan berbicara serta kebebasan berkiprah di antara sekian banyak hadirin lainnya.

Orang-orang ini tampak begitu diam, nyaris tanpa ekspresi. Meski terlihat mendengarkan dengan baik setiap materi pembicaraan dan juga memperhatikan dengan seksama apa yang terjadi di ruang pertemuan, namun terkesan mereka rikuh dan sangat pasif dalam berinteraksi dengan sekelilingnya.

Hal seperti ini tampak berbeda dengan apa yang biasa kita temui di dalam pertemuan-pertemuan sejenis, yang diselenggarakan oleh kelompok-kelompok MLM (Multi Level Marketing}, seperti misalnya CNI atau Amway.

Dalam pertemuan-pertemuan MLM, nyaris 95% audiens berekspresi dengan begitu bebas dan sangat antusias. Sedemikian antusiasnya, sehingga walau pun beberapa orang ada yang tidak kebagian tempat strategis dalam sebuah pertemuan, dan harus puas berdiri di bagian pojok belakang, mereka ini tetap terlihat bergairah, bersorak meneriakkan yell-yell, bertepuk tangan, mengacungkan tinju serta tertawa lebar. Jelas sekali mereka sangat termotivasi di dalam lingkungan bisnisnya sendiri.

Fenomena semacam itu bisa kita temui tidak cuma di lingkungan MLM. Pada kelompok-kelompok agen asuransi pun, para pesertanya memperlihatkan gairah antusiasme serta motivasi yang sangat tinggi. Demikian juga di beberapa perusahaan multinasional.

Mungkin seyogyanyalah kita berfikir bahwa dalam sebuah komunitas kewirausahaan, motivasi merupakan sebuah kultur dasar yang harus benar-benar dibina. Tidak pelak lagi bahwa dalam berbisnis, faktor motivasi merupakan sebuah prasyarat yang sangat menentukan. Sebagaimana yang dilontarkan Ciputra, sang raja properti Indonesia, bahwa ada 3 hal penentu kesuksesan seorang usahawan, yaitu: motivasi, motivasi dan motivasi.

Mudah mengenali orang-orang yang hidupnya termotivasi. Mereka adalah orang-orang yang selalu proaktif, berani tampil (meski tidak tampan atau cantik), berani bicara (meski tidak pandai merangkai kata-kata), murah senyum serta selalu cenderung membantu orang lain.

Karena salah satu tujuan dibentuknya komunitas bisnis adalah untuk berbagi, baik berbagi informasi mau pun berbagi kesempatan, maka alangkah cantiknya jika seluruh anggota komunitas dapat “dibentuk” menjadi orang-orang yang termotivasi seperti itu. Semakin banyak perserta yang “motivated people”, akan semakin efektif pula sebuah milis kewirausahaan. Hal seperti itulah yang sekiranya kita harapkan dapat terjadi di dalam komunitas Bisnis Smart.

Jangan dilupakan, bahwa peserta datang dalam sebuah pertemuan, pasti dengan berbekal sebuah pengharapan, bahwa mereka akan mendapatkan sesuatu atau bahkan banyak hal yang berharga. Itu sebabnya mereka mau membayar, dan mengorbankan waktu serta energinya untuk bisa hadir. Mengapa tidak kita sambut pengharapan mereka dengan memberi “imbalan” secara maksimal?

Oleh sebab itu, kiranya perlu juga dipertimbangkan oleh otoritas milis, kemungkinan adanya penyelenggaraan sebuah program pelatihan untuk pembinaan motivasi. Pelatihan tersebut biasanya disebut dengan “Motivation Building Training Prorgam”, di mana di dalamnya terdapat sesi-sesi yang menyangkut proaktivitas, seperti “Self Inventory” dan “Public Speech” .

Untuk menekan biaya, kelihatannya bisa dijajaki bahwa di antara sekian banyak anggota di komunitas ini, terdapat orang-orang yang cukup kompeten untuk menjadi trainer, sedangkan untuk mekanisme pelaksanaannya, bisa dipastikan bahwa panitia Kopdar yang selama ini turun tangan, sudah cukup piawai untuk menjamin kelancaran penyelenggaraan program tersebut.

Semoga saja…



Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
E-mail: rusman@gacerindo.com
Web: http://www.gacerindo.com
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com
Mobile: +62 21 816.144.2792