Saturday, May 27, 2006

KISAH SANG MENTOR (Bagian III..)

KISAH SANG MENTOR (Bagian III..)

Di belakang rumah, dekat dapur, ternyata ada sebuah tangga menurun menuju sebuah ruang bawah tanah, yang ukurannya tidak terlalu besar.

“Ruangan ini dulunya dipakai orang tua saya untuk menyimpan padi, karena beliau petani. Karena saya tidak lagi bertani, maka sekarang saya pakai sebagai ruang kerja”, ujar Pak Soma seraya menunjuk ke sudut ruangan. Semua yang hadir melihat betapa di tempat itu terdapat satu set komputer lengkap dengan aksesorisnya, faksimili dan ada juga seperangkat radio komunikasi yang tampak sudah tua. “Saat sekarang saya berhubungan dengan kantor pusat melalui internet yang ada di komputer ini. Tapi dua puluh tahun lalu, ketika internet belum ada , saya gunakan radio SSB itu..”

Wawan dan Hadi termangu sambil berdecak kagum, tapi Bu Soma hanya senyum-senyum saja.

“Nah, kebetulan di ruangan ini ada 4 buah kursi. Silahkan duduk di sini saja. Sekarang saya ingin meneruskan pembicaraan dengan suatu hal yang menurut saya cukup penting”, Pak Soma mengangsurkan tangannya untuk mempersilahkan hadirin duduk.

“Saya katakan ini cukup penting, karena berhubungan langsung dengan kalian berdua, Wawan dan Hadi. Saya perlu menekankan bahwa orang berusaha itu perlu memegang etika. Jangan curang, jangan culas. Tidak sombong, jangan pamer kehebatan, kekuasaan dan kekayaan. Itu sebabnya, saya larang Direksi menggunakan mobil mewah, kalau tidak sedang dalam dinas yang betul-betul memerlukan mobil mewah. Kamu lihat Wan, di depan itu ada mobil niaga yang diparkir? Nah, itulah mobil si Hadi sebagai Direksi kalau sedang dalam perjalanan non-dinas resmi seperti sekarang. Saya lihat kamu ke sini mengendarai BMW 720i..”, ujar Pak Soma. Yang ditegur hanya tersipu malu.

“Lalu, ingat bahwa kita punya tanggung jawab terhadap lingkungan sosial. Banyak berderma, menyumbang orang miskin. Jangan lupa lingkungan tempat kita berada. Saya sebagai pemilik warung di kampung, telah melakukannya. Kampung ini tertata dengan baik, jalan-jalan beraspal mulus, lingkungan bersih dan asri, fasilitas umum mulai dari sistem irigasi, air bersih untuk minum, WC dan tempat mandi umum, tempat ibadah dan lain sebagainya, semua tersedia. Siapa sangka bahwa semua itu berasal dari sumbangan seorang tua jelek penunggu warung?”, kata Pak Soma berseloroh.

“Apa warga kampung mengetahui kalau semua itu dari Bapak?”, tanya Wawan dan Hadi hampir serentak.

Pak Soma tertawa kecil. “Tidak. Mereka hanya tahu itu hasil kerja Pak Lurah dan Pak Camat. Saya selama ini menjalin kerja sama dengan pemerintah setempat untuk itu semua. Dan tentu saja minta mereka merahasiakan jati diri saya..hehe.. Itu yang saya maksud dengan tanggung jawab sosial, tapi tidak perlu menjadi sombong dan ingin dipuji saat kita melakukannya”.

Hadi dan Wawan mengangguk-angguk tanda setuju.

“Nah, sekarang bagian yang terakhir dan terpenting..”, lanjut bos PT Harimau Sakti itu. “Ini sejarah bisnis kamu Wan. Saya 21 tahun lalu sangat terharu tatkala kamu datang ke saya untuk pamit dan menyatakan diri untuk pergi ke kota dan memulai usaha. Saya terharu karena kamu waktu itu masih amat muda belia, baru 19 tahun, tapi semangat kamu sudah menggebu-gebu. Maka saya benar-benar serius memberikan semua yang saya tahu tentang dunia bisnis kepadamu Wan. Tidak itu saja, ketika kamu berangkat, diam-diam saya menelpon seorang anggota Direksi PT Harimau Sakti untuk mengikuti dan memantau semua yang kamu lakukan di kota. Orang itu adalah atasannya si Hadi dan sekarang sudah pensiun. Namanya Pak Slamet. Ketika usaha kamu masih kecil, saya minta Pak Slamet untuk datang menjadi salah seorang pelanggan setia kamu. Saya berjaga-jaga kalau-kalau kamu kesulitan di awal usaha, setidaknya kamu masih punya pelanggan setia. Tapi syukur, kamu cukup sukses, pelanggan kamu banyak, sehingga Pak Slamet tidak perlu berperan terlalu aktif. Ia cuma salah seorang pelanggan biasa diantara sekian banyak pelanggan kamu yang lain. Setelah perusahaan kamu menjadi besar, saya minta salah seorang manajer keuangan kepercayaan saya serta seorang sekretaris, melamar ke kantor kamu berbekal referensi dari salah satu anak perusahaan Harimau Sakti yang saya yakin kamu tidak pernah mendengar namanya. Karena mereka memang piawai, mereka diterima baik di perusahaan kamu Wan, dan sejak itu mereka bekerja menjadi mata-mata saya untuk memantau segala sepak terjang kamu di dunia bisnis. Jangan khawatir Wan, mereka tidak pernah memata-matai urusan pribadi kamu. Maksud saya hanya ingin menjaga agar bisnis kamu tetap berada di jalur yang benar. Nah, melalui manajer keuangan dan sekretaris itulah, selain menerima informasi mengenai semua sepak terjang bisnis kamu, saya juga selalu menitipkan kiat-kiat usaha kepadamu tanpa kamu pernah menyadari bahwa itu dari saya..”

