Thursday, May 21, 2009

4 DIMENSI USAHAWAN DALAM MENANGGAPI PERUBAHAN


4 DIMENSI USAHAWAN DALAM MENANGGAPI PERUBAHAN

Menurut catatan saya, sedikitnya ada 4 jenis dimensi ruang di mana para usahawan harus mampu berkiprah. Pada 4 dimensi ruang itu pula , para usahawan membekali diri dengan 4 jurus dasar sebagai solusi untuk bertahan dalam kehidupan yang sewaktu-waktu bisa berubah.

Hal ini sebenarnya tidak melulu tentang sepak terjang para pengusaha atau pebisnis, melainkan juga mencakup semua kelompok sosial yang bermental proaktif, tangguh, tanggap serta trengginas terhadap setiap perubahan yang mungkin terjadi. Empat dimensi itu adalah sebagaimana diuraikan di bawah ini.

(1)
Pada keadaan pasar (ekonomi) normal, solusinya adalah nilai tambah
atas hal-hal teknis.

Apabila keadaan sedang tidak menunjukkan ketidakstabilan, tidak juga ada gonjang-ganjing dalam masalah politik, ekonomi, sosial atau lainnya, maka solusi untuk tetap eksis di blantika kehidupan berbisnis, biasanya dilakukan dengan meningkatkan nilai tambah atas hal-hal teknis pada produk, baik barang mau pun jasa. Sebab apa?

Sebab dalam dimensi ruang seperti ini, yang memegang peranan utama adalah memang hal-hal yang menyangkut kualitas produk, teknologi, ketersediaan bahan baku, ketersediaan SDM dan lain sebagainya.

Sampai kepada tingkat persaingan yang intensitasnya masih termasuk normal, para usahawan harus berkonsentrasi pada masalah bagaimana membuat nilai tambah yang memungkinkan produk mereka menjadi lebih unggul terhadap para pesaingnya.

(2)
Pada keadaan pasar yang ambur-adul, solusinya adalah pergeseran citra.

Ketika tingkat persaingan sudah meninggi sedemikian rupa hingga menciptakan kondisi tidak sehat, maka pasar berubah menjadi apa yang oleh Chan Kim dan Renee Mauborgne disebut sebagai “Lautan Merah” yang berdarah-darah. Di sini semua orang menderita, pasar yang buruk mengakibatkan usaha keras dan biaya besar hanya memberikan sangat sedikit hasil yang tidak sepadan dengan ongkos yang dikeluarkan.

Solusinya adalah dengan melakukan pergeseran citra atas produk, antara lain dengan merubah definisi usaha, kemasan serta kategori produk, jangkauan segmen pasar, serta berbagai keunggulan kompetitif yng sangat spesifik. Dengan jalan ini, sang usahawan bisa menciptakan sebuah pasar baru yang bebas dari persaingan tak sehat. Dengan kata lain ia telah menciptakan “Samudera Biru” yang aman sentosa (Kim dan Renee: “Blue Ocean Strategy”).

Cara lainnya adalah dengan mengeksplorasi berbagai ceruk pasar yang baru atau “niche markets”, yaitu celah pasar yang belum tergarap di tengah-tengah pasar yang sudah ada.

(3)
Pada situasi krisis yang parah di suatu lokasi, solusinya adalah pergeseran geografis.

Adakalanya, sebagai akibat kebijakan pemerintah yang kurang adil, langkanya sumber-sumber daya ekonomi, atau faktor-faktor force majeur seperti huru-hara, bencana atau bahkan perang, suatu kawasan berubah menjadi daerah krisis yang “tak layak bisnis”.

Untuk mengatasi hal itu, para usahawan dan juga berbagai fihak yang memiliki nalar dan daya juang, umumnya akan mengambil jalan keluar dengan melakukan pergeseran atau perpindahan geografis. Termasuk dalam hal ini fenomena “pengusaha perantauan” yang merantau dari daerah asal mereka ke daerah lainnya, urbanisasi penduduk dari pedesaan ke perkotaan, dan juga pengungsian dari satu negeri ke negeri lainnya. Bukti empiris memperlihatkan contoh, bahwa pengungsi Vietnam yang menghebohkan beberapa waktu lalu, sebagian besar merupakan kaum pengusaha di negeri asalnya.

Dengan analogi yang sama, sejarah memunculkan fenomena sejenis pada peristiwa eksodusnya kaum Yahudi yang kemudian mendirikan negara Israel, hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah serta hijrahnya para pejuang RI dari Yogyakarta pada tahun 1949.

(4)
Pada krisis global, solusinya adalah: “Fasten your belt!”, benarkah?

Krisis global tentunya mencengkeram hampir seluruh kawasan di dunia. Oleh sebab itu krisis ini tidak tepat untuk diatasi dengan jurus-jurus seperti disebutkan di atas. Satu-satunya jalan keluar yang selama ini dianjurkan oleh pakar ekonomi dan dianut oleh masyarakat di hampir semua negara adalah dengan jalan “fasten your belt” alias “kencangkan ikat pinggang Anda”.

Maka tidak heran kalau kita lihat pada masa krisis seperti sekarang, semua orang berusaha menghemat, pengeluaran benar-benar diawasi dan dikendalikan, tidak ada yang mau memulai transaksi jika tidak betul-betul bisa dipertanggungjawabkan.

Namun, jarang yang menyadari bahwa dengan bersikap demikian ketat, sebenarnya kita telah mengundang krisis yang lebih hebat lagi. Para pengusaha cerdas dan para ekonom yang arif mengkhawatirkan bahwa justru dengan sikap menahan diri yang berlebihan, perputaran roda perekonomian akan semakin berat. Dan sikap seperti itu pula yang akan menyebabkan masa krisis akan menjadi semakin panjang dan lama.

Sangat mengesankan apa yang dilakukan oleh Konosuke Matsushita pada era krisis tahun 1929, di mana ia dengan keyakinan penuh justru lebih meningkatkan pengeluaran dan transaksi-transaksi bisnisnya. Ia melatarbelakangi aksinya itu dengan kata-kata: “Jika semua orang menahan uangnya dan tidak bertransaksi, maka kehidupan ekonomi akan mati..”

Nah, sejalan dengan apa yang dilontarkan oleh Pak Matsushita, ijinkan saya menghimbau agar marilah kita hadapi dan atasi krisis global ini secara bersama dan serentak, dengan jalan tetap bertransaksi secara wajar. Harapannya adalah agar dalam waktu tidak terlalu lama lagi badai akan berlalu, dan kehidupan akan kembali membahagiakan kita semua. Amin.


Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
Gacerindo Entrepreneurial Leadership Center
E-mail: rusman@gacerindo.com
Portal: http://www.gacerindo.com/
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com/
Web: http://www.pempekpatrol.com/
Mobile: 0816.144.2792



















Friday, May 15, 2009

MENYASAR ATAU KESASAR?




MENYASAR ATAU KESASAR?

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat kehormatan untuk berwawancara di studio Radio Pelita Kasih (RPK-FM) Jakarta. Seperti biasa, topik untuk saya adalah soal pembahasan bisnis dan kewirausahaan. Saya berperan sebagai narasumber, sedangkan mitra acara RPK adalah Ir. Novry Sabmen Simanjuntak, Pemimpin Umum dan Perusahaan Majalah “AdInfo”, sebuah media bisnis kawasan yang berlokasi di Jakarta Barat.

Setelah saya menjawab sejumlah pertanyaan, host penyiar radio RPK mengalihkan pertanyaan pada Novry. Sebuah pertanyaan terlontar: “Pak Novry, sebagai sebuah media dalam bentuk majalah kawasan, sebenarnya apa yang menjadi tujuan utama AdInfo dalam berbisnis?”

Novry menjawab dengan sigap kira-kira seperti ini: “Kami menyasar para pengusaha yang beroperasi di daerah Jakarta Barat…bla..bla..” dan sang penyiar tampak puas dengan jawaban beliau.

Dasar otak saya yang terlalu liar (yang kadang-kadang saya sendiri sulit mengendalikannya), di tengah hujan pertanyaan baik dari host mau pun dari masyarakat pendengar RPK, masih “sempat-sempatnya” terpikir oleh saya: “Pasti yang dimaksud Novry dengan ‘menyasar’ adalah ‘membidik sasaran’, bukannya ‘kesasar’ yang berarti ‘tersesat’..”

Dewasa ini memang cukup banyak kata-kata yang terasa baru di telinga saya, dan biasanya orang medialah yang paling cepat menyerap serta mengaplikasikannya di lapangan. Saya salut terhadap mereka, karena dari media jugalah saya pertama kali berkenalan dengan kata-kata semacam “mengejawantah”, “menengarai”, “mengunduh”, “mengunggah” dan lain sebagainya.

Namun sempat juga saya tersenyum sendiri, membayangkan kalau ada orang menerjemahkan kalimat Novry menjadi: “Kami kesasar ke para pengusaha....”.

Bahasa Indonesia memang unik, seunik bangsa ini yang terdiri dari beribu pulau, bermacam budaya, beragam warna kulit, berbagai adat istiadat, berjenis-jenis agama, dan beratus bahasa serta sub bahasa, mulai dari bahasa nasional Bahasa Indonesia, bahasa daerah, sampai pun bahasa prokem (preman) juga ada.

Untuk alasan itulah, saya menjadi cinta Indonesia, cinta bangsa ini berikut segala problematika dan suka duka yang tak dapat disamai oleh bangsa lain..

Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
Email: rusman@gacerindo.com
Web: http://www.gacerindo.com/, http://www.pempekpatrol.com/
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com/
Mobile: 0816.144.2792

Sunday, January 25, 2009

WORK WITH, NOT WORK FOR..!


WORK WITH, NOT WORK FOR..!

Minggu, 18 Januari 2009

Pada hari pertama menjalani karir kemandirian di dekade 1990an, saya datang ke kantor pusat klien saya -- salah satu bank pemerintah terbesar -- untuk menandatangani kontrak sebagai konsultan independen.

Waktu itu, manajer SDM ternyata masih mengikuti rapat, maka ia memerintahkan seseorang untuk menyiapkan lembar kontrak untuk saya. Seorang staf yang terlihat amat lugu tergopoh-gopoh menyerahkan seberkas dokumen. Ternyata yang dia serahkan keliru, karena yang dibawanya adalah draf blanko perjanjian kerja untuk pegawai kontrak. Namun karena ingin tahu, saya sempatkan juga untuk membaca draf tersebut. Apa saja sih, yang dibahas dalam perjanjian kerja pegawai kontrak, pikir saya.

Baru membaca paragraf pertama, saya sudah surprised. Di situ tertulis: “PARA PIHAK: ..BANK XYZ….untuk selanjutnya disebut PEMBERI KERJA….. … si Polan,…untuk selanjutnya disebut PENCARI KERJA…”

Saya merasa aneh dengan kata-kata “pemberi kerja” dan “pencari kerja” itu. Kenapa tidak digunakan sebutan “Pihak Pertama” dan “Pihak Kedua” saja, sebagaimana lazimnya tertulis pada sebuah perjanjian kerjasama, MoU atau sejenisnya. Sungguh exposure pada istilah “pencari kerja” itu bernada melecehkan.

Nah, kalau pada paragraf pertama saja, istilah yang dipakai sudah terasa vulgar, maka jangan ditanya paragraf-paragraf selanjutnya. Nyaris semua pasal bertendensi menekan dan memarginalkan posisi, harga diri serta jaminan yang akan diterima oleh pegawai kontrak.

Saya menyerahkan kembali dokumen tersebut sambil berkata: “Pak, maaf ya.. Ini salah, bukan draf kontrak ini yang untuk saya. Saya bukan pencari kerja. Bank ini yang justru mencari saya untuk jadi konsultan. Oleh karena itu, tolong sampaikan pada pak Manajer supaya dibuatkan yang baru dan khusus untuk saya..”

Sang staf terperangah, dan sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu, saya susulkan kata-kata: “Bilang juga pada beliau, bahwa yang tanda tangan harus Pak Direktur. Saya keberatan kalau yang tanda tangan kontrak saya Manajer SDM..”. Setelah itu saya pergi meninggalkan sang staf yang masih salah tingkah.

Kenapa saya berani berlaku searogan itu? Tidak, saya bukan arogan. Itu hanya manuver entrepreneurial dalam upaya menaikkan posisi tawar saya, sekaligus pindah ke kuadran yang lebih bernuansa kemandirian. Nothing to lose.., karena saat itu saya masih bekerja di salah satu perusahaan IT paling bergengsi di Indonesia, saya tidak khawatir apa-apa. Kontrak jadi ditandatangani syukur, tidak pun tidak masalah.

Seperti telah saya duga, esok harinya pagi-pagi sang Manajer SDM sudah menelpon. “Halo, Pak Rusman? Maaf kejadian kemarin Pak. Hari ini Bapak ditunggu Pak Direktur untuk tandatangan kontrak, dengan format khusus untuk Bapak sebagai konsultan independen..”

Anda tahu kenapa saya begitu yakin? Karena 2 hari sebelumnya saya sudah berhasil “menaklukkan” 3 orang konsultan bule dalam sebuah paparan. Saya kebetulan mampu menunjukkan pada mereka, titik-titik penting yang menyebabkan proyek IT mereka macet selama 2 tahun. Bule-bule ini langsung “jatuh hati” pada saya, dan mendesak agar saya segera bergabung dengan mereka di bank pemerintah itu. Karena mereka berasal dari perusahaan konsultasi internasional ternama, masing-masing dari Booz, Allen and Hamilton (BAH), Harvard Institute for International Development (HIID) serta Comprehensive Marketing System (CMS) yang direkrut Depkeu, saya percaya mereka akan mampu “memaksa” Direksi Bank untuk memakai jasa saya. Dan itu terbukti..!

Namun, bukan itu point saya. Ada yang lebih penting. Dari apa yang saya ceritakan di atas, setidaknya ada 3 bahan kajian yang perlu mendapat perhatian, yaitu:

Pertama, salah satu tantangan berat yang dihadapi generasi muda dalam merintis masa depannya adalah adanya tekanan-tekanan dari generasi tua yang mengendalikan perusahaan-perusahaan nasional, BUMN dan lain-lain, berupa marginalisasi posisi tawar kaum muda. Seperti dalam kasus di atas, di mana status generasi muda yang berpotensi menjadi profesional, hanya diperlakukan sebagai “pencari kerja” dengan kompensasi serta jaminan serba terbatas.

Dengan provokasi seperti itu, tidak heran kalau selama ini para karyawan selalu dihinggapi perasaan bahwa dirinya tidak lebih dari “kuli” atau “tangan di bawah”, sehingga lambat laun mereka pun kehilangan karakter leadershipnya.

Kedua, bahwa untuk menghindari jebakan menjadi karyawan bercitra kuli atau tangan di bawah, maka seyogyanya kaum muda harus dapat melakukan sepak terjang yang entrepreneurial. Hanya dengan jalan itu, seseorang yang relatif masih yunior dapat menempatkan diri sebagai sesama tangan diatas terhadap pihak lain. Tentu saja mereka harus membekali diri dengan sumber daya pengetahuan atau keterampilan yang diperlukan. Seperti ditunjukkan dalam cerita di atas, bagaimana “anak kemarin sore” seperti saya berhasil mengadakan business deal langsung dengan direksi bank ternama yang didukung para konsultan mancanegara.

Ketiga, ada langkah lebih ideal untuk kaum muda merintis kehidupan yang lebih baik. Yaitu, bermodalkan entrepreneurial mindset yang dilengkapi dengan satu saja kecakapan di bidang tertentu, seseorang akan dapat mendirikan sebuah usaha mandiri. Dengan jalan ini, otomatis posisinya akan terangkat sebagai “majikan kecil dengan tangan di atas” . Toh, ada pepatah yang berbunyi: “Lebih baik jadi bos kecil, daripada jadi kuli besar..!”

Untuk menjadi usahawan, tidak melulu dengan membuka gerai makanan, bengkel, warung atau toko di pinggir jalan. Juga tidak perlu repot membeli ruko lebih dulu dan hak-hal lain yang tidak substansial. Bagi kalangan menengah, banyak entrepreneurial efforts yang lebih memadai seperti jadi konsultan, freelancer, trainers, dan banyak lagi.

Rekan saya David, pembicara dari Dynamic Life Singapore pernah mengatakan: “WORK WITH.., NOT WORK FOR..”. Artinya, bagi kita yang entrepreneurial, (meski masih berstatus pegawai sekali pun), jangan mengatakan bahwa Anda bekerja untuk seseorang, tapi berkatalah bahwa Anda bekerja bersama seseorang. Dengan demikian Anda tetap memiliki posisi tawar yang baik, tanpa harus dimarginalkan sebagai tangan di bawah..

Semoga bermanfaat !

Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
Profec’s Entrepreneurial Leadership Center
E-mail: rusman@gacerindo.com
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com/
Web: http://www.rusmanhakim.com/ (under construction)
Mobile: 0816.144.2792

THE EAGLE HAS LANDED


THE EAGLE HAS LANDED

26 Januari 2009: Sebuah renungan di Tahun Baru Imlek 2560

Saya menyukai film perang, dan salah satu yang menurut saya paling hebat adalah film berjudul: THE EAGLE HAS LANDED (Sang Garuda Telah Mendarat). Film yang diperani oleh Michael Caine ini berkisah tentang kegagahperkasaan seorang perwira legendaris Nazi Jerman yang bernama Kolonel Kurt Steiner. Di situ ditayangkan bagaimana sang kolonel dengan keberanian yang luar biasa ditunjang kemampuan tempur 16 orang para komando, berhasil mendarat di Inggris dan mengobrak-abrik pasukan Sekutu yang waktu itu sudah menduduki Polandia.

Sejak awal hingga akhir, penonton terus diprovokasi dengan adegan-adegan pertempuran menegangkan, seru dan sarat dengan nilai-nilai patriotisme yang heroik. Meski pada akhirnya Kolonel Steiner gugur sebagai martir, namun misi yang diembannya berhasil dengan sukses sekaligus menimbulkan kerugian besar pada pasukan Sekutu. Itu adalah sebuah kisah nyata yang terjadi di lingkungan militer saat perang.

Sebuah kisah heroisme saat damai juga terjadi di lingkungan sipil. Sepak terjang seorang Kolonel lain yang tidak kalah serunya telah menginspirasi banyak orang. Dialah Kolonel Sanders, yang di usia 65 tahun telah begitu gagah-berani menjelajah benua Amerika dengan mengendarai sebuah mobil tua, mengetuk 1000 lebih pintu rumah orang hanya untuk mencari mitra dalam rangka membangun kerajaan bisnisnya, Kentucky Fried Chicken (KFC).

Semua kisah -- baik yang difilmkan atau dibukukan -- hanya menjadi seru, menarik serta berharga untuk disimak apabila di dalamnya banyak adegan-adegan menegangkan. Guncangan-guncangan emosional selalu diperlukan guna membuat sebuah true-story berkualitas. Siklusnya pun selalu menampilkan hal yang sama, mulai dari sang tokoh muncul dalam situasi penuh tekanan, tidak jarang diwarnai dengan ketidakberdayaan, keterbatasan, cercaan bahkan hinaan, lalu dilanjutkan dengan perjuangan gagah berani, dan diakhiri dalam 2 kemungkinan, yaitu sukses (happy ending), atau martir (sad ending).

Saya membayangkan, betapa bangganya anak cucu Kol. Steiner dan juga Kol. Sanders ketika mendengar kisah-kisah luar biasa tentang sepak terjang orang-orang tua mereka. Bangga karena menyadari bahwa pendahulu mereka adalah para leaders yang dihormati.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita merangkai kisah hidup kita sendiri dengan berbagai pengalaman mendebarkan, seru serta menegangkan sehingga menjadikannya kisah yang berkualitas?

Kalau belum, mari tinggalkan zona nyaman yang hingga sekarang masih kita rangkul erat-erat, lalu terjun ke medan tempur sebagaimana The Eagle Has Landed. Tidak masalah apakah akhir kisah kita akan “happy ending”, ataukah “sad ending”. Yang penting, dengan terjun ke medan tempur kita telah membuat kisah hidup kita berkualitas. Kisah yang anak cucu kita bangga mendengarnya, bukan justru malu karena orang tuanya pecundang yang tidak pernah bertempur sama sekali.

Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
Profec’s Entrepreneurial Leadership Center
E-mail: rusman@gacerindo.com
Portal: http://www.gacerindo.com/
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com/
Web: http://www.rusmanhakim.com/ (under construction)
Mobile: 0816.144.2792

Saturday, November 22, 2008

HARI-HARI OMONG KOSONG



HARI-HARI OMONG KOSONG..

Dalam acara ramah tamah pada peresmian sebuah lembaga keuangan mikro baru-baru ini di Depok, seorang mantan bankir tampaknya tertarik dengan status saya yang disebut pengamat kewirausahaan. Beliau mendekat sambil berkata: “Pak, kami dari perbankan dan juga lembaga-lembaga keuangan mikro merasa sangat berkepentingan dengan wirausaha. Oleh sebab itu, kami sekarang ini sedang mengedepankan program-program yang membantu perkembangan Usaha Kecil dan Mikro (UKM) di Indonesia..”.

“Wah bagus sekali, Pak. Apa saja kriteria dalam menentukan UKM mana yang akan dibantu, dan mana yang tidak?” tanya saya.

Sang mantan bankir tertawa seraya mengatakan: “Mudah saja. Kita tinggal lihat gerai usahanya, ramai tidak? Lalu lihat pembukuan keuangannya, transaksi dan arus kasnya bagus tidak? Kalau gerainya ramai, dan laporan keuangannya bagus, berarti usahanya lancar dan berpotensi untuk sukses. Nah, yang begitulah yang akan kita bantu..”

“Lalu, kalau pengusaha kecil yang gerainya belum ramai, arus keuangannya masih tersendat-sendat, bagaimana?” tanya saya lagi.

“Yah, kalau yang begitu, ya belum bisa dibantu Pak. Kita tidak berani ambil risiko. Lebih baik kita tunggu sampai usahanya lancar..”

Mendengar jawaban ini, saya jadi tersenyum. “Di situlah letaknya perbedaan pandangan antara perbankan dan kewirausahaan, Pak. Dalam kacamata wirausaha, pengusaha yang sudah lancar bisnisnya, seharusnya tidak boleh dibantu..”

“Loh, sebab apa? “ tukas “pak bankir”.

“Sebab, tanpa dibantu pun dia sudah mampu mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi dan dia bisa maju. Oleh karenya, bantuan yang diterima dari bank justru akan melemahkan daya juangnya sebagai wirausahawan tangguh”.

Tanpa bermaksud menggurui, saya lantas mengambil contoh kasus pangusaha-pengusaha bank kelas kakap penerima BLBI. Mereka itu sebenarnya tidak perlu dibantu, tapi pemerintah telah memanjakan mereka dengan berbagai fasilitas yang tidak seharusnya diberikan. Dan sekarang, kita lihat sendiri bagaimana dahsyat akibatnya yang hampir-hampir membangkrutkan negeri ini.

Pak bankir tampak sedikit terperangah, tapi melanjutkan argumentasinya: “Kalau bank atau lembaga keuangan harus membiayai pengusaha yang masih terseok, risikonya terlalu besar Pak. Sebab, apabila pengusaha itu tidak mampu membayar pinjamannya, bukankah semua pihak dirugikan? Dana hilang, sementara masih banyak pengusaha-pengusaha lain yang menunggu bantuan..”

“Bapak betul. Bank dan lembaga keuangan memang bukan bagian dari Departemen Sosial yang bertugas bagi-bagi uang tanpa berharap kembali. Bank hidup dari bunga pinjaman, atau kalau bank syariah mungkin dari bagi hasil. Itu semua adalah bisnis. Jadi kalau boleh, perkenankan saya untuk usul, bagaimana kalau istilah “bantuan” itu dihilangkan saja. Dilihat dari kedua belah pihak, rasanya tidak klop.”

“Dari sisi perbankan, business is business. Tidak ada yang gratis. Pinjam uang, harus bayar bunganya. Atau sisihkan bagi hasilnya. Jadi, sesungguhnya itu bukan bantuan..”, lanjut saya.

“Dari sisi kewirausahaan, pengusaha adalah leader. Tidak ada kata mengemis, dan tidak ada kata mohon belas kasihan bagi seorang leader. Pinjaman adalah bisnis, dan itu harus dibayar. Semua pelaku bisnis haruslah setara-sederajat. Tidak ada istilah “tangan di bawah” bagi pengusaha terhadap siapa pun, termasuk pada bank atau lembaga keuangan.”

Pembicaraan kami terputus di situ, karena acara pengguntingan pita dimulai.

Seselesainya acara peresmian kantor tersebut, dalam perjalanan pulang saya berfikir sendiri. Ya, kalau antara perbankan dan dunia wirausaha terdapat gap masalah pembiayaan, lantas apa jalan keluarnya?

Tiba-tiba saya teringat akan tulisan David Ch’ng tentang sukses kaum minoritas perantauan di Asia Tenggara, yang mengutarakan bahwa salah satu kunci sukses mengatasi masalah pembiayaan usaha adalah dengan jalan membentuk komunitas. Tepatnya, komunitas usaha.

Ya, dan itu pula yang telah dilakukan secara tradisional oleh saudara-saudara kita dari berbagai etnik di Indonesia dalam berbisnis, mulai dari komunitas orang Minang dengan Rumah Makan Padangnya, orang Tegal dengan Wartegnya, orang Bugis, orang Gorontalo, orang Banjar, orang Madura, orang Bali, orang Maluku, serta nyaris hampir semua suku di Indonesia dengan masing-masing komunitasnya. Dan mereka juga sukses!

Nah, temans.. Kita yang hidup di jaman modern ini, tentu lebih sadar dengan manfaat berkomunitas. Dengan cara itu kita berorganisasi, dengan cara yang sama pula kita berkelompok dalam milis-milis. Dengan kesadaran tentang potensi bisnis dalam sebuah komunitas, mengapa pula kita tidak mulai berfikir bagaimana mengeksplorasi sumber daya tersembunyi dari sebuah grup di internet, demi kesuksesan hidup di masa depan? Bukankah kita tidak mau sekadar “harmoko”, hari-hari omong kosong?

Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
Profec’s Entrepreneurial Leadership Center
E-mail: rusman@gacerindo.com
Portal: http://www.gacerindo.com
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com
Web: http://www.rusmanhakim.com, http://www.pempekpatrol.com
Mobile: 0816.144.2792

Saturday, June 07, 2008

“HOT..HOT..OH.. SO HOT..!


“HOT..HOT..OH.. SO HOT..!

Salah satu tayangan iklan yang cukup heboh di televisi beberapa waktu lalu, adalah iklan produk mie instan yang diberi nama “selera pedas”. Tayangannya memang menarik, di mana diperlihatkan perempuan-perempuan muda berkostum ketat warna merah menyala, meliuk-liuk menarikan tarian dinamis sambil diiringi musik keras dengan lagu yang berlirik: “Hot..hot..oh.. so hot..!” dan seterusnya.

Buat saya, kata “HOT” mempunyai makna tersendiri. Sebagai kata dasar yang berarti “panas” atau “pedas”, maka akan tergambar dengan kuat dalam benak saya sesuatu yang mengandung passion, semangat, gairah serta daya juang yang menggebu-gebu.

Begitulah seharusnya kita hidup di dunia ini. Tidak peduli siapa kita, apakah kita seorang karyawan profesional ataukah seorang entrepreneur, maka sudah selayaknya kita melakoni kehidupan dengan “HOT”, penuh passion, penuh semangat, bergairah serta didukung oleh daya juang yang menggebu-gebu.

Bagaimana penjabaran dan implementasinya? Haruskah setiap hari kita menyisihkan waktu untuk menari-menari secara HOT seperti perempuan di tayangan iklan selera pedas?

Bukan! Bukan begitu. Menurut saya kata “HOT” dapat dijabarkan sebagai kependekan dari 3 buah kata, yaitu: “Hati – Otak – Tangan”. Tentu masing-masingnya memiliki makna sendiri-sendiri, yang apabila dipersatukan akan merupakan sebuah paket ampuh yang dapat membawa kita ke jenjang penghidupan sukses.

HATI, menunjukkan integritas, ketulusan dan kejujuran, good attitude, keinginan melayani dan kemauan memberikan nilai tambah. Anda bisa percaya bahwa dengan satu unsur ini saja, bila semua orang memiliki hati yang baik dan bersih, maka dunia dijamin akan menjadi suatu tempat ternikmat di seantero jagat raya. Tidak ada kecurangan, tidak ada kejahatan. tidak ada korupsi dan kehidupan menjadi damai dan tenteram.

OTAK, memberi kontribusi soal kecerdasan. Ada 3 jenis kecerdasan yang bisa dianggap terkait dengan kinerja otak. Seperti kita tahu, ketiganya terdiri dari: Kecerdasan Intelektual (Intellectual Intelligence=II), Kecerdasan Emosi (Emotional Intelligence=EI) serta Kecerdasan Spiritual (Spiritual Intelligence=SI).

Dengan ketiga jenis intelijensia inilah, kita sebagai manusia akan mampu mewujudkan tidak saja “kerja keras”, tetapi lebih dari itu kita juga mampu melakukan “kerja cerdas”. Dan oleh karenanya cita-cita umat manusia untuk senantiasa menciptakan peningkatan kesejahteraan yang menyeluruh dan berkesinambungan, kita yakini dapat tercapai.

TANGAN, merupakan manifestasi dari “kerja”, “komitmen” dan “action”. Tiada perubahan yang benar-benar dapat dijelmakan, apabila tidak ada implementasinya di dunia nyata. Rancangan, rencana, imajinasi atau mimpi akan tetap dalam keadaannya yang “intangible” (maya, semu, tidak nyata) selama tidak ada perbuatan nyata yang membuatnya menjadi “tangible” (berwujud).

HOT adalah esensi kehidupan manusia. Lebih jelasnya, HOT merupakan modal paling hakiki yang dimiliki manusia, yang dengan itu seharusnya kita semua tidak gentar menghadapi segala tantangan kehidupan.

HOT tidak menyiratkan kata-kata yang terkait dengan uang. Kalau Anda seorang calon entrepreneur, itu artinya Anda tidak perlu memusingkan soal ketersediaan uang untuk modal memulai usaha. HOT adalah modal yang sesungguhnya, karena dengan HOT Anda bisa mendapatkan uang.

Kalau Anda seorang profesional, hal ini akan lebih jelas lagi. Seorang profesional sejati tidak pernah memerlukan uang untuk mendapatkan pekerjaan. HOT yang Anda milikilah yang memungkinkan Anda dipercaya menduduki sebuah jabatan. Kecuali, kalau Anda memang seorang profesional tidak qualified, yang biasa melakukan sogok-menyogok untuk memperoleh posisi.

Pada galibnya, kehidupan seorang profesional mau pun seorang entrepreneur tidaklah jauh berbeda. Keduanya seharusnya tidak memerlukan uang untuk modal bekerja atau berusaha.

Nah, dengan penjabaran ini, semoga Anda menjadi yakin bahwa banyak jalan menuju Roma. Apa pun jalan yang Anda ambil, profesional kah atau entrepreneur kah, semuanya sama saja. Anda hanya perlu HOT saat memulai, dan UANG akan datang kemudian.

Selamat bekerja..

Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
Profec’s Entrepreneurial Leadership Center
E-mail: rusman@gacerindo.com
Portal: http://www.gacerindo.com
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com
Mobile: 0816.144

Tuesday, May 27, 2008

DUCK IN THE LAND, DUCK IN THE WATER


DUCK IN THE LAND, DUCK IN THE WATER

Terkadang kita merenung, faktor apakah sebenarnya yang menentukan kesuksesan seseorang dalam hidup ini?

Kita pasti sudah sering mendengar, bahkan diindoktrinasi secara keras oleh orang tua, guru, para senior dan lain-lain, bahwa kesuksesan hidup harus dicapai dengan kerja keras serta pengorbanan.

Bersakit-sakit lebih dahulu, bersenang-senang kemudian..
Tiada hasil tanpa pengorbanan..
No pain, no gain..

Kalimat-kalimat seperti itu boleh dikatakan sudah menjadi konsumsi kita sehari-hari. Namun mengapa yang terjadi sejauh ini, seakan tidak pernah selaras dengannya? Jangankan sukses dan bersenang-senang, untuk mencukupi hidup sehari-hari pun rasanya sudah setengah mati.

Banyak dari kita sudah belasan bahkan puluhan tahun menjalani kehidupan yang penuh kesakitan dan pengorbanan ini. Pengorbanan fisik, pengorbanan finansial atau pun pengorbanan perasaan, tidak kurang-kurang kita berikan demi meraih kebahagiaan hidup yang kita dambakan beserta keluarga. Hasilnya? Tidak ada yang signifikan.. semua serasa jalan di tempat saja..

Saya jadi teringat akan petuah seorang guru motivasi yang pernah mengajar saya pada tahun 1986 dan 1987, lebih dari 20 tahun yang lalu. Beliau orang Singapura, namanya David Chia. Dalam salah satu sesi pelatihannya, David memperkenalkan sebuah analogi yang dinamakan “DUCK IN THE LAND, DUCK IN THE WATER” atau “Bebek Di Atas Tanah, Bebek Di Dalam Air”.

Apa urusan kita dengan bebek?

Bebek merupakan salah satu jenis binatang yang mendapat berkah Tuhan, sehingga ia bisa berjalan dan berlari di atas tanah, dan dapat pula berenang-renang di atas air. Namun demikian coba perhatikan, dari dua tempat itu, di manakah bebek tampak paling bahagia?

David menjelaskan bahwa meski bebek mampu dan tidak bermasalah untuk berkiprah di atas tanah, namun puncak kebahagiaan hewan ini justru ketika berenang-renang di atas air. Di atas airlah seekor bebek akan merasa bebas sebebas-bebasnya, bercengkerama dan berselancar ke sana-ke mari sambil membersihkan bulu-bulu sayapnya yang indah, dan bersikap seakan seisi dunia menjadi paradiso nan indah ceria baginya.

Fenomena bebek ini menjadi referensi bahwa banyak orang di antara kita yang selama bertahun-tahun menjalani kehidupan bagai “DUCK IN THE LAND”, atau bebek yang berjalan di atas tanah. Kenapa?
Karena mereka telah menjalani pengorbanan yang begitu berat demi membangun kehidupan, dengan jalan bekerja di bidang-bidang yang tidak disukai. Bekerja di suatu tempat di mana kreativitas tidak dapat berkembang. Atau bekerja dengan gaji yang tidak mencukupi, namun tidak pernah berani angkat kaki guna mencari peluang yang lebih baik. Dan semua itu, dengan penuh penderitaan dijalani selama bertahun-tahun tanpa henti.

Kenapa mereka seakan tidak pernah berusaha untuk berontak dari keadaan status quo, guna mencapai keadaan yang lebih berbahagia seperti layaknya “DUCK IN THE WATER”?

Sebab, mereka belum menyadari bahwa jalan ke arah itu ada. Dan bahwa jalan bahagia itu tidak perlu ditempuh dengan penuh rasa sakit serta derita. Dan juga bahwa dunia ini sesungguhnya tidaklah sesuram yag mereka sangka. Tuhan sudah memberikan komposisi yang sama baik bagi penderitaan, mau pun bagi kebahagiaan. Dan Dia sudah menyerahkan sepenuhnya kepada manusia, bagian mana yang akan dipilih. Penderitaankah, atau kebahagian?

Kehidupan memang hanya masalah pilihan..

Nah, lebih lanjut David memberikan penjelasan bahwa untuk sukses menemukan kebahagiaan, ada sebuah fomula yang mengatakan: “Kesuksesan terjadi pada saat kekuatan menemukan tempatnya yang sesuai..”! Ini juga yang menjadi analogi: “DUCK IN THE WATER”.. sebagaimana seekor bebek yang memiliki kekuatan untuk berenang-renang, bertemu dengan air telaga yang sejuk dan jernih..

Kalau seekor bebek secara naluriah sadar akan kekuatannya dalam hal berenang di atas air, dapatkah kita menyadari kekuatan apa yang kita miliki agar bisa mengarahkannya pada situasi lingkungan yang sesuai?

Andaikata pencarian tentang kekuatan apa yang kita miliki terasa sulit, ada panduan yang mudah. Yaitu, tinggalkan aktivitas kita yang sekarang hanya memberi penderitaan, dan temukan bidang pekerjaan yang kita sukai. Kalau perlu, jika kita sekarang seorang karyawan, jadilah usahawan. Perdalam kompetensi kita di bidang tersebut, cermati munculnya kesempatan, rebut peluang dan jadilah raja di sana.

Semoga kita semua menjadi “DUCK IN THE WATER”..!

Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
Profec’s Entrepreneurial Leadership Center
E-mail: rusman@gacerindo.com
Portal: http://www.gacerindo.com
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com
Mobile: 0816.144.2792

Wednesday, October 24, 2007

Home Sweet Home, Work Sweet Work


HOME SWEET HOME, WORK SWEET WORK


Banyak orang mengatakan bahwa seburuk apapun keadaan rumah kita, rumah kita tetaplah istana kita. Rumahlah satu-satunya tempat yang dapat memberikan kedamaian, ketenteraman serta kebahagiaan hakiki. Tidak ada tempat lain di dunia ini yang bisa memberikan kebebasan untuk melepaskan diri dari segala belenggu dan topeng-topeng kehidupan, selain di rumah sendiri.

Maka, sungguh indah dan sungguh tepatlah ungkapan: “Home Sweet Home..!”

Namun demikian, kebahagiaan di rumah belum tentu bisa dibawa ke tempat lain, kantor misalnya. Bahagia di rumah, belum tentu bahagia di kantor. Kenyataannya, banyak orang merasa sangat-sangat sulit untuk mengadaptasi kebahagiaan di rumah, ke tempat mereka bekerja. Terlalu banyak intrik dan provokasi yang muncul dan terjadi di lingkungan kerja.

Simaklah apa yang dirasakan oleh mereka yang berprofesi sebagai karyawan profesional. Mereka sering kali merasa “ada ancaman” bahwa sewaktu-waktu mereka bisa di PHK. Perasaan tidak nyaman juga datang dari “ulah” para atasan, para bos (atau bukan bos tapi sangat “bossy”) yang terasa semena-mena memerintah ini dan itu.

Belum lagi persaingan antar karyawan yang begitu ketat, sampai-sampai mencuatkan manuver-manuver tidak sehat mulai dari trik-trik “carmuk” alias “cari muka”, sampai pada pergunjingan dan fitnah terselubung.

Kejadian-kejadian semacam itu, sedikit banyak akan mendistorsi suasana kebahagiaan yang kita bawa dari rumah ke tempat di mana kita berkarir.

Sayangnya, buat kebanyakan orang, tekanan dan stres di tempat kerja sudah dianggap lumrah. Memang itulah budaya hidup di tempat kerja, mau apa lagi?

Hampir semua orang menghabiskan sebagian besar dari waktunya di tempat kerja. Katakanlah, rata-rata orang sekarang bekerja selama 10 – 12 jam sehari. Ini artinya mereka mendedikasikan 50% dari 24 jam waktu yang dimilikinya untuk fokus di sektor karir. Sedangkan 50% lagi dibagi-bagi untuk kegiatan-kegiatan lainnya, seperti bercengkerama dengan keluarga di rumah, bersosialisasi dengan masyarakat, beribadah, belajar, pergi ke gym untuk olahraga dan lain-lain.

Dari situ kita dapat menyimpulkan bahwa manusia masa kini rata-rata hidup tidak bahagia, karena waktunya dominan berada di tempat yang tidak bahagia, yaitu di kantor atau di lingkungan kerja yang penuh dengan tekanan dan stres.

Namun toh orang tidak bisa menghindar dari keharusan kerja, sebab, inilah satu-satunya aktivitas yang merupakan “earning center”, pusat penghasilan yang membiayai semua kegiatan orang yang bersangkutan. Aktivitas-aktivitas lainnya yang berhubungan dengan keluarga, kegiatan sosial, spiritual, kesehatan fisik-mental, semuanya merupakan “cost centers” alias pusat-pusat biaya.

Jadi wajarlah kalau mengingat kepentingannya, kita semua mengalokasikan waktu terbanyak untuk membina karir. Lantas bagaimana caranya agar dalam bekerja kita pun bisa tetap berbahagia? Kalau di rumah kita dapat membangun “home sweet home”, mengapa di kantor kita tidak bisa membangun “work sweet work”?

Berdasarkan observasi, kebanyakan orang bekerja semata-mata dilatarbelakangi motivasi untuk mencari nafkah (subsistence motivation). Mereka merasa harus bekerja karena harus memberi makan diri dan keluarganya. Harus menyekolahkan anak-anaknya. Dan harus membiaya semua kebutuhan operasional rumah tangganya. Harus dan harus..

Dengan motivasi yang “serba harus” ini, tidak heran kalau suasana kerja menjadi sangat tegang dan stres. Kuatir kalau gaji tak mencukupi, tentu tidak bisa lagi memberi makan dan menyekolahkan anak. Kuatir akan ancaman PHK, sama dahsyatnya dengan kuatir akan kiamat.

Bagaimana orang bisa bahagia kalau setiap hari dicekam ketakutan seperti itu?

Untuk membangun suasana “work sweet work”, perlu dilakukan perubahan total atas paradigma dan motivasi kita untuk bekerja. Jangan berfikir bahwa bekerja hanya semata-mata untuk mencari nafkah. Kita harus berfikir jauh lebih besar dari itu. “Think Big”, kata David J. Schwarz.

Bekerja juga harus “enjoyable”, bisa dinikmati semaksimal mungkin. Oleh sebab itu, ada 2 langkah sederhana untuk dapat menjadikan kita bahagia dalam pekerjaan. Yang pertama: cari atau pindah kerja yang bidangnya sesuai dengan kesenangan kita. Tinggalkan saja pekerjaan yang sekarang kalau kita merasa tidak bahagia di situ. Jangan takut, karena dengan bekerja di bidang yang kita senangi, peluang untuk maju akan lebih besar sekian kali lipat. Kalau perlu, bila kita sekarang berstatus karyawan, jadilah seorang usahawan!

Langkah kedua: jadilah raja di sana! Guna menjadi nomor satu di suatu bidang, tentu kita harus piawai. Nah, untuk belajar dan menjadi piawai di suatu bidang yang kita senangi, akan sangat mudah dibanding belajar dan menjadi piawai di bidang yang kita benci. Akan lebih ideal lagi kalau bidang yang disenangi itu adalah juga bidang hobi kita.

Kita akan menjadi seekor harimau yang tumbuh sayap! Dalam kondisi ini, tidak perlu lagi takut di PHK. Tidak perlu lagi stres karena diperintah-perintah orang lain. Dan tidak usah lagi “carmuk” atau sikut-sikutan bersaing dengan teman sejawat.

Selama ini, “Work Sweet Work” jarang menjadi perhatian orang, berbeda dengan “Home Sweet Home” yang selalu didamba dan dibicarakan di berbagai media. Namun demikian seyogyanya kita menyadari bahwa “Work Sweet Work” merupakan energi alamiah yang vital bagi kehidupan setiap orang.

Kadang kita merasa ganjil ketika menyaksikan seorang dokter gigi yang lebih suka main film daripada membuka praktek perawatan gigi. Atau melihat insinyur yang lebih senang bermain musik katimbang menggeluti profesi keteknikan. Aneh ketika tahu bahwa ada pengacara yang ahli hukum eh.. malah getol jadi bintang sinetron.

Saya menangkap bahwa itulah gejala bekerjanya fenomena “Work Sweet Work”, di mana secara disadari atau tidak, beberapa orang yang peka telah mengikuti suara hati nuraninya untuk mencari dan membangun dunia serta kerajaannya sendiri. Di dunia dan kerajaan yang di dalamnya mereka bisa menemukan kebahagiaan sejati.

Maka sebaliknya dari mencibir dengan perasaan aneh, saya justru ingin memberi acungan jempol. Mereka berani tampil beda, dan dengan itu mereka berbahagia.

“Work Sweet Work” adalah sebuah wahana earning center yang subur, kehadirannya akan mendukung “Home Sweet Home” yang indah. Sebaliknya, tanpa “Work Sweet Work”, rona keindahan “Home Sweet Home” akan meredup dan pudar tanpa bisa memberikan kebahagiaan yang berarti. (rh)

*** Artikel ini dapat Anda baca juga di portal wirausaha http://www.gacerindo.com, dilengkapi dengan gambar.

Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
LifeWisdom Presenter
E-mail: rusman@gacerindo.com
Portal: http://www.gacerindo.com
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com
Mobile: 0816.144.2792