“Saya juga ingin kamu tidak menjadi pengusaha yang cengeng. Itu sebabnya PT Harimau Sakti selalu membayangi perusahaan kamu di setiap pasar. Di pasar ritel, kamu kalah dari perusahaan si Hadi ini, tapi tetap menang terhadap perusahaan-perusahaan lain. Demikian juga di sektor korporasi. Di pemerintahan, dari 8 kali tender, kamu kalah 7 kali, tapi saya instruksikan orang-orang saya agar kamu menang di satu kali tender sisanya. Ini untuk membangkitkan semangat dan rasa penasaran kamu Wan. Kalau kamu saya kalahkan total, pasti kamu akan putus asa, sehingga bukannya penasaran, kamu bisa-bisa malah patah arang..”

“Berdasarkan pantauan kami, kamu memang benar-benar pengusaha yang baik, ulet dan penuh tanggung jawab, Wan. Kamu tidak pernah melakukan hal-hal yang aneh-aneh, tidak hura-hura, selalu memikirkan kesejahteraan karyawan dan banyak hal positif lainnya. Sampai sekarang, orang-orang saya tetap memantau kamu, itu sebabnya saya tahu rencana kamu untuk datang ke kampung ini. Maka saya lantas memanggil si Hadi, memberitahukan rencana untuk mengatur pertemuan dengan kamu hari ini. Hari ini juga saya melihat hal-hal baik dari dirimu, antara lain kamu telah memberitahukan isteri saya tentang rencana kamu untuk membalas budi dengan niat untuk memperbaiki dan merenovasi rumah dan warung saya. Meski mengendarai BMW, saya lihat kamu masih mau mengemudikan mobil sendiri ke kampung tanpa supir dan kencenderungan menjadi bossy. Saya terkesan..”

Suasana hening sejenak..

“Sementara itu, kamu kan tahu Wan, bahwa saya tidak memiliki keturunan. Saya sudah tua dan tidak juga ada salah satu famili saya yang piawai di bidang bisnis modern. Oleh sebab itu, straight to the point, dengan ini saya nyatakan keinginan saya di depan isteri saya dan si Hadi ini, untuk meminta kamu, Darmawan, agar bersedia kiranya menerima tanggung jawab atas perusahaan PT Harimau Sakti. Dengan demikian, semua saham saya di perusahaan ini menjadi milikmu. Kamu tidak usah risau dengan nasib saya dan isteri, karena saya benar-benar ingin kembali menjadi Soma yang dulu, Soma orang kampung penjaga warung kelontong yang hidup damai serta tenteram beserta seluruh warga kampung lainnya..”

Di detik itu, kepala Wawan terasa berdenyut-denyut dengan keras. Matanya membelalak dan mulutnya ternganga tanpa disadari. Tidak pernah diduganya bahwa hari ini akan terjadi rentetan peristiwa yang sungguh-sungguh aneh dan nyaris tak masuk akal, menyebabkan dirinya terkaget-kaget antara percaya dan tidak. Ia merasa kecil berhadapan dengan bos Harimau Sakti ini, karena selama 21 tahun berkarya, ternyata semua pencapaiannya masih berada di bawah bayang-bayang kebesaran seorang Pak Soma. Atau tepatnya, Citra Sumawidjaya, pendiri sekaligus pemilik kelompok usaha PT Harimau Sakti. Namun demikian, semua pujian yang diberikan tokoh ini pun terasa penuh kejujuran dan ketulusan, sehingga di lain sisi, ia merasa bangga pula dengan dirinya.

Lewat beberapa saat, ia baru bisa menjawab: “Beri waktu saya berfikir, Pak…”

Pak Soma tersenyum. “Tentu saja Wan. Kamu tenang saja, dan tidak perlu jawab sekarang. Kamu fikirkan saja dengan santai, hanya pesan saya, inilah kesempatan kamu untuk berkontribusi lebih banyak lagi kepada masyarakat. Kalau kamu lewatkan, wah.. kamu telah menyia-nyiakan kesempatan berbuat baik yang diberikan Tuhan..”

“Mulai hari ini, saya harap kamu terus berhubungan dengan Hadi, ia akan membantumu memberikan pandangan-pandangan, informasi–informasi dan masukan-masukan yang mungkin kamu butuhkan..” lanjutnya.

“Saya pikir, itu saja yang saya ingin sampaikan. Barangkali ada yang mau ditanyakan? Wawan? Hadi?

Karena keduanya terlihat bimbang lalu menyatakan tidak ada pertanyaan, Pak Soma berkata: “ Nah, sekarang sebaiknya kita makan dulu bersama-sama. Sudah hampir waktu ashar..” Tanpa banyak bicara, mereka berempat lantas berpindah ke ruang makan, lalu makan siang bersama. Di sini tampak mereka lebih banyak tenggelam dalam fikirannya masing-masing..

Pertemuan itu bubar setelah sholat ashar. Dalam perjalanan pulang di atas mobilnya, Wawan berfikir: “Hari ini aku mengalami peristiwa yang mengguncangkan. Ternyata di dunia ini ada sosok manusia seperti Pak Soma. Sosok seorang pemimpin yang mampu bekerja untuk orang banyak, tanpa orang banyak perlu tahu tentang dirinya. Di atas itu semua, dialah seorang mentor bisnis paling luar biasa yang pernah aku temukan. Tuhan Maha Besar..” (Selesai).



Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
E-mail: rusman@gacerindo.com
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com
Web: http: //www.gacerindo.com
Mobile: 0816.144.2792

No comments: